NovelToon NovelToon
Takhta Berdarah Sang Don

Takhta Berdarah Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.

Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.

Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 - Peluru Untuk Aurora

"Aurora, berhenti!"

Teriakan Raven menggema di tengah baku tembak.

Namun Aurora tetap berlari ke arahnya. Air mata yang sejak beberapa hari lalu ia tahan akhirnya mengalir tanpa henti.

Yang ada di pikirannya hanya satu.

Raven masih hidup.

Dari balik pepohonan, seorang penembak jitu mengunci bidikannya tepat ke arah punggung Aurora.

Jari telunjuknya mulai menekan pelatuk.

Dor!

Dalam sepersekian detik, Raven melompat ke arah Aurora dan menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.

Peluru meleset tipis, hanya menggores lengan Aurora sebelum menghantam batang pohon di belakang mereka.

"Akh!"

Aurora meringis kesakitan.

Raven segera memeriksa luka di lengannya.

"Hanya goresan."

Aurora mengangkat wajahnya.

"Kau... benar-benar masih hidup."

Sebelum Raven sempat menjawab, Aurora memeluknya erat.

"Aku pikir aku kehilanganmu."

Raven terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia membalas pelukan itu dengan lembut.

"Aku sudah kembali."

Di kejauhan, Leo tersenyum lega melihat atasannya selamat.

Namun suasana haru itu tidak berlangsung lama.

"Tuan! Musuh bertambah!" teriak salah satu anak buah.

Puluhan kendaraan hitam memasuki kawasan pemakaman.

Mereka bukan anak buah Black King maupun organisasi Alvaro.

Di pintu mobil paling depan keluar seorang pria bertubuh tinggi dengan bekas luka panjang di pipi kirinya.

Ia tersenyum sinis.

"Akhirnya kalian semua berkumpul."

Black King langsung berubah serius.

"Damian..."

Pria itu tertawa pelan.

"Sudah lama tidak bertemu."

Raven mengernyit.

"Siapa dia?"

Black King menatap pria tersebut tanpa berkedip.

"Orang yang seharusnya sudah mati dua puluh tahun lalu."

Damian bertepuk tangan pelan.

"Masih mengingatku rupanya."

Ia kemudian memandang Raven dari ujung kepala hingga kaki.

"Jadi... inikah putra Adrian Valerio?"

Raven langsung mencabut pistolnya.

"Kau mengenal ayahku?"

Damian tersenyum penuh ejekan.

"Bukan hanya mengenalnya."

"...akulah orang yang membunuhnya."

Ucapan itu membuat Raven membeku selama beberapa detik.

Darahnya langsung mendidih.

Dengan mata dipenuhi amarah, ia mengarahkan pistol ke kepala Damian.

"Aku akan membunuhmu!"

Damian sama sekali tidak bergeming.

"Kalau memang mampu, silakan."

Belum sempat Raven menarik pelatuk, Black King menahan lengannya.

"Jangan!"

Raven menoleh tajam.

"Kenapa kau menghentikanku?"

"Karena dia sengaja memancingmu."

Damian tertawa semakin keras.

"Benar."

"Kalau kau menembakku sekarang..."

"...kau tidak akan pernah tahu siapa yang memerintahkanku membunuh Adrian."

Raven mengepalkan tangannya hingga urat-urat di lehernya menegang.

"Siapa dalangnya?"

Damian menggeleng sambil tersenyum.

"Itu bukan sesuatu yang bisa kau dengar hari ini."

Ia memberi isyarat kepada anak buahnya.

"Tarik mundur."

Puluhan mobil segera berbalik meninggalkan lokasi.

Raven hendak mengejar, tetapi Black King kembali menghentikannya.

"Percuma."

"Dia sudah menyiapkan jalan pelarian."

Raven memukul batang pohon dengan keras.

"Sial!"

Aurora memegang tangan Raven yang mulai berdarah akibat pukulannya.

"Tenang."

Raven menatap Aurora.

Tatapan lembut wanita itu perlahan meredakan amarahnya.

Beberapa menit kemudian, keadaan mulai tenang.

Leo menghampiri mereka.

"Tuan, kita harus kembali ke mansion."

Raven mengangguk.

Sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah makam tanpa nama.

Di atas batu nisan itu kini tergeletak sebuah amplop putih.

Padahal beberapa saat sebelumnya tidak ada apa-apa di sana.

Raven mengambil amplop tersebut.

Di dalamnya hanya ada selembar foto lama.

Foto seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun yang sedang digendong oleh Adrian Valerio.

Di belakang foto tertulis kalimat singkat.

"Anak ini bukan satu-satunya pewaris keluarga Valerio."

Raven menatap tulisan itu dengan napas tertahan.

"Mustahil..."

Kalau tulisan itu benar...

Berarti ia memiliki saudara kandung yang selama ini tidak pernah diketahuinya.

Dan seseorang telah menyembunyikan keberadaan saudara itu selama puluhan tahun.

1
Sunflower_6520
Nurut ae Ra, dr pada nyawa lo melayang...
Sunflower_6520
Itu tandanya Aurora punya hati Raven... emang kayak elo? jangan kan hati, simpati aja kayaknya lo gak punya🗿
Sunflower_6520
Urusan Aurora lah, orang dia kan dokter? dimana" dokter itu tugasnya menyelamatkan, gak mungkin ada orang kritis dia biarin gitu aja
Sunflower_6520
Lama kelamaan sih Aurora bisa trauma...
Sunflower_6520
Tamu modelan apa? ini namanya penculikan 🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!