NovelToon NovelToon
Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Balas Dendam / Badboy / Tamat
Popularitas:539.2k
Nilai: 5
Nama Author: NCY

“Aku tidak pernah tertarik dengan gaya kampungan mu itu, aku menikahi mu karena perusahan kakek. Siapa pun yang menikahi dirimu maka pria itu berhak menjadi penerus perusahan Wina Graha.” ucap Brian seraya memandang rendah wanita di balik daster biru tua itu.

Wulan bangkit dari lantai menatap ke arah Brian sambil mengepal kedua telapak tangannya.

“Aku berjanji akan menjatuhkan dirimu serendah rendahnya hingga kamu sendiri tidak bisa bangkit dari tempat kamu jatuh. Ini adalah sumpahku,” batin Wulan.

Ia akhirnya berlalu dari hadapan Brian dan Raya wanita selingkuhan suaminya itu.

Pernikahan membuat hidup Wulandari seperti dalam neraka, namun pernikahan itu pula yang membawa Wulandari pada seorang pria bernama Arkan Rafali. Sepupu suaminya yang mampu membuat hatinya merasakan manisnya cinta.

Di balik penderitaan Wulandari, ditengah rencana nya balas dendam, kisah cinta manisnya tumbuh bersama Arkan.

Penasaran dengan akhir kisah nya mereka. Yuk tongkrongin terus

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-Kedatangannya-

Selasa siang setelah selesai dari ruang meeting, Wulan langsung kembali ke ruangannya. Ia meraih ponselnya keluar dari dalam laci, ponsel pribadi yang hanya diketahui oleh keluarga dekatnya.

Sebuah pesan dari Renata tidak langsung di baca Wulan. Perhatian Wulan tertuju pada tiga buah panggilan tak terjawab dari kakek Hendy.

“Tumben kakek nelpon,” gumamnya sambil jari jempolnya menekan tombol call.

Setelah beberpa kali nada tersambung, suara kakek Hendy terdengar antusias memanggil nama cucunya.

“Wulan,” panggil sang kakek.

“Iya kek, ada apa?” tanya Wulan.

“Kamu sudah membuat combro yang kakek minta kemaren?” tanya kakek.

“Sudah kek, sore sepulang kerja baru bisa aku antar ke tempat kakek,” jawab Wulan.

“Jangan bawa ke sini. Kamu bawa saja ke kantor suami kamu ya!” perintah kakek.

“Kok ke kantor Mas Brian?” tanya Wulan heran.

“Tadi suami mu baru dari sini. Dia membawakan kakek begitu banyak buku. Kami berbincang sejenak, katanya dia juga penggemar combro. Ya sudah kamu bawa saja ke sana, dan katakan kakek suka dengan buku buku yang di bawa nya,” ujar kakek.

“Baik kek, akan Wulan bawa ke mas Brian,” ucap Wulan patuh.

“Ada alasan mengucapkan terima kasih pada mas Brian, tidak mungkin aku tiba datang menemuinya,” batin Wulan.

“Ya sudah kakek tutup dulu, jangan lupa di bawa ke suami mu ya!”

“Iya kek, pasti Wulan bawa combro itu kepada mas Brian,” ucap Wulan kemudian diikuti beberapa suara bip pertanda panggilan telah berakhir.

Fokus Wulan langsung tertuju ke sebuah pesan masuk dari sahabatnya Renata.

“Dia di Jakarta?”

Jemari Wulan langsung menekan tombol hubungi. Tak seberapa Renata langsung mengangkat panggilan telponnya.

“Ren bener kamu di Jakarta?” tanya Wulan antusias.

“Iya Lan, masih di bandara tungguin bagasi,” sahut Renata dari ponselnya.

“Kamu kok nggak ngomong mau ke sini?” tanya Wulan lagi.

“Sengaja, kalau aku ngomong nanti ngerepotin kamu.” ujarnya.

“Oh ya, urusan apa? Liburan atau kerjaan?” tanya Wulan.

“Urusan kerjaan dikit urusan liburan banyak,” jawab Renata.

“Aku nggak bisa jemput kamu sekarang Ren, nanti sekitar jam lima kita ketemuan ya,” ajak Wulan.

“Makanya aku nggak ngomong mau ke sini, takut ganggu pekerajaan kamu. Btw kalo masih sibuk besok2 juga masih bisa ketemu. Aku masih lama kok di Jakarta,” ucap Renata.

“Nggak ah, pokoknya aku jemput kamu jam lima. Kamu nginep dimana?” tanya Wulan.

“Belum tau juga nih mau nginep di mana, belum pesen hotel.”

“Aku pesen kan gimana?”

“Ok, biar aku bisa langsung ke hotel,” jawab Renata.

“Ok sampai ketemu sore beb. Bye,” Wulan langsung mengakhiri panggilan telponnya.

Setelah memesan sebuah kamar di hotel terdekat dengan kantornya mata Wulan langsung tertuju k jam digital pada ponselnya.

“Sebaiknya aku cepat selesaikan pekerjaanku, aku harus ke kantor mas Brian kemudian jemput Renata.” Wulan membatin sambil bergegas menarik gagang telpon di atas meja kerjanya.

“Rasti. Data yang saya minta tadi kamu simpan dulu. Saya ada urusan di luar, kalau bisa besok data nya kamu bawa ke meja saya. Oh ya jangan lupa di sortir sesuai bulan dan tahun ya,” jelas Wulan.

“Saya kirim format PDF aja gimana bu?” tanya Rasti.

“Jangan, saya ingin melihat dokumen aslinya serta tanda tangan penanggung jawabnya.”

“Baiklah bu.”

Fokus Wulan langsung beralih ke arah laptop, masih ada waktu sekitar sejam untuk ia menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Tentu ia harus menyiapkan combro dan ganti pakaian lagi sebelum menuju ke kantor mas Brian.

Dua jam berlalu, pak Arman sopir kantor yang disiapkan Jenny untuk Wulan langsung menurunkan Wulan persis di depan pintu masuk Wina Graha. Perusahan bonafit dengan gedung menjulang tinggi itu tampak megah. Beberapa orang karyawan terlihat lalu lalang keluar masuk dari pintu otomatis di hadapan nya.

Dengan pasti langkah Wulan bergerak masuk ke dalam gedung kantor tersebut.

“Aku istri dari pimpinan disini, tentu aku harus lebih berwibawa menghadapi setiap karyawan disini,” batinnya.

Setelah melewati ruangan luas Wulan kini sudah berhenti di depan front office girl yang terlihat sangat cantik.

“Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?” sapa wanita itu terlebih dahulu.

“Saya ingin ke ruangan pak Brian,” jawab Wulan.

“Sudah ada janji?” tanya wanita itu lagi.

“Belum,” sahut Wulan.

“Maaf mbak, anda tidak bisa masuk jika tidak ada janji temu dengan pak CEO,” ujar Wanita itu.

“Tapi saya,” Wulan berniat mengatakan jika dia adalah istri dari Brian, namun ia mengurungkan niatnya itu. Pikirannya langsung tertuju kepada Arkan.

Wulan terlihat merogoh sesuatu dari dalam tas nya. Ia langsung menghubungi Arkan.

“Mas, Wulan di bawah,” ucap Wulan.

“Dimana?” tanya Arkan dengan suara pelan.

“Di kantor mas, Wulan ga di perbolehkan naik,” ucap Wulan.

“Kamu ngapain ke sini, mas lagi rapat,” ujar Arkan.

“Wulan disuruh kakek membawa makanan untuk mas Brian.”

Arkan terdiam beberapa saat.

“Berikan ponsel kamu kepada wanita disitu,” ucap Arkan.

Wulan pun melakukan sesuai yang di ucapkan Arkan.

“Baik pak, iya pak,” ucap wanita itu patuh.

Setelah mendapatkan aba aba dari Arkan wanita cantik itu mengembalikan ponsel Wulan.

“Karena pak Brian sedang meeting, ibu bisa langsung ke ruangan nya. Mari bu ikut saya,” ucap wanita itu lebih ramah dari sebelumnya.

Ia mengarahkan Wulan menuju salah satu lift. “Ruangan pak Brian ada di lantai 59, dan hanya bisa menggunakan lift ini,” ucap wanita itu setelah memencet tombol angka pada lift.

“Saya bisa naik sendiri mbak,” ujar Wulan.

“Nggak apa bu, perintah pak Arkan saya harus mengantar ibu sampai ke lantai 59,” ujar wanita itu.

Wulan tak bisa apa apa, lift sudah berjalan naik dan ada baiknya jika dia di antar atau mungkin ia akan tersesat di gedung sebesar itu.

Lift sudah berhenti pada angka 59.

“Silahkan bu,” ucap wanita itu lagi.

“Saya bisa masuk sendiri, kamu bisa lanjutkan pekerjaan kamu,” tukas Wulan berwibawa.

“Baik bu.”

Wulan bergegas keluar sedangkan wanita itu langsung kembali turun.

Pandangan Wulan menelaah ke sekitar ruangan yang baru saja di masukinya. Ruangan luas yang terdapat sebuah set sofa serta beberapa pajangan lukisan Classic pada dinding.

Di sudut ruangan, seorang yang terlihat berdiri sari balik meja kerja. Wulan langsung menghampiri wanita itu. Wanita yang tidak asing di mata Wulan.

Semakin mendekati wanita tersebut Wulan semakin bertanya tanya dalam hati. “Dimana aku pernah bertemu wanita ini?”

“Sore mbak,” sapa Wulan.

“Sore,” jawab wanita itu agak kikuk.

“Dari mimik wajahnya, sepertinya dia juga mengenalku,” batin Wulan.

“Saya ingin ke bertemu.”

“Pak Brian sedang di ruangan meeting, saya belum tau selesai jam berapa,” ucap wanita itu cepat memotong ucapan Wulan.

“Suara nya juga tidak asing,” batin Wulan.

“Kamu sekertaris nya?” tanya Wulan.

“I iya saya,” ucap nya tergagap.

“Ah bener, dia adalah wanita malam itu. Wanita yang di bawa Brian ke ranjang dimalam pengantin kami.” batin Wulan.

“Nama kamu? Supaya saya bisa mengatakan makanan sudah saya titip ke?” tanya Wulan sembari mengangkat kotak makanan di tangannya.

“Saya Nindi,” ucap Wanita itu sambil mengambil kotak dari tangan Wulan.

“Ah ya, namanya Nindi. Ternyata sekertaris Brian. Sekertaris yang bekerja untuk Brian di kantor sekaligus di atas ranjang,” batin Wulan.

“Bisa saya pinjam toilete sebentar?” tanya Wulan.

“Kenapa nggak ke toilet di lantai dasar? Saya nggak berani menerima sembarang orang masuk ke ruangan pak Brian tanpa seijin orangnya,” ucap Nindi yang terlihat sangat ingin agar Wulan segera pergi dari situ.

“Apa di lantai ini toilete nya hanya ada dalam ruangan pak Brian?” tanya Wulan sambil menelaah beberapa pintu ruangan lain disitu.

“Iya, hanya ada diruangan pak Brian,” jawab Nindi.

“Sepertinya wanita ini sulit di ajak kerja sama,” batin Wulan.

“Toilete untuk umum ada di lantai dasar, inginsaya antar ke sana?” lanjut Nindi karena Wulan masih masih berdiam di hadapannya.

“Nggak usah, saya akan ke ruangan pak Arkan saja,” ujar Wulan kemudian.

Kemudian suara gagang pintu terdengar dari arah belakang menyusul sosok seorang wanita keluar dari sebuah ruangan bertuliskan Ruangan CEO.

“Siapa Nin?” tanya wanita itu lembut.

Wulan berbalik badan menatap wanita cantik tak seberapa jauh di belakangnya persis di depan pintu.

“Nindi dengan berdiri kikuk sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Ini.. dia,” ucap Nindi terbata seolah tak bisa melanjutkan kata kata nya.

.

.

.

TBC…

1
Safa Almira
sukaaaa
Ido Lina
hmmmm ternyata masih hidup
Ido Lina
ya ampun
Elok Pratiwi
membosankan tidak menarik tidak ada greget nya dg karakter pemeran utama wanita nya
Kim yumna
Gemes sama wulan ,,oon bangeeettt
Suzy Leztyo
Luar biasa
Surati
bagus
guntur 1609
wulan emang kegatelan. sdh tahu otak brian seperto itu. mash sj. akhirnya dia sendiri yg susah
guntur 1609
brian oasti mash hidup
guntur 1609
dasar oerempuan begok
guntur 1609
kok berbelet ceritanya thor...knp brian gak di eksekusi. enak x hidupnya. bebas hidup diluaran dengan semua kejahatanya
guntur 1609
jenny bodoh. masa arkan dikasih barang bekas btian. yg tdk ori. belum tentu sheila sifaynya bagus
guntur 1609
jenny kok bodoh x broan sama bapak nya dan mamanya sama saja. sama2 serakah bin tamak
guntur 1609
kok bodoh x wulan. terlalu lemah. cocoknya sekeluarga dipenjara semua. dasar keluarga serakah
guntur 1609
wulan kok bodoh banget. pasrah x jd org. dia juga pemilik harta tsb. mau sj do tindas
Kim yumna: Nah iyaaa ,,gemes sendiri dan konyol sama karakter wulan
total 1 replies
guntur 1609
berati bapak. mama. sama anak. sama saja gak ada yg bener
guntur 1609
mati ja kau kelaut penjahat kelamin
guntur 1609
wulan kok bodoh. mudah di intimidasi
Fatihah
aq baca lompat2 karena ceritanya bisa di tebak dan masih berputar di cerita itu2 saja
🫧Alinna 🫧: Maaf ya masih baru belajar 🙏🏻
total 1 replies
Fatihah
ceritanya bikin tensi naik yg komen smp nangis itu namnya alay authornya jg sama bikin cerita dk berbobot sama sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!