Maliq kumbara, adalah putra tertua dari Rubby dan Edra (Madu Pilihan Istriku).
Ia dengan segala pngorbanan dan kasih sayang kepada semua adiknya, hingga mengesampingkan keingingan pribadinya.
Mengemban tangung jawab dengan Empat orang adik, Maliq terkesan posesif, karena begitu menyayangi mereka. Meskipun begitu, kekompakan, kesolidan dan pengertian masing-masing.
Suatu ketika kekompakan mereka itu diuji dengan adanya masalah. Bram diputuskan oleh kekasihnya karena tak sabar menunggu urutan mereka menikah. Adi yang harus diam-diam menjalin hubungan dengan sekretarisnya. Bayu, meskipun Ia santai, namun tak dipungkiri, Ia pun ingin merasakan seperti sahabatnya yang lain, yang bebas tanpa terlalu banyak peraturan.
Isyana, bungsu yang merupakan satu-satunya wanita diantara mereka lah yang menjadi penentu segalanya. Dimana Maliq baru akan menikah dengan wanita yang mampu menjadi. Teman bagi Isyana dan mau dengan ikhlas membantu merawat kesayangan mereka.
Masalah demi masalah lain muncul seiring berjalanya waktu, kembali menguji kesabaran mereka. Bagaimana cara mereka menghadapi masalah itu bersama? Mampukah mereka mempertahankan keharmonisan yang mereka jaga utuh selama ini bahkan ditengah semua kondisi tersulit dalam hidup mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Backstreet
"Ayu... Ma'af, saya datang telat." ucap Adi pada sekretarisnya itu.
"Bukankah ini diluar, kenapa begitu formal?" lirih Ayu, memandang Adi dengan penuh tanya.
Ya, malam ini mereka bertemu diam-diam disebuah cafe langganan mereka, yang jauh dari tempat mereka bekerja. Yang bukan milik salah seorang teman, dari salah satu punggawa itu. Karena, jika itu terjadi, pasti ada saja yang akan melaporkan mereka.
Mereka ternyata sudah menyatakan perasa'an masing-masing. Perasa'an Adi bersambut pada Ayu, begitupun sebaliknya. Tapi, mau tak mau mereka harus menjaga rahasia ini dari yang lain.
"Ma'af, aku masih canggung." ucap Adi.
"Mas... Haruskah selalu seperti ini?" tanya Ayu.
"Bagaimana menurutmu. Sudahkah, kamu tanya Ibumu, bagaimana seharusnya?" tanya Adi.
"Ibupun berpendapat yang sama dengan yang lain. Jaga jarak saja dulu, toh kita masih terlalu muda untuk cinta. Sedangkan Mas maliq... Ah, sudahlah. Kita sudah sama-sama tahu itu." jawab Ayu.
"Berarti, Tante winda pun akan merahasiakan hubungan kita sementara ini? Tenanglah, ini bukan karena Mas maliq jahat dan melarang. Kita hanya menghormatinya." ucap Adi, dengan menggenggam tangan Ayu erat.
Adi dan Bayu memang maish begitu muda, baru berusia Dua Puluh Tiga (23) tahun sekarang. Sehingga mereka masih harus berfikir keras, ketika akan mengatakan serius pada hubungan mereka. Terlebih lagi, Adi masih belum menyelesaikan kuliahnya, karena tertunda dengan banyaknya pekerja'an.
Adi dan Ayu, sebisa mungkin meluangkan waktu dan mencuri kesempatan, dibalik keprofesionalan mereka untuk mengikuti kata hati. Meski harus diam-diam pamit dengan berjuta alasan dibibirnya.
Mereka menghabiskan beberapa jam bersama, makan, minum, dan jalan-jalan sebentar dengan bergandengan tangan, ditaman dekat cafe itu.
"Mas... Pamit pulang, ya. Tadi udah janji sebentar aja. Besok-besok, kita ketemuan lagi. Salam buat Ibu dan Ayahmu." ucap Adi, yang perlahan meninggalkan winda dibangku taman. Bukan karena tega, tapi itu kesepakatan mereka, ketika menjalani hubungan ini.
Adi berjalan menggunakan mobilnya dengan santai, sembari sesekali menatap Ayu yang masih duduk disana. Ia begitu menyayangi gadis itu, gadis yang selalu menemani keseharianya, dan selalu mempersiapkan semua pekerja'anya. Dari sanalah, hati mereka semakin cocok.
Sementara itu, Maliq sedang menunggu kepulangan Adi, dengan tetap terbaring dikamar. Ia kembali lagi pada mimpi De javunya belakangan ini. Dimana Ia merasa berada dalam posisi digendong oleh Sang bunda, dengan menyiram bunga-bunga ditamanya.
"Hhh... Kenapa hadir lagi, setelah sekian lama tak datang? Bunda rindu kah? Atau sedang memberi peringatan pada Maliq, agar lebih bisa menjaga adik-adik disini. Ma'af, jika jarang menjenguk sekarang, karena Maliq, sedang fokus pada Nana." gumamnya, dengan menatap foto Diana yang terpajang apik dikamarnya.
"Assalamualaikum, Mas.... Adi pulang." Adi yang melapor pada Maliq, karena tahu jika Masnya itu belum akan bisa tidur jika belum melihat dengan pasti kepulanganya.
"Iya, Mas dikamar. Langsung tidur aja kalau udah ngantuk." jawab Maliq dari kamarnya.
Tapi, bukan langsung kekamar, justru Adi masuk kekamar Maliq, dan menggodanya ketika menatap foto wanita cantik.
"Mas... Siaapa?" tanya Adi.
"Ini Bunda.... Kan pernah lihat fotonya. Yang dipajang didepan itu." jawab Maliq.
"Bunda istri pertama Ayah? Kok, beda fotonya? Cantik banget loh ini. Mirip Nana." ujar Adi, yang merebut foto itu.
"Cantik, manis, penyayang, kuat, tegar, lengkap lah sudah. Mas mau cari yang tipenya kayak Bunda. Tapi kayaknya sulit." jawab Maliq.
"Jangan Mas... Cari yang sempurna itu sulit, jangan aja karena Mas nunggu kesempurnaan dan kedewasaan itu, kami jadi jomblo akut." ucap Adi.
"Hahahah.... Semoga engga, ya. Do'akan yang terbaik buat Masmu ini. Ngga terlalu sulit, yang penting bisa sayang, dan mengerti keada'an kita. Terutama... Nana."
"Iya... Doa itu selalu kami panjatkan buat Mas. Adi tidur disini lah, males keatas." ucap Adi, dengan merebahkna tubuhnya diatas kasur empuk itu, disusul Maliq disampingnya.
miris.....😭😭😭
saling jaga , sayang , rukun dan berbakti kpd kedua orang tua nggak bertengkar berebut warisan
belum jadi istri saja hrs memprioritaskan dirinya dr pd keluarga mu
menikah itu bukan hanya menikahi kekasihmu saja tapi keluarganya juga