Ada satu hal yang tidak diketahui para wartawan infotainment dari sang selebriti Elang Samudra Ginting bahwa Samudra sudah menikah. Tapi siapa sangka, sebagai salah satu pria paling digilai di penjuru tanah air, Samudra mendapatkan surat cerai dari sang istri. karena mereka telah hidup terpisah selama tiga tahun.
Sejak menjauh dari sang suami, hidup Lembar Putih Ayunda berubah sepenuhnya. Ia mendapatkan pekerjaan baru, teman-teman baru, dan kehidupan baru. Namun ketika Samudra menemuinya untuk menyelesaikan perceraian mereka, ada sesuatu yang ternyata tak pernah berubah dari Samudra, Samudra tetap menjadi satu-satunya pria yang bisa mengisi hidupnya.
Kesepakatan baru pun dibuat, mereka akan tetap bersama selama sekejap sampai urusan itu selesai, sebelum menyadari bahwa hasrat mereka sungguh tak bisa terbendung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter - 14
Ayunda hampir tidak bisa menarik napas sebelum ciuman itu menyingkirkan segalanya kecuali tekanan kasar ke bibirnya. Tidak ada keraguan, tidak ada kesempatan untuk menahan diri, dan kepasrahan telah membuat bibirnya menerima saat ia merekahkannya di bawah kendali bibir Samudra. Ia mengerang karena desakan lidah Samudra dan menikmatinya dalam pelukan hangat suaminya.
Samudra kembali menginginkan Ayunda, dan Ayunda pun mengingkinkan dirinya lagi.
Rasa panas mendesis di sepanjang pembuluh darah Ayunda, meluncur ke perutnya dan membuat tubuhnya sensitif. Benaknya hanya dipenuhi hal yang menggoda ini, karena kembali menginginkan sentuhan.
Napas mereka keluar masuk di sela-sela bibir secara bergantian dan begitu intim. Gerakan membelai dan memutar yang hangat dan basah, Samudra menarik Ayunda lebih dalam hingga memasuki dan membuka lubang hampa di dalam jiwanya. Ayunda kembali menggigil ketika merasakan sensualitas ini lagi, merasakan rahimnya mengencang karena membutuhkan lebih.
Membutuhkan Samudra.
Ayunda menginginkan Samudra, menginginkan kekukuhan dan hasrat pria itu untuk menembus dirinya secara utuh, memasuki setiap sel tubuhnya lagi.
Tangan Ayunda bergerak tak berdaya di antara tubuh mereka, menggapai kain kemeja Samudra, mencengkeram bahu dan leher Samudra, lalu merem*s rambutnya yang tebal.
Samudra melepaskan ciuman dan menyusurkan kecupan di rahang Ayunda hingga ke kulit lembut di bawahnya. Gesekan gigi Samudra menyengat hingga ke pusat tubuh Ayunda dan ia mengerang menikmati sensasi ini lagi.
Lidah Samudra menyusuri sepanjang leher Ayunda dengan belaian pelan, mendekatkan pinggulnya hingga menyentuh pinggul Ayunda.
Embusan panas napas Samudra memunculkan jejak lembap dan Ayunda mengerang di bawah jilatan sensual itu.
“Kau tidak mengerti,” dekapan Samudra semakin erat "Bahwa aku menginginkanmu lagi...."
Satu lagi geraman berat terbisik di telinga Ayunda. “Regangkan kakimu.”
Jantung Ayunda berhenti berdetak dan kulitnya meremang dari ujung rambut hingga ujung kaki ketika Samudra membelaian kasar dengan lidahnya di bagian tubuh yang paling sensitif. “Oh Samudra.....”
Erangan memohon keluar bersamaan dengan embusan napasnya ketika bayangan menggoda muncul di benaknya, menembus pertahanan terakhir kegundahannya, dan Ayunda gemetar karena menginginkannya lagi. “Oh, Samudra.”
Bahu Ayunda terkena permukaan batu keras dan ia pun dengan terkejut menyadari kalau mereka masih berada di luar. Di bawah rimbunnya taman halaman kediaman mereka, hanya beberapa kaki dari gerbang depan raksasa dan sedikit lebih jauh dari tempat itu, ujung pagar batu berakhir digantikan dengan barisan pohon mangga yang tumbuh lebat.
Ayunda tersengal dan merasa sesak karena impitan tiang di belakangnya, ia menatap hasrat di mata Samudra. “Kau membuatku lupa di mana tempatku berada.”
Tubuh Samudra mengeras,ia tidak ingin menunda lagi. Ia menumpukan satu tangan di pilar batu di atas kepala Ayunda, lalu menekan tubuh Ayunda, dan memposisikan tubuhnya agar bisa menyentuh sebanyak mungkin. Mulut bertemu mulut, dada bertemu payud*ra, pinggul dimiringkan agar pahanya ada pada posisi yang nyaman. Pangkal pahanya menekan perut datar Ayunda. “Kau bersamaku, sayang”
Ayunda gemetar karena sentuhan Samudra, puncak payudar*nya menggesek dada Samudra di setiap tarikan napas yang tidak teratur.
Sial, ini begitu nikmat.
Samudra merasa begitu nyeri, tidak seperti yang pernah dirasakannya sebelumnya. Ia menekan satu telapak tangannya dibulatan pinggul Ayunda yang kencang. Meraba-raba untuk merasakan boko*g Ayunda, lalu menyusuri lekuk tubuh Ayunda naik hingga ke payud*ra. Sembari sedikit menjauhkan tubuhnya, Samudra meraih bulatan lembut itu dan memainkan ujungnya yang mengeras dengan ibu jarinya.
Lenguhan lembut menggelitik bibir Samudra, menyiksa sekujur tubuhnya. Sekali lagi ia mengusap puncak payud*ra Ayunda dan pinggul Ayunda pun bergerak dan mengusap dan mengenai pangkal paha Samudra yang menegang. Ayunda sangat bergairah, amat sangat.
Sangat seksi.
Samudra menginginkan kulit Ayunda di mulutnya, di giginya, merespons gerakan lidahnya.
Samudra bergerak ke bawah, meraih ujung kemeja Ayunda dan menariknya ke atas hingga menunjukkan bulatan ranum payud*ra Ayunda, dan puncaknya yang sewarna buah beri.
Mulut Samudra terasa kering.
Bagaimana ia bisa tidak tahu kalau ternyata Ayunda tidak memakai lagi b*anya?
Samudra memagut bibir Ayunda, menelan semua jeritan tertahan yang menghujaninya saat Samudra memutar lidahnya.
“Apakah kau merasakan kenikmatan itu sayang?” tanyanya, sembari membiarkan bibirnya menggesek bibir yang meremang itu di setiap kata.
“Mmm,” respons Ayunda. Namun Samudra menginginkan kata-kata.
“Katakan kepadaku, sayang”
Jemari Ayunda menegang di bahu Samudra, napasnya semakin memburu, membuat puncak payudar*nya menggesek bibir Samudra dalam setiap tarikan napas yang gelisah. “Aku merasakannya… aku membutuhkanmu Samudra”
Samudra menghadiahinya ciuman yang kuat, membuatnya kembali mengerang.
Itu belum cukup untuk membuat Ayunda puas.
Samudra kembali bergerak naik, bergeser ke kiri menuju ke bagian tengah untuk mendekati bagian yang ia inginkan. Menemukan titik lembut di pangkal leher Ayunda, melingkupi cekungan lembut itu dengan lidahnya dan membiarkan tangannya turun ke perut Ayunda. Lalu ke rok mini tipis yang menggantung rendah di pinggul Ayunda. Ia menyelipkan jemarinya ke dalam, menggesek rambut halus di situ, mengabaikan denyut Ayunda di bibirnya, lalu mengaitkan jemari di celah lembut Ayunda yang licin. Lembut dan basah.
“Samudra,” Ayunda terengah-engah, lututnya bergerak menghalangi sentuhan itu, tapi Samudra menahan paha mulusnya.
“Buka kakimu. Seperti ini.”
Mata yang berwarna coklat itu melirik ke arahnya saat Ayunda menyerah dan menuruti perintahnya. Samudra beringsut dan Ayunda membiarkan Samudra mengangkat kakinya ke pinggulnya.
Kemudian jemari Samudra menyelinap ke dalam, bergerak maju mundur, terus menyentuh kuntum mungil yang membuat Ayunda menggeliat dan memohon.
Samudra kembali menempelkan mulut mereka, merekahkan bibir Ayunda dengan lidahnya, dan mendorong satu jari ke dalam tubuh Ayunda. Ayunda basah dan bergairah dan begitu erat.
Otot lembut mencengkeram Samudra dalam alunan berirama saat ia mendorong keluar masuk di tubuh Ayunda, mengusap dalam-dalam hingga Ayunda hampir meledak dalam nikmat, Samudra bisa merasakan punggung Ayunda melengkung. Napas Ayunda terhenti seakan dirinya sedang berada di tepi jurang. Bersiap untuk jatuh melayang.
Jari Samudra terus keluar masuk. Ayunda mencengkeramnya lebih erat.
“Oh, Astaga. Samudra, aku mohon…”
Bantingan pintu mobil dan obrolan samar sepasang manusia di luar gerbang menarik Samudra kembali dari kabut gairah, ia mengangkat kepala dengan tersentak sembari mengumpat pelan mengutuk buruknya tempat yang dipilihnya.
“Jangan berhenti… aku tidak bisa…” Ayunda menggeleng, bisikan memohon menyelimuti leher Samudra dengan hasrat Ayunda, membuat itu menjadi hasratnya sendiri.
Tubuh Ayunda berdenyut dengan hasrat yang hampir terpenuhi. Jantung Ayunda berpacu dan napasnya tertahan. Ayunda hampir meledak. Sedikit lagi. Terperangkap dalam kekuatan gelombang gairah yang semakin dekat.
“Tahan napasmu, Sayang,” Samudra menggeram di bibir Ayunda.
Kejantanan Samudra mendesak keras dan kasar di pinggul Ayunda, bibir mereka saling bertemu saat ia mendorong masuk ke tubuh Ayunda, pertama dengan satu jari, lalu meregangkannya untuk memasukkan dua jari.
Ayunda tersentak karena desakan yang terasa penuh, dan mengejang di dorongan berikutnya saat percikan sensasi liar menyebar di sekujur kulit, ditarik kembali, lalu didorong semakin dalam, semakin besar, ke titik pusatnya. Berdenyut keras dan mendorongnya menuju satu gelombang kenikmatan yang panas.
“Sssttt. Aku di sini.” Mulut Samudra menyelimuti bibir Ayunda, meredam jeritan yang tak bisa ditahan karena dunia di sekelilingnya seolah habis terbakar, mengubah tubuh menjadi abu.
Yang lalu melayang tertiup angin, dan berputar-putar ke langit. Begitu ringan. Lembut. Ayunda akhirnya sudah terbebas.
Semakin sukses dalam berkarya
Mungkin kehilangan Galen adalah cara membuatmu menjadi dewasa