"Mentari, istri bocah ku......aku sangat mencintaimu. Taukah kau seberapa besar cinta ku pada mu?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Memangnya seberapa besar pacar ku ini mencinta aku?" (Mentari)
"Tidak besar, kecil sekali!" (Arka Anggara Wijaya)
"Ngapain nanyak kalau gitu!" (Mentari)
"Mentari?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Em!" (Mentari)
"Cinta ku pada tak seluas samudera dan tidak sedalam lautan biru, tapi aku lebih mencintai mu dari pada diri ku sendiri, dan aku cemburu walau yang memandang mu seorang wanita. Aku ingin mengurung mu dalam sangkar cintaku. Agar tidak ada yang dapat menyentuh mu, kau Mentari ku dan hanya boleh menyinari ku saja. Biarlah aku menjadi budak cinta mu," (Arkana Anggara Wijaya)
"Pacar ish.....Tari gemuszzzz, oppa sarangheo," (Mentari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Setelah kepergian Mentari Linda kembali menatap Arka, air matanya kembali menetes tanpa bisa ia bendung lagi, "Berjanjilah pada Mami Arka, kalau kamu tidak akan menceraikan Mentari!"
Arka menarik napas, dengan segala kebingungannya. Di satu sisi ia tidak ingin menyakiti Linda, tapi di sisi yang lainnya ia tidak ingin melanjutkan pernikahan ini.
"Baiklah Arka," Linda bisa menebak jika Arka masih terlalu sulit menerima Mentari, Linda menjauhi Arkan dan mengusap kasar air matanya, "Baik kalau memang kamu tidak mau melanjutkan pernikahan mu ini tidak apa," Linda menatap Arka dengan serius dan sejenak ia menjeda ucapannya, "Tapi Mami mau bertanya pada mu Arka, apa kamu tega menjadikan Mentari menjadi janda? Usianya masih tujuh belas tahun dan Mami mau tanya kalau seandainya suatu hari nanti kamu memiliki seorang anak perempuan dan dia merasakan apa yang di rasakan Mentari saat ini apa kamu tega?! Kamu boleh menghukum diri mu Arka, kamu boleh kesal, sedih, kecewa, silahkan..... tapi Mami mau tanya apa kamu tega membuat gadis yang sudah menolong kamu, sudah Kelong keluarga kita, sudah menolong nama perusahaan kita!" Linda kembali sesegukan dan ia menggelengkan kepalanya, "Kalau kamu menceraikan dia.....kamu bukan manusia Arka!" Lanjut Linda lagi, berulang kali ia berusaha tega dan menahan tangis. Namun hati wanita itu terlalu rapuh.
Arka memeluk Linda dengan erat, ia benar-benar tidak ingin melukai hati wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Mami mohon Arka, Mentari masih anak-anak.....dia masih terlalu polos, dia rela menikah dengan mu karena Mami yang memohon Arka, apa kamu lupa seperti apa Mama mertua mu berlutut di bawah kaki Mentari?!" Linda kembali mengingatkan Arka tentang hari itu, dimana saat itu semua menangis karena Mentari harus rela menggantikan Rembulan.
"Arka akan mencoba Mi," Arka mengusap air mata Linda, pertama kalinya ia membuat Linda bersimbah air mata dan itu terasa menyakitkan bagi Arka.
"Kamu tidak bohong kan Arka?" Linda menatap Arka penuh harap.
Arka mengangguk dan itu membuat hati Linda jauh lebih tenang.
"Untuk apa kamu mencari Rembulan, kamu harus ingat Arka dia pergi meninggalkan mu di hari pernikahan kalian.....jadi Mami mohon jangan lagi kamu mencari dia!"
"Iya Mi," Arka mengangguk dan membenarkan apa yang di katakan oleh Linda.
"Terima kasih Arka....." lirih Linda.
Setelah Mentari memasuki kamar beberapa saat lalu n, Arka juga ikut masuk. Mentari yang tengah asik mandi shock karena Arka tiba-tiba masuk ke kamar mandi.
"Aaaaaaa......" teriak Mentari sambil mengambil handuk dan melilitkan di tubuhnya, "Om keluar!" Mentari setengah berteriak meminta Arka keluar.
Arka yang memang tidak mengetahui Mentari di kamar mandi awalnya juga merasa kaget, hanya saja ia tidak menunjukan ekspresi apapun hingga orang mungkin berpikir jika ia terlihat dingin. Arka menarik napas sambil perlahan berbalik dan keluar dari kamar mandi.
Brak....
Mentari menutup pintu dengan membantingnya.
"Maunya apasih?!" Mentari mengomel tidak jelas dan ia cepat-cepat menyelesaikan mandinya karena takut Arka kembali masuk, selesai mandi Mentari cepat-cepat memakai pakaian yang ia bawa ke kamar mandi dan keluar dari kamar mandi dengan rambut yang di gulung handuk.
Setelah Mentari keluar dari kamar mandi kini giliran Arka yang masuk kedalam kamar mandi, tidak ada sepatah kata pun yang di ucapkan Arka. Mentari yang masih kesal memanyunkan bibirnya karena mengingat Arka yang selalu ceroboh. Hingga Arka kembali keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggangnya. Mata Mentari kembali membulat, ada emosi yang menggebu dan akan segera meledak.
"Om!" Mentari menutup mata dengan kedua tangannya dan segera pergi, akan tetapi ia ingin menuntaskan masalahnya dulu dengan Arka, "Tari ingatkan ya Om, kalau Tari nggak suka Om suka-suka Om....di kamar ini bukan hanya Om saja, Tari juga ada Om," Mentari kesal dan seolah ia benar-benar kehilangan kesabaran menghadapi Arka.
Arka tidak merespon sama sekali dengan perkataan Mentari, ia terus berjalan menuju lemari hingga dengan cepat Mentari mengejar Arka dan memegang lengan Arka.
Arka seketika berhenti melangkah dan menatap tangan yang memegang lengan berotot nya, seketika Mentari cepat-cepat melepasnya.
"Nggak usah GR......" Mentari berkacak pinggang dengan angkuhnya, "Om bisa nggak kalau Tari lagi ngomong itu di dengerin!"
Arka masih saja sama, ia tidak menjawab sedikitpun apapun yang di katakan Mentari. Ia mencari jalan lainya dan berjalan menuju lemari.
Mentari merasa di acuhkan, ia meremas tangannya dan kembali berbalik, "Om dengerin TARI.....!!!" seru Mentari dengan berteriak dan tangannya tanpa sengaja menarik handuk yang melilit di pinggang Arka, "AAAAAAA......" mata Mentari melebar seketika karena kebodohannya ia malah melihat benda aneh milik Arka, tangan Mentari cepat-cepat menutup matanya yang terbuka lebar.
Arka hanya diam saja, ia mengambil handuknya kembali dan melilitkannya di pinggang. Arka merasa itu adalah hal yang biasa bagi pasangan suami istri hanya saja Mentari yang terlalu heboh. Beberapa saat kemudian Arka memakai pakaiannya, kemudian ia duduk di atas ranjang sambil menyeruput kopi yang barusan ia minta di buatkan oleh pembantu. Tanggannya tampak sibuk dengan tab miliknya. Mata Arka menatap Mentari yang sudah tertidur pulas di lantai, Arka merasa Mentari barusan mengomel namun kini tiba-tiba wanita super heboh itu sudah tertidur dengan lelap. Setelah sejenak manik mata elangnya melihat Mentari yang tanpa di sengaja ia kembali berfokus pada tab miliknya.
Malam harinya Mentari merenggangkan otot-otot nya yang terasa kaku, "Emmmm...." Mentari langsung memeluk guling yang ada di dekatnya tanpa membuka mata, "Gulingnya gede ya," Mentari kembali melanjutkan tidur lelapnya dan semakin terasa nyaman.
Suara Azan subuh berkumandang, menandakan waktunya umat muslim untuk sholat. Mentari mulai mengerjakan matanya, perlahan bulu mata lentik nya mulai bergerak menandakan mata itu akan segera terbuka.
"Aaaaaaa......." mulut Mentari kembali berteriak dengan lebarnya.
"CK....." Arka yang tengah tertidur lelap ikut terbangun.
"Om ngapain?! Kenapa Tari bisa di sini dan kenapa kita bisa Deket banget?"
Arka menatap Mentari yang memeluknya, "Ini tangan siapa?" Arka menatap tangan Mentari.
Mentari mengikuti arah pandang Arka, mata Mentari semakin melebar karena ternyata ialah yang memeluk Arka. Dengan gerakan cepat Mentari langsung melepas pelukan itu, ia juga shock sambil merutuki kebodohannya. Tapi bukan Mentari namanya bila tidak punya seribu alasan untuk menutupi kebodohannya.
"Om pasti yang pindahin Tari kan? Kalau nggak kenapa Tari bisa ada di sini?"
"Brisik!" Arka melempar bantal guling pada Mentari, kemudian ia memunggungi Mentari dan kembali melanjutkan tidurnya.
"Dasar Om..om gila."
Paling tidak sekarang suami yg kayak es beku sdh mencair.
Tadinya cerita awal dimulai dari Arka dan Rembulan lalu masuklah sosok Mentari, dikupas Thor tentang mereka.