Mengandung adegan 21+
Bijaklah dalam memilih bacaan
Kisah cinta tiga pasangan yang harus kandas namun belum sepenuhnya usai.
Kisah cinta Regan dan Sarah sampai di pernikahan. Keduanya hidup bahagia sampai ujian datang menerpa rumah tangganya. Mereka terpaksa berpisah saat kehilangan anak tercinta dengan cara yang tragis.
Irzal dan Poppy dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Di saat cinta mulai tumbuh, masalah datang menerpa. Seseorang dari masa lalu memporak porandakan biduk rumah tangga yang baru seumur jagung.
Berawal dari sebuah permainan. Rasa cinta antara Ega dan Alea mulai tumbuh. Sejarah kelam dan permusuhan orang tua membuat keduanya harus terpisah.
Sekian lama berpisah, ketiga pasangan ini bertemu kembali. Takdir mempertemukan mereka semua terhubung dalam ikatan yang sulit dijelaskan. Akankah mereka dapat bersatu kembali dengan orang yang dicintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Complicated Couple (5) Kampret
Januari 2014
Tidak terasa Irzal dan Poppy sudah menjalani kehidupan pernikahan selama tiga bulan. Namun selama itu pula hubungan pribadi di antara keduanya belum menunjukkan adanya peningkatan. Mereka masih tidur terpisah walaupun berada dalam satu kamar. Tidak pernah pergi berduaan layaknya pasangan pengantin baru apalagi bermesraan. Mereka hanya menjalankan tugas dan kewajiban sebagai suami istri. Namun tetap tidak mencampuri kehidupan pribadi masing-masing.
Seperti malam ini, Poppy menghabiskan malam di kamar Rena. Membantu adik iparnya mengerjakan tugas sekolah. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Rena sudah mulai menguap.
“Udah malem, besok aja diterusin lagi ngerjain tugasnya,” ucap Poppy pada Rena yang sudah terlihat mengantuk.
“Iya kak.”
Rena membereskan buku-bukunya. Poppy ikut membantu. Selesai membereskan Poppy keluar kamar. Saat akan menutup pintu, Rena ikut keluar.
“Aku mau ke kamar mandi dulu,” ucap Rena.
Poppy langsung masuk ke dalam kamar. Rena diam-diam mengikutinya. Dia penasaran kenapa hampir setiap malam Poppy lebih senang berada di kamarnya dibanding berada di kamarnya sendiri bersama Irzal.
Pelan-pelan Rena membuka pintu kamar sedikit. Dia celingkukan sebentar lalu melihat kakaknya sedang berbaring di atas sofa. Sedangkan Poppy berjalan ke tempat tidur dan langsung berbaring. Rena masih menunggu beberapa saat. Tapi tak ada tanda-tanda pergerakan kakaknya untuk mendekati Poppy. Dia pun menutup pintu pelan-pelan.
Hmm.. jadi selama ini mereka ngga pernah tidur bareng.
Otaknya secara otomatis mulai bekerja mencari jalan supaya mereka bisa tidur bersama.
Paginya, ummi dan Poppy sedang menyiapkan sarapan di dapur. Rena keluar dari kamarnya. Dia bertemu Irzal yang juga baru keluar dari kamar.
“Kak, hari ini lembur ngga?”
“Ngga, kenapa gitu?”
“Iseng aja nanya, ngga boleh?” jawab Rena cuek, setelah itu dia bergegas turun ke bawah diikuti Irzal dari belakang.
Sesampainya di bawah mereka langsung duduk. Di meja sudah tersaji sarapan. Tak lama kemudian ummi dan Poppy bergabung. Mereka mulai sarapan bersama.
“Pop.. kira-kira kapan nih ummi bisa nimang cucu?”
Uhuk.. uhuk..
Pertanyaan ummi yang tiba-tiba membuat Poppy tersedak. Beberapa saat dia terbatuk. Irzal menepuk-nepuk punggung Poppy lalu memberikan minum padanya.
Gimana mau punya anak, disentuh aja ngga pernah. Ini anak ummi normal ngga sih? Ada perempuan di deketnya dianggurin aja. Huh..
“Ummi, untuk mendapatkan seorang anak, harus ada kerjasama tim dari suami istri. Jadi ummi jangan nanya ke kak Poppy aja, tapi ke kak Irzal juga” ujar Rena. Spontan Irzal melotot ke arah Rena.
“Ih anak kecil nyamber aja,” ucap ummi.
“Ummi, aku tuh udah belajar di sekolah soal reproduksi manusia. Kalau pasangan suami istri belum punya anak, mungkin emang belum rejekinya. Tapi bisa jadi juga karena tidak adanya kerjasama yang baik antara suami dan istri,” Rena kembali berkata seraya melihat ke arah Irzal dan Poppy.
Irzal hanya berdehem, dia cepat-cepat menghabiskan makanannya.
“Udah sarapannya? Cepetan aku udah telat,” ucap Irzal pada Poppy.
Poppy segera menghabiskan minumannya. Saat dia akan membereskan piring, ummi melarangnya dan menyuruhnya segera berangkat. Setelah berpamitan mereka pun pergi. Seperginya Irzal dan Poppy, ummi yang penasaran mulai bertanya pada Rena.
“Maksud kamu tadi ngomong kaya tadi apa?”
“Omongan yang mana ummi?” Rena pura-pura tak mengerti.
“Itu soal kerjasama tim.”
“Oh soal itu.. itu M.. T.. A.. ummi.”
“Apa itu MTA?”
“Mau Tau Ajah...”
Rena cepat-cepat mencium punggung tangan ummi dan segera pergi ke sekolah. Ummi geleng-geleng kepala melihat tingkah anak bungsunya ini. Dia lalu membereskan piring serta gelas bekas sarapan, membawanya ke dapur.
Mobil yang ditumpangi Irzal dan Poppy sampai juga di kantor Poppy. Semenjak menikah ummi menyuruh Irzal mengendarai mobil yang biasa dibawa oleh alhamrhum abi untuk pergi bekerja dan juga antar jemput Poppy.
“A, nanti aku lembur, jadi aku pulang sendiri aja, ngga usah jemput.”
“Telpon aja kalau udah selesai kerja, aku ngga mau kena omel ummi.”
Poppy melihat ke arah Irzal sebentar. Setelah mencium punggung tangan suaminya, dia segera turun dari mobil. Tak berapa lama Irzal segera menjalankan mobilnya meninggalkan kantor Poppy.
Huh anter jemput istri aja terpaksa karena ummi. Niat ngga sih dia ngejalanin rumah tangga ini. Kalau ummi minta dia nikah lagi pasti bakal diturutin juga. Sebeeeel.. Irzal nyebelin.. dasar suami jutek tidak berperasaan.
❤️❤️❤️
Poppy melihat jam tangannya, sudah pukul delapan malam. Dia cepat-cepat membereskan pekerjaannya. Lima menit kemudian dia keluar dari kantornya lalu berjalan menuju sebuah toko buku tak jauh dari dealer mobil tempatnya bekerja. Dia sudah berjanji pada Rena untuk membelikan satu set alat tulis baru untuknya.
Poppy segera masuk ke dalam toko menuju tempat alat-alat tulis berada. Ketika sedang memilih-milih, dia merasa ada seseorang yang sedang mengamatinya. Poppy membalikkan badan, melihat ke sekeliling toko tapi tak ada yang mencurigakan. Dia mengabaikannya lalu dengan cepat memilih satu set alat tulis, setelah itu menuju kasir untuk membayarnya. Selesai transaksi dia langsung keluar dari toko, lalu berjalan menuju sebuah café. Poppy bermaksud membelikan camilan untuk Rena sambil menunggu Irzal menjemputnya.
Poppy mengeluarkan ponsel dari tasnya. Baru saja dia akan mengetik pesan ketika tiba-tiba ada seseorang yang menjambak rambutnya dari belakang sambil berteriak padanya.
“Dasar perempuan ngga tau malu! Kurang ajar!”
Perempuan itu menjambak rambut Poppy dengan keras. Sontak dia menjerit kesakitan seraya berusaha melepaskan tangan wanita itu dari rambutnya. Tapi wanita itu semakin beringas, dia terus menjambak rambutnya. Sekuat tenaga Poppy berusaha melepaskan tangan wanita itu dan akhirnya berhasil. Dia berbalik ke arah wanita itu. Nampak seorang wanita berusia empat puluhan sedang menatapnya dengan penuh amarah.
“Ibu siapa? Tiba-tiba jambak rambut saya, udah ngga waras ya!” bentak Poppy kesal. Dia mengelus-elus kulit kepalanya yang terasa sakit.
“Kamu perempuan ngga tau diri! Beraninya kamu godain suami saya!”
Poppy terkejut mendengarnya. Beberapa orang yang melewati jalan itu mulai memperhatikan dan berkerumun di dekat mereka.
“Jaga ya mulut ibu, sembarangan aja kalau ngomong!”
Poppy mulai terpancing emosi. Wanita itu bertambah kalap, dia kembali mendekati Poppy bermaksud menjambak lagi. Tapi kali ini Poppy mulai melawan. Sekuat tenaga dia mendorong wanita itu.
Wanita itu jatuh tersungkur, telapak tanggannya lecet saat menahan tubuhnya. Dia mengerang kesakitan. Sesaat kemudian wanita itu bangkit hendak menyerang lagi. Tapi orang-orang di sekitar segera menahannya. Wanita itu berteriak-teriak memaki Poppy.
Suasana di sekitar jalan menjadi ricuh. Beberapa kendaraan yang lewat melambatkan laju kendaraan untuk melihat kejadian tersebut hingga menimbulkan kemacetan. Seorang polisi yang sedang berjaga segera menghampiri. Dia memberi isyarat pada pengemudi untuk terus berjalan lalu bergegas menghampiri kerumunan massa.
“Ada apa ini?” tanya polisi tersebut.
“Tangkap perempuan itu pak! Dia itu perusak rumah tangga orang! Dia udah berani godain suami saya!” teriak wanita itu menunjuk pada Poppy.
“Dasar perempuan gila, nuduh orang sembarangan. Tangkap dia aja pak. Dia yang tiba-tiba nyerang saya!” jawab Poppy tak mau kalah.
“Udah diam! Kalian berdua ikut saya ke kantor polisi!”
Polisi itu segera membawa paksa mereka berdua ke kantor polisi. Jarak kantor polisi dari tempat kejadian hanya berkisar dua ratus meter. Tak berapa lama mereka sampai di polsek. Polisi itu segera membawanya ke hadapan polisi lain yang sedang bertugas.
“Lapor pak, kedua wanita ini membuat keributan di jalan, mohon segera diselesaikan” ucap polisi tersebut.
Poppy dan wanita itu duduk di depan meja Bripda Slamet, polisi yang bertugas jaga malam ini. Dia memandangi kedua wanita di hadapannya lalu mulai bertanya.
“Ada masalah apa?”
“Ini perempuan udah godain suami saya.”
“Bohong pak, saya ngga kenal ibu ini. Tiba-tiba dia nuduh seenaknya.”
“Karena kamu perempuan ngga bener.”
“Eh jaga ya omongan ibu.”
“Diam!” Bripda Slamet menggebrak meja. Sontak mereka terdiam.
“Coba keluarkan KTP kalian,” pinta Bripda Slamet.
Keduanya segera mengeluarkan KTP masing-masing. Dia membaca nama yang tertera, Poppy Anggraeni dan Lisna Zubaedah.
“Kenapa ibu Lisna menyerang saudari Poppy?”
“Udah saya bilang tadi kalau dia itu pengganggu suami orang.”
“Ngga bener itu pak,” sambar Poppy.
Bripda Slamet memberi isyarat pada Poppy untuk diam.
“Ibu punya bukti?”
“Dia itu sering nelpon suami saya.”
“Bohong pak, saya kenal juga ngga sama ibu ini.”
“Kamu emang ngga kenal sama saya tapi tau suami saya kan?”
“Sudah... sudah.. sudah..” Bripda Slamet melerai.
“Pak, saya betul-betul ngga tau ibu ini. Gini aja deh, mending telpon suami ibu ini biar semua masalah clear,” ucap Poppy.
Dia pun setuju dan meminta ibu Lisna menelpon suaminya.
Lima belas menit kemudian suami ibu Lisna datang tergopoh-gopoh memasuki kantor polisi. Dia segera menghampiri istrinya.
“Ya ampun mama kenapa ada di sini?”
“Nih perempuan selingkuhan papa, mama mau laporin ke polisi.”
Lelaki itu melihat ke arah Poppy dan,
“Mba Poppy,” ucapnya. Poppy melihat ke arah lelaki itu.
“Pak Ridwan.”
“Tuh kan bener, mereka saling kenal pak, bener mereka itu selingkuh!”
Emosi ibu Lisna kembali naik setelah mengetahui Poppy dan suaminya memang saling mengenal.
“Pak Ridwan anda kenal dengan saudari Poppy?” tanya Bripda Slamet.
“Iya kenal pak.”
“Saudari Poppy?”
“Kalau pak Ridwan saya memang kenal. Dia itu agen asuransi mobil, sedangkan saya kerja di dealer mobil, jadi kalau ada customer yang membeli mobil mau mengasuransikan kendaraannya, kita pasti menghubungi pak Ridwan,” jelas Poppy panjang lebar. Tetapi ibu Lisna tetap tidak percaya. Dia terus menuduh Poppy berselingkuh dengan suaminya.
“Benar yang dikatakan mba Poppy, kita cuma sebatas rekan kerja. Mama jangan begini dong, bikin malu aja. Mba Poppy tolong maafkan istri saya,” pak Ridwan mencoba untuk meredakan suasana.
“Kenapa harus minta maaf? Mama ngga salah kok. Udah papa ngaku aja kalau papa selingkuh sama dia. Dia pasti sering godain papa kalau dateng ke kantornya, bener kan? Ayo ngaku!” cerocos bu Lisna pada suaminya. Mendengar ucapan bu Lisna, Poppy kembali emosi.
“Eh ibu kalau ngomong dijaga ya. Saya itu udah nikah, suami saya punya pekerjaan bagus, mapan dan berpuluh-puluh kali lebih ganteng dari suami ibu. Ngapain juga saya godain suami ibu. Kira-kira dong kalo nuduh.”
“Sudah kalian diam dulu,” petugas itu kembali melerai.
“Saudari Poppy, anda benar sudah menikah?”
“Iya pak.”
“Tapi di KTP, anda masih single.”
“Saya baru tiga bulan nikah pak, belum sempet ngurus KTP dan KK. Tapi saya bener udah nikah. Nama suami saya Irzal Ramadhan. Bapak bisa telepon dia kalau ngga percaya.”
“Ok, coba telpon suaminya.”
Poppy segera mengeluarkan ponselnya. Dia lalu mencari nomer Irzal dan segera menelponnya. Bripda Slamet meminta ponsel Poppy. Dia pun memberikan ponselnya. Sejenak Bripda Slamet terdiam memandang nama yang tertera di layar ponsel.
“Ini bener no suaminya?”
Tanya Bripda Slamet penuh curiga. Dia merasa aneh melihat nama yang tertera. Poppy mengangguk dengan bingung. Tapi kemudian dia ingat sesuatu, ya ampun...
❤️❤️❤️
Irzal duduk di depan meja kerjanya, berulang kali dia melihat jam tangannya. Sudah jam sembilan malam tapi Poppy belum menelponnya juga. Irzal mengambil ponselnya, baru saja akan menelpon, tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dari Poppy. Dengan cepat Irzal menjawabnya.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.. apa benar ini dengan bapak Irzal Ramadhan?”
Terdengar suara Bripda Slamet dari seberang. Irzal terkejut karena bukan suara Poppy yang didengar.
“Iya betul pak.”
“Apa benar saudari Poppy Anggraeni itu istri bapak?”
“Iya,” Irzal masih belum mengerti dengan apa yang terjadi.
“Saat ini istri bapak ada di kantor polsek Cilandak, bapak bisa datang ke sini?”
“Baik pak,” tanpa banyak bertanya Irzal langsung mengiyakan.
Setelah mengakhiri panggilan, Irzal segera bersiap. Saat akan keluar, dia kembali lagi lalu membuka lemari mengambil buku nikahnya. Irzal mengambil kunci motor lalu turun ke bawah. Dia buru-buru keluar rumah hingga tak mendengar panggilan ummi.
Rena yang sedang belajar mendengar suara motor Irzal. Dia melihat ke jendela dan motor yang dikendarai Irzal keluar dari rumah.
Kak Irzal pasti lagi jemput kak Poppy.
Rena cepat-cepat keluar dari kamarnya, lalu menuju kamar mandi mengambil segayung penuh air. Rena masuk ke kamar Irzal, menuangkan air dari gayung ke atas sofa. Seketika air langsung merembes ke dalam sofa. Setelah memastikan sofa benar-benar basah, Rena keluar kamar. Ditaruhnya lagi gayung di kamar mandi. Lalu bergegas masuk ke kamarnya, tak lupa mengunci pintu.
Sementara itu di kantor polisi, ibu Lisna masih saja berdebat dengan Poppy. Dia masih tidak percaya pada Poppy dan suaminya, walaupun pak Ridwan berulang kali menjelaskan. Setengah jam kemudian Irzal sampai di kantor polisi. Dia langsung masuk ke dalam menemui Poppy.
“Poppy ada apa?” tanya Irzal setelah melihat Poppy.
“Dengan bapak Irzal?” tanya Bripda Slamet. Irzal mengiyakan.
“Anda benar suami saudari Poppy?”
“Benar pak.”
Irzal menyerahkan KTP dan buku nikah. Setelah memeriksa, Bripda Slamet menjelaskan kronologi kejadian keributan antara Poppy dengan ibu Lisna.
“Ngga mungkin istri saya selingkuh. Setiap hari saya antar jemput dia di tempat kerja dan istri saya itu wanita baik-baik. Apa ibu punya bukti kalau istri saya berselingkuh dengan suami ibu?”
“Saya seorang istri dan feeling saya mengatakan kalau suami saya berselingkuh.”
“Kalaupun suami ibu selingkuh, belum tentu juga dia selingkuh dengan istri saya. Atas dasar apa ibu berani nuduh istri saya seperti itu? saya minta bukti kongritnya, ada tidak? Saya bisa tuntut ibu atas pencemaran nama baik kalau ibu terus menuduh istri saya seperti ini.”
Irzal berbicara panjang membela istrinya. Bu Lisna hanya diam. Poppy memandang Irzal, dia tak menyangka Irzal akan membelanya. Hal ini berbanding terbalik dengan sikap dingin yang selalu diperlihatkan padanya.
“Bagaimana bu Lisna, apa anda mempunyai bukti kalau saudara Poppy berselingkuh dengan suami anda?”
“Mama tolong percaya sama papa. Papa ngga selingkuh dengan wanita mana pun di hati papa cuma ada mama,” pak Ridwan coba meyakinkan istrinya kembali. Bu Lisna melihat pada suaminya lalu berkata,
“Bener ya pa, papa ngga selingkuh. Mama sayang banget sama papa,” bu Lisna memeluk suaminya. Poppy melihat mereka dengan kesal.
Ih nyebelin banget nih orang, sok imut lagi.
“Ok, karena tuduhan ibu tidak berdasar dan tidak ada bukti juga, jadi saya sarankan untuk menyelesaikan masalah ini dengan jalan damai,” ucap Bripda Slamet.
“Belum selesai pak, saya mau nuntut dia karena sudah menyerang saya. Lihat tangan saya sampai terluka gara-gara dia,” ibu Lisna menunjukkan telapak tangannya yang tergores. Poppy melihat tak percaya padanya.
“Yang ada saya yang nuntut ibu atas perbuatan tidak menyenangkan. Ibu yang nyerang saya duluan, mempermalukan saya, saya cuma membela diri!” emosi Poppy kembali meledak. Irzal memegang tangan Poppy, memberi isyarat untuk diam.
“Jadi gimana, kalian mau berdamai atau kalian berdua terpaksa saya masukkan ke dalam sel!” ancam Bripda Slamet yang mulai kesal.
Mendengar ancamannya, nyali ibu Lisna langsung ciut. Dia setuju untuk berdamai dan pergi meninggalkan kantor polisi sambil merangkul suaminya dengan mesra.
Bripda Slamet mengembalikan KTP juga ponsel pada Poppy. Tetapi sebelum mengembalikan ponsel dia bertanya pada Irzal karena penasaran.
“Pak Irzal, anda menyimpan nomer istri anda dengan nama apa?”
“Ya nama istri saya pak, Poppy,” jawab Irzal bingung.
Bripda Slamet kemudian menekan tombol panggilan pada ponsel Poppy. Tak berapa lama ponsel Irzal berbunyi. Dia meminta ponsel, lalu melihat nama yang tertera di layar tertulis Poppy. Selanjutnya dia menunjukkan nama yang tertera di layar ponsel Poppy pada Irzal. Betapa terkejutnya dia ketika melihat kata KAMPRET yang tertera pada layar ponsel Poppy.
Apa?!! Kampret!! Dasar istri durhaka, berani-beraninya ngasih nama suami kampret!
Irzal melihat ke arah istrinya sambil melotot. Poppy menghindari tatapan Irzal sambil menggerutu kesal.
Dasar polisi usil, kurang kerjaan. Ngapain juga dia ngasih tau Irzal. Pasti ribet nih urusannya. Apes bener.
Dengan cepat dia mengambil ponsenyal dari Bripda Slamet dan mengakhiri panggilannya. Sesudah itu cepat-cepat berdiri. Setelah mengucapkan terima kasih, Irzal menarik tangan Poppy dengan kesal. Sebelum mereka pergi Bripda Slamet kembali berkata,
“Saudari Poppy, ternyata anda benar akan satu hal. Suami anda memang jauh lebih ganteng dari pak Ridwan.”
Wew apalagi nih. Bener-bener polisi kurang kerjaan. Mau taro di mana nih muka.
Irzal langsung menarik tangan Poppy keluar kantor polisi, tapi hati kecilnya senang mendengar apa yang dikatakan Bripda Slamet tadi, berarti Poppy mengakui kegantengannya. Mereka bergegas keluar dari kantor polisi.
Irzal memacu motornya menembus jalanan ibu kota. Dengan sengaja dia menambah kecepatan motornya. Poppy terkejut karena Irzal tiba-tiba mengebut, refleks dia memeluk pinggang suaminya. Irzal tersenyum, dia terus memacu motornya dengan kecepatan tinggi agar Poppy tak melepaskan pelukannya. Tak berapa lama mereka sampai di rumah. Tanpa berkata-kata Irzal langsung masuk ke dalam diikuti Poppy. Suasana rumah sudah sepi, mereka langsung masuk ke kamar.
Poppy segera berganti pakaian dan mencuci muka di kamar mandi lalu kembali ke kamar. Irzal baru saja selesai berganti pakaian, sesaat mereka saling bertatapan. Karena merasa tak enak, Poppy segera memalingkan wajahnya. Cepat-cepat naik ke atas ranjang. Irzal pun segera berbaring di atas sofanya. Tetapi baru saja tubuhnya menyentuh sofa, dia langsung bangun kembali karena sofanya terasa basah.
Kenapa basah gini? Ini pasti kerjaannya Rena.
Dia bertambah kesal karena celana dan kaosnya menjadi basah. Irzal membuka lemari mengambil pakaian lagi. Membuka kaosnya yang basah lalu menggantinya dengan yang baru.
Poppy yang sedari tadi memperhatikan Irzal langsung menarik selimut menutupi wajahnya ketika Irzal membuka celananya. Jantungnya berdegup kencang.
Ya ampun! Seenaknya aja ganti baju di sini. Tapi badannya bagus banget, eh Poppy istighfar.
Selesai berganti baju, Irzal mengambil bantal dan guling dari sofa lalu menaruhnya di samping Poppy. Masih bersembunyi dalam selimutnya, Poppy bergeser sedikit memberi ruang untuk Irzal tidur. Tak lama Irzal merebahkan tubuhnya. Sejenak dia melihat ke arah Poppy yang masih tertutup selimut. Kemudian dia segera tidur sambil membelakangi Poppy.
Sepuluh menit berselang Irzal masih belum bisa memejamkan matanya. Posisi tidurnya kini telentang. Dia melirik ke arah Poppy. Mendekatkan telinganya ke arah istrinya. Suara nafas Poppy terdengar teratur, menandakan dia sudah tertidur pulas. Baru saja Irzal akan memejamkan mata. Tiba-tiba Poppy berbalik dan memeluk tubuhnya. Irzal terkesiap, jantungnya berdebar kencang.
Irzal memiringkan tubuhnya menghadap Poppy. Dipandanginya wajah yang sedang tertidur ini. Perlahan jarinya menyentuh kening, hidung dan bibir istrinya. Seakan ada magnet yang menariknya. Tanpa disadari, bibirnya sudah mendarat di kening Poppy. Kemudian dikecupnya bibir mungil tersebut. Senyumnya mengembang, berhasil mencuri ciuman pertama istrinya. Setelah itu direngkuhnya tubuh mungil Poppy dalam pelukannya.