NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Mutha

Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.

Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 35

Raymond menatap Angela yang masih terpaku di tempat. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang sulit diartikan. Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, senyum dinginnya berubah menjadi senyum penuh kemenangan.

"Ingat." Suaranya terdengar rendah, tetapi jelas. "Ciuman pertama lo udah gue ambil."

Ia sengaja berhenti sejenak, menikmati ekspresi Angela yang masih mematung.

"Jadi... sekarang lo nggak bisa nolak gue lagi."

Angela hanya mampu menatapnya dengan mata membulat. Otaknya terasa kosong beberapa detik, seolah masih berusaha mencerna kalimat yang baru saja didengarnya.

"Lo...".Bibirnya bergerak pelan, tetapi tak ada kalimat yang berhasil keluar. Rasanya ingin membalas, ingin memarahinya habis-habisan. Namun, setiap kata seakan tersangkut di tenggorokan. Melihat wajah Angela yang kehilangan kata-kata, senyum Raymond justru semakin lebar. Ekspresi jahil seperti itu benar-benar asing di wajah pria yang selama ini dikenal dingin dan sulit ditebak.

Angela sampai dibuat melongo.

Jangan-jangan... ini sifat aslinya?

Selama ini, Raymond selalu terlihat tenang, dewasa, dan nyaris tak pernah menunjukkan emosi. Siapa sangka, di balik sikap dinginnya, ternyata tersembunyi sisi usil yang mampu membuatnya naik darah hanya dalam hitungan detik.

"Nyebelin banget..." gumam Angela pelan. Raymond terkekeh lirih. Suara tawanya pelan, tetapi cukup membuat Angela semakin kesal.

"Udah."

Raymond akhirnya melepaskan pelukannya, meski jemarinya masih menggenggam pergelangan tangan Angela agar gadis itu tidak kembali kabur.

"Ayo pulang." Angela mendengus.

"Gue bisa pulang sendiri."

"Iya, tahu. Tapi ujung-ujungnya tetap pulang ke rumah yang sama." Raymond mengangguk santai. Kalimat itu langsung membuat Angela terdiam. Ia ingin membantah, tapi sayangnya, Raymond tidak salah.

Sejak Ibu Sulastri masih menjalani masa pemulihan, mereka memang tinggal sementara di kediaman keluarga Wijaya. Mau tidak mau, setiap hari Angela akan bertemu lagi dengan Raymond.

Angela mengembuskan napas panjang sambil memijat pelipisnya.

"Kenapa hidup gue jadi begini, sih..." Raymond menoleh sekilas, lalu tersenyum tipis.

"Biasain."

"Sebelumnya lo masih bisa kabur, Sekarang, mau di kampus atau di rumah, gue tetap bisa nemuin lo." Ia menatap Angela lurus-lurus.

Angela memejamkan mata sesaat. Dalam hati, ia benar-benar ingin mengacak-acak rambut Raymond sampai berantakan. Namun, yang keluar dari bibirnya hanya dengusan pelan penuh kekesalan.

"Dasar nyebelin." Raymond sama sekali tidak tersinggung. Justru ia tampak menikmati setiap keluhan Angela.

Tanpa banyak bicara lagi, ia berjalan lebih dulu menuju area parkir. Beberapa langkah kemudian, Raymond berhenti dan menoleh ke belakang.

"Ngapain diem?" Angela masih berdiri di tempat sambil melipat kedua tangan di depan dada.

"Nunggu dijemput pangeran lain?" goda Raymond. Angela langsung mendelik.

"Pede banget."

"Bukan pede. Soalnya gue tahu... lo nggak punya pilihan." Raymond tersenyum tipis.

Angela mendecakkan lidah pelan sebelum akhirnya melangkah menyusulnya. Meski wajahnya masih dipenuhi rasa kesal, entah kenapa sudut bibirnya sempat bergerak tipis, seolah tanpa sadar menahan senyum.

Hal kecil itu luput dari perhatian Angela.

Namun, tidak bagi Raymond, Pria itu hanya menatap lurus ke depan sambil menyembunyikan senyum puasnya. Bagi Raymond, selama Angela masih mau berjalan di sisinya, itu sudah lebih dari cukup.

***

Angela berjalan beberapa langkah di belakang Raymond dengan kedua tangan dimasukkan ke saku hoodie. Wajahnya masih ditekuk sejak kejadian di taman.

Raymond yang mendengar suara langkah kaki Angela sengaja memperlambat jalannya. Ia melirik ke belakang, lalu menyunggingkan senyum tipis.

"Masih ngambek?" tanyanya santai. Angela mendengus pelan tanpa menatapnya.

"Emang kenapa kalau gue ngambek?"balasnya ketus.

"Nggak kenapa-kenapa," jawab Raymond sambil mengangkat bahu. "Cuma pengin memastikan."

Angela akhirnya menoleh. Kedua alisnya terangkat. "Memastikan apa?"

"Kalau lo masih mau ngomong sama gue."

"Cih." Angela hwhyw berdecih mendengar perkataannya.

"Soalnya orang ngambek biasanya milih diem." Angela memutar bola matanya malas.

"Sayang banget, ya. Gue masih bisa ngomel."

Sudut bibir Raymond terangkat.

"Nah, itu baru Angela." Angela langsung berhenti melangkah.

"Lo lagi ngeledek gue, ya?"

"Nggak." Raymond menggeleng pelan. "Gue malah lebih tenang kalau lo ngomel." Angela mengerutkan dahi.

"Kenapa?"

"Berarti lo masih peduli." Ucapan itu membuat langkah Angela terhenti sesaat. Ia membuka mulut hendak membalas, tetapi tidak ada kata yang keluar. Melihat ekspresi bingung Angela, Raymond menahan senyum.

"Kalau lo udah cuek... itu baru bahaya." Angela segera berdeham, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas.

"Siapa juga yang peduli sama lo."

"Oh?" Raymond menyipitkan mata. "Terus yang tadi mukanya merah gara-gara dicium siapa?" Angela spontan menutup mulut Raymond dengan telapak tangannya.

"Berisik!" Desisnya. Raymond tertawa pelan di balik telapak tangan itu. Tawa rendahnya terdengar jelas hingga membuat Angela buru-buru menarik tangannya kembali.

"Wih..." Raymond mengusap bibirnya sambil tersenyum jahil. "Sekarang lo yang nyentuh gue duluan." Angela membelalak.

"Lo tuh bisa nggak sih ngomong normal sekali aja?"

"Bisa."

"Nah, coba." Raymond menatapnya beberapa detik, lalu berkata dengan wajah datar,

"Lo cantik." Angela yang sedang melangkah hampir tersandung kakinya sendiri.

"Hah?" Raymond mengangguk seolah baru mengatakan hal biasa.

"Gue cuma ngomong normal." Angela memalingkan wajah dengan cepat.

"Lo pasti lagi sakit."

"Nggak."

"Atau lagi demam."

"Nggak juga." Angela mendesah pelan.

"Kalau gitu... kerasukan." Raymond terkekeh.

"Boleh juga." Mereka akhirnya tiba di area parkir. Raymond berjalan lebih dulu menuju mobilnya, lalu membukakan pintu penumpang.

"Duduk." Angela melipat kedua tangan di depan dada.

"Gue bisa buka sendiri."

Raymond mengangguk tanpa menurunkan tangannya dari gagang pintu.

"Gue tahu."

"Terus kenapa dibukain?"

"Karena gue mau." Jawaban singkat itu kembali membuat Angela kehilangan bahan untuk membantah.

"Huft..." Dengan wajah sebal, ia akhirnya masuk ke dalam mobil. Saat Raymond menutup pintu, Angela masih menggumam pelan.

"Sok perhatian." Meski diucapkan lirih, Raymond tetap mendengarnya.

"Iya." Angela menoleh.

"Iya apanya?"

"Emang perhatian." Angela langsung menghela napas panjang.

"PD banget." Raymond masuk ke kursi kemudi, memasang sabuk pengaman, lalu menoleh ke arahnya.

"Bukan PD."

"Lalu?"

"Gue lagi latihan."

"Latihan apa?"

"Jadi calon suami yang baik." Bukan kata pacar yang terlontar dari mulutnya, melainkan langsung kata ' Suami' . Angela langsung menatapnya seolah baru saja mendengar lelucon paling aneh hari itu.

"Siapa yang bilang gue nerima lo?" Raymond menyalakan mesin mobil.

"Belum."

"Nah, kan. Tapi nanti juga nerima."

Angela memukul pelan lengan Raymond.

"Ngaco!" Raymond hanya tertawa kecil.

Mobil mulai melaju meninggalkan kampus.

Beberapa menit pertama, suasana kembali hening. Angela diam-diam melirik ke arah Raymond.

Pria itu kembali memasang wajah datarnya sambil fokus mengemudi, seolah sosok jahil yang terus menggodanya tadi hanyalah ilusi.

Angela mengernyit.

Aneh. Kalau sedang bersama orang lain, Raymond selalu dingin.Tapi begitu hanya ada mereka berdua, sifat aslinya justru keluar sedikit demi sedikit.

Tiba-tiba Raymond membuka suara tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.

"Kalau mau lihat gue, lihat aja." Angela refleks menoleh.

"Siapa yang lihat?"

"Barusan."

"Gue lagi lihat jalan." Kilahnya. Angela langsung membuang muka, melihat ke arah jalan.

"Jalannya ada di muka gue?" Angela langsung terdiam. Raymond terkekeh pelan.

"Ketahuan." Angela memukul pelan bahunya sekali lagi.

"Fokus nyetir!"

"Iya, Bos."

Mendengar Raymond menurut begitu saja, Angela justru gagal menahan senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya. Senyum itu hanya berlangsung beberapa detik.

Namun, cukup bagi Raymond untuk melihatnya dari pantulan kaca spion. Tanpa berkata apa-apa, sudut bibir pria itu ikut terangkat. Setidaknya... hari ini Angela sudah mulai tersenyum di hadapannya.

Sementara itu, di kediaman keluarga Wijaya, suasana sore terasa jauh lebih hidup dari biasanya.

Di kamar Diana, berbagai gaun pesta tergantung rapi di depan lemari. Ada yang berwarna biru safir, putih gading, champagne, hingga pastel lembut. Beberapa kotak aksesori juga sudah terbuka di atas tempat tidur. Diana tampak begitu antusias membolak-balik setiap gaun, seolah sedang mempersiapkan putrinya sendiri untuk menghadiri pesta besar.

Di sisi lain, Sulastri—ibu Angela—hanya duduk sambil tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya itu.

"Lastri, menurutmu gaun yang ini gimana buat Angela?" tanya Diana bersemangat sambil mengangkat gaun berwarna biru royal dengan detail payet yang berkilau saat terkena cahaya.

Sulastri memperhatikannya sejenak, lalu mengangguk pelan.

"Bagus."

"Kalau yang ini?"

Belum sempat gaun pertama diletakkan, Diana sudah mengangkat dua gaun lain sekaligus. Yang satu berwarna putih gading dengan potongan elegan, sedangkan satunya lagi putih susu dengan sentuhan renda yang anggun.

"Semuanya juga bagus."

Mendengar jawaban itu lagi, Diana langsung mengembuskan napas panjang. Bibirnya mengerucut, sementara dahinya berkerut kesal.

"Lastri... dari tadi jawabanmu cuma 'bagus' terus. Aku lagi serius, lho. Ini buat calon menantuku."

Sulastri tak kuasa menahan tawa. Tawanya yang pelan memenuhi ruangan, membuat Diana ikut tersenyum meski masih sedikit sebal.

"Lah, memang semuanya bagus, Di," jawab Sulastri santai. "Lagian aku paling tahu sifat Angela. Disuruh pakai gaun seperti itu saja pasti dia sudah panik duluan."

"Iya juga, ya." Diana tertawa kecil.

"Anakku itu tomboy dari kecil. Pakai hoodie, celana jeans, sama sepatu sneakers sudah paling nyaman buat dia. Kalau tiba-tiba dipakaikan gaun mewah begini, paling dia malah salah tingkah."

Membayangkan ekspresi Angela yang kikuk mengenakan gaun pesta membuat kedua wanita itu tertawa bersama.

Namun, Diana tiba-tiba mendapat ide.

"Hmm... kalau begitu, aku tanya Raymond saja." Sulastri menoleh heran.

"Raymond?"

"Iya. Meskipun anak itu dingin, matanya soal penampilan selalu tajam."

Diana segera meraih ponsel di atas nakas. Jemarinya bergerak cepat memilih beberapa foto gaun, lalu mengirimkannya kepada putranya.

Diana: Raymond, menurutmu gaun mana yang paling cocok buat Angela buat acara nanti?

Tak sampai satu menit, balasan dari Raymond langsung masuk.

Raymond: Nggak ada.

Diana mengernyit.

"Hah?"

Ia membuka pesan berikutnya.

Raymond: Semuanya norak.

"Astaga!" Diana refleks memukul pelan bantal di sampingnya.

"Anak ini benar-benar bikin darah tinggi. Masa semua gaun yang aku pilih dibilang norak?"

Sulastri sampai menutup mulutnya, menahan tawa.

"Namanya juga Raymond."

"Dasar anak keras kepala." Masih belum menyerah, Diana kembali mengetik balasan.

Diana: Kalau menurutmu jelek semua, memangnya kamu punya rekomendasi yang lebih bagus? Beberapa detik kemudian, balasan itu muncul lagi.

Raymond: Ada.

Diana menaikkan sebelah alisnya.

Diana: Dekat sama perempuan saja kamu belum pernah. Memangnya kamu tahu selera gaun perempuan seperti apa?

Balasan Raymond datang tanpa jeda.

Raymond: Lihat saja nanti.

Diana menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya mendengus pelan.

"Anak itu kalau ngomong selalu bikin penasaran." Sulastri ikut tersenyum tipis.

"Tapi aku yakin, kalau sudah menyangkut Angela, Raymond pasti nggak akan asal pilih."

Entah mengapa, ucapan itu membuat Diana ikut terdiam. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum kecil.

Mungkin benar. Raymond memang tidak pernah peduli dengan penampilan perempuan lain. Namun, jika yang dibicarakan adalah Angela, putranya selalu memiliki standar yang berbeda.

Tak lama setelah percakapan itu berakhir, ponsel Diana kembali bergetar. Sebuah notifikasi masuk dari Raymond.

Bukan pesan. Melainkan sebuah tautan yang disertai beberapa foto gaun dari sebuah butik eksklusif langganan keluarga Wijaya.

Diana membukanya satu per satu. Matanya langsung membesar.

"Ya Tuhan..." Sulastri yang penasaran segera bergeser mendekat.

"Kenapa?"

"Ini..." Diana memperlihatkan layar ponselnya. Di sana hanya ada empat pilihan gaun. Tidak banyak payet, tidak dipenuhi hiasan berlebihan, tetapi justru memancarkan kesan mewah yang elegan. Salah satunya langsung menarik perhatian mereka.

Gaun berwarna champagne dengan potongan sederhana yang mengikuti lekuk tubuh tanpa terlihat berlebihan. Bagian bahunya dibuat terbuka dengan kain satin yang jatuh lembut, sementara bagian pinggang dihiasi aksen pita kecil yang membuat tampilannya anggun.

"Bagus sekali..." gumam Sulastri tanpa sadar.

Diana mengangguk pelan.

"Baru kali ini aku sepakat sama selera Raymond." Tak lama kemudian, pesan lain kembali masuk.

Raymond: Yang warna champagne.

Raymond: Ukuran S.

Raymond: Tambahkan heels warna silver lima sentimeter. Jangan terlalu tinggi.

Diana membaca pesan itu dengan alis yang semakin terangkat.

"Lho..." Sulastri ikut menatap layar ponsel.

"Kok dia tahu ukuran kaki Angela?"

"Itu juga yang aku pikirkan." Belum sempat mereka selesai bertanya-tanya, satu pesan terakhir kembali muncul.

Raymond: Jangan kasih aksesori yang terlalu ramai.

Raymond: Anting kecil mutiara. Kalung tipis.

Raymond: Rambutnya cukup digerai. Jangan dibuat macam-macam.

Ruangan mendadak hening. Diana perlahan menurunkan ponselnya, lalu menoleh ke arah Sulastri dengan tatapan penuh arti.

"Lastri..."

"Iya?"

"Menurutmu... sejak kapan anakku memperhatikan Angela sedetail ini?" Sulastri hanya mengangkat bahu sambil tersenyum geli.

"Aku juga nggak tahu. Tapi yang jelas..." lanjutnya pelan, "nggak mungkin laki-laki tahu ukuran baju, tinggi hak sepatu, sampai model rambut perempuan kalau dia nggak benar-benar memperhatikan." Ucapan itu membuat Diana membeku sesaat.

Kemudian, senyum lebar perlahan menghiasi wajahnya.

"Aku tahu sekarang."

"Tahu apa?" Diana terkekeh pelan.

"Anakku ternyata sudah jatuh cinta sama Angela, sebentar lagi kita akan jadi besan, Lastri." Diana begitu senang dan langsung memeluk Sulastri.

Sementara itu, Mobil sport hitam milik Raymond melaju tenang membelah jalanan kota yang mulai dipenuhi kendaraan menjelang sore. Cahaya matahari yang mulai meredup menembus kaca depan, menciptakan semburat keemasan di dalam kabin.

Raymond tetap fokus menatap jalan di depannya. Satu tangannya memegang setir, sementara tangan lainnya sesekali berpindah untuk mengganti persneling.

Di kursi penumpang, Angela terlihat bersandar santai sambil menatap keluar jendela. Deretan gedung dan pepohonan berlalu begitu saja di hadapan matanya.

"Aneh..." gumam Angela pelan. Raymond melirik sekilas.

"Kenapa?"

"Gue ngerasa lo sengaja bawa pulang ke rumah keluarga lo lebih awal." Raymond hanya mengangkat sebelah alis.

"Perasaan lo aja." Angela mendecakkan lidah.

"Jangan bohong. Dari tadi senyum lo mencurigakan."

"Apa gue senyum?"

"Iya."

Raymond kembali mengalihkan pandangannya ke jalan. Sudut bibirnya memang sempat terangkat, tetapi hanya sepersekian detik.

"Nggak."

"Cih... bohong."

Angela kembali memandang ke luar jendela. Meski begitu, rasa penasarannya semakin besar. Sejak meninggalkan kampus, Raymond terlihat jauh lebih tenang dari biasanya, seolah sedang menyembunyikan sesuatu.

"Sebenernya kita buru-buru pulang buat apa, sih?" tanyanya lagi.

"Persiapan."

"Persiapan apa?"

"Nanti juga tahu." Jawaban singkat itu membuat Angela memutar bola matanya kesal.

"Lagi-lagi nanti juga tahu." Raymond hanya terkekeh pelan tanpa berniat memberi penjelasan lebih. Ponselnya yang terhubung dengan sistem mobil bergetar pelan. Sekilas ia melihat nama pengirim di layar.

Mama.

Raymond menekan tombol pada setir hingga notifikasi itu menghilang tanpa membacanya di depan Angela. Ia sudah tahu isi pesannya.

Gaun yang dipilihnya hampir pasti sudah sampai di rumah. Tanpa sadar, sudut bibir Raymond kembali terangkat tipis.

Ia sengaja tidak mengatakan apa pun kepada Angela. Kalau gadis keras kepala itu tahu sejak sekarang bahwa Diana sudah menyiapkan gaun untuknya, kemungkinan besar Angela akan langsung menolak mentah-mentah atau mencari seribu alasan untuk kabur.

Lebih baik membiarkannya terkejut saat mereka tiba di kediaman keluarga Wijaya.

Raymond melirik Angela dari ekor matanya.

Gadis itu masih sibuk memandangi jalanan, sama sekali tidak menyadari rencana kecil yang telah disiapkan untuknya.

"Semoga aja nanti lo nggak ngamuk," batin Raymond sambil menahan senyum.

Bagaimanapun juga, malam ini Angela akan menjadi pasangan yang berdiri di sisinya.

Dan, suka atau tidak, gaun yang telah dipilihnya sudah menunggu di rumah.

1
Alinda Linda
lanjut thor
Alinda Linda
semangat thor💪
Miasell Tea
agak kecewa sama Raymond,, kenapa mesti harus ada ga bisa nahan apa karna dosis nya Terlalu kuat,,, tapi apapun itu makasih udah menyajikan karya SE bagus ini,,, semoga Ang nya ga lama marah sama Raymond nya dan tambah bahagia y
Miasell Tea
bukan ny mereka berdua dah tau kalau mereka adalah cio yg lagi kuliah pas waktu di acara keluarga Wijaya y
Anisa Nur Afifah
lanjut thor, semangat 💪
Miasell Tea
kapan nih nikah nya masih lama kah
Miasell Tea: ok di tunggu KA thor
total 2 replies
luiya tuzahra
di bab sebelumnya pas di rumah sakit Edward bercerita klw Hendra lebih memilih bekerja stelah lulus SMA dan gak pernah ketemu lagi,di bab ini kok ceritanya begini jadi bingung.gak konsisten kadang Raymond manggil dadi kadang ayah,Angela jg kadang ibu pas di RS manggil mama.🤭
luiya tuzahra
biasanya baca novel PU cowoknya redflag parah disini PU grenflag abis,walopun agak boring bacanya krn terlalu monoton tpi aku suka karakter Raymond.
Miasell Tea
makin seru makasih sudah menyajikan cerita yg bagus Thor,,, semangat terusss 💪💪
Khusnul Khotimah
bagus semangat😍
luiya tuzahra
aku mau dong jadi Angela
Lyvia
hati2 saja kau ray 😄
Miasell Tea
awas lo bayu,,, jangan punya pikiran buat jadi orang ke tiga ya masih banyak cewe yg baik2 ko
Miasell Tea
ah gemes banget2 bisa aja si ayang ray mah bikin kejutan buat ang
Miasell Tea
ko makin dikit thor,,, ga puas nih baca,, nya kalo di tabung ga bisa nunggu pengen nya cepat2 baca aj,, semangat thor💪💪
Miasell Tea: makasih udah Doble update thor,,,
anak nya semoga lekas sembuh
total 2 replies
Lyvia
mulai posesif si ray 😄
Lyvia
suwun thor crazy upnya
Rizky Mutha: sama-sama kak
total 1 replies
Miasell Tea
bagus banget menghibur para pem baca,,,
kalau bisa up nya di tambahin
Miasell Tea
lah kapan nikah nya thor,,,harus ada penjelasan nya ini mah, makin penasaran aj,, 💪💪💪
Rizky Mutha: aduh.. typo
total 1 replies
Lenny Utami
so sweet banget..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!