Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.
Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.
Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.
Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.
Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Berburu
Pagi itu, suasana di taman yang berbatasan langsung dengan hutan kerajaan sudah dipenuhi para bangsawan dari berbagai wilayah. Deretan tenda megah berdiri rapi, sementara para kesatria sibuk mempersiapkan kuda, busur, tombak, dan perlengkapan berburu lainnya. Suara percakapan para bangsawan bercampur dengan kicauan burung pagi, menciptakan suasana yang meriah sekaligus penuh antusiasme.
Hari itu merupakan pembukaan acara berburu tahunan yang selalu dinantikan seluruh keluarga bangsawan.
Acara akan dibuka langsung oleh Baginda Raja Simon sebelum seluruh peserta memasuki hutan. Selain berburu untuk mengisi waktu, kerajaan juga mengadakan sebuah perlombaan. Setiap keluarga diwajibkan mengumpulkan hasil buruan sebanyak mungkin selama tujuh hari berturut-turut. Di akhir acara, keluarga yang berhasil memperoleh hasil buruan terbanyak akan dinobatkan sebagai pemenang dan menerima hadiah istimewa dari sang raja.
Namun, bukan hanya hadiah itu yang menjadi daya tarik utama.
Bagi para pria bangsawan yang masih lajang, kemenangan akan memberikan satu hak istimewa. Mereka boleh menunjuk seorang gadis bangsawan yang mereka inginkan untuk dijadikan pasangan. Meski begitu, kerajaan tetap memberikan kebebasan kepada sang gadis. Ia berhak menerima ataupun menolak pilihan tersebut apabila pria itu tidak sesuai dengan keinginannya.
Tak heran jika setiap tahun perlombaan berburu selalu berlangsung sengit. Para pria berlomba menunjukkan kemampuan mereka, sementara para lady diam-diam mengamati siapa yang paling layak menjadi pemenang.
Di antara keramaian itu, Elisa berdiri di samping Suri sambil memandangi para bangsawan yang terus berdatangan. Hari ini penampilannya jauh berbeda dari biasanya. Gaun berwarna lembut yang dikenakannya dipilih langsung oleh Nyonya Winter, lengkap dengan aksesori yang serasi layaknya seorang gadis bangsawan.
Sejak insiden pencurian bunga beberapa waktu lalu, ibunya sama sekali tidak mengizinkannya memilih pakaian sendiri. Semua telah diatur, mulai dari model gaun hingga hiasan rambut.
Mengingat hal itu membuat Elisa mengembuskan napas pelan. Hidupnya benar-benar semakin menyedihkan. Bahkan memilih pakaian saja sudah tidak bisa. Meski begitu, ia tetap memasang senyum tenang.
"Suri," panggil Elisa pelan sambil berpura-pura melihat sekeliling."Apakah kau pernah bertemu dengan putri Duke Utara? Katanya dia sangat cantik. Rumor tentang kecantikannya bahkan menyebar ke mana-mana. Aku jadi penasaran dan ingin sekali melihatnya."
Suri menoleh sekilas sebelum tersenyum kecil."Apa yang kau maksud adalah Lady Agnes?"
Mata Elisa langsung berbinar."Benar! Lady Agnes. Apa dia ada di sini?"
"Tentu saja ada." Suri mengangguk."Kabarnya Lady Agnes dan Lady Anastasia adalah dua gadis yang paling diincar Baginda Raja untuk dijadikan calon istri Pangeran Erlan."
"Serius?" tanya Elisa dengan wajah yang semakin cerah.
"Iya." Suri merapatkan suaranya seolah sedang membocorkan rahasia."Aku mendengar rumor itu saat terjebak dalam acara minum teh para lady kemarin. Mereka semua membicarakannya."
Elisa nyaris tidak bisa menyembunyikan senyumnya."Benarkah? Berarti mereka sudah mulai bersaing?"
"Tentu." Suri mengangguk mantap."Para lady bahkan mulai saling membandingkan kecantikan dan kemampuan mereka."
Bukannya terlihat khawatir, Elisa justru tampak semakin senang.
Suri mengernyit heran."Kau malah terlihat bahagia. Bukankah mereka merupakan rival yang sangat kuat untuk kau hadapi?"
Elisa terkekeh pelan."Rival? Suri, aku tidak pernah menganggap mereka sebagai saingan."
Suri menaikkan sebelah alisnya."Bukankah kau juga mengincar Pangeran Erlan? Hampir semua lady di kerajaan melakukan hal yang sama." Ia terkekeh kecil."Kalau aku berbeda. Pangeran terlalu sulit digapai. Daripada mengejar sesuatu yang belum tentu bisa diraih, lebih baik memilih yang lebih pasti."
Elisa berdecak pelan sambil menggelengkan kepala."Kau benar-benar percaya pada rumor para lady itu?"
"Memangnya tidak?" Suri balik bertanya sambil menyeringai jahil. "Masa kau sama sekali tidak tertarik pada Pangeran Erlan?"
Elisa hanya memutar bola matanya."Aku.."
"Itu lihat, Kara!" potong Suri tiba-tiba.
Refleks, Elisa mengikuti arah pandangan kakaknya.
Di kejauhan tampak rombongan kerajaan mulai memasuki taman. Para pengawal berjalan rapi di barisan depan, diikuti Raja Simon dan sang ratu yang tampil anggun. Di belakang keduanya berjalan seorang pria tinggi dengan jubah hitam kebesaran keluarga kerajaan. Ekspresi wajahnya datar seperti biasanya.
Pangeran Erlan.
Begitu kemunculannya terlihat, percakapan para bangsawan perlahan mereda. Banyak lady yang tanpa sadar merapikan rambut dan gaun mereka, berharap sang pangeran melirik ke arah mereka meski hanya sesaat.
"Walaupun wajahnya selalu tanpa ekspresi," gumam Suri pelan,"tetapi dia tetap terlihat sangat tampan."
Elisa menahan senyum melihat tingkah kakaknya."Baru beberapa detik yang lalu kau bilang tidak akan tertarik pada pesona Pangeran Erlan," bisiknya pelan."Dasar pembual."
Sayangnya, ucapan itu sama sekali tidak didengar Suri. Seluruh perhatiannya telah tersita oleh sosok Pangeran Erlan yang berjalan dengan tenang di belakang Raja Simon.
Rumor memang mengatakan bahwa sang pangeran sangat jarang menampakkan diri di hadapan para bangsawan. Karena itulah, setiap kemunculannya selalu menjadi pusat perhatian.
Melihat keramaian para lady yang diam-diam memandangi Erlan, Elisa hanya tersenyum tipis."Mereka belum tahu saja sifat asli dari pria menakutkan itu," cibirnya pelan, hampir serupa bisikan.
***
Terimakasih banyak buat teman-teman yang sudah baca, dan sudah menekan tombol like nya...