Ini adalah kisah Kanina, gadis 20 tahun yang harus kehilangan masa depannya. Di tengah malam yang gerimis, seseorang menyeretnya dengan paksa. Memperlakukan gadis itu bagai binatang.
Alung, putra dari orang ternama di kota itu. Anak badung yang selalu membuat masalah. Kali ini, masalah yang ia buat bukan main-main.
Anggara Kusuma Dinata, pria 35 tahun yang sudah didesak sang ibu untuk segera mengakhiri masa lajang. Pria terpandang di kampung sebelah, dambaan para gadis desa dan mantu idaman.
Mana yang akan melangkah bersana Kanina?
Bagaimana kisah Kanina, setelah sebulan kemudian ia dinyatakan hamil?
Hai, selamat datang di novel terbaru Sept. Jangan lupa baca juga novel Sept yang lain.
1. Rahim Bayaran
2. Suamiku Pria Tulen
3. Istri Gelap Presdir
4. Dea I Love You
5. Wanita Pilihan CEO
6. Kesetiaan Cinta
7. Menikahi Majikan
Ig : Sept_September2020
Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Depression
Mencari Daddy Bag. 14
Oleh Sept
Rate 18 +
"Tolongin Nina, Mas. Tolongin!" Kanina menarik tangan Gara dengan tatapan mengiba. Gadis itu tiba-tiba terlihat panik dan wajahnya berubah pucat. Tergambar jelas bahwa Kanina itu sedang melawan rasa traumanya. Melihat tersangka yang mengoyak tubuhnya malam itu, benci dan takut menjadi satu dalam dirinya.
"Nin! Kamu kenapa?" tanya Gara cemas. Ia khawatir tiba-tiba Kanina seperti itu.
"Dia ... Diiaa di sini ... laki laki itu!" ucap Kanina terbata dan seperti orang kebingungan.
Gara langsung menoleh, ia melihat sekeliling. Tanpa Kanina cerita, ia bisa menebak. Pasti ayah bayi itu ada di sana. Sedangkan Alung, pria yang ia cari. Perlahan ia melangkah, meski tangan sang kakak menariknya.
"Mau ke mana kamu? Sudah ... jangan ikut urusan orang. Mbak lapar ... Ayo pesen makan dulu."
Tanpa sadar, Alung menepis lengan kakak perempuannya. "Sebentar, Mbak. Alung mau memastikan sesuatu!"
Mei menatap heran, kesambet apa sih itu adeknya. Hanya gara-gara pengunjung menjatuhkan gelas saja ia jadi peduli dan ingin melihat dari dekat. "Apa dia mengenalnya?" batin Meichan saat melihat sang adik yang terus melangkah ke arah Kanina.
"Apa dia laki-laki brengsekkk itu?" bisik Gara saat menyadari ada pria yang mendekati meja mereka.
"Tolongin Kanina, Mas. Nina nggak mau bertemu pria itu."
Seketika Gara langsung berbalik, dan detik berikutnya terdengar suara pukulan.
BUGH
Gara yang jengkel karena perbuatan keji Alung pada Kanina, spontan memukul Alung tepat di perut pria itu.
"Lung!!!!"
Meichan berteriak, ia bergegas menghampiri Alung yang dipukul Gara. Tapi, tiba-tiba matanya terasa gelap. Sebelum ia sampai ke pada adiknya, tubuhnya oleng.
Bruakkk
Meichan jatuh menyengol waiters yang sedang membawa nampan berisi hidangan untuk para pelangan. Dan kekacauan itu membuat Alung berlari, melupakan rasa penasaran saat melihat Kanina, dan melupakan akan menghajar balik Gara, si pria asing yang dengan seenaknya menghajar dirinya.
"Mbakk! Mbakk!!"
Alung panik, pria itu kemudian membopong Meichan ke luar resto tersebut. Meninggalkan Kanina, meninggalkan pria yang barusan mengajak dirinya dengan tiba-tiba.
***
Rumah sakit RSII
"Kakak saya kenapa, Dok?"
Alung panik, tiba-tiba ia takut kehilangan sosok yang selama ini kadang ia benci. Benci karena Meichan lebih segalanya dari pada dirinya. Iri karena Meichan lebih dijunjung keluarga. Namun, sekarang rasa iri berubah jadi rasa khawatir yang membuncah.
Alung kini takut, takut bila hal buruk menimpah sang kakak. Kakak yang dulu ia benci, nyatanya sosok itu paling dekat dengan dirinya selama ini.
***
Ketika Alung sedang menunggu hasil general check up sang kakak di sebuah rumah sakit, Kanina dan Gara sudah sampai di rumah. Begitu mobil berhenti, Kanina buru-buru masuk masuk ke rumah, ia masih kelihatan ketakutan.
"Loh ... sudah ditempati toh Mas Gara, rumahnya?"
Gara menoleh, saat menutup pintu mobil. Ia kaget karena disapa oleh tetangga sekitar sana.
"Iya, Pak." Gara mencoba santai.
"Itu istri Mas Gara? Kok nikah nggak ngundang. Wah ... Jangan-jangan Bu Sadewo lupa sama saya ... Wong putranya nikah gak ngundang!" canda tetangga tersebut.
"Aduh!" batin Gara.
"Ya sudah, saya lanjut lagi. Nanti malam boleh ya, saya mampir. Sama istri saya, biar kenalan sama istri Mas Gara."
Tanpa menunggu jawaban, pria itu langsung menjalankan motornya. Gara memang terkenal di daerah sana. Nama besar keluarganya cukup disegani orang-orang, membuatnya juga sama seperti kedua orang tuanya. Disegani dan orang-orang menaruh hormat pada pria tersebut.
Werrrrrr
Motor itu melaju meninggalkan Gara yang nampak bingung. Tidak mungkin berdiri saja di depan rumah. Gara lantas masuk. Kemudian mencari Kanina.
"Kanina ... Nin ... Nina!"
Tok tok tok
"Kamu tidak apa-apa, kan?" Gara khawatir, sejak di dalam mobil tadi Kanina terlihat gelisah. Sepertinya saat ini, Gara membutuhhkan psikiater untuk gadis tersebut. Selama ini sepertinya trauma Kanina dibiarkan berlarut-larut, harusnya Kanina mendapat bimbingan, proses healing untuk membuat traumanya hilang.
"Saya masuk, ya?" Karena Kanina tidak menjawab, Gara pun memegang handle pintu.
Ia membuka pintu yang tidak terkunci tersebut lebar-lebar. Agar Kanina tidak merasa takut karena dalam ruangan dengan pria asing.
"Nina ... lihat saya! Kamu harus kuat, jangan biarkan rasa trauma itu menguasai dirimu."
Kanina diam, tatapan matanya kosong. Bayangan malam di mana dia diperlakukan bagai binatang kembali muncul di pelupuk mata. Tanpa sadar, matanya mengeluarkan bulir bening, jatuh menetes membasahi pipi, Kanina kembali melihat dalam kepalanya. Bagaimana pria itu dengan kasar melukai fisik dan jiwanya.
Nafasnya memburu, jantungnya seakan tersentak. Seolah malam itu kembali terulang, Kanina merasa melewati kembali malam mencekam tersebut.
"Jangan ... Jangann!!" teriak Kanina histeris sembari menutup kedua telinganya.
Reflect, Gara merengkuh tubuh Kanina. Bersambung.
IG : Sept_September2020
Fb : Sept September
Terima kasih sudah menbaca tulisan Sept, semoga bisa diambil baiknya, dan buang buruknya ya ... Heheh