# Proses revisi tanda baca dan lainnya, dimulai dari bab paling belakang #
Ini tentang gadis bernama Ava Angelina Putri, gadis keras kepala, naif, dan suka mecampuri urusan orang lain yang sedang mencoba menjelajahi dunia SMA yang selalu dia ingin dan banggakan.
Tidak hanya sendiri, Ava juga ditemani oleh dua sahabat seperjuangannya yaitu, Agnes Tri Sukmawati dan Isyana Aziva Delina yang juga ingin tahu bagaimana rasanya.
Proses pendewasaan diri pasti akan selalu ada yang namanya pencarian jati diri, tantangan, cinta monyet, ambisius, kehilangan arah, keingintahuan yang tinggi, proses penyelesaian masalah, mencari tujuan hidup, cita-cita, visi, misi, dan segala hal yang berhubungan dengan usia pertumbuhan.
Akankah Ava beserta para sahabatnya menemukan apa yang mereka cari?
Atau justru dihadang jalan buntu sehingga menyimpulkan kalau masa SMA tidak seistimewa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KaniaPutri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 ~ Dia Cemburu?
...
...
06:35
Ava, Ana, dan Agnes berangkat lebih awal karena hari ini hari senin dan mereka akan melaksanakan upacara atau yang sekarang mereka lebih di kenal dengan sebutan, 'Three A' gara-gara Rendi.
Seluruh sekolah saat ini tengah gempar, karena ada foto Ava dan Aras yang tersebar saat Ava menggandeng lengan Aras. Entah siapa yang menyebarkan foto tersebut, tapi pasti seluruh sekolah sudah tahu.
Dan Ava yakin, kebanyakan para siswi dan penggemar Aras pasti sudah tersulut emosi.
Kali ini teman-teman Ava pasti sudah mengetahuinya dan mereka semua akan menanyakan berbagai pertanyaan secara bertubi-tubi kepada Ava.
Seluruh mata orang yang ada di koridor mengarah pada Ava. Dan Ava tahu itu, ia tidak akan ambil pusing, toh Ava tidak mengusik kehidupan orang lain.
"Iih enak banget yaa jadi Ava bisa dinner sama, kak Aras."
"Gue juga mau, tapi apalah dayaku ini yang tak glowing shining shimering splendid."
"Mereka cocok banget! Yang satu ganteng yang satu cantik!"
Itulah segelintir ocehan-ocehan dari para siswi lainmya.
"Iya cantik sih, tapi kayak biasa aja gitu. Kayak nggak layak sama kak Aras, beda jauh!"
Ava berhenti, Ana dan Agnes pun ikut berhenti. Ava menoleh kebelakang dan berjalan mendekati dua gadis yang sedang bergosip itu.
"Iya, apalagi keliatan yang ceweknya kayak kegatelan gitu, jadi kesannya malah kayak murahan."
"Eeh, orang nya dateng!" desis salah satu gadis yang terlihat centil. Ia menyadari Ava berjalan mendekat ke arahnya.
"Kalian bilang apa tadi? Gue nggak layak? Gue murahan? Gue kegatelan?" tanya Ava mengulang semua yang di katakan dua gadis tersebut.
Ava mendekat dan semakin mendekat, dengan gerakan cepat Ava mencengkram kerah kedua gadis itu, sontak seluruh siswa di koridor langsung menatap Ava.
Agnes ingin menenangkan Ava tapi di tahan oleh Ana. "Udah, biarin aja. Dia, 'kan, lagi pms biar di luapin ke mereka berdua, daripada ke kita. Dia juga nggak akan berantem kok, paling abis ini dia jadi lega," tutur Ana. Agnes hanya menurut saja, karena memang benar.
"Lo, kalo ngomong di jaga!" peringat Ava penuh penekanan di setiap kalimatnya, raut wajah kedua gadis itu langsung pucat pasi.
Ada menatap dari bawah ke atas tubuh gadis yang sedang di depannya ini, tersenyum licik sambil menautkan kedua alisnya. "Kayaknya kalian yang malah gadis genit, liat deh diri kalian sebelum ngehina orang. Kalau nggak punya kaca, di rumah gue ada kaca gede!"
"Kalian nggak bakalan menang lawan gue!" Ava melepaskan cengkramannya. Berbalik lalu berjalan pergi bersama Agnes dan Ana.
Agnes mendekatkan diri.ya pada Ana sambil tersenyum. "Aman kita." Ana ber tos ria bersama Agnes.
***
10:55
Safira, Ana, Bagus, Rio, Agnes, Justin, Tiana, Syarifa, Dino, Revan, Alan dan juga Ava saat ini ada di kantin dalam satu meja yang sama.
Karena Ava malas bicara, jadi yang bercerita dari awal sampai akhir adalah Ana. Dan Ana juga yang menjawab semua pertanyaan yang seharusnya di jawab dan di lontarkan pada Ava.
Tentang kejadian tadi saat di koridor pun Ana yang harus bercerita.
"Jadi, Ava marah bukan karena omongan cewek cabe itu? Tapi, karena Ava emang pengen marah tapi nggak tahu harus di lampiasin ke siapa? Jadinya Ava marah ke cewek cabe itu dengan alasan nggak suka sama omongannya?" tebak Tiana tepat sasaran.
Ava mengangguk pelan sambil menopang dagunya. "Iya,"
"Waah. Udah gila lo, Va kayaknya?" Syarifa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ana tersenyum. "Dia emang gitu kalau hari pertama haid, tapi kalau udah marah dia nggak akan marah lagi, satu kali aja udah cukup buat muasin hasratnya,"
"Tapi sekarang Molyvdos udah nggak pernah tawuran lagi, yaa?" tanya Dino mengganti topik. Syarifa menjitak kepala Dino, "... sakit, Sya!"
"Yaa ... lo mikir aja, kelas XII itu udah saatnya mereka jadi murid mendadak baik,"
"Maksudnya?" tanya Revan yang tidak mengerti maksud Syarifa.
"Mereka, 'kan, udah kelas XII jadi mereka harus siap-siap buat persiapan ujian. Lha kalau mereka tawuran atau bikin masalah, nilai dan poin terutama sikap mereka yang akan dipertaruhkan,"
"Bisa-bisa mereka nggak lulus. Tapi kalau mereka udah lulus terserah deh mereka mau ngapain aja."
Semuanya mengangguk mengerti kecuali Alan yang dari tadi diam, dan Ava yang dari tadi lontang-lantung mengaduk jus alpukatnya. Untuk pertama kalinya gadis iti sangat tidak selera meminum jus alpukatnya.
"Kayak yang aneh sama perasaan gue? Tapi, apa, ya?" batin gadis itu menghembuskan nafas panjang.
Bagus menatap Alan yang menatap lekat Ava. "Kenapa lo dari tadi diam aja?" tanya Bagus menendang pelan siku Alan.
"Nggak papa." jawab Alan datar. Ia saat ini juga malas bicara.
Entah kenapa Ava jadi mengantuk mendengar ocehan teman-temannya. Yang Ava dengar malah seperti musik tidur yang lembut dan pelan.
Jadi Ava memutuskan untuk bangkit dan pergi dari sana, meninggalkan teman-temannya yang masih sibuk melontarkan pertanyaan.
Alan menyadari sesuatu, seperti ada yang salah dengan Ava. Cowok itu segera bangkit untuk mengejar Ava.
"Lan, mau kemana?" tanya Rio tapi tak ada jawaban dari Alan.
Ava memilih jalan yang cukup sepi karena saat ini Ava malas berhadapan dengan orang yang ingin tahu tentang dirinya.
Untung saja Ava belum terlalu jauh, dan belum ada yang menyadari itu. Alan melepas hoodie navy yang ia kenakan lalu mengikatnya di pingul Ava dari belakang dengan cepat.
Ava yang terkejut langsung menoleh kebelakang. "Lo, ke kamar mandi. Jangan banyak gerak nanti keluarnya banyak. Tunggu di sana, nanti gue ke sana." jelas Alan panjang lebar, lalu pergi meninggalkan Ava.
Ava yang masih linglung berfikir sebentar apa yang dilakukan Alan tadi, dan setelah beberapa detik akhirnya gadis itu menyadari sesuatu.
Ava menganga, raut wajahnya berubah seketika. "Aah iya! Kok gue baru sadar, ya?" dengan cepat ia langsung ke kamar mandi.
***
Alan memberikan, rok baru, satu pembalut berukuran panjang, dan kantong plastik berukuran sedang warna hitam.
Ava menerimabya dengan perasaan tidak enak. "Makasih, Lan. Kalau nggak ada lo mungkin gue udah di ketawain sama siswa dan siswi lain."
Alan mengangguk pelan tanpa tersenyum, lalu pergi tanpa meninggalkan Ava tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Gadis itu masuk ke dalam kamar mandi dan berfikir akan sesuatu.
Ava merasa ada yang aneh dengan Alan, sejak tadi pagi saat Alan melihat atau melewati Ava, Alan hanya diam, tanpa mau menatap, tegur sapa atau tersenyum pada Ava. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang Alan biasanya hangat dan sangat suka tersenyum kepada Ava.
Tapi Ava tak ambil pusing akan hal itu, mungkin mood Alan hari ini sedang tidak baik, sama seperti hari ini yang sangat dingin dari biasanya.
***
Kelas Ava saat ini sedang tidak ada guru, tapi tidak boleh keluar kelas, dan jadi lah kelas Ava seperti pasar dan kapal pecah, sangat berantakan serta sangat berisik.
Ava masih memikirkan kejadian tadi di kamar mandi, ia juga sudah bercerita kepada Safira, dan bercerita kepada Ana juga Agnes dengan mengirimkan Voice Note.
"Fir ..." panggil Ava menoleh ke arah Safira, menunggu jawaban cewek itu.
Safira meletakkan hp nya yang tadi di mainkan di atas meja. "Apa?"
"Menurut lo, kala lo di suruh milih lo bakalan milih kak Aras atau Alan?"
"Eh, bukan berarti gue suka, yaa, sama Alan, gue cuma tanya doang ..." lanjut Ava menginstrupsi, dirinya takut jika Safira salah paham saja. Gadis itu bergumam dan berpura pura berfikir, "... kalau menurut gue, nggak tahu sih ini pendapat gue aja. Soalnya, gue nggak terlalu mengenal kak Aras, jadi lo jangan tersinggung kalau gue ngomong yang aneh-aneh soal dia," Ava mengangguk mengiyakan.
"Gue dengerin dari cerita lo dan amatin mereka beberapa kali? Kak Aras emang ganteng, baik, romantis, kaya raya pula. Tapi, gue lebih milih Alan, soalnya gue kenal dan tahu dia gimana, karena kita berdua saat SMP kelas 9 satu kelas. Alan juga perhatian dan baik ke lo, dia nggak ganteng sih, tapi dia malah menjurus ke manis ..." Safira diam. Sedangkan Ava menunggu Safira melanjutkan pendapatnya, "... kenapa gue nggam milih, kak Aras? Karena gue belum mengenal dia, dan gue ngerasa ada yang kurang atau aneh gitu sama dia tapi nggak tahu apa?"
Ava menghadap ke depan lagi. "Ternyata, apa yang gue rasain juga di rasain sama, Safira??" batin Ava.
***
15:15
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Ava segera ke kelas Alan untuk mengganti uang Alan karena telah membelikan barang-barang tadi untuk Ava.
Ana dan Agnes menunggu Ava di depan gerbang sekolah.
Nah kebetulan sekali Ava melihat Alan keluar bersama Bagus, dan juga Justin, Ava menghampiri Alan.
"Alan, ini gue mau ganti yang tadi. Jaketnya nanti gue balikin pas udah di cuci," Ava memberikan dua lembar uang berwarna biru. Tapi tidak ada tanda-tanda Alan akan mengambilnya. Cowok itu justru malah menatap Ava dingin.
"Gue nggak butuh duit, lo," jawab Alan ketus tanpa menatap gadis di depannya.
"Tapi, gue nggak mau balas budi sama, lo!" kata Ava lagi dengan nada tajam, tapi tetap menyodorkan uang itu.
"Terserah. Lo mau balikin jaketnya apa enggak."
"Gue balikin kok jaketnya, tenang aja. Lo kira gue nggak bisa beli apa?" Ava jadi kesal sendiri di buatnya.
Lagi, dan lagi Alan diam, dan beberapa detik berikutnya cowok itu pergi meninggalkan Ava, Justin, dan juga Bagus.
"Alan!" panggil Ava berteriak. Sang cowok itu pun tidak menoleh sedikit pun dan masih tetap berjalan dan menatap lurus ke depan, sampai Alan hilang dari indra penglihatan.
Ava beralih menatap Justin, dan juga Bagus. "Kenapa, dia?"
Bagus menghela nafas, cowok itu sepertinya tahu Alan kenapa. "Dia cemburu sama, lo." setelah mengatakan itu Bagus langsung pergi.
Ava tidak tahu apa maksud bagus. "Cemburu kenapa?" gumamnya berbicara pada dirinya sendiri, lalu beralih menatap Justin seolah meminta penjelasan.
Justin tahu apa maksud tatapan itu. "Jangan tanya gue. Lo pikir aja sendiri kenapa Alan gitu."
Justin pergi meninggalkan Ava, sedangkan Ava masih belum mengerti apa yang di maksud Bagus, dan Justin.
Gadis itu menggaruk kepalanya yang memang gatal akibat ketombe. "Pada kenapa, sih? Kok kayaknya pada marah sama gue? Gue salah apa? Perasaan gue nggak ngapa-ngapain mereka, deh?
...***...
...Ditulis tanggal 26 April 2020...
...Dipublish tanggal 17 Februari 2021...
...***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menghargai karya Author, supaya Authornya juga senang dan semangat nulisnya. Nanti kalau kalian nemu ada yang copas cerita Aku atau apa tolong banget kasih tahu Aku, ya! Tapi ngasih tahunya jangan komen, langsung aja chat Aku. Thank you and happy reading....
karena Alan itu orangnya bikin aku greget terus(pengen aku tabok rasanya kepala Alan saat Alan mutusin Ava 😬😂)tapi meskipun begitu aku tetap mau kasih 💜💜💜 buat Babang Alan 😙😁🤭
Dan menurutku yang kurang disini tuh ada di epilognya, karena kayak ngegantung gitu loh. Tapi,nggak apa2 lah ya aku tetap suka sama endingnya.😁
So,aku berharap ada season 2 untuk novel ini Thor,karena aku susah move on untuk novel ini 😭
Tetap semangat ya Thor untuk membuat karya yang bagus2 dan seru pastinya ❤😁