Mengorbankan cinta untuk sahabat?
Cintanya pada seorang laki-laki ia pertaruhkan demi kesembuhan sahabat yang menderita depresi.
Bisakah Salma mengikhlaskan Doni hidup bersama Esti. Atau mereka akan tetap bersatu dengan cinta mereka?
Temukan jawabannya di Biarkan Ku Mengalah cerita yang seru dan mengharukan tapi ga usah baper. Happy reading💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 Pencarian Adam
Doni memandang istrinya yang duduk di tepi ranjang. Seraya tersenyum.
"De....kamu tenang ya, jangan banyak pikiran! Insya Allah jodoh Salma akan dekat. Kita berdoa saja dan ikhtiar semoga apa yang kita harapkan bisa terlaksana" Doni menarik tubuh Esti kemudian mengusap rambutnya, sehingga Esti terlelap karena Doni selalu memberikan kedamaian. Begitulah hampir setiap malam Doni selalu melakukan hal yang sama sebelum tidur. Esti merasakan adanya kenyamanan dan kedamaian jika dekat dengan suaminya.
Lantunan ayat-ayat suci Alquran bertalu-talu menggentarkan qalbu bagi pendengarnya. Di mushola pondok para santri bermurojaah, tidak gentar walaupun di luar udara begitu dingin lantaran hujan deras turun menyapa bumi sejak tadi sore. Beberapa saat kemudian hujan telah reda, rasa dingin menusuk tulang tak dirasakan Adam lantaran tubuhnya dibalut jaket tebal. Setelah menyampaikan tausiyah singkat Adam berjalan menuju gazebo yang terletak di belakang mushola. Ia duduk merenung seorang diri sambil menyeruput kopi yang sudah dibuatkan Hani selepas kegiatan di mushola. Ia teringat akan kedatangan Salma tadi siang. Pengakuan Salma yang masih jomblo membuat Adam tersenyum sendiri. Dia merasa bertanggung jawab untuk mencarikan laki-laki yang pantas untuk disandingkan dengan Salma. Keponakannya itu sangat percaya pada pamannya karena Adam mempunyai banyak relasi yang memiliki pengetahuan agama yang cukup mumpuni. Adam adalah adik ayah Salma. Saat itu dia tinggal di pondok pesantren sambil kuliah. Di pondok Adam tidak hanya menjadi santri ia pun kerap diminta untuk mengajar mengaji dan mengisi tausiyah karena memang pengetahuan agamanya lebih menonjol dari santri lainnya wajar saja karena ia pun kuliah di bidang keagamaan. Ia menikah dengan Hani putri kyai Yusuf dan dikaruniai 2 orang anak.
Setelah berpikir panjang terbersit sebuah nama yang bertahun-tahun tidak pernah berjumpa. Seorang santri yang pernah dekat dengan Adam. Pengetahuan agamanya lumayan bagus, akhlaknya juga baik. Adam langsung mencari sebuah nama di ponselnya. Namun sayang tidak ada. ia pun berinisiatif untuk pergi ke kota kembang, tempat tinggal lelaki itu, saat itu juga. Kebetulan malam ini kegiatan sudah ada yang hendle. Jadi ia bisa pergi dengan leluasa.
Kira-kira pukul 03.00 dini hari Adam sampai di kota, sehingga ia harus singgah terlebih dahulu di sebuah masjid untuk menunaikan sunah sampai menjelang subuh. Ia rehat sebentar kemudian ia melanjutkan perjalanannya menuju rumah seorang santri yang sudah lama tidak berjumpa.
Sampai di sebuah rumah yang asri ada seorang nenek yang sedang menyapu halaman rumahnya. Dan ternyata orang yang Adam cari tidak ada di rumah sejak seminggu yang lalu. Lantas ada di mana dia? Berdasarkan informasi dari sang nenek, Adam melesat menuju kampus. Kemungkinan besar ia ada di sana.
Adam menyusuri koridor kampus dengan semangat walaupun masih pagi namun ia sangat berharap ia bisa bertemu dengan Darma. Ya Darma...sosok yang ia percaya untuk menjaga Salma kelak. Semoga berjodoh. Sebelum mencari lebih dalam ia sempatkan untuk mampir di sebuah kantin yang baru saja buka.
"Silakan A!" Sapa ibu kantin ramah.
"Mau sarapan apa? Ada bubur ayam, ketoprak, nasi uduk. Silakan dipilih sesuai selera. makan gratis, beres makan bayar." Bu Retno tersenyum. Adam geleng-geleng kepala
" Aih ibu bisa aja. Saya mau pesan bubur ayam. Tapi ga usah pake ayam"
"Loh kok?"
"Saya khawatir ayamnya nanti rebutan bubur sama saya, ntar saya ga kenyang dong" Adam pagi-pagi sudah bikin orang tertawa.
"ih si AA dikirain AA ga suka daging ayam. Tunggu sebentar ya A!" Tak menunggu lama bubur sudah tersaji di meja. Sedang menikmati sarapan datang dua orang gadis cantik yang memesan ketoprak, duduk di meja sebelah.
"Pokoknya aku harus dapetin tuh ketua BEM. Aku tuh ga bisa hidup tanpa dia Mira."
"Lela kamu jangan egois gitu deh ntar si Darma besar kepala. Kamu tuh sudah ditolak masih aja ngejar dia. Memang sih dia ganteng tapi dia ga mau sama kamu. Coba cari lelaki yang benar-benar tulus mencintai kamu. Dia sudah punya pacar, ingat itu!" Mira mencoba menasehati gadis yang di sampingnya. Adam yang mendengar nama Darma disebut merasa tertarik sebagai pendengar untuk mengetahui keberadaan Darma selama ini.
"ngga....ngga bisa itu baru pacar bukan isteri. Aku akan rebut Darma dari pacarnya itu. Aku pastikan Darma bisa menjadi pacarku dunia akhirat." Mira ga habis pikir dengan pola pikir sahabatnya itu. seperti ga ada laki-laki saja. Mira melihat ke samping. Ia kemudian menggeleng kepala, merasa malu sahabatnya menangis karena cinta. Malu karena di sana ada orang lain. Mira mengangguk sopan ke arah Adam. Tanpa disadari oleh keduanya Adam sudah berdiri di depan mereka.
"Punten teteh-teteh. Saya tadi sempat dengar nama Darma. Kalau menemui dia di mana ya?" Lela yang sedang menangis mendongak kemudian menghapus air matanya.
"AA mau bertemu Darma. Biar aku antar!" Lela beranjak dari tempat duduknya, dengan cepat meninggalkan Mira yang hanya termangu.
Adam mengikuti langkah Lela yang semangat seolah tanpa beban, padahal tadi termehek-mehek. Haduh jatuh cinta jadi seperti itu ya? Kadang menangis kadang tertawa benar-benar cinta membuat orang menjadi gila sesaat.
"Assalamualaikum Kak Darma....." Darma yang sedang bermain gitar bersama teman-temannya merasa terganggu dengan kehadiran Lela. Lela bergelayut manja.
"Assalamualaikum Darma!" Suara yang cukup familiar di telinga Darma membuatnya tertegun, tak percaya akan bertemu lagi dengan orang yang sudah ia anggap sebagai kakak. Dia mencoba untuk melepas tangan Lela yang masih bergelayut di lengan Darma. Darma malu luar biasa seperti sedang kepergok hansip saat sedang maling ayam.
"Kak Adam...." Darma tersenyum lantas langsung memeluknya. Waktu ke kota B ia sama sekali tidak bertemu dengan Adam. Termasuk Doni saat itu yang ingin ia temui ternyata tidak bisa ditemui juga. Entah semalam Darma mimpi apa tiba-tiba seorang yang sangat spesial dalam hidupnya datang tanpa diundang di kampus ini, tempat ia belajar dan numpang tidur. Darma sangat senang sekali. Ia meminta Roni membeli minuman dan makanan untuk suguhan tamu spesialnya. Darma mengajak Adam di sebuah ruangan. Tanpa diajak Lela ikut mengekor.
"Kamu mau apa? Sudah sana pergi! Makasih sudah nganter kakakku!" Ujarnya ketus. Dengan sangat terpaksa Lela meninggalkan tempat itu namun ada kebahagiaan yang terbersit di wajahnya, Darma mengucapkan terimakasih. Sungguh sesuatu yang luar biasa walaupun itu diucapkan dengan ketus namun begitu adem di hati bagai tersiram air terjun yang deras. Lela tersenyum sendiri sambil bernyanyi di sepanjang jalan.
"