Jangan lupa baca novel Sihir Tafriq dan Misteri Desa Getih, biar gak bingung.
Kasih adalah seorang gadis cantik dan juga baik hati. namun di balik kecantikannya, ia memikul sebuah kutukan. dimana siapapun yang menikahinya, maka tidak akan pernah selamat.
Semua pria akan mati sebelum dapat merasakan malam pertama mereka...
Siapakah Kasih... dan kutukan apa.yang sedang di pikulnya.
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Ijab Kabul—2
Wuuussh!
Buto Ijo yang juga terluka, melesat menendang sang Kalajengking.
Buuuuggh!
Kalajengking itu terpental, dan melepaskan suntikan racunnya.
"Sayang." teriak Buto Ijo yang terlihat panik. Ia berlari menyelematkan sang istri.
Sedangkan yang lainnya datang membantu.
"Dasar iblis!" mereka menyerang Kalajengking bersamaan.
Wuuusssh!
Tombak yang di pakai oleh Siluman Kera melesat menyerang kepala sang Kalajengking.
Traaaang!
Sebuah hantaman dari ujung keris menghalangi, dan membuat ujung tombak meleset dari sasarannya.
Saat bersamaan, satu sosok bayangan hitam berkelebatan, dan membawa Kalajengking melesat menghilang di kegelapan malam.
"Sial! Dia berhasil kabur," umpat Siluman Kera dengan kesal.
""Sayang, kamu tidak apa-apa? Dia menyuntikkan bisanya," Buto Ijo menyentuh luka tersebut.
"Tenang saja, aku kebal dengan bisa binatang buas," Siluman Ular meringis kesakitan.
"Kasih, dia harus kita selamatkan, jangan sampai ada pria yang menikahinya lagi," pesan Siluman Ular.
Semuanya saling pandang.
"Siapa yang menjaga di sana?"
"Pocong," sahut Siluman Kera.
"Sial! Kita berkumpul di sini semua." Buto Ijo membopong tubuh sang istri, dan melesat untuk kembali ke rumah Hardi.
Taaap!
Sebuah jaring hitam yang cukup tajam dan juga panas tiba-tiba membentang dan menghalangi mereka.
Taaaap!
Mereka terpental, dan tidak dapat kembali.
Di samping mereka, Dirga sudah meninggal di dalam mobil, dan tubuhnya sudah mengejang, dengan buih yang mengalir dari mulutnya.
Mereka berusaha menembusnya, tetapi sepertinya jaring itu cukup kuat.
Sedangkan orang-orang sudah berkumpul di samping mobil Dirga yang berhenti mendadak, dengan klakson yang terus berbunyi, karena tertimpa kepalanya.
Polisi yang di hubungi warga datang ke titik lokasi, dan memeriksa kondisi Dirga.
Mendapati Dirg tak bernyawa, akhirnya mencari informasi tentang kepemilikan mobil, dan menemukan Hardi.
Polisi menelpon Hardi, untuk memberitahu tentang kondisi puteranya meninggal tanpa busana.
Mengetahui Dirga—puteranya sudah meninggal dan belum sempat malam pertama, bukannya berempati dan takut, tetapi Justru matanya makin liar saat melihat Kasih tergeletak di atas lantai.
"Berarti sekarang giliranku..." ucapnya dengan seringai. Sebab apa yang dilihatnya saat Dirga menyingkap pakaian dalam milik Kasih masih terbayang di benaknya.
Hardi pergi ke kamar belakang. Kasih baru saja sadar dengan kepalanya yang kliyengan.
"Kamu sekarang istri keluarga ini. Saya akan gantiin Dirga. Dia sudah mati di jalan," ucapnya, sembari menyapu bibirnya dengan lidah.
Ia kembali memanggil Pak Penghulu, dan memaksa di bawah ancaman.
Mau tidak mau, terpaksa penghulu yang sudah tertidur bangun kembali, dan dua orang satpam menjadi saksi pernikahan keempat malam ini.
Hardi lngsung memegang tangan Kasih. "Saya terima nikahnya Kasih dengan mas kawin uang seratus ribu rupiah dibayar tunai..."
Pernikahan itu kembali di sahkan.
Dan lagi-lagi para demit telat untuk mencegahnya.
Kasih memberontak, tetapi ia kalah tenaga.
"Pak jangan! Nanti bapak celaka. Tolong dengarkan saya." Kasih mengatupkan kedua tangannya dan memohon agar Hardi segera menceraikannnya. Sebab hanya perceraian yang dapat menghindarkannya dari kematian.
"Saya sudah terlanjur, dan saya tidak takut untuk menikahi kamu. Kamu terlalu cantik dan menggiurkan," Hardi menerkam Kasih, dan melemparkannya ke atas sofa.
Bahkan ia tak mengindahkan panggilan telepon dari Polisi, agar ia segera ke rumah sakit, untuk mengurus masalah administrasi pengambilan jenazah untuk puteranya.
Dua satpam dan penghulu kembali pulang, dan kini Hardi dengan bebas leluasa mengintimidasi gadis tersebut.
Kelihat Kasih yang terlentang di atas sofa, membuat Hardi semakin liar.
Braaak!
Pocong ke sandung dan nyungsep di dekat sofa. Tepatnya di bawah kaki Hardi sedang berusaha menggagahi Kasih dengan paksa.
Hardi tersentak kaget. Ia mengendus aroma busuk yang tak biasa, dan lebih mirip dengan tinja yang sudah mengering.
"Hardi melepaskan cengkramannya di pergelangan tangan Kasih. Mendadak tubuhnya merasa meremang.
Sedangkan Pocong melakukan jumping untuk kembali berdiri. Ia mengigit celana Hardi, dan membuat pria itu terangkat ke udara.
Dengan cepat Pocong melemparkannya ke sudut dinding.
Di sisi lain, Kasih berhasil menjauh dari sofa, lalu melarikan diri dari rumah tersebut.
Hardi terpental, dan terjungkal di lantai rumah.
"Aaaarrggh!" erangnya kesakitan, dan saat akan mengejar Kasih, Pocong menghalanginya.
Taaak!
Pocong menendang Hardi dan kembali terjatuh di lantai.
"Sial! Siapa yang sudah menjegalku?" umpatnya kesal.
Ia menatap kesegala arah, dan tak menemukan siapapun. Hanya ada aroma tinja kering yang menguap di ruangan rumahnya.
"Kamu diam saja di sini! Sebelum menjadi korban selanjutnya." omel Pocong, sembari menendang Hardi dengan bokongnya.
Hardi kembali terpental, dan terlempar di atas lantai.
Sedangkan Kasih berlari keluar dari rumah, dan menyusuti jalanan. Hatinya hancur, ia merasa tak lagi berguna hidup di dunia.
"Aku terlahir memang pembawa sial. Buktinya saja aku di buang di panti, itu tandanya tidak ada yang menginginkan kelahiranku," ucapnya dengan derai air mata sembari berlari menyusuri trotoar.
****
Waktu memperlihatkan pukul lima pagi. Nawang Wulan sedang berada di balkon. Sedangkan Rayyan sudah bersiap untuk berangkat bekerja.
Pocong melesat menghampiri. "Lan, satu orang sudah menjadi tumbal, dan satu lagi sudah sempat menikah," ucapnya sembari membenahi kainnya yang berantakan.
Nawang Wulan terdiam sejenak. Lalu menatap ke arah Pocong. "Itu tandanya, sudah empat pernikahan, dan tiga tumbal. Maka ia akan mencari dua pernikahan lagi," Nawang Wulan menghela nafasnya dengan berat.
Lalu menatap lurus kedepan, ke arah gulungan angin yang menuju balkon.
"Perintahkan kepada rekan yang lainnya, agar berkumpul di ruangan, Mas Rayyan akan mengobati semua luka yang kalian alami," ucapnya dengan tegas.
"Baik, Lan..." Pocong menyambut ke para demit lainnya, dan mengarahkannya ke ruangan tengah agar berkumpul di sana.
Wuuussh!
Wuuuissh!
Semua demit menuju ruangan. Mereka yang terluka berbaring di sofa. Terutama Siluman Ular dan juga Buto Ijo.
Rayyan turun dari lantai dua. Ia tercengang dengan apa yang di lihatnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Rayyan dengan nada bingung. Ia melihat para demit itu penuh luka.
"Mas Ganteng... Kita kena sengat Kalajengking," sahut Kuntilanak Biru. Demit jomblo selama seabad lamanya.
Kuntilanak Kuning menyikut lengan Kunti Biru.
"Jangan ganjen, itu lakinya Wulan," ia mengingatkan.
"Eh, Maaf, aku khilaf..." ralat Kuntilanakan Biru dengan cepat.
Rayyan menghampiri mereka. Lalu memeriksa luka satu persatu para demit.
"Apa yang terjadi?" tanyanya lagi.
"Kami sedang mengawasi seorang gadis yang sedang terikat dengan sebuah kutukan, dan kutukannya tertuju pada Farhan..." Buto Ijo menjelaskan.
Rayyan terdiam sejenak, dan menatap para demit secara bergantian. "Kalian sudah bekerja cukup keras. Sudah sewajarnya dapat reward," Rayyan menghampiri Siluman Ular yang perutnya sudah terluka parah, terkena ujung ekor Siluman Kalajengking.
Tangannya mengusap perut tersebut, dan akar emas di kakinya langsung menghangat, dan cahaya keemasan menjalar ke telapak tangannya, lalu berpendar terang, dan perlahan menutup luka tersebut.
"Apakah kalian sudah menemukan siapa dalangnya?" tanya Nawang Wulan dengan wajah penasaran.
"Dalangnya Mbah Jati. Sosok dukun hitam yang membalas dendam dengan tujuan ingin bangkit kembali, setelah ia mendapatkan tujuh tumbalnya," sahut Buto Ijo menjelaskannya.
"Ya, seperti dugaanku... Dan ini adalah sebuah tindakan biadab. Membuat gadis itu menjadi wadah yang sangat sulit di lepaskan," ucapnya dengan lirih.
"Apakah kita tidak bisa mematahkan kutukannya,?" Kuntilanak Kuning tampil bertanya.
"Harus ada tumbal berikutnya, dan pernikahan yang sah," Nawang Wulan menjelaskan. Tetapi hatinya terlihat ragu.
"Kita harus mematahkan kutukannya sebelum memakan korban berikutnya," saran Siluman Ular, dengan tubuhnya yang mulai membaik dan bugar.
Nawang Wulan menatap Rayyan. Lalu ada keraguan di hatinya. "Pematah kutukannya hanya ada pada Farhan..." ucapnya lirih.
dr ikut Rayyan dan skrg ikut sama Farhan ( anak nya )