Novel ini adalah sequel dari Novel karya author yang berjudul Perjalanan Istimewa.
Novel ini berkisah tentang Shima Killa Danurdara, Adik bungsu dari Bopo Arjuna dan juga Bahuraska Adiwangsa, putra Arjuna yang merupakan Bopo Muda Desa Banyu Alas.
Tak hanya itu, di Novel ini juga menceritakan mengenai Bima, adik angkat Aka yang menjadi orang paling dekat dengan Aka dan selalu menemani setiap langkah Aka.
Bagaimanakah perjalanan masa kecil mereka?
Ikuti kisah Shima dan Bahuraska (Aka) juga Bimantara di Novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Menanam Padi
"Kung-kung mau kemana?" Tanya Bima saat melihat Arsha hendak pergi dengan menggunakan motornya.
"Mau ke sawah. Hari ini kan pada mau tandur pari (menanam padi) di sawahnya Kung-kung." Jawab Arsha.
"Aku mau ikut dong, Kung." Ujar Bima.
"Yasudah. Pamit sama Mbun dulu, kalau mau ikut Kung-kung. Biar gak di cariin sama Mbun." Kata Arsha.
"Oke, Kung!" Seru Bima yang kemudian berlari untuk berpamitan dengan Meshwa.
"Di suruh pamitan sama Mbunnya, kok malah bawa rombongan to, Bim... Bim..." Gerutu Arsha saat melihat Bima yang kembali mendatangi dengan membawa serta Aka, Bagas dan Satrio.
"Kita juga mau ikut ya, Kung." Kata Aka.
"Ealah. Udah pada izin belum?" Tanya Arsha.
"Udah...." Jawab keempat cucunya dengan serempak.
"Yaudah. Ayo naik." Kata Arsha.
Keempat cucunya pun naik ke atas motor dengan bergantian. Bima berdiri di depan, sementara Bagas, Aka dan Satrio duduk di bagian belakang.
Mereka menuju ke sawah milik Arsha yang hari ini akan mulai di tanami oleh beberapa warga yang biasa bekerja menanam padi.
"Ini padi, Kung?" Tanya Satrio saat melihat padi-padi kecil yang hendak di tanam.
"Iya. Itu namanya padi. Tapi, masih kecil." Jawab Arsha.
"Jadi berasnya, kapan, Kung?" Tanya Bagas.
"Nanti, kalau sudah berusia tiga atau empat bulan, baru bisa di panen." Jawab Arsha.
"Mau ikut nanem padi, boleh gak, Kung?" Tanya Satrio.
"Emang bisa?" Tanya Arsha.
"Yakan belajar, Kung, biar bisa." Jawab Bima.
"Yasudah. Tapi hati-hati lho ya." Pesan Arsha.
Dengan girang, Satrio, Bagas, Bima dan Aka mulai masuk ke dalam sawah.
"Itu garisnya jangan di injak-injak. Nanamnya di garis-garis itu, biar rapi, lihatin itu ibu-ibunya yang nanam padi." Kata Arsha.
"Iya, Kung." Jawab Aka. Keempat bocah itu pun memperhatikan cara ibu-ibu menanam padi di sawah. Setelah mengerti cara menanamnya, mereka pun mencoba menanam padi.
"Harus pas, Mas. Jangan miring-miring." Komentar Bima saat melihat tanaman Bagas yang sedikit miring.
"Kalo miring dikit kan gak apa-apa." Sahut Bagas.
"Nanti padinya Kung-kung gak bisa tumbuh, kalau miring-miring gitu." Kata Bima yang sok tau.
Bagas pun akhirnya membenarkan padi yang sedikit miring itu, kemudian melanjutkan kembali kegiatannya.
Berbeda dengan Bima dan Bagas yang terus berdebat, Aka dan Satrio tampak khusuk dengan pekerjaan mereka.
Arsha pun tersenyum melihat cucu-cucunya yang sedang membantu menanam padi. Ia sengaja membiarkan cucu-cucunya itu ikut menanam padi agar cucu-cucunya itu bisa belajar menanam padi.
"Yohalah, mung tandur kok lendute ngasi neng bathuk. (cuma menanam padi kok lumpurnya sampai ke dahi.)" Kekeh Arsha.
"Ee... Eee! Bima! Nanemnya kok maju? Ya mundur to, Le." Seru Arsha dari pematang sawah.
"Nanti aku jatuh kalau nanemnya mundur-mundur, Kung." Jawab Bima.
"Kalau nanamnya maju, ya padinya keinjak-injak to." Ujar Arsha sambil geleng-geleng kepala.
Pada akhirnya, Bima pun kembali menanam padi dengan berjalan mundur, seperti saudaranya yang lain.
Bughh!
"Hahahahahaha!"
Terdengar suara tawa dari anak-anak saat melihat Bagas yang jatuh terjengkang di lumpur karena tubuhnya tak seimbang ketika berjalan mundur.
"Di tolongin itu adeknya, Mas... Kak..." Seru Arsha yang juga ikut terkikik geli saat melihat Bagas terjengkang.
"Hayolo! Kotor semua, nanti di marah Mama loh." Kata Bima yang menakut-nakuti Bagas.
"Iih! Bima ini, nanti kamu juga di marahi. Lihat tuh, bajumu juga kotor semua." Kata Bagas sambil menunjuk pakaian Bima yang juga kotor.
"Tapi kan gak banyak kayak punya Mas Bagas." Ujar Bima yang membela diri.
"Woy! Kalian berdua cepetan. Kok malah berantem." Kata Aka yang sudah berada cukup jauh di belakang bersama Satrio.
"Aku capek ah, Mas. Aku mau istirahat." Jawab Bima yang menyerah.
"Sama! Aku juga capek. Aku mau istirahat sama Dek Bima." Timpal Bagas yanh kemudian berjalan bersama Bima menuju ke tempat Arsha berada.
"Lho! Kok udah?" Tanya Arsha.
"Capek, Kung." Jawab Bima yang kemudian duduk di pematang sawah.
"Mas Bagas juga capek?" Tanya Arsha yang di jawab anggukan oleh Bagas.
"Cuci-cuci dulu, di kali kecil sana. Setelah itu baru istirahat." Titah Arsha yang langsung di jalankan oleh Bima dan Bagas.
Sementara itu, Arsha masih mengawasi Aka dan Satrio yang masih belum menyerah sembari mengobrol bersama beberapa orang petani yang sedang beristirahat.
"Lho! Kok yang dua ini lama banget, to." Ujar Arsha sambil celingukan mencari keberadaan Bima dan Bagas.
Ia akhirnya menyusul dua cucunya yang tadi ia suruh mencuci tangan dan kakinya di sungai kecil yang ada di dekat sawah.
"Gusti Allah paringono sabar! " Ujar Arsha saat melihat kedua cucunya justru asyik berenang di aliran sungai setinggi betis itu.
"Heh! Ya Allah, tu... Putu. Kan tadi Kung-kung suruh cuci-cuci. Lha kok malah berenang, gimana to?" Cicit Arsha.
"Ya ini kan cuci-cuci, Kung. Cuci badan sama baju dan celana yang kotor." Jawab Bima.
"Bukan gitu, Le. Maksud Kung-kung, tuh cuci tangan, kaki sama muka aja. Kalo baju ya nanti di cuci di rumah." Kata Arsha.
"Ya kan sekalian loh, Kung." Sahut Bagas.
"Halah! Wes karepmu, Cah... Cah.." Ujar Arsha.
"Ayo, gek do mentas. (Ayo, cepetan naik.)" Titah Arsha kemudian.
Dua bocah dengan wajah tanpa dosa itu pun segera menyusul Kung-kungnya ke atas dengan kondisi pakaian yang basah kuyup, namun sedikit bersih karena sudah tak ada lumpur tebal yang menempel. Hanya tingga noda bekas lumpur yang masih tersisa.
"Lho! Kok Bima sama Bagas basah?" Tanya Aka.
"Ini lho, Kung-kung suruh cuci-cuci, kok malah pada berendem." Jawab Arsha.
"Mamas sama Kakak cuci tangan dan kakinya sana." Titah Arsha kemudian.
"Iya, Kung." Jawab Aka yang kemudian berjalan bersama Satrio ke arah sungai kecil.
Tak lama, dua bocah itu sudah kembali lagi. Mereka kemudian duduk di bawah pohon besar dan menikmati makan siang bersama para pekerja yang bekerja menanam padi di sawah Arsha.
"Ahh, enak banget makan di sawah." Kata Satrio.
"Enak lagi kalau minumnya air degan (kelapa muda)." Timpal Bima sambil melihat ke arah pohon kelapa yang tak jauh dari tempat mereka duduk.
"Halah! Ngode aja kamu ini, Bim... Bim." Ujar Arsha sambil terkekeh.
"Yaudah, Mamas ambilin degannya." Kata Aka.
"Huhuy! Makasih, Mamasku." Ucap Bima dengan girang.
Aka kemudian memanjat pohon kelapa dengan lincah. Ia menjatuhkan beberapa butir degan yang ada di pohon kelapa itu.
Satrio bersama Bima dan Bagas pun berlari menghampiri untuk mengambil kelapa muda yang sudah di petik Aka.
"Hmm, segerr!" Kata Bagas.
"Makasih itu sama Mamas. Kalo gak ada Mamas, gak ada yang mau manjatin pohon kelapa." Kata Arsha.
"Makasih ya Mas." Ucap Bima, Bagas dan Satrio hampir bersamaan.
lhah gimna Romo mu gk tau Mas 🤭🤭🤭 wong Romo juga sakti mandra guna 😀😀😀 tp sok ben luweh sakti Mas Aka ✌️✌️✌️ piihhhh Mas Jun jangan marah 😀😀😀
Alah2 Bima leh so sweetttt 🤭🤭🤭 padine kangen Mas Aka 3 dino ora kepetuk ora ng sg dijarak i 🤣🤣🤣
wong romo-mu bopo istimewa
tapi masih istimewa dirimu kok Ka
apapun itu semoga bermanfaat tnpa ada efek berbahayanya
lah mama's mama's aneh bin ajaib romomu kuwi titisan bopo pertama loh