Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.
Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.
Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Malam Penuh Pengakuan di Maldives
Malam merambat tenang di atas lautan Maldives.
Langit yang bersih tanpa awan bertaburkan jutaan bintang yang berkilau indah. Cahaya bulan memantul di permukaan laut yang tenang, sementara suara ombak kecil yang sesekali menyentuh tiang-tiang kayu Overwater Villa menciptakan suasana yang begitu damai.
Usai menunaikan shalat Maghrib dan Isya berjamaah di dalam kamar, Aura kembali merapikan mukenanya. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu di atas tempat tidur.
Sebuah gaun berwarna pink pastel telah disiapkan dengan sangat rapi.
Gaun itu memiliki potongan sederhana tetapi elegan, dihiasi aksen renda lembut yang membuatnya terlihat semakin anggun. Di sampingnya terdapat hijab dengan warna senada.
Aura menyentuh kain gaun tersebut dengan ujung jarinya.
"Mas Reno..." gumamnya pelan.
Tidak lama kemudian, Aura keluar dari kamar setelah berganti pakaian.
Reno sudah menunggunya di dekat pintu kaca utama.
Pria itu tampil sederhana malam ini. Kemeja putih kasual dengan dua kancing teratas yang terbuka, dipadukan dengan celana kain berwarna gelap. Tidak ada jas ataupun aksesori berlebihan. Namun justru kesederhanaan itu membuat ketampanan Reno terlihat semakin menonjol.
Begitu melihat Aura, Reno terdiam beberapa detik.
Tatapannya penuh kekaguman.
Aura yang menyadarinya langsung tersenyum malu.
"Kenapa lihatnya begitu?"
Reno tersenyum tipis.
"Mas sedang memastikan sesuatu."
"Apa?"
"Kalau ternyata istri Mas memang lebih cantik daripada yang Mas bayangkan."
Pipi Aura seketika merona.
"Mas ini..."
Reno terkekeh kecil.
Ia kemudian mengulurkan tangan kepada Aura.
"Ikut Mas."
Aura menatap tangan itu sejenak sebelum meletakkan jemarinya di atas telapak tangan Reno.
Genggaman mereka bertaut.
Reno membimbing Aura keluar dari villa, menyusuri dermaga kayu pribadi yang diterangi lampu-lampu kecil. Angin malam bertiup lembut, membuat ujung hijab Aura bergerak perlahan.
"Mas, sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Aura penasaran.
"Sebentar lagi kamu tahu."
"Mas merahasiakan sesuatu?"
"Mungkin."
Aura tertawa kecil.
"Kalau Mas sudah begini, pasti ada sesuatu."
Reno hanya tersenyum tanpa menjawab.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di ujung dermaga.
Aura mendadak berhenti.
Matanya membulat penuh kekaguman.
Di bawah sebuah gazebo terbuka, telah tersusun meja makan bundar bernuansa putih dan pink. Kain-kain tipis menggantung di setiap sisi gazebo dan bergerak perlahan tertiup angin laut.
Di tengah meja terdapat rangkaian bunga mawar segar. Lilin-lilin kecil menyala dengan cahaya temaram, menciptakan bayangan lembut di sekitar tempat itu.
Beberapa hidangan makan malam telah tersaji dengan rapi.
Dari pengeras suara tersembunyi terdengar alunan piano dan biola yang lembut.
Aura menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Mas..."
Matanya berkaca-kaca.
"Semua ini..."
Reno tersenyum.
"Untuk kamu."
"Mas yang menyiapkan?"
"Mas yang meminta pihak resort menyiapkannya."
Aura menatap sekeliling dengan wajah bahagia.
"Indah banget."
"Kalau kamu suka, berarti Mas berhasil."
Reno menarik kursi untuk Aura.
"Duduk."
Aura menurut.
"Terima kasih, Mas."
Reno kemudian duduk di hadapannya.
Makan malam berlangsung dalam suasana hangat.
Sesekali Reno membantu Aura memotong makanan, menuangkan minuman, atau sekadar memastikan istrinya menikmati setiap hidangan.
Aura pun bercerita tentang berbagai hal kecil selama perjalanan mereka.
Tentang laut.
Tentang makanan.
Tentang kejadian lucu yang mereka alami sejak tiba di Maldives.
Reno mendengarkan semuanya dengan sabar.
Sesekali ia tertawa.
Sesekali ia hanya memandangi Aura dengan tatapan penuh kasih.
Malam itu terasa berbeda.
Tidak ada pekerjaan.
Tidak ada urusan perusahaan.
Tidak ada masalah yang harus mereka pikirkan.
Hanya ada mereka berdua.
Setelah hidangan penutup selesai, Reno beranjak dari tempat duduknya.
Ia berdiri di samping Aura dan mengulurkan tangan.
"Jalan sebentar?"
Aura tersenyum.
"Ke mana?"
"Ke ujung dermaga."
Aura menyambut tangannya.
Mereka berjalan berdampingan.
Sesampainya di ujung dermaga, Reno berhenti.
Lautan luas terbentang di hadapan mereka.
Angin malam terasa lebih dingin di tempat itu.
Aura merapatkan kedua tangannya di depan tubuh.
Reno menyadarinya.
Tanpa banyak bicara, ia melepas outer tipis yang dikenakannya lalu menyampirkannya di bahu Aura.
"Mas nanti kedinginan."
"Mas tidak apa-apa."
"Tapi..."
Reno tersenyum.
"Yang penting kamu hangat."
Aura menatap suaminya.
Ada rasa haru yang perlahan memenuhi dadanya.
Reno kemudian berdiri di hadapan Aura.
Tangannya terangkat perlahan, merapikan ujung hijab Aura yang sedikit berantakan karena angin.
"Aura."
"Iya, Mas?"
Tatapan mereka bertemu.
"Mas mau bicara sesuatu."
Nada suara Reno berubah menjadi lebih serius.
Aura mengangguk.
"Mas masih ingat percakapan kita waktu di Jakarta."
Aura terdiam.
"Percakapan tentang pernikahan kita."
Aura menundukkan pandangan.
Reno melanjutkan.
"Waktu itu kamu pernah bilang kalau hati dan kasih sayangmu hanya akan kamu berikan sepenuhnya kepada suami yang benar-benar mencintaimu. Bukan kepada seseorang yang hanya terikat oleh sebuah perjanjian."
Aura mengangguk perlahan.
"Iya."
"Dan sejak saat itu, Mas banyak berpikir."
Reno mengambil kedua tangan Aura dan menggenggamnya.
"Mas sadar bahwa selama ini Mas terlalu sibuk memikirkan bagaimana pernikahan kita dimulai."
Ia berhenti sejenak.
"Padahal Mas lupa memikirkan bagaimana pernikahan itu harus kita jalani."
Aura menatapnya.
"Kertas perjanjian itu mungkin menjadi awal kita bertemu."
Reno tersenyum tipis.
"Tapi kertas itu bukan alasan Mas bertahan."
Mata Aura mulai berkaca-kaca.
"Alasan Mas bertahan adalah kamu."
Reno mengusap lembut punggung tangan Aura dengan ibu jarinya.
"Kamu yang membuat rumah terasa seperti rumah."
"Kamu yang membuat Mas selalu ingin pulang."
"Dan kamu yang membuat Mas sadar bahwa hidup Mas ternyata tidak harus selalu dipenuhi pekerjaan dan kesendirian."
Air mata mulai menggenang di mata Aura.
Reno menatapnya dalam-dalam.
"Saya mencintai kamu, Aura Zhafira."
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi Aura, kalimat tersebut terasa jauh lebih berarti daripada ribuan kata.
"Saya mencintai kamu bukan karena perjanjian."
"Bukan karena keadaan."
"Bukan karena kewajiban."
Reno tersenyum lembut.
"Saya mencintai kamu karena kamu adalah kamu."
Air mata Aura akhirnya jatuh.
Reno segera mengusapnya dengan lembut.
"Jangan menangis."
"Aura bahagia..."
"Kalau begitu tersenyumlah."
Aura mencoba tersenyum meskipun air matanya masih mengalir.
Reno kemudian berkata pelan,
"Mas tidak ingin lagi menjadi suami yang hanya ada di atas kertas."
Ia menggenggam tangan Aura lebih erat.
"Mas ingin menjadi suami yang benar-benar kamu pilih."
Aura mengangguk.
"Dan Aura memilih Mas."
Reno terdiam.
Seulas senyum perlahan muncul di wajahnya.
"Benar?"
Aura mengangguk lagi.
"Benar."
"Aura mencintai Mas."
Reno menghela napas lega.
Ia kemudian membuka kedua lengannya.
Aura memahami maksudnya.
Tanpa ragu, Aura melangkah maju dan memeluk Reno.
Reno langsung membalas pelukan itu.
Lengannya melingkar hangat di punggung Aura.
Aura menyandarkan kepala di dada Reno.
Untuk beberapa saat, mereka hanya diam.
Tidak perlu kata-kata.
Pelukan itu sudah cukup menjelaskan semuanya.
Reno mengusap punggung Aura perlahan.
"Terima kasih sudah memilih Mas."
Aura tersenyum dalam pelukannya.
"Terima kasih juga sudah membuat Aura merasa dicintai."
Reno menundukkan kepalanya.
Ia mengecup puncak kepala Aura dengan lembut.
Kemudian Aura mendongak.
Tatapan mereka bertemu kembali.
Reno mengusap pipi Aura.
"Mas boleh?"
Aura tahu apa yang dimaksud suaminya.
Wajahnya memerah.
Namun kali ini tidak ada keraguan.
Aura mengangguk kecil.
Reno mendekat perlahan.
Ia terlebih dahulu memberikan kecupan lembut di kening Aura.
Kemudian satu kecupan singkat di pipinya.
Reno berhenti sejenak, memberikan Aura kesempatan untuk menarik diri jika merasa tidak nyaman.
Namun Aura tetap berada di tempatnya.
Justru jemarinya menggenggam lembut tangan Reno.
Reno tersenyum.
Lalu ia memberikan sebuah kecupan lembut di bibir Aura.
Singkat.
Hangat.
Tanpa tergesa-gesa.
Ciuman itu bukan tentang nafsu.
Melainkan tentang rasa syukur.
Tentang dua hati yang akhirnya menemukan keberanian untuk mengakui apa yang selama ini mereka rasakan.
Ketika Reno menjauh, kening mereka kembali bertemu.
Aura tersenyum malu.
"Mas..."
"Hm?"
"Jantung Mas berdebar."
Reno tertawa kecil.
"Jantung kamu juga."
Aura spontan menunduk.
"Mas tahu dari mana?"
"Karena Mas bisa merasakannya."
Aura semakin tersipu.
Reno kemudian merangkul bahunya dan menariknya mendekat.
Mereka berdiri berdampingan, memandang lautan yang diterangi cahaya bulan.
"Mas..."
"Iya?"
"Kalau suatu hari nanti kita sudah tua..."
Reno menoleh.
"Apa?"
"Aura masih boleh minta diajak ke tempat seperti ini?"
Reno tersenyum.
"Kalau Mas sudah tua dan tidak kuat jalan, Mas akan duduk."
Aura tertawa.
"Terus?"
"Mas akan tetap menggandeng tangan kamu."
Senyum Aura semakin lebar.
"Janji?"
Reno mengangkat tangan mereka yang masih saling menggenggam.
"Janji."
Aura menyandarkan kepalanya di bahu Reno.
Reno membiarkannya.
Tangannya tetap menggenggam jemari Aura.
Malam semakin larut.
Namun keduanya tidak merasa ingin segera beranjak.
Di tengah luasnya lautan Maldives, di bawah jutaan bintang yang menjadi saksi, mereka akhirnya memahami satu hal.
Pernikahan mereka mungkin dimulai dari sebuah perjanjian.
Namun cinta mereka tidak pernah lagi membutuhkan perjanjian untuk bertahan.
Karena sejak malam itu, mereka telah memilih satu sama lain.
Bukan karena keadaan.
Bukan karena kewajiban.
Tetapi karena cinta.
Reno kembali mengecup kening Aura.
"Ayo masuk. Anginnya semakin dingin."
Aura mengangguk.
Namun sebelum mereka berjalan, Aura tiba-tiba menarik tangan Reno.
Reno menoleh.
"Ada apa?"
Aura tersenyum kecil.
Kemudian ia memberikan sebuah kecupan singkat di pipi Reno.
"Terima kasih untuk malam ini."
Reno terdiam beberapa detik, lalu tersenyum lebar.
"Mas baru tahu kalau istri Mas ternyata bisa memberi kejutan juga."
Aura terkekeh.
"Belajar dari suami sendiri."
Reno menggenggam tangan Aura.
Mereka kemudian berjalan berdampingan kembali menuju villa.
Tidak ada lagi keraguan.
Tidak ada lagi jarak.
Yang tersisa hanyalah kehangatan dua hati yang akhirnya menemukan tempat pulang satu sama lain.