"Kamu adalah budakku Radini Prastiwi Sukarna dan kamu tidak akan bisa lepas dari cengkramanku!"
"Aku adalah abdi setiamu wahai iblis..."
Radini Prastiwi Sumarna, seorang perempuan keturunan bangsawan yang menjadi pewaris sebuah tradisi keluarga, bukan tradisi sembarangan karena keluarga itu merupakan keturunan perempuan pemuja iblis dan Radini terpilih sebagai penerus keluarga untuk melanjutkan jejak leluhurnya.
Apakah dia akan tetap memegang teguh ritual keluarganya sebagai pemuja iblis atau justru dia akan bertaubat setelah dia bertemu Dirga Bintang Darmawan yang menjadi targetnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Radini mendekat
"Iya, pesan air galon juga untuk para pekerja dan makanan ringan, kue kue biasanya ada di toko Cici" jawab Bintang
"Baik pa" jawab Dirga
Dirga pergi ke arah jalan besar, dia harus melewati beberapa sawah dan juga kebun di lahan Bintang untuk sampai ke jalan itu, tapi Dirga tidak lupa karena jalan di sana tidak banyak yang berubah, semuanya masih sama bahkan jalan aspal juga tidak di perbesar supaya tidak ada yang merusak kampung itu dan melakukan banyak pembangunan yang mungkin akan merusak kualitas air ataupun tanah di sana.
"Ci beli air minum ukuran besar sama dua galon air, di kirim ke sawah papa ya Ci" ucap Dirga
"Eh Dirga, iya nanti Cici minta si Ujang untuk antar ke sana, mau beli apa lagi?" tanya pemilik warung bernama Amel tapi sering di panggil Cici itu.
"Kue kue sama makanan ringan lain Ci" jawab Dirga
"Mau coba ini tidak? ini buatan warga kampung Sukun, kue onde-onde sama kue lapis"
"Boleh Ci, bungkus saja semuanya untuk para pekerja" jawab Dirga
"Ini airnya tiga, kue kue dan keripik, galon dua, sama ada keroket dan tahu isi semuanya jadi seratus delapan puluh ribu" ucap Cici
"Ini uangnya Ci"
Dirga memberikan uang di ratus ribu pada Cici, tapi tangannya tiba tiba bersentuhan dengan seorang perempuan yang akan mengambil sebatang coklat di depan meja kasir dan Dirga langsung menarik tangannya lagi.
Bahkan Dirga mundur beberapa langkah karena perempuan itu terlalu dekat dengannya sampai tubuhnya hampir menempel dengan tubuh Dirga dan itu membuat Dirga tidak nyaman.
"Maaf, saya mau beli coklat ini untuk keponakan saya" ucap perempuan itu yang ternyata adalah Radini.
"Ada nyai Radini, mau beli coklat? nanti ya saya layani Dirga dulu" ucap Cici
"Silahkan Ci" jawab Radini masih menatap Dirga yang sama selama tidak menatapnya.
"Ini kembaliannya ya Dirga, sama ini ada bonus untuk para pekerja" ucap Cici memberikan satu pak roti pada Dirga.
"Terima kasih Ci" jawab Dirga langsung pergi.
"Tunggu" panggil Radini tapi Dirga sama sekali tidak berhenti.
"Dirga! kamu di panggil nyai Radini" panggil Cici dan barulah Dirga berhenti.
Radini, tadi Dirga lupa tapi sekarang dia ingat dengan nama itu, nama yang sempat di bicarakan Deden tadi di sawah, dan Dirga berbalik untuk melihat perempuan yang katanya seorang keturunan bangsawan itu.
"Iya" jawab Dirga begitu dia berbalik dan menatap mata Radini.
Mata mereka bertemu, pandangan mereka beradu tapi tidak ada yang istimewa. Bagi Dirga Radini layaknya para perempuan kampung Curug yang kebanyakan masih memakai kebaya kecuali para anak muda yang memakai pakaian gaul seperti anak kota.
"Maaf, tadi saya dengar kamu mau ke sawah pak Bintang, boleh saya ikut?" tanyanya
"Anda mau apa?" tanya Dirga
"Saya mau membeli padi di tempat pak Bintang" jawabnya
"Maaf, tapi kata papa padi padi itu sudah di beli pak Kusoy, jadi kalau mau beli tinggal hubungi pak Kusoy saja" jawab Dirga
"Tapi saya ingin bicara dengan pak Bintang langsung, tolong, boleh kan?" tanyanya memelas.
"Baiklah, silahkan" jawab Dirga berjalan lebih dulu dan Radini mengikutinya dari belakang dengan senyum tipis di bibirnya.
Matanya juga tidak lepas dari sosok Sahara yang ada di punggung Dirga, menatap curiga Radini tapi Radini berpura pura tidak melihat Sahara dan hanya tersipu malu seolah dia senang bisa ikut bersama Dirga.
"Cih... so tersipu padahal kamu sering meludahi laki laki yang melamar kamu, Dirga tidak akan mau dengar kamu yang sombong, dia sukanya perempuan seperti Sahara, anggun, perhatian, cantik paripurna dan keibuan, tidak seperti kamu yang jelek mirip kambing bertanduk" sinis Sahara mendelik tapi tidak bisa terlihat karena wajahnya tertutup rambut.
Radini mendengar semua itu dan mengepalkan tangannya, tapi dia tidak bisa membuka penyamarannya yang berpura pura tidak bisa melihat hantu dan berakting sebagai seorang nyai terhormat di kampung itu.
"Dirga, kamu jangan mau sama dia ya, Sahara lebih setuju kamu dengan si centil Khanza daripada sama dia, setidaknya Khanza itu masih segel tidak seperti dia yang sudah bobol" bisik Sahara membuat Dirga tersenyum teduh.
"Sudah jangan mengganggu dia, kenapa kembali?" tanya Dirga berbisik juga tapi Radini bisa mendengarnya dan dia cukup terkejut mengetahui kalau Dirga mengetahui keberadaan Sahara yang ada di punggungnya.
"Sahara kembali karena ternyata Kenanga tidak buat rendang jengkol, Kenanga buatnya rendang tempe, jadi Sahara mau minta, si Khanza centil itu bohongin Sahara" jawab Sahara
"Aku pikir dia tidak bisa melihat jin tapi ternyata jin itu adalah peliharaannya juga, bukan hanya Bintang Darmawan" batin Radini.
Dirga berhenti, dia berbalik ke arah Radini yang seketika itu juga langsung berhenti dan menatap kaget Dirga karena khawatir Dirga juga bisa mendengar kata hatinya.
"Ke.. Kenapa mas?" tanya Radini tersenyum canggung.
"Papa ada di gubuk sana sedang makan, kamu langsung ke sana saja karena saya mau bawa galon ini dulu, kasihan mang Ujang" jawab Dirga membuat Radini lega.
"Ba.. baik mas" jawabnya
"Baik mas" ejek Sahara mencebikkan bibirnya.
"Ssttt...."
"Sahara kesal lihat dia so cantik dan so anggun padahal aslinya menyebalkan!" gerutu Sahara saat Dirga memintanya untuk diam.
"Sahara apa kamu merasakan sesuatu yang aneh dari perempuan itu?" tanya Dirga
"Iya, Sahara merasakan itu tapi tidak tahu juga, dia tidak bisa melihat Sahara atau dia hanya berbohong, tapi Sahara juga tidak lihat dia punya ilmu ataupun jin di tubuhnya" jawab Sahara
"Atau mungkin dia menyembunyikan semuanya dengan rapat, sama seperti sebuah rahasia yang harus di kubur rapat rapat supaya tidak ada yang tahu" ungkap Dirga
"Sama sepertiku yang harus berpura pura tidak tahu apapun seperti apa yang di katakan Abah yai, bersikaplah seperti air yang tenang tapi mampu menenggelamkan segala sesuatu yang masuk ke dalamnya" ungkap Dirga
"Sama seperti Sahara yang tenggelam dalam cinta Dirga... Eaaaa" ucap Sahara cekikikan bahkan sampai berguling guling di rumput.
"Hantu ini, entah kapan dia akan serius, tapi sekalinya serius malah buat orang takut" keluh Dirga menyimpan galon air yang sudah dia buka itu di pinggir pematang sawah.
Dirga melihat sekeliling, dia tidak merasakan ada yang aneh tapi untuk berjaga jaga dia membacakan sesuatu ke dalam galon air itu dan tiba tiba airnya langsung bergerak, tapi kemudian jadi tenang setelah Dirga melepaskan tangannya.
"Lindungi kami Ya Allah, karena sepertinya musuh kami sekarang tidak terlihat dan tidak mudah di kalahkan" batin Dirga