Zahra awalnya hanya mengagumi sosok lelaki tampan yang selalu bersikap dingin, namun sering sekali ia merasa kesal kepadanya karena sikapnya itu. Siapa sangka kekesalan itu akhirnya berubah jadi cinta.
Sama halnya dengan Zaidan yang juga tertarik dengan Zahra tetapi tidak berani untuk mengatakan karena status mereka, dan menganggap itu adalah sesuatu yang mustahil untuk di gapai.
Bagaimana perjalanan Cinta Zahra dan Zaidan ?
Penasaran gimana ceritanya ?
Langsung baca aja ya !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Mimpi Di Sore Hari
Hal yang sangat membosankan bagi Zahra dan Rena adalah masuk kuliah di sore hari. Sebab di sore hari Zahra dan Rena sudah tak bersemangat lagi, mereka selalu saja mengantuk di kelas.
"Aduh Ra, gue ngantuk banget loh sumpah !" Ucap Rena sembari menguap..
"Sama, gue juga ngantuk banget parah ! Gue paling malas dengan kelas sore" Sahut Zahra yang juga sedang menguap sembari menutup mulut nya dengan tangan..
Pak Daril sedang memberikan materi di depan, namun kelas tampak hening dikarenakan kelas sore membuat para mahasiswa dan mahasiswi jadi mengantuk. Bahkan sebenar nya pak Daril juga merasa sangat bosan dengan kelas sore, sudah berusaha mengganti jam bahkan hari namun tetap tidak berhasil karena tak ada kelas lain yang kosong untuk kelas mereka..
Jam sudah menunjukkan pukul 04.30, Baru sekitar satu jam masuk, pak Daril segera mengakhiri kelas nya setelah memberikan beberapa materi pada mereka hari ini.
"Saya harap kalian mengerti walaupun sebenarnya tidak. Melihat kalian tidak bersemangat sama sekali, saya pun begitu karena kelas sore. Jadi pertemuan hari ini kita akhiri dulu ya !" Ucap pak Daril dengan ramah..
"Baik pak !" Jawab mereka bersamaan. "Bapak memang paling mengerti situasi, Hehee" Sela Rendi, seorang lelaki yang berpostur tubuh tinggi itu..
"Iyaya, Oh iya saya ingatkan kembali, jangan lupa kumpul kan tugas kalian seminggu sebelum final ya, karena final sudah tidak lama lagi. Kumpul dalam bentuk proposal, bagi yang sesuai dengan yang saya suruh dan mendapat nilai bagus kalian tidak perlu ikut final. Mengerti ? Semoga proposal kalian bagus semua ! Lanjut pak daril..
"Iya baik pak !" Jawab mereka bersamaan.
Akhirnya, setelah pak Daril keluar kelas mereka jadi bersemangat kembali. Termasuk Zahra dan Rena, karena akhirnya kelas sore yang membosankan itu akhirnya selesai juga.
"Ra.. Sorry ya hari ini gue nggak bisa pulang sama lo deh" Ucap Rena sembari bercermin dan merapikan lipstik nya.
"Eh, lo mau kemana memang ?" Tanya Zahra sedikit bingung..
"Gue ada janjian. Lo inget nggak bang Alfi yang kemarin kita jumpa di Caffe Losteria, Temannya bang Eki itu loh." Jawab Rena dengan penuh semangat.
"Oh iyaya ingat gue, Lah terus kenapa ? Jangan bilang..." Belum selesai Zahra ngomong langsung di sela oleh Rena.
"Iya, gue janjian ketemu sama dia sore ini jam 5. Makanya, sorry gue ga bisa bareng lo ya" Ucap Rena sambil memegang tangan sahabatnya ini.
"Okeoke, gue ngerti, Yaudah sana deh gue nanti bisa suruh abang gue jemput. Jangan lupa cerita ke gue apa yang terjadi setelah pertemuan kalian hari ini. Gue kepo deh jadi nya, Hahaaha." Lanjut Zahra penuh semangat.
"Hehe, nggak janji gue ya !" Balas Rena, Rena kemudian pergi meninggalkan Zahra.
"Duh si abang kemana sih di WA nggak di balas, telponpun nggak di jawab jawabnya. Si Rena pun, nggak bilang awal awal deh kalau ada janjian. Sekarang gue pulang sama siapa coba nih. Sial banget sih" Ucap Zahra..
Setengah jam sudah Zahra menunggu, namun tetap tidak ada balasan nya sama sekali dari Rizal, berkali kali Zahra menghubungi nggak ada jawaban sama sekali. Zahra terus mondar mandir di dekat parkiran tadi.
"Kenapa Zahra mondar mandir di parkiran sendirian, dia seperti terlihat sedang berpikir keras" Tanya Zaidan didalam hati, kemudian Zaidan pun berjalan menuju parkiran tersebut.
"Ya ampun, mau nebeng sama siapa nih, temen sekelas pun udah pada di jalan pulang semua. Nasib nasib." Ucap Zahra yang kemudian di sela oleh Zaidan.
"Kenapa kamu disini mondar mandir dari tadi Zahra ? Apa yang terjadi ?" Tanya Zaidan.
"Eh pak Zaidan, ( Zahra terkejut ditambah lagi dengan debaran jantung nya yang membuatnya jadi salah tingkah saat berbicara dengan Zaidan ), "Ngg...nggak ada pak saya lagi nunggu abang saya untuk suruh jemput, tapi nggak ada jawaban nya dari tadi di hubungi" Jawab Zahra dengan wajah memerah.
"Dimana Rena ? Tidak pulang dengan nya hari ini ?" Tanya Zaidan.
"Ah Rena ada urusan tadi jadi nggak bisa pulang bareng deh" jawab Zahra sambil terus menghubungi abang nya.
"Kalau begitu, pulang dengan saya saja, bagaimana Zahra ?" Tanya Zaidan tiba tiba serius sehingga membuat Zahra kaget dan jantung nya semakin berdebar hebat..
"Deg..Deg..Deg.., Hah.. Apa ? Eh..Nggak usah deh pak, saya tidak mau merepotkan bapak, lagian kita pasti tidak searah. saya bisa tunggu abang saya saja pak. Terimakasih perhatian bapak" Jawab Rena dengan gugup..
Zaidan melihat Zahra dengan sinis karena Zahra berani menolak ajakan Zaidan mentah mentah.
"Jangan sungkan, Saya mau ke jalan Tamren, mau ngambil pesanan kue di Toko kue Deby Cake. Mungkin bisa sekalian saya antar kamu. Hari sudah semakin sore. kamu mau menunggu disini sampai magrib ?" Ucap Zaidan sembari membuka pintu mobilnya.
"Eh Debycake ? itukan dekat rumah gue" Batin Zahra. "Ya sudah saya mau merepotkan bapak hari ini, kebetulan rumah saya dekat dengan toko kue Deby Cake. Tapi saya merasa agak tidak enak pak kalau di liat sama mahasiswa lain nya saya pulang bareng bapak." Ucap Zahra.
"Nggak apa apa, masuk terus ke mobil cepat cepat agar tidak ada yang melihat" Jawab Zaidan. Zaidan melihat ke kiri dan ke kanan, memperhatikan apakah ada yang melihat mereka saat ini. Untung saja karena hari sudah sore kebanyakan mahasiswa sudah pada pulang semua.
"Baik pak !" Jawab Zahra..
Didalam mobil hanya ada keheningan, Zahra dan Zaidan merasa sama sama canggung. Tidak ada yang membuka obrolan diantara mereka. Sama sama saling menunggu untuk berbicara duluan.
"Astaga, kenapa dia diam aja sih. Ngomong dong, jangan buat suasana canggung seperti ini " Batin Zahra.
Deg..Deg..Deg.. Jantung Zahra berdebar debar, bahkan Zahra merasa sedikit takut dan tidak berani sama sekali melihat ke arah Zaidan yang hanya duduk diam dan fokos menyetir dan melihat ke depan.
"Kenapa Zahra diam aja, apa salah nya dia ngomong apa gitu kek, canggung banget kan jadinya" Batin Zaidan.
"Bapak sudah lama mengajar di kampus kita ?" Ucap Zahra yang tiba tiba membuka obrolan.
Zaidan Tersenyum. " Sudah 2 tahun" Jawab Zaidan dengan singkat padat dan jelas.
"Astaga ini orang, pantas saja semua bilang dia laki laki yang dingin, cuek sombong dan semacamnya. Benar saja dia memang sangat dingin" Batin Zahra. "Oh, udah lama juga ternyata ya !" Jawab Zahra.
"Iya, Oh iya kita sudah di jalan Tamren ni, Rumah kamu dimananya ?" Tanya Zaidan.
"Lewat Toko kue Deby Cake pak ! Pagar warna putih " Jawab Zahra.
Zaidan menghentikan mobilnya Tepat di depan pagar rumah Zahra.
"Terimakasih pak, sudah repot repot mengantar saya." Ucap Zahra yang tengah membuka pintu mobil dan turun.
"Iya sama sama." Balas Zaidan yang juga ikut turun dan berjalan ke arah toko kue tersebut yang memang dekat dengan rumah Zahra. Padahal Zaidan tidak berniat sama sekali untuk membeli kue, ia hanya karena ingin mengantar Zahra saja agar ia tak menolak kemudian membuat alasan bahwa ia ingin mengambil pesanan kue nya.
Setelah membeli kue tersebut Zaidan kembali ke mobilnya dan melihat Zahra masih berdiri di depan pagar dan belum masuk.
"Kenapa kamu tidak masuk terus ? Saya pulang dulu ya !" Ucap Zaidan, Zaidan langsung masuk kembali kedalam mobilnya.
"Iya, sekali lagi terimakasih pak, Hati hati di jalan !" Lanjut Zahra..
"Iya" Zaidan tersenyum melihat Zahra..
"Oh ya ampun senyumnya, gue nggak tahan banget. Mimpi apa gue semalam bisa pulang bareng dia hari ini" Ucap Zahra sembari berlari masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum" Ucap Zahra..
"Eh kok nggak ada jawaban ya, kemana ayah sama bunda kok sepi banget sih rumah ? Tanya Zahra keheranan melihat rumah nya yang sepi sekali.
Zahra kemudian masuk ke kamarnya dan hendak mandi untuk membersihkan diri sebelum shalat magrib nanti. Saat ingin masuk ke kamarnya, Zahra melihat ke kamar Rizal. Ternyata abangnya sedang tidur dengan pulasnya..
"Abaaaaangggggg..." Teriak Zahra sambil menarik hidung Rizal, Zahra sangat kesal sekali karena sedari tadi dia menghubungi Rizal ternyata Rizal enak enakan tidur disini.
"Duhh, apasih dek ? kamu udah pulang ya?" Jawab Rizal dengan suara serak sembari mengucek matanya.
"Iya, Zahra udah pulang, abang tega banget sih. Di WA di telpon berkali kali nggak di jawab sama sekali. Padahal Zahra mau suruh jemput karena nggak ada sama siapa pulang, huhuhu.. Jawab Zahra berpura pura sedih di depan Rizal..
"Hah ? serius ada nelpon, maaf adikku sayang, abang ketiduran karena capek kali hari ini jadi nggak tau kalau adek ada telpon abang. Maaf ya, jangan sedih lagi ya nggak cantik lagi nantik Hehe" Ucap Rizal sembari menggoda Zahra agar dia tidak lagi marah.
"Iya, awas nggak ada lain kali. Oh iya, ayah sama bunda dimana kok nggak keliatan bang ? Ucap Zahra..
"Iyaya, Ayah sama bunda tadi ke Rumah sakit katanya mau jenguk tetanggga kita, buk Nur masuk rumah sakit." Balas Rizal.
"Oh ya udah, Zahra mau mandi dulu ya" Ucap Zahra.
"Iya dek" Sahut Rizal dan kembali merebahkan badannya di kasur.
Setelah selesai shalat magrib dan makan malam, Zahra kembali ke kamar. Ayah dan bunda nya pun masih belum pulang dari rumah sakit tadi..
"Ya Tuhan, tadi benar benar kesempatan yang langka banget, gue benar benar sangat senang. Semoga akan selalu ada kesempatan seperti ini lagi. Semakin kesini gue semakin suka sama pak Zaidan deh, biarpun dia cuek atau sombong bahkan dingin seperti itu tapi sama sekali tak menurunkan rasa suka gue ke dia. I love you banget deh pokoknya." Ucap Zahra kegirangan saking bahagianya.
Hari ini keberuntungan baik sedang berpihak kepadanya, Zahra sama sekali tidak menyangka akan kejadian hari ini. Baginya seperti mimpi di sore hari..