Perjuangan seorang Nayra Kalista yang menghadapi begitu kerasnya dunia ini, dunia yang tak adil untuk dirinya hidup. Dari kecil menjadi seorang yatim-piatu, hidup di panti asuhan, rela putus sekolah demi menjadi tulang punggung bagi saudaranya di panti asuhan. Sampai akhirnya harta satu-satunya yang dijaga selama ini direnggut oleh pria asing yang Nayra sama sekali tak kenal.
Hidupnya hancur bertubi-tubi. Apakah ia bisa menjalani hidup nya kembali setelah apa yang ia alami selama ini? Apakah Nayra bisa bahagia dengan cobaan yang begitu berat ini?
yuk mampir biar tau perjalanan hidup Nayra!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cacil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 14
🍁🍁🍁
Sesampainya di lapangan Nayra melihat anaknya seperti sedang menangis di pojokan dan terlihat teman-temannya menjauhinya.
"Alden kamu kenapa Sayang?" Nayra menghampiri anaknya yang masih sedang menangis itu.
"Mama... Hiks... hiks..." Alden langsung memeluk mamanya dengan erat.
"Ada apa Sayang? Kenapa Alden menangis seperti ini?"
"Hiks... hiks..." Alden tetap menangis sambil menatap mata mamanya.
"Anak laki-laki nggak boleh nangis, harus kuat! Nanti siapa jagain Mama kalau Alden cengeng kayak gini."
Nayra menghapus air mata anaknya lalu kembali memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Mama, apa benar Alden nggak punya Papa?"
Deg!
Seketika hati Nayra sesak mendegar kata itu. Ini pertama kalinya Alden mengatakan ini kepada dirinya.
"Siapa bilang seperti itu pada anak Mama yang tampan ini?"
"Itu..." Alden menunjuk arah anak-anak yang sedang bermain bola itu. Nayra pun mengikuti arah Alden menujuk.
"Siapa bilang Alden nggak punya Papa, Alden juga punya Papa kok."
"Lalu di mana Papa Alden? Kenapa Alden tidak pernah melihatnya."
"Dengarkan Mama ya! Alden itu punya Papa, tapi Papa sedang bekerja jauh dari sini."
"Lalu kenapa Papa nggak pernah pulang? Apakah Papa tak sayang dengan Alden?"
"Untuk saat ini Papa belum bisa pulang, nanti kalau Papa pulang Alden akan dibawain mainan yang banyak, jadi Alden bersabar agar Papa cepat pulang."
"Mama serius?" Nayra menggangukan kepalnya untuk menanggapi pertanyaan Alden agar anaknya itu senang.
"Yey... yey... yey... Alden punya Papa..." Alden terlihat begitu gembiranya mendegar bahwa dia juga mempunyai Papa.
Rasanya Nayra ingin menangis melihat kebahagiaan sementara untuk anaknya. Ia tak tega berbohong seperti kepada anaknya tapi bagaimana lagi kebahagiaan Alden saat ini lebih penting. Urusan kedepankan itu akan ia pikirkan bila Alden sudah beranjak dewasa.
"Tapi Alden janji kalau tak pergi lagi dari rumah tanpa seizin Mama!"
"Alden janji."
"Ayok! Sekarang kita pulang."
Nayra mengandeng tangan anaknya pergi dari sana. Sampai rumah Alden terlihat begitu senang dengan perkataan palsunya kepada anaknya, tapi biarkan saja untuk sementara ini ia berbohong kepada Alden toh Alden akan mengerti setelah beranjak dewasa.
"Mama, Alden lapar," ujar Alden yang memang belum sarapan dari tadi pagi.
"Astaga! Aku lupa kalau Alden belum sarapan, mana lagi bahan makanan sudah habis di kulkas," batin Nayra.
"Sebentar ya Mama lihatin dulu di dapur kalau ada makanan."
Nayra pergi ke dapur untuk mencari apakah masih ada bahan makanan yang bisa di masak, tapi Nayra melihat tidak ada sama sekali sayur ataupun makanan yang lain di kulkas. Hanya ada roti dan susu saja yang masih tertinggal di kulkas.
"Alden mau makan roti nggak? Soalnya Mama belum beli bahan makanan di kulkas."
Alden hanya mengangguk menyetujui perkataan mamanya. Lalu Nayra menyiapkan roti beserta selai stroberi kesukaan Alden, tak lupa juga Nayra membuatkan susu agar anaknya nanti merasa kenyang karena roti saja tak cukup untuk membuat kenyang.
"Ini Mama sudah buatkan, sekarang di makan ya Sayang!"
Alden langsung menghentikan bermainnya lalu menuju makanan yang Nayra sajikan buatnya.
"Mama, Alden nggak suka pinggiran rotinya."
"Loh memangnya kenapa? Pinggiran roti itu enak loh."
"Alden nggak suka, rasanya pahit. Mending Mama buang pinggiran rotinya kalau nggak Alden nggak mau makan."
Terpaksa Nayra memisahkan roti itu dengan pinggirnya, lalu kembali menyajikannya kepada anaknya.
"Sekarang Mama udah buang pinggiran rotinya, sekarang Alden makan ya!"
"Kenapa ada susu di sini? Alden nggak suka susu."
Mendegar keluhan anaknya dari tadi membuat Nayra ingin emosi, tapi ia menahannya lalu menghela nafas dengan kasar.
"Memangnya kenapa lagi dengan sususnya?"
"Alden nggak suka, pokonya sususnya juga di buang."
"Kalau Alden nggak mau minum susunya, lebih baik Mama yang meminumnya. Sayang kalau dibuang jadi mubazir."
Nayra pun meneguk semua satu gelas susunya. Sedangkan Alden mulai memakan rotinya setelah drama yang tadi ia buat karena tak menyukai makanan yang di sajikan mamanya.
Menjelang sore setelah membereskan rumah dan telah mandi. Nayra rencananya akan pergi ke supermarket untuk belanja bulanan terutama membeli bahan makanan yang sudah habis.
Karena Nayra takut melihat Alden sendirian di kontrakan, Nayra pun mengajak Alden ikut ke supermarket walaupun nanti ia yakin kalau anaknya itu akan meminta ini-itu untuk dibelikan.
"Ayok Sayang kita berangkat!"
Karena supermarket dari kontrakannya lumayan jauh. Nayra memutuskan untuk naik angkot menuju ke supermarketnya.
Sesampai di sana Nayra mengambil troli untuk menampung belanjaan. Nayra membeli cukup banyak belanjaan karena belanjaan ini stok untuk sampai bulan depan, tapi Nayra juga memilih-milih barang untuk dibeli mana kebutuhannya dan mana yang tak penting karena uangnya juga cuma cukup sampai ia gajian.
"Mama mau es cream..." Alden menarik-narik baju Nayra sambil merengek biar bisa dibelikan es cream kemauannya.
"Sebentar dulu Sayang, Mama mau pilih ini dulu," Nayra tak melihat anaknya yang merengek mau dibelikan es cream malah Nayra sedang fokus memilih diskonan yang ada di sana.
Karena tak sabaran Alden pun pergi dari sana dengan berlari karena begitu tak sabar membeli es cream yang ia mau. Sampai tak sengaja Alden menabrak seseorang dari belakang. Untung saja Alden tak terjatuh.
"Aduh..." rengek Alden karena kepalnya kepentok dengan bokong orang yang Alden tabrak.
Orang yang tadi ditabrak oleh Alden pun membalikkan badannya melihat siapa yang menabraknya.
"Siapa kamu? Di mana Mama mu?" tanya laki-laki bertubuh tinggi itu.
"Om siapa?"
"Lah kok balik bertanya nih bocah?" gumam laki-laki itu.
"Harusnya Om yang nanya sama kamu, kamu siapa? Dan di mana Mama kamu?" laki-laki itu menyamaratakan tingginya dengan Alden.
"Mama saya di situ Om..." sambil menunjuk Nayra yang hanya terlihat belakangnya saja karena Nayra masih sibuk dengan diskon yang ia lihat. Biasalah ibu-ibu akan bersemangat kalau sudah lihat diskon di depan mata.
"Sekarang kenapa kamu ada di sini?"
"Alden mau es cream."
"Oh... Nama kamu Alden." Alden hanya mengangguk untuk menanggapi perkataan laki-laki itu.
"Kalau gitu ayok Om belikan es cream untukmu."
Laki-laki itu mengandeng tangan Alden menuju tempat es cream. Setelah mengambil es cramnya laki-laki itu membayarkan Alden es cramnya.
"Makasih Om..." ucap Alden begitu imutnya membuat laki-laki itu begitu gemas melihat anak kecil itu.
"Iya sama-sama. Lebih baik Alden pergi ke mama biar nanti nggak dicariin."
"Iya Om. Sekali lagi terima kasih Om, dadah..." Alden melambaikan tangannya ke arah laki-laki itu lalu berlari menuju ibunya.
See you again...
LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^
typoo yaaaa