NovelToon NovelToon
Cinta Lama, Dendam Baru

Cinta Lama, Dendam Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cilia

Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

XXVI - Jejak Digital

Pukul 08.10, ruang server di lantai delapan sudah dipenuhi dengan tiga orang yang biasanya tidak pernah berkumpul di satu tempat yang sama. Kirana berdiri di depan monitor besar, kedua lengannya terlipat di dada, sementara Pak Bayu — kepala tim IT — mengetik cepat di keyboardnya. Nadia berdiri di sisi lain, memegang segelas kopi yang sudah dingin sejak setengah jam lalu.

"Log akses ke server keuangan bulan ini, Bu Kirana" Pak Bayu berkata, membuka jendela baru di layer komputernya. "Saya tarik semua yang masuk ke folder laporan arus kas sejak awal bulan."

Deretan nama dan waktu bermunculan di layar, terlalu banyak untuk dibaca satu per satu dalam sekali pandangan. Kirana mendekat, matanya menyisir setiap baris, mencari sesuatu yang tidak biasa di antara ratusan entri yang tampak begitu rumit.

"Ada berapa orang yang punya akses ke folder itu?" Kirana bertanya.

"Tim keuangan, delapan orang. Sekretariat proyek gabungan, tiga orang. Terus ada dua akses eksternal yang saya kasih izin khusus buat proyek revitalisasi pesisir," Pak Bayu menjawab, menunjuk dua baris di layar. "Satu punya Ibu, satu lagi punya Pak Dimas Prawira. Sisanya dari dalam."

Nadia menaruh gelasnya di meja. "Delapan belas orang yang bisa akses. Itu masih kebanyakan, Kir."

"Kita persempit lagi kemungkinannya," Kirana berkata. "Angka yang bocor itu angka arus kas minggu lalu, angka yang seharusnya belum keluar bahkan ke tim internal kita. Siapa yang buka folder itu dalam sepuluh hari terakhir?"

Pak Bayu mengetik ulang perintahnya. Daftar itu menyusut jadi enam nama, satu per satu muncul di layar dengan cap waktu di sebelahnya.

"Empat dari tim keuangan," Nadia membaca, menyipitkan mata ke layar. "Terus Kirana sendiri, dan —"

Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan, seolah ragu apakah nama berikutnya perlu diucapkan keras-keras.

"Dan Dimas."

Kirana menatap nama itu di layar, "Dimas punya akses karena dia mitra bisnis di proyek gabungan itu. Wajar dia buka laporan, dia butuh data itu buat presentasi ke investor Wibowo Group minggu depan."

"Gua tau," Nadia berkata cepat, seolah tidak mau kalimatnya disalah artikan. "Gua cuma nyebutin siapa aja yang ada di daftar, Kir. Bukan nuduh."

Pak Bayu berdeham, menggeser kursor ke kolom waktu. "Empat orang tim keuangan itu login dari kantor, jam kerja normal, di sekitar jam sembilan pagi sampai jam lima sore. Ibu login dari kantor juga, hari Senin sama Rabu, keduanya di jam kantor, siang hari. Yang beda cuma satu."

"Yang mana?" Kirana bertanya, meski separuh dirinya sudah menduga jawabannya.

"Akses Pak Dimas. Login jam sebelas malam, hari Kamis, dari luar jaringan kantor. IP-nya belum saya identifikasi, tapi bukan dari alamat kantor Cipta Prada Land."

Ruangan itu hening sesaat. Kirana merasakan sesuatu yang merayap di tengkuknya, tapi ia menepisnya dengan cepat.

"Jam sebelas malam… bisa aja dia lagi lembur… kerja dari rumah," Kirana berkata, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada dua orang di depannya. "Dia sering begitu kalau ada deadline. Itu bukan nggak bis akita jadiin bukti."

"Bisa dicek, nggak? Dia buka file apa aja malam itu, sama ke mana file itu dikirim setelahnya?" Nadia bertanya kepada Pak Bayu, mengabaikan pembelaan Kirana.

"Bisa. Butuh waktu, log-nya harus saya tarik dari server cadangan, bukan yang aktif," Pak Bayu menjawab. "Mungkin bisa selesai dalam dua jam, itu paling lama. Saya kabarin begitu selesai."

"Sambil nunggu," Kirana berkata, menoleh ke Pak Bayu, "tolong cek juga dua akses eksternal itu, sama empat orang tim keuangan. Gua nggak mau kita fokus ke satu nama terus lewatin yang lain."

"Sudah saya jadwalkan," Pak Bayu menjawab. "Tim keuangan gampang, mereka semua login dari perangkat kantor yang terdaftar. Yang butuh waktu lebih lama itu dua akses eksternal, karena perangkatnya nggak terdaftar di sistem kita."

Kirana mengangguk, lalu berjalan keluar ruang server lebih dulu, langkahnya lebih cepat dari biasanya. Nadia menyusul di belakangnya, tidak berkata apa-apa sampai mereka sampai di lift.

"Kir," Nadia akhirnya bersuara begitu pintu lift tertutup. "Gua tau lu percaya sama Dimas. Tapi kita harus buka semua kemungkinan. Siapa pun yang bocorin ini, mereka tau detail yang cuma bisa didapet dari dalem."

"Gua tau," Kirana menjawab pendek, menatap lurus ke pintu lift yang mengkilap. "Makanya kita cek. Tapi jangan langsung nyimpulin sebelum ada bukti yang jelas. Dimas udah banyak ngebantu gua, Nad. Kalau ternyata ini cuma kebetulan waktu login, gua nggak mau keburu curiga sama orang yang salah."

Nadia tidak membalas, hanya mengangguk pelan. Pintu lift terbuka di lantai lobi, dan mereka berjalan ke ruang kerja Kirana dalam diam, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.

...****************...

Di lantai 42 gedung Wibowo Group, di ruangan kerja Radit, ia meletakkan ponselnya di meja setelah membaca sebuah artikel bisnis yang membahas rumor tentang Cipta Prada Land. Farrel duduk di kursi seberang mejanya, memantau layar laptop yang menampilkan cuitan-cuitan yang mulai bermunculan sejak semalam.

"Ini nggak kayak gosip biasa," Farrel berkata. "Detailnya terlalu spesifik, Dit. Kayak orang yang nulis ini tuh beneran tau angka-angka internal Cipta Prada Land."

"Gua udah coba telepon Kirana dari tadi pagi," Radit menjawab, rahangnya mengeras. "Nggak diangkat sama dia."

"Wajar aja, dia pasti lagi sibuk padamin api," Farrel berkata. "Tapi gua denger dari orang di sana, katanya rumor ini mulai nyebar barengan sama waktu pertemuan lu sama Kirana di taman minggu lalu. Bisa jadi kebetulan, bisa jadi nggak."

Radit tidak menjawab, hanya menatap layar ponselnya yang masih menampilkan status pesan belum terkirim ke Kirana. Ia mengetik ulang kalimatnya untuk ketiga kalinya, lalu menghapusnya lagi, sebelum akhirnya memilih untuk menunggu sampai Kirana sendiri yang menghubunginya.

...****************...

Siang itu, di ruang kerjanya, Kirana masih sibuk menelepon satu per satu investor yang belum memberi jawaban sejak kemarin. Sebagian dari mereka masih bisa ditenangkan dengan penjelasan panjang, sebagian yang lainnya hanya menjawab singkat lalu menutup telepon.

Di sela panggilan ketiga, layar ponselnya menyala tanpa suara.

*Dimas**: Gimana perkembangan investigasinya? Butuh bantuan gua?*

Kirana menatap pesan itu cukup lama sebelum membalas, jarinya berhenti di atas layar lebih lama dari yang seharusnya.

Masih nelusurin. Nanti gua kabarin kalau udah ada hasilnya, Dim.

Ia meletakkan ponsel itu menghadap ke bawah, lalu kembali ke daftar telepon di hadapannya. Ada sesuatu dalam pertanyaan Dimas yang terasa berbeda hari ini. Mungkin cuma kecurigaannya sendiri yang terlalu liar karena kurang istirahat, atau mungkin ia hanya lelah dikhianati sehingga curiga pada semua orang, termasuk pada orang yang selama ini paling ia percaya.

Pukul dua siang, pintu ruang kerjanya diketuk dua kali sebelum Nadia masuk. Wajahnya pucat, dengan laptop yang terbuka di tangannya, layarnya menghadap ke dada.

"Kir," Nadia berkata, suaranya berbeda dari biasanya. Lebih pelan, lebih hati-hati, seperti orang yang sedang memilih kata sebelum menyampaikan sesuatu yang berat.

Kirana meletakkan gagang telepon kantornya. "Kenapa? Pak Bayu udah dapet hasilnya?"

Nadia menutup pintu ruang kerja itu di belakangnya. Ia duduk di kursi seberang meja Kirana, meletakkan laptopnya di pangkuan tanpa langsung menunjukkan isinya ke hadapan Kirana.

"Pak Bayu telepon gua sepuluh menit lalu," Nadia berkata. "Dia bilang, dua akses eksternal itu udah kelar dicek."

"Terus hasilnya gimana?" Kirana bertanya, berdiri dari kursinya, mengelilingi meja untuk mendekat.

Nadia tidak langsung menjawab. Ia membalik laptopnya perlahan, seolah ingin memberi Kirana waktu untuk bersiap sebelum melihat apa yang ada di layar. Terlihat deretan log berwarna abu-abu memenuhi layar, satu baris di-highlight kuning di bagian tengah.

"Malam Kamis itu," Nadia berkata, "akun yang login bukan cuma buka folder arus kas. Dia download tiga file. Laporan keuangan kuartal ini, catatan rapat internal soal proyek pesisir, sama draf perjanjian kerja sama dengan Wibowo Group yang belum ditandatangani. File-file itu belum pernah dikirim ke siapa pun di luar tim inti, Kir. Bahkan direksi belum semuanya pegang draf itu."

Kirana membaca layar itu, matanya berhenti pada satu kolom yang menampilkan waktu unduh, lalu bergerak ke kolom berikutnya.

"Terus?" Kirana bertanya, meski sebagian dirinya sudah bisa menebak jawabannya sebelum Nadia mengucapkannya.

Nadia menatapnya lama, seperti mempertimbangkan apakah harus melanjutkan atau berhenti sampai di sini saja.

"File-file itu," Nadia melanjutkan, nada suaranya semakin pelan, "dikirim ke alamat email, bukan email domain kantor kita, dua jam setelah didownload. Pak Bayu berhasil lacak alamat pengirimnya sampai ke akun asli yang login malam itu. Bukan cuma tebakan lagi, Kir. Ini sudah dikonfirmasi dari Pak Bayu."

"Nad." Suara Kirana mulai tidak sabar, tangannya mengepal di atas meja. "Siapa?"

Nadia menarik napas panjang sebelum menjawab, matanya sedikit berkaca-kaca, seolah ia sendiri berharap jawaban itu salah. Jarinya menunjuk satu baris log yang disorot merah, nama akun tertera jelas di sana bersama waktu unduh dan waktu kirim yang selisihnya cuma dua jam.

"Kirana... ini dari akun Dimas."

1
Dian Meilani
bagus kk , pnasaran alurnya gimana
m.marsela
kalau masih sayang, kenapa melepaskan sih duit, kepo banget sama alasannya ninggalin kirana
Ade Chubi
Radit hebat 👍
Ade Chubi
selalu nyerang pihak perempuan nya ,kalo menyerang Radit , Valerie tau akan konsekuensinya 😂😂
Cilia: Radit punya kuasa ka😂
total 1 replies
m.marsela
padahal ada orang baru yang siap untuk selalu ada
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
Cilia: Terlsdang masa lalu selalu menang ka… huhu
total 3 replies
Raudhatul Zannah
buat penasaran kak ceritanya, semangat ya kak
Ery Sithi Badriyyah
seru bgt ceritanya
Ery Sithi Badriyyah
seru ceritanya lanjut yuk
white star ⭐
bikin ketagihan membacanya
mary dice
Nah gitu dong Kirana 🔥🔥 ditunggu gebrakan-gebrakanya melawan m
para musuh 💪💪
Arni Arlinawati pratiwi
semangat anak ku sayang..
helena
lanjut thoor
m.marsela
Fix lanjut baca, penasaran banget
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat merekomendasi ceritanya... Yang belum baca wajib baca sih ini
Cilia
Penjelasannya bisa dibaca di bab-bab selanjutnya! Makin seru loh😆
Putri Ayu/PqxxyZ
terjadi salah paham ya...tapi kenapaa gak dijelasin sih malah ilang 😊
Putri Ayu/PqxxyZ
yuk bisa yuk cari cowok selain Raditya...💪💪 🤭
Cilia
Terimakasih atas dukungannya kak❤️
Raudhatul Zannah
semangat kak
Wawan
Satu iklan dan mawar buat mu Thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!