NovelToon NovelToon
Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Malam semakin larut di kediaman keluarga Herman. Suasana rumah mewah yang biasa tenang kini terasa sangat tegang.

​Di sebuah ruang bawah tanah yang tersembunyi di balik perpustakaan pribadi Pak Herman, pencahayaan remang memantul pada dinding beton yang dingin. Pria pembunuh dari Organisasi Serigala Malam itu diikat erat di sebuah kursi kayu tebal. Ia masih belum bisa menggerakkan tubuhnya akibat tusukan jarum perak Bima yang menyumbat jalur saraf utamanya.

​Pak Herman berdiri di depan pembunuh itu dengan raut wajah murka yang jarang sekali diperlihatkannya. Di sampingnya, Bima berdiri tenang sambil melipat kedua tangannya di dada.

​"Katakan! Siapa yang menyewamu untuk membunuh anakku?!" gertak Pak Herman dengan suara menggelegar.

​Pria bertopeng itu meludah ke samping dan tertawa sinis, walau wajahnya pucat pasi.

​"J-jangan harap... Organisasi Serigala Malam tidak akan pernah membocorkan identitas klien..." jawabnya terputus-putus karena pengaruh tekanan saraf.

​Bima melangkah maju mendekati pria itu. Ia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah jarum perak yang sangat tipis jauh lebih tipis dari yang digunakannya saat bertarung.

​"Titik saraf di belakang telingamu adalah titik penderitaan tiada tara," ucap Bima dengan suara datar tanpa intonasi marah. "Jika jarum ini masuk satu milimeter saja, seluruh otot di tubuhmu akan terasa seperti dibakar hidup-hidup dari dalam selama beberapa jam mendatang, tanpa membuatmu pingsan."

​Mata pembunuh itu mendadak membelalak penuh ketakutan. Ia telah memburu banyak nyawa, tapi aura dingin dan presisi tanpa cela dari pemuda di hadapannya ini benar-benar mengerikan.

​"T-tunggu! Jangan!" teriaknya panik saat ujung jarum perak Bima menyentuh lembut kulit di balik telinganya. "Aku tidak tahu nama aslinya secara langsung! Tapi perantara kami menerima transferan dana awal dan instruksi lokasi dari wanita bernama Vina!"

​Pak Herman menggepalkan tangannya hingga bergetar hebat. Rahangnya mengeras. Meskipun ia sudah menduga ucapan Bima sebelumnya, mendengar konfirmasi langsung dari mulut sang pembunuh membuat hatinya hancur dan gusar.

​"Vina... jadi benar-benar kamu..." bisik Pak Herman dengan nada penuh kekecewaan mendalam.

​"Pak Herman," potong Bima tenang. "Jangan terburu-buru mengonfrontasinya secara terbuka sekarang. Kita butuh bukti transaksi keuangan dan dokumen tertulis agar dia tidak bisa berkelit di depan hukum atau melarikan aset."

​Pak Herman menarik nafas panjang, mencoba mengendalikan emosinya. Ia memandang Bima dengan penuh rasa bangga dan kagum. Keputusan pemuda itu sangat dingin dan penuh perhitungan.

​"Kamu benar, Nak Bima. Kita tahan dulu orang ini di sini. Biar tim kepercayaanku melacak jejak rekening yang digunakannya."

​Keesokan harinya, matahari pagi menyinari teras belakang kediaman Herman.

​Clara sedang duduk di meja taman sambil menikmati teh hangat. Wajahnya yang dulunya pucat kini sudah memancarkan rona merah alami yang sangat cantik. Rambut panjangnya terurai indah tertiup angin sepoi-sepoi.

​Ketika melihat Bima berjalan melintasi taman menuju area latihan, mata Clara langsung berbinar.

​"Bima!" panggil Clara dengan nada gembira.

​Bima menghentikan langkahnya dan memutar badan. "Selamat pagi, Nona Clara. Bagaimana kondisi tubuh Anda pagi ini?"

​Clara berdiri dan melangkah mendekati Bima. Ia membawa sebuah piring kecil berisi kue buatan tangan dan secangkir teh.

​"Tubuhku rasanya sudah pulih total! Bima, ini... aku menyuruh bibi dapur membantuku membuat kue ini untukmu. Cobalah," ujar Clara sambil menyodorkan piring tersebut. Pipinya merona merah karena malu.

​Sebagai putri tunggal seorang miliarder yang biasanya dilayani dan bersikap manja, ini adalah pertama kalinya Clara menyiapkan makanan untuk seorang pria seusianya.

​Bima menatap piring itu sejenak, lalu mengambil satu potong kue dan mengunyahnya.

​"Manisnya pas, teksturnya juga lembut. Terima kasih, Nona," puji Bima jujur.

​Senyuman manis langsung terukir di wajah cantik Clara. Hatinya terasa hangat hanya karena pujian sederhana itu.

​"Mulai sekarang, jangan panggil aku 'Nona' lagi kalau sedang tidak ada orang lain. Panggil saja Clara," bisik gadis itu sambil menunduk malu.

​"Baiklah, Clara," jawab Bima mengangguk pelan.

​Di saat bersamaan dari balik balkon lantai dua, Tante Vina memperhatikan interaksi manis antara Bima dan Clara dengan pandangan penuh kebencian dan kepanikan. Rencananya semalam gagal total, pembunuh bayarannya tak ada kabar, dan kini Clara terlihat semakin dekat dengan tabib sialan itu.

​Dengan tangan gemetar, Tante Vina mengemas beberapa dokumen penting ke dalam tas mewahnya. Ia tahu posisinya semakin terdesak dan ia harus segera mengambil langkah nekat sebelum semuanya terlambat.

1
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
aku pertama ni dapat apa 😁
kiyoe: selamat anda mendapatkan ucapan dari author kak hehe
total 1 replies
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
lanjut gak nih
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂: 😁👍👍aman
total 2 replies
Asmara Kacau
di tunggu bab selanjut nya thor
kiyoe: baik kak mohon di tunggu yaa buat bab selanjutnya yang lebih menarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!