NovelToon NovelToon
Mirage

Mirage

Status: tamat
Genre:Romantis / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Romansa Modern / Konflik etika / Tamat
Popularitas:152.8k
Nilai: 5
Nama Author: Shan_Neen

Mira, seorang wanita yang harus hidup berkubang di lumpur penuh dosa. Mengubur semua impiannya atas masa depan dan cinta. Bukan karena alasan klise, melainkan sebuah pembalasan dendam atas orang tuanya di masa lalu.

Masa kecilnya yang begitu keras, membuat Mira menjadi pribadi yang tangguh dan tak mudah menyerah.

Hingga ia bertemu dengan pria masa lalunya, yang selalu hadir di dalam mimpi buruknya.

Akankah pria itu akan selalu menjadi mimpi buruknya? Ataukah justru menjadi penerang jalannya yang gelap gulita?

⚠️Novel ini mungkin mengandung beberapa hal-hal negatif, mohon bijak dalam memilih bacaan🙏 jika berkenan, silakan mampir dan baca ya, jangan lupa tinggalkan kritik dan saran juga di kolom komentar😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan_Neen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teddy bear pertama

Wanita itu kemudian menegakkan kembali tubuhnya, dan berjalan memasuki kamar Riri, dengan kedua tangan yang penuh dengan shopping bag.

Mari seketika berdiri dan melepaskan boneka, yang sedari tadi ia mainkan bersama teman barunya. Gadis kecil itu menundukkan wajahnya.

Ada rasa takut yang menghampirinya, ketika ibu dari temannya itu berjalan menghampiri dirinya. Penolakan yang sering ia dapatkan, membuatnya selalu waspada dan menyiapkan hatinya untuk menerima penghinaan.

Mamih Riri meletakkan barang bawaannya di lantai, dekat dengan meja belajar sang anak. Dia berjalan kembali mendekati Mari, dan membungkukkan badannya agar bisa sejajar dengan gadis kecil itu.

"Anak manis, kamu siapa?" tanya wanita itu dengan nada suara, yang terdengar begitu lembut di telinga Mari kecil.

Mari pun seketika mengangkat wajahnya, dan menatap dalam ke arah Mamih Riri.

"Dia Mari, Mih. Teman baru Riri," ucap Riri mewakili Mari yang masih diam.

"Wah … Riri pinter yah, udah punya temen aja di sini." Mamih Riri mengacak-acak rambut putri kecilnya, yang sedari tadi mengekor di belakang.

Riri kecil tersenyum senang mendengar pujian dari sang ibu.

"Ketemu di mana kalian?" tanya wanita itu lagi sambil menatap kedua gadis kecil itu secara bergantian.

"Tadi Riri nyasar, Mih. Untung ketemu Mari, terus dia yang udah bantuin Riri nemuin rumah ini," sahut Riri yang kembali mewakili Mari, yang masih diam dan memandang wajah Mamih Riri.

"Wah … berarti tante harus bilang makasih dong ke kamu. Makasih ya, Mari."

Mari masih diam. Ia bingung dengan perlakuan berbeda, yang justru ia dapatkan di rumah besar itu.

Mamih Riri kembali menegakkan badannya, dan mengambil dua buah shopping bag. Satu berwarna ungu mengkilap dan satu berwarna putih tulang.

Ia lalu kembali mengahpiri kedua gadis kecil itu.

"Ini, satu untuk Riri. Dan satunya untuk Mari." wanita itu memberikan Riri tas belanja yang berwarna ungu dan yang putih tulang ia berikan untuk Mari.

Riri sangat antusias menerimanya, dan segera melihat isi di dalam tas belanjaan itu.

"Wah … boneka baru!" pekiknya dengan suka cita, mendapat mainan yang sebenarnya sudah sangat tidak diperlukan lagi, karena sangkin banyaknya.

Mari masih diam. Dia enggan untuk menerima pemberian itu. Ada rasa takut jika nanti ia akan dimarahi oleh ibunya, karena dikira mencuri.

"Mari, ayo ambil." Mamih Riri kembali berbicara kepada Mari yang terus diam.

"Sa … saya nggak ma … mau," ucap Mari pada akhirnya dengan suara terbata.

"Kenapa? Apa kamu takut sama tante?" tanya Mamih Riri.

Mari menggeleng pelan.

"Bu … bukan. Sa … saya takut I … Ibu saya ma … marah," sahut Mari.

"Kenapa harus marah? Apa ibumu melarang untuk menerima pemberian dari orang asing?" tanya wanita itu mencoba mencari tau.

Mari menggeleng.

"Aneh! Kalau masalahnya dikasih orang asing sih, wajar kalau nolak. Tapi dia geleng. Dan lagi, dia pasti orang nggak mampu, kan. Biasanya mereka justru sangat antusias jika di beri sesuatu secara cuma-cuma," batin Mamih Riri menerka-nerka.

"Apa ibu kamu galak?" tanya wanita itu lagi.

"Bukan begitu! Ibu orang yang paling baik sedunia!" ucap Mari dengan nada meninggi.

Mari kecil tak terima jika sang ibu dikaitkan dengan susatu yang tidak baik. Tak jarang ia akan menyerang orang, yang berani mengata-ngatai sang ibu di depannya.

"Oh … maaf ya. Tante udah buat kamu marah."

Mari kembali tertunduk mendengar permintaan maaf langsung dari Mamih Riri.

"Apa kamu nggak mau coba lihat dulu isinya? Tante yakin kamu pasti suka," ucap wanita itu.

Mari ragu. Namun Mamih Riri mengambil isi dari shopping bag itu, dan menunjukkannya kepada Mari.

Sebuah boneka teddy bear berwana coklat susu seukuran tas punggung anak sekolah, dengan pita merah di lehernya dan sebuah simbol hati merah yang dipengan kedua tangannya.

"Wah …," gumam Mari.

"Baguskan!" seru Mamih Riri saat melihat ekspresi gadis kecil itu.

"Ehm.…," mari kecil mengangguk dengan mata berbinar melihat benda berbulu lembut nan lucu itu.

"Ambil ya. Ini buat kamu." Mamih Riri menyerahkan boneka itu, dan Mari pun perlahan menerimanya.

Sejenak kemudian, dia kembali menatap wajah wanita itu dengan ekspresi takut.

"Ibu akan marah. Dia pasti ngira aku nyuri," ucap Mari kemudian dengan suara lirih, namun masih bisa terdengar jelas oleh ibu temannya.

"Oh … jadi itu masalahnya. Gampang! Sebentar yah." ucap wanita itu.

Mamih Riri kemudian berjalan ke arah meja belajar putri kecilnya, dan mengambil secarik kertas lalu kemudian menuliskan sesuatu di sana.

Setelah itu, ia kembali menghampiri Mari kecil.

"Nanti, kalau kamu sudah di rumah, kasih lihat kertas ini ke ibumu yah. Dia pasti nggak akan marahin kamu," ucapnya sambil memasukkan kertas berisi tulisan tadi ke dalam shopping bag yang telah kosong.

"Ehm …," Mari mengangguk dengan antusias.

"Ya sudah, Bentar lagi makan siang. Kalian beresin dulu mainannya, trus turun ke bawah. Kita makan sama-sama, oke!" perintah sang Mamih.

"Oke, Mih!" sahut Riri.

Mari hanya tersenyum ke arah ibu teman barunya itu, dengan perasaan senang.

"Oh iya, di mana Kak Arya mu, Ri? Apa dia sudah pulang sekolah?" tanya Mamih Riri sambil memunguti semua tas belanjaannya, yang ia letakkan di atas lantai begitu saja.

"Sudah, Mih. Kakak sedang di kamarnya," ucap Riri.

"Ya sudah. Cepat beresin terus turun yah." perintah sang ibu kepada putri kecil dan juga temannya.

Saat makan siang, Mari turut makan dengan Riri, kakak dan juga ibunya. Rasa canggung sudah pasti dirasakan oleh gadis kecil itu.

Di rumahnya, tak ada yang namanya makan bersama denga hidangan semewah ini. Olahan ayam, bahkan tidak hanya satu di sajikan di atas meja makan yang besar itu. Ada ayam goreng krispi, semur ayam, bahkan udang saus asam manis pun ada, lengkap dengan segala garnis yang sebenarnya sangat mubadzir.

Menjelang sore, Mari kecil pamit pulang. Dia membawa sebuah tas belanja di tangannya, dan berjalan dengan riang gembira.

Setibanya di rumah, sang ibu memperhatikan barang yang tengah di bawa oleh sang putri kecil.

"Apa ini, Nak? Kenapa kamu bisa dapat benda seperti ini? Dari mana kamu dapernya?" cecar sang ibu kepada Mari.

Dan sesuai arahan dari Ibu Riri, Mari kecil pun memberikan secarik kertas, dengan sebuah tulisan diatasnya.

"Perkenalkan, saya adalah seorang ibu yang hampir kehilangan anak gadisnya, jika saja putri kecilmu tidak membatunya untuk menemukan jalan pulang.

Ini hanya sebuah tanda terimakasih kecil dari ku, untuk putrimu yang baik hati itu. Tolong jangan marahi dia karena benda berbulu itu yah."

Setelah membaca pesan dari Ibu Riri, Mari pun diperbolehkan untuk menyimpan boneka itu oleh ibunya.

Semenjak saat itu, Mari yang memang tidak memiliki teman di lingkungan tempat tinggalnya pun, memilih untuk datang ke rumah besar itu hampir setiap hari.

.

.

.

.

Masih flash back😅 jan bosen dulu yah, biar tuntas gitu🤭✌

yuk yang udah baca, biasakan like dan komen di bawah😊 sebagai bentuk dukungan untuk othor receh nan remahan ini🙏

1
Verlit Ivana
Mungkin seulas Kak kalau senyum, seutas cocok untuk tali.
*cmiiw
🐌KANG MAGERAN🐌: iya bener 😅 maaf ken🤭
total 1 replies
Verlit Ivana
mantap Kak, penggambaran tragisnya kena. /Smile/
🐌KANG MAGERAN🐌: makasih kak
total 1 replies
Verlit Ivana
Kak, mungkin karena pake tanda seru ya, aku bacanya si petugas kayak sambil bentak. /Frown/.
🐌KANG MAGERAN🐌: gemes kan lihat tulisan acak-acakan
total 5 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Mercenary of El Dorado
Bundanya Pandu Pharamadina
terimakasih mbak Author sudah di ijinin baca Marathon 👍🌹❤
Bundanya Pandu Pharamadina
Lingga junior mau lounching
Bundanya Pandu Pharamadina
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
❤❤❤❤❤❤
Bundanya Pandu Pharamadina
perasaan sudah baca, otw lagi 👍❤
Bundanya Pandu Pharamadina
mundur alon alon sing penting tetep gadi konco yo mbak Author
Bundanya Pandu Pharamadina
semoga nanti bahagia Lingga Mira
Bundanya Pandu Pharamadina
part ulang yah kaka Author👍❤
Bundanya Pandu Pharamadina
ternyata yg nolong Arya(Lingga) tek kira Thomas
Bundanya Pandu Pharamadina
Lingga Mira 👍❤❤❤❤
Bundanya Pandu Pharamadina
Mira😭😭😭😭
Bundanya Pandu Pharamadina
ada teka teki hubungan apa antara mama Mirna (Shofia) sama Thomas dan mami Ge*mo
Bundanya Pandu Pharamadina
tMira itu bukan teripang tapi anak konda
Bundanya Pandu Pharamadina
per*ek teriak per*ek duhhh🤭🤭
Bundanya Pandu Pharamadina
ihhh sampai ikutan gos²an bacanya
Bundanya Pandu Pharamadina
Mungkin Mari /Mari belum siap untuk kembali seperti dulu Lingga
Bundanya Pandu Pharamadina
mungkinkah dia(Lingga) anak dan keluarga yg di tolong Mira🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!