" Hei Leha, turun gak ? " Ibunya Juleha berkacak pinggang di bawah pohon mangga.
" Bentaran ! Nanggung "
Masih dengan santai nangkring diatas pohon mangga.
Bagaimana kisah perjalanan rumah tangga antara Juleha dan Zainal dan pasangan lainnya yang menikah karena minta dijodohkan ? ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Juleha dan Zainal ( Part . 13 )
Selepas sholat Dzuhur di musholla yang ada dilingkungan kantor Camat, Rojali tunangannya Zainab duduk di sebelah Zainal.
" Gimana Zai, enak penganten baru di bulan puasa ? kudu mandi sebelum subuh, dingin "
oceh Rojali gak jelas.
" Enak dong, dari pada elu, mau ngapelin bakal digetok kepala lu sama calon mertua "
" Sok tahu, aku tunangannya, pintu rumah terbuka lebar menyambut kedatangan ku "
" Apa lu gak malu, orang lain pada taraweh nah elu, ngapelin ? memalukan " Zainal terkekeh.
" Pulang taraweh maksudku, Zai "
" Udah malem Jali, saatnya Zainab dan orang tuanya tidur, elu ngapelin, lu mau pertunangan elu dibatalin ? Sementara udah apa apa aja perabotan yang orang tua lu diberikan pada orang tua Zainab ? apa lu gak rugi, udalah sakit ati, duit bapak lu habis, tekor, mendingan aku ? dingin dingin dikit yang pentingkan asoy "
Zainal tergelak.
Rojali mencebik.
" Eh Zai, aku mau tanya, elukan katanya agak agak faham ilmu agama sedikit sedikit, walaupun kita berteman udah lama, tapi lu lebih dikit-lah diatasku, bulan puasa gini, kalau aku mencium istriku boleh gak "
" Gak boleh "
" Ah masa' ? mencium istri sendiri masa gak boleh, kecuali istri tetangga baru gak boleh Zai, apa ada dalil yang mengatakan gak boleh mencium istri di bulan Ramadhan, berarti ku gak faham ilmu agama dong "
" Eh Rojali, dengar ya ! Mau bulan ramadhan atau bulan biasa tetap enggak boleh, karena elu belum punya istri Rojali, elu baru punya tunangan "
" Eh, iya ya berati pertanyaan-ku yang salah "
Rojali sekarang yang terkekeh
" Tau gitu, aku minta dinikahkan cepat sebelum elu, Zai "
" Terlambat kalau nyesal sekarang "
" Eh, Zai, gimana pacaran setelah menikah, enak gak ? Seru gak ? "
Rojali dan Zainal sama sama melirik Mira dan dua temannya yang masuk dalam musholla untuk Sholat juga.
Sepertinya mereka sedikit terlambat.
kalau Rojali dan Zainal memang lebih memilih selonjoran dengan menyandarkan punggungnya ke dinding untuk istirahat sembari mengobrol.
Zamannya Rasulullah, mesjid kan sebagai tempat segala kegiatan yang positif, kecuali mengghibah, merencanakan kejahatan dan yang berhubungan dengan maksiat baru gak boleh.
" Enak dong, segala kesenangan yang dilakukan pada istri sendiri, inget, istri sendiri, bukan istri tetangga, bernilai ibadah.
Pacaran setelah menikah itu indah Li, apa pun yang kita lakukan, istri kita tidak akan menolak, justru senyum malu malu, ngegemesin gak ? "
Zainal sudah ingin menahan tawanya melihat tampang Rojali antara menyesal dan kepengen, lebih ke mupeng sih.
" Ah, Zai, lu pasti manas manasin aku kan ? "
Nyadar dia.
Jangan lupakan Mira, dia sholat sangat tidak khusuk, jangankan Zainal sang mantan pacar tiga bulan, yang menceritakan kebahagiaan rumah tangganya yang otomatis akan membuat dia membuka telinga lebar lebar.
Jika orang lain yang berbicara, pasti secara alami telinga akan memasang antenanya.
Setelah salam, orang lain akan mengira dia sedang berdzikir atau muhasabah tentang dosa dosa yang pernah dilakukan, sebenanya iya juga, dia sedang muhasabah tentang kesalahan dan penyesalan yang pernah dilakukan karena dia terlalu memaksa pada Zainal.
Zainal dan Mira memang berpacaran karena keduanya sama sama suka.
Zainal tidak mau melakukan dosa seperti zina tangan yang saling menggenggam, selanjutnya zina hidung yang saling mencium setelahnya, pasti kezina yang lebih besar lagi.
Zainal mengajak menikah, tapi Mira justru ingin berpacaran dulu, mengusulkan kredit mobil dengan patungan.
Tentu saja Zainal tidak mau, suka tapi bukan berarti dijajah.
Zainal mundur dengan cara baik baik.
Mira bukan perempuan yang Zainal inginkan, dia menginginkan perempuan yang sederhana dan tidak terlalu banyak menuntut karena penghasilan Zainal sebagai PNS tidaklah banyak.
Zainal sudah sangat Ingin menikah dan memiliki anak.
Setiap malam sholat memohon di condongkan hatinya pada siapa yang menjadi jodohnya dan acap kali Zainal selalu terbayang sosok Juleha dengan kesederhanaannya, sering manjat pohon lagi.
Zainal melakukan sholat istikharah dengan menyebut nama Juleha dalam do'anya, jika memang Juleha jodohnya, kuatkan hatinya.
Alloh sudah mengatur jalannya, ban motor yang Juleha tumpangi gembos dan selanjutnya tahu sendiri ya, udah Mak othor ceritakan sebelumnya.
Jodoh tidak pernah salah, pada Juleha, hati Zainal merasa bahagia walaupun belum mendapat jatah.
...*****...
...🌿🌿🌿🌿🌿🌿...
maraton bacanya
Mira bete lagi nih, Thor ada dendam ya sama mira👻
👍🏼👏🏼🙏🏼☕
haduh porsinya pas Pasan bang jali👻
emang somplak mereka
hore Mahmud otw nikah juga Ama Lusi 👻🌹
rezeki nomplok si Abdul nikah nga modal 👻
awas ada yang kebakar leha👻
bang Zai ada yang kepanasan 👻