Lin Yuan hanyalah seorang satpam biasa yang ingin menikmati hidup tenang setelah meninggalkan gelarnya sebagai Raja Tentara Bayaran paling mematikan.
Namun, hari-harinya berubah menjadi kacau ketika ia terjebak kesepakatan menjadi pacar palsu seorang CEO wanita sedingin es bernama Shen Yuxuan demi menggagalkan pertunangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Pagi pertama Lin Yuan di kediaman keluarga Shen dimulai dengan sinar matahari hangat yang menembus jendela kamarnya.
Kamar tamu yang disiapkan untuknya jauh lebih mewah dari apartemen sempit yang biasa dia sewa.
Lin Yuan bangun dari ranjang besar yang sangat empuk dan meregangkan otot ototnya yang kaku.
Dia melakukan beberapa gerakan pemanasan ringan sebelum melangkah masuk ke kamar mandi.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Lin Yuan turun ke ruang makan keluarga Shen yang luas.
Aroma roti panggang dan kopi hitam yang baru diseduh menyambutnya.
Di meja makan panjang berbahan kayu mahoni itu, Jenderal Shen sedang membaca koran pagi dengan tenang.
Nyonya Shen duduk di sebelahnya sambil memoles selai stroberi ke atas roti panggang.
"Selamat pagi, Paman Shen, Nyonya Shen."
Lin Yuan menyapa dengan sopan dan menarik kursi di seberang mereka berdua.
"Pagi, Menantu Tampan, apakah tidurmu nyenyak semalam?"
Nyonya Shen tersenyum cerah dan meletakkan roti panggang berselai itu ke atas piring Lin Yuan.
"Makanlah yang banyak, kau butuh banyak energi untuk menjaga kedua putriku."
Lin Yuan tersenyum dan mulai memakan roti panggangnya dengan santai.
Belum sempat Jenderal Shen membalas sapaannya, suara langkah kaki terdengar menuruni tangga.
Shen Yuxuan dan Mengyao berjalan bersamaan memasuki ruang makan tersebut.
Pemandangan ini cukup untuk membuat pria normal mana pun mimisan di pagi hari.
Shen Yuxuan mengenakan setelan kerja berwarna abu abu tua, blus ketat dan rok pensil yang menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sempurna.
Wajah cantiknya terlihat dingin seperti biasa, namun ada sedikit lingkaran hitam di bawah matanya.
Dia jelas tidak tidur nyenyak memikirkan pria yang kini tinggal di bawah atap yang sama dengannya.
Di sisi lain, Mengyao tampil dengan pakaian yang jauh lebih kasual namun tetap mematikan.
Gadis genit itu mengenakan sweter rajut kebesaran yang bagian bahunya dibiarkan melorot, memperlihatkan tali kamisolnya.
Celana pendek rumahan yang dia pakai nyaris tidak terlihat karena tertutup oleh ujung sweter panjangnya.
"Pagi, Ayah, Ibu," sapa Shen Yuxuan dengan nada datar.
Dia kemudian melirik tajam ke arah Lin Yuan yang sedang mengunyah roti dengan wajah tanpa dosa.
"Dan pagi untukmu juga, pengawal pemalas."
Shen Yuxuan duduk di kursi yang agak jauh dari Lin Yuan, menjaga jarak aman dari pria menyebalkan itu.
Namun Mengyao justru melakukan hal sebaliknya.
Gadis berambut sebahu itu langsung berlari kecil dan mengambil kursi tepat di sebelah Lin Yuan.
"Selamat pagi, Kakak ipar," sapa Mengyao dengan suara manja yang mendayu dayu.
Dia sengaja mencondongkan tubuhnya ke depan saat mengambil teko kopi, membuat belahan dadanya terekspos jelas di depan mata Lin Yuan.
"Kakak ipar, apa kau mau kutuangkan kopi?"
Lin Yuan berdehem pelan dan menutupi pandangannya dengan cangkir kopi kosong.
"Boleh saja, adik kecil, kopinya yang hitam dan kental ya."
Lin Yuan menjawab dengan santai, mencoba mengabaikan serangan pagi dari gadis genit ini.
Mengyao menuangkan kopi dengan hati hati, lalu menyodorkan cangkir itu kepada Lin Yuan.
Tanpa sengaja, atau mungkin disengaja, jari jari Mengyao bersentuhan dengan punggung tangan Lin Yuan.
"Terima kasih, adik ipar yang baik hati."
Lin Yuan tersenyum dan menarik tangannya dengan halus.
Pemandangan ini tidak luput dari pandangan tajam Shen Yuxuan.
CEO es itu langsung meremas serbet di pangkuannya hingga kusut.
Rasa kesal yang tidak beralasan membakar dadanya melihat adiknya begitu agresif menggoda pacar pura puranya.
"Mengyao, jaga sikapmu saat sedang makan."
Shen Yuxuan menegur adiknya dengan nada sedingin es di kutub utara.
"Pakaianmu itu tidak pantas dipakai saat ada tamu laki laki di rumah ini."
Mengyao hanya menjulurkan lidahnya ke arah kakak perempuannya itu.
"Dia bukan tamu, Kak Yuxuan, dia kan pacarmu, calon kakak iparku."
Mengyao membalas teguran itu dengan santai sambil mengambil sepotong sosis.
"Lagipula, aku kan sedang berada di rumahku sendiri, kenapa aku tidak boleh berpakaian santai?"
Shen Yuxuan menggertakkan giginya menahan amarah yang mulai memuncak.
Dia tidak bisa memberikan alasan logis karena secara teknis Lin Yuan memang 'pacarnya'.
"Tapi kau tetap harus berpakaian dengan sopan."
Shen Yuxuan membantah dengan suara yang sedikit meninggi.
"Jangan mempermalukan keluarga Shen dengan tingkah genitmu itu."
Mengyao tidak mau kalah, dia memakan sosisnya dengan gaya menggoda sambil menatap Lin Yuan.
"Menurut Kakak ipar, apa pakaianku ini memalukan?"
Pertanyaan jebakan itu langsung diarahkan kepada Lin Yuan, membuat suasana di meja makan menjadi tegang.
Jenderal Shen menurunkan korannya sedikit dan menatap Lin Yuan dengan pandangan menilai.
Nyonya Shen justru tersenyum geli menantikan jawaban dari calon menantunya.
Lin Yuan meletakkan cangkir kopinya perlahan, merasa terjepit di antara dua wanita keras kepala ini.
"Sebagai pria normal, aku sangat mengapresiasi pemandangan indah di pagi hari."
Lin Yuan menjawab dengan senyum miring yang khas, membuat Mengyao bersorak dalam hati.
"Tapi sebagai pacar dari kakakmu yang cantik ini..."
Lin Yuan sengaja menjeda kalimatnya dan menatap lurus ke arah Shen Yuxuan.