NovelToon NovelToon
Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dokter / Janda
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.

Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.

Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.

Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8 : Masalalu Arga

Tepat menjelang siang...

Suasana di Puskesmas Sekar Sari mulai sedikit lengang. Sebagian besar pasien sudah selesai berobat. Perawat Desi baru saja mengantar seorang nenek keluar menuju halaman.

Baru beberapa langkah, matanya langsung tertuju pada sebuah sedan hitam mewah yang perlahan memasuki halaman puskesmas.

Brumm...

Mobil itu berhenti tepat di depan pintu utama.

Desi mengerutkan kening. "Lho... mobil siapa itu?"

Tatapannya tak lepas dari kendaraan yang mengkilap tersebut. "Perasaan di Desa Sekar Sari nggak ada yang punya mobil sebagus itu." Ia berpikir sejenak. "Kalau mobil bagus paling cuma punya Dokter Arga sama Juragan Warso. Selebihnya sih mobil bak tua buat ngangkut sayur ke kota."

Desi menggaruk kepalanya. "Jangan-jangan itu orang kota?"

Pintu mobil perlahan terbuka.

Sepasang kaki jenjang berbalut sepatu hak tinggi lebih dulu menginjak tanah. Tak lama kemudian, seorang wanita muda keluar dari dalam mobil.

Desi sampai melongo.

Wanita itu bertubuh ramping dengan kulit putih bersih. Rambut panjang bergelombang terurai indah hingga melewati bahunya. Ia mengenakan gaun putih selutut yang dipadukan dengan blazer krem, membuat penampilannya tampak sangat elegan. Wajahnya cantik dengan riasan tipis, bak seorang model majalah.

"Masyaallah..." gumam Desi. "Cantik banget... ini sih mirip artis Korea."

Beberapa pasien yang masih berada di halaman pun ikut menoleh. Wanita itu melepas kacamata hitamnya, lalu menyapu pandangan ke sekeliling. Sorot matanya terlihat tajam dan sedikit angkuh. Tak lama kemudian ia berjalan menghampiri Desi.

"Permisi."

Desi masih terpaku menatapnya.

Wanita itu kembali bertanya dengan nada datar. "Di mana Dokter Arga?"

Desi masih belum menjawab.

Bukan karena tidak mendengar, melainkan karena masih terpukau melihat kecantikan wanita tersebut.

Wanita itu mulai mengernyit. "Hei."

Desi tetap diam.

Wanita itu mengembuskan napas pelan. "Hei! Kamu dengar saya tidak?"

Desi langsung tersentak. "Hah?"

Wanita itu melipat kedua tangannya di dada. "Apa kamu tidak bisa bicara?"

Desi spontan menggumam pelan. "Ya Allah... cantik-cantik kok mulutnya tajam banget."

"Apa?"

"Ehehe... nggak, Mbak."

Wanita itu kembali bertanya dengan nada tak sabar. "Saya tanya sekali lagi. Apa ada Dokter Arga di sini?"

"Oh... ada."

Desi baru saja hendak menunjukkan ruang praktik Arga. Namun saat itu juga, pintu ruang dokter terbuka.

Dokter Arga keluar sambil membawa beberapa berkas. "Des, berkas pasien tadi..."

Ucapan Arga langsung terhenti, matanya membelalak saat melihat wanita yang berdiri di depan Desi.

"Kamu..."

Senyum lebar seketika menghiasi wajah wanita itu.

"Arga!"

Tanpa memberi kesempatan Arga bereaksi, wanita tersebut langsung berlari kecil menghampirinya.

Bruk!

Ia memeluk Arga dengan sangat erat di depan semua orang.

"Aku akhirnya menemukanmu!"

Arga tampak terkejut. "Clarissa...?"

Desi yang melihat pemandangan itu sampai menutup mulutnya. "Ya Allah...."

Beberapa perawat lain mulai keluar dari ruang masing-masing karena penasaran.

"Siapa tuh?"

"Nggak tahu."

"Kok langsung meluk Dokter Arga?"

"Pacarnya, ya?"

Bisik-bisik mulai terdengar di seluruh lorong puskesmas.

Sementara itu, Arga masih berdiri kaku. Kedua tangannya bahkan belum sempat membalas pelukan wanita tersebut.

"Clarissa... lepaskan dulu," ucapnya pelan.

Wanita itu bernama Clarissa Pramesti Mahardika, dia adalah mantan pacar dari Arga Pratama. Hubungan mereka terjalin hampir satu tahun lebih, tapi semuanya kandas karena Clarissa menduakan Arga.

"Aku kangen banget sama kamu," ucapnya sambi tersenyum.

Desi hanya bisa berkedip-kedip melihat kejadian di depannya. Dalam hati ia bergumam, "pantesan cantiknya bukan main. Ternyata kenal sama Dokter Arga. Tapi... hubungan mereka sebenarnya apa?"

Tanpa mereka sadari, dari seberang jalan, Winarsih yang sedang mengantar roti ke sebuah warung dekat puskesmas secara tidak sengaja melihat pemandangan itu dari kejauhan. Langkahnya terhenti sesaat ketika melihat seorang wanita cantik memeluk Dokter Arga dengan begitu akrab.

Entah mengapa, ada perasaan asing yang tiba-tiba menyelinap di dalam hatinya. Ia segera mengalihkan pandangan, lalu melanjutkan langkahnya sambil meyakinkan diri bahwa urusan pribadi Dokter Arga bukanlah sesuatu yang pantas ia pikirkan.

Clarissa masih berdiri mematung di tengah lorong, sementara semua pasang mata tertuju kepada mereka. Arga mengembuskan napas pelan. Ia sadar pembicaraan ini tidak pantas dilakukan di depan pasien maupun rekan kerjanya.

"Ikut aku."

Tanpa menunggu jawaban, Arga melepaskan pelan tangan Clarissa yang masih menggenggam lengannya, lalu berjalan menuju ruang praktiknya. Clarissa tersenyum tipis dan segera mengikutinya. Begitu keduanya masuk, Arga langsung menutup pintu..

Di luar ruangan, Desi yang masih memegang map hanya bisa melongo. "Ya Allah... ternyata benar mereka dekat."

Seorang perawat lain mendekat sambil berbisik, "Pacarnya, ya?"

Desi mengangkat bahu. "Nggak tahu. Tapi kayaknya begitu."

Di dalam ruang praktik...

Arga meletakkan berkas di atas meja, lalu menatap Clarissa dengan wajah serius. "Kamu ngapain sih datang ke sini?"

Clarissa tersenyum manis seolah tidak terjadi apa-apa. "Aku kangen sama kamu."

"Clarissa."

"Apa salahnya aku datang menemui calon tunanganku sendiri?"

Mendengar kalimat itu, wajah Arga langsung berubah dingin. "Jangan bicara sembarangan."

"Lho? Memangnya salah? Bukankah dulu kita memang sudah merencanakan pertunangan?"

"Itu dulu."

Clarissa mengembuskan napas kesal. "Arga, kamu ini kenapa sih? Selalu saja bersikap dingin."

Arga menatap lurus ke arah mantan kekasihnya itu. "Karena hubungan kita sudah berakhir."

"Tapi aku tidak pernah menganggap semuanya benar-benar selesai."

"Itu urusanmu."

Clarissa berjalan mendekat. "Aku datang jauh-jauh dari Jakarta cuma untuk bertemu kamu."

Arga tetap tidak bergeming.

"Aku sudah putus dengan Erik."

Arga tidak menunjukkan reaksi apa pun.

"Aku memilih kembali sama kamu."

Suasana ruangan mendadak sunyi.

Clarissa kembali berkata dengan penuh keyakinan. "Aku sudah sadar kalau orang yang benar-benar mencintaiku itu cuma kamu."

Arga justru tersenyum tipis. "Sekarang baru sadar?"

Clarissa menggigit bibirnya. "Dulu aku memang salah."

"Bukan salah." Arga memotong ucapannya. "Itu pilihanmu."

"Tapi aku menyesal."

"Kamu menyesal karena Erik meninggalkanmu."

Clarissa terdiam.

Arga melanjutkan dengan suara tenang. "Dulu, waktu kamu memilih dia, kamu bilang aku tidak akan pernah bisa memberimu kehidupan mewah."

Wajah Clarissa mulai berubah.

"Kamu bilang dokter di desa tidak punya masa depan."

"Arga... aku...."

"Kamu juga bilang mobilku terlalu biasa dibanding mobil Erik."

Clarissa menundukkan kepala. Semua ucapan itu masih sangat jelas diingat Arga, bahkan sampai hari ini.

"Aku benar-benar minta maaf."

"Aku sudah memaafkanmu."

Mata Clarissa kembali berbinar. "Jadi...."

"Tapi memaafkan bukan berarti mengulang hubungan yang sama."

Harapan di wajah Clarissa perlahan memudar. "Aku sudah berubah, Arga."

Arga menggeleng pelan. "Orang bisa berubah. Tapi kepercayaan yang sudah hancur tidak selalu bisa kembali."

Clarissa buru-buru berkata, "Aku sudah bicara dengan Tante Alya, tante Alya sudah setuju kalau kita menikah."

Arga menarik napas panjang. "Ingat baik-baik, Clarissa. Yang mau menikah itu aku dan kamu, bukan kamu dan mamiku. Jadi yang menentukan bukan persetujuan Mami, tapi persetujuanku."

Clarissa mengepalkan kedua tangannya. "Berarti... kamu benar-benar menolak aku?"

"Iya."

"Tapi kenapa?"

Arga menatapnya tanpa keraguan sedikit pun. "Karena aku sudah tidak ingin kembali menjalani hubungan yang pernah kamu hancurkan."

"Tolong beri aku satu kesempatan lagi."

"Tidak."

"Arga...."

"Dulu saat aku memohon agar kamu tidak pergi, kamu tetap memilih meninggalkanku."

Clarissa terdiam.

"Dan sekarang... saat kamu ingin kembali, kamu harus menerima kalau aku sudah memilih untuk sendiri."

Air mata mulai memenuhi pelupuk mata Clarissa. "Apa kamu... sudah punya perempuan lain?"

Arga tidak langsung menjawab, beberapa detik kemudian ia berkata pelan namun tegas, "Itu bukan urusanmu lagi."

Kalimat itu menghantam hati Clarissa. Ia menatap Arga dengan mata berkaca-kaca, sementara Arga tetap berdiri tenang dengan sorot mata yang menunjukkan bahwa keputusannya sudah bulat.

"Mulai hari ini," ucap Arga, "jangan datang lagi ke puskesmas ini hanya untuk menemuiku. Aku sudah tidak ingin kita kembali bersama."

1
Amoera
kasihan winarsih/Sob/
Amoera
wihh, Dokter keren😍
Amoera
suka banget ka sama ceritanya, novel ter-the best🥰
Arditya
Ayo dokter arga pepet terua winarsih🤣
It's me Sky: iya kaka🤣
total 1 replies
Arditya
kagak beres deh ini ada preman, aduh winarsih.
Arditya
kacau ni nenek lampir, ko kesel ya thoor
Arditya
Ko kesel ya, sama si benni😄
Arditya
Gila mertua jahat tuh si Sulastri, ini sih cerita menyayat hati kaum wanita. Apalagi yang punya mertua seperti Sulastri, pingin di rujak bibirnya🤭
Arditya
Karyamu luar biasa sekali thoor, aku suka banget sama ceritanya. Semangat thoor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!