"Bos gila ku" maksudnya adalah gila dalam artian benar-benar membuat Thifa stress. Bagaimana tidak? status Thifa yang merupakan sekretaris orang gila itu harus membuatnya menahan amarah.
"Selain bos ku, untungnya kau juga suami ku. kalau tidak, sudah ku gedik habis kau ini." Geram Thifa mengepalkan kedua tangannya.
Bagaimana kisah Arfen dan Thifa selanjutnya? yuk simak kekesalan Thifa bekerja di sana!
~Sequel dari My Special Boyfriend~ Diharap mampir dulu kesana baru ke sini yah^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Jangan-jangan...,
***
Hari ini Thifa dan Arfen mendapat undangan dari Riyan. Untuk merayakan kelahiran putri kecilnya. Harusnya ada dua anak di sana, hanya saja semesta keterlaluan dan merebut satu anak lainnya.
Thifa dan Arfen turun dari mobil mereka, begitu juga dengan Shiren, Nathan, dan Sheryl yang turun dari mobil lainnya.
Mereka masuk ke kediaman keluarga besar Adijaya. Sungguh, ada perasaan yang bergetar di hati Nathan saat memijak lantai itu. Biasanya ada Agung dan Airin yang menyambut mereka. Tapi sekarang? Semuanya sudah tidak adak karna sudah kembali ke tangan sang pencipta.
"Vania~" Thifa memeluk Vania, dia juga meminta izin untuk menggendong putri kecil mereka. Ada rasa yang tak bisa Thifa utarakan saat dia menggendong bayi itu.
Tatapan matanya seolah benar-benar merindukan seorang anak. Thifa dan Arfen sudah satu tahun menikah, tapi tetap saja mereka belum di percaya untuk menimang seorang anak.
Arfen juga bermain dengan bayi itu, senyumnya terukir begitu saja saat menatap wajah mungil itu. Entah kenapa, sekarang Arfen benar-benar serius mengingkan seorang anak.
"Tenang aja, gak lama lagi kita juga bakal punya kok." Bisik Arfen di tengah keramaian itu. Thifa ingin sekali menepuk kepala orang ini, kalau saja bayi itu tidak dalam gendongannya.
"Jaga sikap oke? Di sini cukup ramai. Jangan malu-maluin deh Fen."
"Lah? Kenapa? Kan emang udah biasa malu-maluin, nambah satu tragedi juga gakpapa ya kan?"
Thifa menghela napasnya, sulit sekali untuk menang berbicara melawan putra pertama Nathan ini.
***
Esok harinya sama seperti biasanya, Thifa akan menjalani kehidupan biasanya, dia cukup bosan dengan ini semua, di berharap ada hal yang baru. Anak mungkin?
Baru saja Thifa membuka matanya, ia menatap dirinya di cermin kamar mandi. Lagi-lagi sudah ada banyak sekali bekas ciuman di leher dan sekitarnya. Tentu saja ini wajar, karna dia sudah memiliki suami.
Syal apa hari ini? Merah lagi? Ah ga, biru lebih baik kayaknya.
Dia sedikit menggosok lehernya, berharap tanda itu sedikit memudar. Cukup sakit untuk di pandang soalnya.
Apa aku konsultasi ke dokter aja ya? Kenapa belum hamil? Makanan aku salah? Aku terlalu banyak kerja? Tidur larut? Emang ngaruh ya?
Thifa menatap tangannya, di dalam pikirannya masih tersimpan jelas ingatan wajah bayi Vania dan Riyan itu. Thifa ingin memilikinya sendiri, ingin menggendong bayinya sendiri. Senyumnya dapat terlukis hanya karna dia mengingat bayi itu.
"Howeekkk!!!"
Entah kenapa mendadak perut Thifa mual seketika. Dia merasa benar-benar tidak nyaman.
***
Sekali lagi bagai deja vu, Thifa memasuki kantornya dan sudah ada banyak orang di depan resepsionis, seolah sedang ada pertunjukan di sana. Tapi bedanya ada Arfen yang juga datang di setelahnya.
"Bubar, kembali kerjakan semua tugas kalian." Titah Thifa acuh tak acuh. Sekarang drama ini sudah tidak menarik lagi untuknya.
Setelah kerumunan itu bubar, lagi-lagi hanya menyisakan Manda, Yona, dan Nadin di sana. Mereka diam membeku.
"Ada apa? Kenapa kalian ribut seperti itu? Kalian mau di pecat?" Kata Arfen, nadanya sudah tidak bersahabat. Apalagi suasana hati Arfen kurang baik hari ini.
"Ini pak, bu, Yona berencana mau dorong ibu dari tangga. Biar ibu tau rasa dan ga macam-macam sama dia." Tutur Manda, entah itu kebohongan atau memang benar adanya.
Arfen menarik sudut bibirnya, "Aku luan yah, kamu urus. Kalo udah selesai datang ke ruangan aku." Arfen menepuk bahu Thifa, berjalan santai kembali ke ruangannya.
Deg
Thifa diam sebentar, ada rasa kesal saat tau respon suaminya ini. Padahal Thifa pikir dia akan melihat Arfen mengamuk parah pagi ini, minimal menampar Yona, dan mengusirnya. Ah, tapi apa yang terjadi sekarang?Realita memang tak seindah ekspetasi.
Kenapa mendadak aku jadi kejam gini? Harusnya aku seneng dong, Arfen ga mukul anak orang.
Thifa menatap Yona datar. "Beneran begitu?"
Yona menggeleng, "Enggak gitu bu, senior Manda pasti salah dengar."
Thifa melirik ke arah Nadin. "Menurut mu siapa yang benar, Nadin?"
Nadin diam sebentar, matanya menunduk. "Yona yang benar bu, aku yakin Yona ga bakal ngelakuin itu."
Thifa mengambil kopi hangat di nampan yang di pegang OG di sebelahnya. Byurrr!!!
Kopi hangat itu membasahi tubuh Yona. "Kamu di pecat, alasannya aku ga suka kamu. Kalau ada yang protes, silahkan datang ke ruangan ku." Thifa berbalik, berjalan malas.
"Gak bisa gitu bu! Ibu gak bisa pecat saya hanya karna ibu ga suka sama saya!!!"
Thifa bergenti, ekor matanya melirik ke arah Yona. "Tentu saja bisa."
***
Di dalam ruangan Arfen tertawa ria melihat video-video yang dia anggap lucu. Setidaknya ini bentuk untuk melemaskan urat-uratnya saat dia berhadapan dengan bertumpuk berkas nanti.
Pintu ruangan terbuka, Arfen bisa melihat ada Thifa yang masuk.
"Lima menit lagi deh berangkatnya." Kata Arfen, "Thif, coba pijat kepala aku, agak pusing soalnya."
Thifa melepas jasnya, dia berdiri di belakang suaminya. Menjalankan tugasnya sesuai titah sang suami.
Hanya dalam beberapa menit, entah kenapa Thifa rasanya ingin muntah. Dia benar-benar merasa mual, mual sekali.
"Eghhh..., " Thifa berlari ke kamar mandi saat dia rasa perutnya sudah benar-benar ingin muntah.
"Sayang? Kamu ga papa?" Arfen segera berlari mengikuti Thifa. Dia sesekali menggosok leher istri mungilnya yang kelihatan benar-benar menderita karna muntahan itu.
"Mau minum dulu?" Arfen memberikan air mineral. Thifa dengan perlahan meminumnya.
"Ya udah, kita ke rumah sakit yah sekarang." Arfen merangkul badan Thifa cepat. Namun, dengan cepat juga Thifa melepasnya dan kembali ke dalam kamar mandi.
"Kamu jauh-jauh deh Fen, bau kamu buat aku mual. Aku beneran mual deket kamu."
Deg!
Entah apa maksud dari semua ini. Yang jelas Arfen merasa tidak suka dan tidak nyaman. Apa yang terjadi? Thifa menjauhkan diri dari Arfen?
"Ini aku yang biasanya, oke? Ini aku Arfen. Kamu kenapa? Kamu sakit?"
"Gak tau. Aku mual aja nyium parfum kamu. Padahal biasanya juga enggak. Tapi, ini beneran mual banget. Mending kamu jauh-jauh deh."
Arfen diam sebentar, dia langsung mengingat. "Sayang, jangan-jangan ka--"
Arfen langsung menarik tangan Thifa. Namun Thifa menolaknya, "Jauh Fen, serius beneran mual deh. Aku gak suka deket kamu, itu nyiksa."
"Aku lebih tersiksa jauh dari kamu Thif, arghh!! Udah oke, kita jarak tiga meter oke? Akun jalan lebih dulu, kita ke rumah sakit sekarang."
Thifa mengangguk, dia membiarkan Arfen jalan lebih dulu. Tidak boleh terlalu dekat, atau lantai ini akan di banjiri oleh muntahan Thifa. Namun, hatinya benar-benar berdebar, dia berharap ini benar-benar nyata, bukan cuma ekspetasi.
***
IPA dan IPS besanan