NovelToon NovelToon
ASISTEN DUDA TAJIR MELINTIR

ASISTEN DUDA TAJIR MELINTIR

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda
Popularitas:724
Nilai: 5
Nama Author: Flaura Charisma

Asisten Duda CEO Tajir Melintir

Grizella Madeline Dealova, seorang anak magang yang ambisius dan berani, tidak pernah menyangka akan terlibat dengan Galaxy Adelion Wesley, CEO kaya raya yang dingin dan terluka karena pengkhianatan masa lalu.

Pertemuan mereka dipenuhi pertengkaran, tetapi perlahan rasa benci berubah menjadi ketertarikan. Saat Galaxy memintanya menjadi asisten pribadi dan tinggal bersamanya, keduanya mulai menghadapi perasaan yang tidak bisa mereka hindari.

Namun, ketika cinta mulai tumbuh, mantan istri Galaxy kembali membawa rahasia lama yang mengancam hubungan mereka.

Akankah Grizella menjadi alasan Galaxy kembali percaya pada cinta, atau justru menjadi luka baru dalam hidup sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulau pribadi sang CEO

BAB 6 – Bagian 1: Pulau Pribadi Sang CEO

Suasana kantor Wesley Corporation masih dipenuhi garis pembatas keamanan.

Tim forensik keluar masuk area ledakan, sementara para karyawan diminta bekerja dari lantai lain.

Grizella duduk di ruang kesehatan perusahaan dengan wajah masih sedikit pucat.

Meski tidak terluka, ledakan kecil yang terjadi beberapa jam lalu masih membekas di pikirannya.

Pintu ruang kesehatan terbuka.

Galaxy masuk dengan langkah tenang.

"Apa dokter sudah memeriksamu?"

Grizella mengangguk.

"Katanya saya hanya syok."

Galaxy memperhatikan wajahnya beberapa saat.

Ia jarang menunjukkan kekhawatiran secara terang-terangan.

Namun kali ini, sorot matanya sulit menyembunyikan rasa cemas.

"Mulai hari ini kau tidak bekerja di kantor."

Grizella langsung menggeleng.

"Tapi pekerjaan saya..."

"Aaron akan mengurusnya."

"Tuan, saya baik-baik saja."

Galaxy menyela dengan nada tegas.

"Itu bukan permintaan."

"Itu keputusan."

Grizella menghela napas pelan.

Ia tahu percuma membantah saat Galaxy sudah mengambil keputusan.

Sore harinya...

Sebuah helikopter pribadi telah menunggu di atas gedung perusahaan.

Grizella menatapnya dengan bingung.

"Kita mau ke mana?"

"Ke tempat yang lebih aman."

"Di mana?"

Galaxy mengenakan kacamata hitamnya sebelum menjawab singkat.

"Pulau pribadiku."

Grizella membelalakkan mata.

"Pulau... pribadi?"

Galaxy hanya mengangguk.

Beberapa menit kemudian, helikopter lepas landas meninggalkan hiruk-pikuk Kota New York.

Dari atas, Grizella menikmati pemandangan laut biru yang membentang luas.

Sekitar satu jam kemudian, tampak sebuah pulau kecil dengan pantai berpasir putih dan air sebening kristal.

Di tengah pulau berdiri sebuah resort mewah yang dikelilingi taman tropis.

Helikopter mendarat perlahan.

Begitu turun, angin laut menyambut mereka.

Grizella memandang sekeliling dengan mata berbinar.

"Indah sekali..."

Galaxy meliriknya sekilas.

"Aku jarang ke sini."

"Kenapa?"

"Tempat ini terlalu sepi."

Grizella tersenyum kecil.

"Kadang tempat yang sepi justru membuat kita bisa mendengar isi hati sendiri."

Galaxy tidak menjawab.

Namun tanpa sadar, ia mengingat kalimat itu.

Resort tersebut jauh lebih mewah daripada yang dibayangkan Grizella.

Setiap kamar menghadap langsung ke laut.

Kolam renang tanpa batas menyatu dengan cakrawala.

Di kejauhan terdengar deburan ombak yang menenangkan.

Seorang kepala pengelola resort menyambut mereka.

"Selamat datang, Tuan Galaxy."

"Semua pengamanan sudah kami tingkatkan."

"Bagus."

Galaxy lalu menoleh kepada Grizella.

"Kamar kita bersebelahan."

Grizella mengangguk.

"Kalau butuh sesuatu, beri tahu staf."

"Tapi..."

Galaxy berhenti sejenak.

"Jangan pergi ke mana-mana sendirian."

Grizella tersenyum tipis.

"Perintah lagi?"

"Bukan."

Galaxy menatapnya dengan serius.

"Itu rasa khawatir."

Kalimat itu membuat Grizella terdiam.

Inilah pertama kalinya Galaxy mengakui secara langsung bahwa ia mengkhawatirkannya.

Wajah Grizella memerah samar.

"Baik... saya akan menurut."

Galaxy mengangguk pelan.

Untuk pertama kalinya sejak perceraian yang menghancurkan hidupnya, ia merasa ada seseorang yang ingin ia lindungi bukan karena kewajiban, melainkan karena keinginan dari dalam hatinya.

Namun, jauh di balik pepohonan pulau itu, sebuah kamera beresolusi tinggi mengarah ke resort.

Seorang pria bertopi hitam menurunkan teropongnya sambil tersenyum tipis.

"Jadi kalian memilih bersembunyi di sini..."

Ia mengangkat alat komunikasinya.

"Target sudah tiba."

"Operasi tahap kedua dimulai malam ini."

Mentari mulai condong ke arah barat, memancarkan cahaya keemasan yang menyelimuti seluruh pulau pribadi milik Galaxy Adelion Wesley.

Dari balkon kamarnya, Grizella menikmati pemandangan laut yang tenang. Deburan ombak dan semilir angin membuat pikirannya jauh lebih damai dibanding beberapa hari terakhir.

"Akhirnya bisa bernapas lega..."

Ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya.

Tok... tok...

Grizella membuka pintu.

Di depan sana berdiri Galaxy dengan pakaian kasual berwarna putih dan celana panjang hitam. Penampilannya jauh lebih santai dibanding saat berada di kantor, tetapi kharismanya tetap memancar.

"Sudah istirahat?"

Grizella mengangguk.

"Sudah."

Galaxy memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Jalan-jalan sebentar."

Grizella sedikit terkejut.

"Sekarang?"

"Ada masalah?"

Grizella menggeleng sambil tersenyum tipis.

"Tidak."

Mereka pun berjalan menyusuri bibir pantai.

Langit mulai berubah jingga. Ombak kecil berkejaran di tepi pasir putih, sementara burung-burung laut beterbangan di atas permukaan air.

Beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Galaxy bukan tipe pria yang pandai membuka percakapan.

Akhirnya Grizella yang memecah keheningan.

"Tuan Galaxy..."

"Hm?"

"Sejak kecil Anda memang ingin menjadi CEO?"

Galaxy tersenyum tipis.

"Bukan."

"Lalu?"

"Ayahku membangun perusahaan ini dari nol."

"Setelah beliau meninggal, aku hanya meneruskan tanggung jawab."

Grizella menatapnya.

"Berarti beban Anda besar."

"Cukup besar."

"Tapi Anda tidak pernah mengeluh."

Galaxy menatap hamparan laut.

"Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah."

Jawaban itu membuat Grizella semakin memahami sosok Galaxy.

Di balik sikap dinginnya, pria itu ternyata memikul tanggung jawab yang sangat berat.

Mereka berhenti di sebuah gazebo yang menghadap matahari terbenam.

Pelayan resort telah menyiapkan teh hangat dan camilan.

Grizella tersenyum.

"Terima kasih."

Galaxy duduk di kursi kayu.

"Aku jarang duduk di sini."

"Kenapa?"

"Dulu..."

Galaxy berhenti sejenak.

"Aku pernah datang bersama mantan istriku."

Suasana mendadak berubah sunyi.

Grizella menundukkan kepala.

"Maaf. Saya tidak bermaksud mengingatkan masa lalu."

"Tidak apa-apa."

Galaxy mengembuskan napas pelan.

"Justru aku harus belajar berhenti hidup di masa lalu."

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun bagi Grizella, itu adalah tanda bahwa Galaxy perlahan mulai membuka hatinya.

Ia tersenyum lembut.

"Saya yakin suatu hari nanti luka itu akan sembuh."

Galaxy menoleh.

"Apa kau benar-benar percaya?"

"Saya percaya setiap orang pantas mendapat kesempatan untuk bahagia lagi."

Tatapan mereka bertemu.

Untuk beberapa detik, tidak ada suara selain deburan ombak.

Galaxy menyadari bahwa setiap kali bersama Grizella, pikirannya terasa jauh lebih tenang.

Perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan.

Saat mereka hendak kembali ke resort, langkah Grizella tiba-tiba terhenti.

Seekor anak anjing kecil tampak terjebak di antara bebatuan dekat bibir pantai.

"Kasihan..."

Tanpa berpikir panjang, Grizella berlari menghampiri.

"Hati-hati!" seru Galaxy.

Grizella berhasil mengangkat anak anjing itu.

Namun ketika hendak kembali, kakinya terpeleset karena batu yang licin.

"Aah!"

Sebelum tubuhnya jatuh ke laut, Galaxy berlari dan menarik lengannya.

Bruk.

Tubuh Grizella kembali jatuh ke pelukan Galaxy.

Anak anjing itu menggonggong pelan seolah ikut terkejut.

"Kau selalu membuatku khawatir."

Suara Galaxy terdengar lebih lembut dari biasanya.

Grizella tersipu.

"Maaf..."

Galaxy menggeleng.

"Lain kali jangan bertindak sendiri."

Grizella mengangguk pelan.

"Baik."

Di kejauhan, seseorang memotret momen itu menggunakan kamera berlensa panjang.

Klik.

Klik.

Klik.

Pria bertopi hitam tersenyum puas.

"Foto-foto ini pasti akan berguna."

Ia segera mengirimkan hasil jepretannya kepada seseorang.

Tak lama kemudian, sebuah balasan masuk.

"Lanjutkan. Malam ini mereka tidak boleh keluar dari pulau dengan selamat."

Pria itu menatap resort dari balik pepohonan.

Senyumnya berubah semakin menyeramkan.

Sementara Galaxy dan Grizella sama sekali tidak menyadari bahwa setiap langkah mereka sedang diawasi.

Malam menyelimuti pulau pribadi dengan langit yang dipenuhi bintang. Cahaya bulan memantul di permukaan laut, menciptakan suasana yang tenang.

Namun ketenangan itu hanya berlangsung sesaat.

Di ruang makan resort, Galaxy dan Grizella menikmati makan malam sederhana. Aroma hidangan laut memenuhi ruangan, sementara suara ombak terdengar samar dari kejauhan.

Grizella tersenyum tipis.

"Tempat ini benar-benar indah."

Galaxy mengangguk.

"Aku membelinya beberapa tahun lalu."

"Untuk berlibur?"

"Bukan."

"Lalu?"

Galaxy memandang ke arah laut.

"Untuk mencari ketenangan."

Grizella tidak bertanya lebih jauh. Ia tahu, di balik jawaban singkat itu tersimpan kenangan yang masih sulit dilupakan.

Selesai makan malam, mereka berjalan menuju taman resort.

Lampu-lampu taman menerangi jalan setapak yang mengarah ke pantai.

"Tuan Galaxy..."

"Hm?"

"Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Karena sudah mempercayai saya."

Galaxy menghentikan langkahnya.

"Aku belum sepenuhnya percaya."

Grizella tersenyum kecil.

"Tapi sekarang Anda memberi saya kesempatan membuktikan diri."

Galaxy menatapnya beberapa saat.

"Kepercayaan dibangun dengan waktu."

"Dan kau sedang membangunnya."

Senyum Grizella semakin lebar.

Ucapan itu terasa seperti hadiah baginya.

Tiba-tiba...

Praaang!

Suara kaca pecah memecah keheningan malam.

Galaxy langsung menarik Grizella ke belakang tubuhnya.

"Sembunyi!"

Sebuah peluru menembus jendela aula resort dan menghantam dinding.

Para staf berteriak panik.

"Semua tiarap!"

Galaxy menggenggam tangan Grizella erat.

"Ikut aku!"

Mereka berlari menuju ruang keamanan.

Beberapa petugas segera mengunci seluruh akses resort.

Kepala keamanan datang dengan wajah tegang.

"Tuan, seseorang menembakkan peluru dari arah bukit sebelah utara."

"Temukan penembaknya."

"Tim kami sedang mengejar."

Galaxy menoleh kepada Grizella.

"Kau terluka?"

Grizella menggeleng meski wajahnya masih pucat.

"Tidak."

Galaxy mengembuskan napas lega.

Syukurlah.

Sementara itu...

Di atas bukit yang gelap, seorang pria bertopi hitam menurunkan senapannya.

Ia tidak berniat membunuh.

Setidaknya... belum.

Ia hanya ingin menebar ketakutan.

Melalui alat komunikasinya, terdengar suara seseorang.

"Bagaimana hasilnya?"

Pria itu tersenyum tipis.

"Galaxy sekarang akan menjaga Grizella lebih ketat."

"Itulah yang kita inginkan."

Suara di seberang tertawa pelan.

"Semakin dekat mereka..."

"Semakin sakit saat dipisahkan nanti."

Sambungan telepon terputus.

Pria itu menghilang ke dalam gelapnya hutan.

Di resort, Galaxy membawa Grizella ke ruang kerjanya.

Ia menuangkan segelas air hangat.

"Minumlah."

Grizella menerima gelas itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

"Terima kasih."

Galaxy duduk di hadapannya.

"Aku minta maaf."

Grizella mengangkat wajah.

"Kenapa?"

"Karena sejak kau menjadi asistenkku..."

"Hidupmu ikut berada dalam bahaya."

Grizella tersenyum lembut.

"Saya tidak pernah menyalahkan Anda."

"Justru saya ingin membantu menemukan pelakunya."

Galaxy terdiam.

Keberanian Grizella kembali membuatnya kagum.

Tanpa sadar, ia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Grizella.

"Aku berjanji."

"Aku akan melindungimu."

Jantung Grizella berdegup semakin cepat.

Tatapan mereka saling bertemu.

Untuk sesaat, seolah hanya ada mereka berdua di ruangan itu.

Namun momen itu terhenti ketika ponsel Galaxy berdering.

Aaron menelepon.

"Tuan!"

"Ada perkembangan."

"Kami berhasil menangkap salah satu penyusup."

Galaxy langsung berdiri.

"Siapa dia?"

"Dia hanya kaki tangan."

"Tapi sebelum tertangkap, dia sempat menyebut satu nama."

Galaxy mengernyit.

"Nama siapa?"

Aaron menarik napas.

"Vanessa Hartley."

Galaxy membeku.

Grizella ikut terkejut.

Mustahil...

Apakah mantan istri Galaxy benar-benar berada di balik semua teror ini?

Atau...

Seseorang sengaja menyeret nama Vanessa agar Galaxy kembali terjebak dalam luka masa lalunya?

Galaxy memutuskan menemui Vanessa untuk meminta jawaban. Namun tanpa ia sadari, keputusan itu justru menjadi awal dari kesalahpahaman yang akan membuat hati Grizella terluka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!