NovelToon NovelToon
Di Bawah Kendali Asisten Suami

Di Bawah Kendali Asisten Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Konflik etika
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.

‎‎Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.

‎Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
‎

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13

‎Revan menjauhkan sedikit wajahnya, jari jempolnya mengusap lembut ujung bibir Alina yang basah karena ulahnya.

‎‎"Diam di sini. Aku akan buka pintu," ujarnya sambil tersenyum tenang.

‎‎Alina mengangguk pelan, jantungnya berdegup kencang hingga terasa sesak di dada. Ia berdiri diam di belakang pintu, satu tangannya mengepal erat di depan dada dengan gemetar.

‎‎Revan berbalik, menarik napas sejenak, lalu memutar gagang pintu hingga terbuka setengahnya. Rafael yang hendak mengangkat tangan untuk mengetuk lagi, menurunkan tangannya perlahan begitu melihat pintu terbuka tiba‑tiba. Mata Revan tidak sengaja melirik ke arah kotak beludru yang di genggam erat, lalu beralih ke wajah Rafael dan segera memasang sikap sopan seperti biasanya.

‎‎"Tuan, Anda sudah pulang," sapa Revan dengan nada tenang, seolah tidak ada hal aneh yang baru saja terjadi di balik pintu itu.

‎‎Rafael mengangguk perlahan. Wajahnya tampak tertutup bayangan kelelahan dan rasa bersalah yang menyesakkan.

‎‎"Revan, tadi Alina pulang jam berapa dari kafe?" tanyanya dengan suara rendah.

‎‎"Sekitar jam sepuluh, Tuan," jawab Revan dengan nada sopan, matanya tenang menatap wajah Rafael, tidak menunjukkan sedikit pun kegelisahan.

‎‎"Apakah dia marah?" tanya Rafael lagi, "Atau… menangis?"

‎‎"Tidak, Tuan," jawab Revan lagi dengan tenang. "Nyonya hanya diam sepanjang jalan, setelah itu langsung naik dan masuk ke kamar."

‎‎Rafael menghela napas panjang, tidak menyadari bahwa Alina sebenarnya bersembunyi di belakang pintu kamar itu, mendengarkan setiap kata‑kata mereka dengan jantung yang berdegup kencang.

‎‎"Baiklah. Terima kasih. Aku akan ke kamar untuk menemui dia," ucapnya, lalu berbalik menuju tangga marmer ke lantai atas.

‎‎Begitu suara langkah kaki Rafael perlahan menghilang di lorong menuju tangga, Revan segera menutup pintu kamarnya kembali.

‎‎Alina segera melangkah mendekat, wajahnya masih pucat karena panik, jari‑jemarinya mencengkeram lengan Revan.

‎‎"Rafael akan ke kamar… aku harus kembali sekarang, atau dia akan curiga!" suaranya bergetar pelan.

‎‎Revan tersenyum tipis, lalu mengusap pipi Alina dengan gerakan lembut. "Dia yang bersalah karena membuatmu menunggu malam ini. Kenapa kamu yang harus sepanik itu?"

‎‎"Aku tidak ingin bercanda, Revan. Aku harus kembali sekarang," tegas Alina sambil menarik tangannya dari lengan pria itu.

‎‎Revan menghela napas pendek, lalu mengangguk pelan.

‎‎"Oke, oke… baiklah." Ia melangkah ke arah pintu dan membukanya sedikit, membiarkan celah agar Alina bisa melihat lorong yang sekarang sudah kosong. "Cepatlah, sebelum dia turun lagi untuk mencarimu."

‎‎Alina mengatur napasnya sejenak, lalu menyelinap keluar ke lorong yang temaram, berjalan cepat menuju tangga untuk naik ke lantai atas.

‎‎Begitu sampai di lantai atas, ia langsung mendorong pintu kamarnya. Rafael yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi dan hendak memanggil namanya, langsung menoleh ke arahnya. Matanya terkejut melihat sosok istrinya yang baru masuk larut malam itu.

‎‎"Alin… kamu dari mana jam segini, sayang?" tanyanya dengan nada bingung, ia berjalan dua langkah mendekat.

‎‎Alina tidak segera menjawab. Ia melangkah masuk perlahan, berhenti sekitar dua meter di depan Rafael, lalu melipat kedua tangannya di atas perut. Tatapannya dingin dan penuh kekecewaan yang sudah tertimbun sepanjang malam.

‎‎"Setelah melupakan janjimu… kamu masih ingat pulang, Rafael?" suaranya tenang namun tajam, tidak ada nada memohon seperti biasanya.

‎‎Rafael tertegun sejenak, jari‑jemarinya mencengkeram kotak beludru lebih erat. Rasa bersalah tiba‑tiba menghantam dadanya. Ia melangkah maju sedikit, ingin mendekat, tapi Alina langsung memalingkan wajah kesamping.

‎‎"Maaf… aku tahu aku salah," ucapnya dengan suara rendah. "Ada hal mendadak yang harus aku urus, aku tidak sengaja meninggalkan ponselku di mobil. Jadi aku tidak tahu kalau kamu menelpon dan mengirim pesan begitu banyak padaku."

‎‎Ia melangkah lebih dekat lagi, mengulurkan kotak beludru ditangannya, "Ini hadiah untukmu. Untuk malam ini, aku akan menebusnya padamu, Alina."

‎‎Alina menatap kotak beludru yang terulur di depannya, lalu tawa getir keluar dari bibirnya.

‎‎"Menebus? Menebus dengan apa?" suaranya mulai bergetar, tatapannya tajam menatap Rafael. "Selama dua tahun pernikahan kita, pernah tidak kamu memprioritaskan aku, hah?! Selalu pekerjaan‑pekerjaan yang jadi alasan!"

‎‎Ia mundur selangkah, pandangannya beralih ke jendela yang gelap, mengingat malam‑malam lain yang ia tunggu sendirian seperti malam ini.

‎‎"Kemarin pun begitu, bulan lalu pun begitu. Hari ini aku sudah siapkan segalanya, menunggu berjam‑jam di kafe sendirian… dan kamu malah lupa janji ulang tahun pernikahan kita seolah itu tidak berarti apa‑apa bagimu."

‎‎Rafael menurunkan tangan yang memegang kotak beludru, ia menunduk sebentar, bahunya terlihat terkulai karena kelelahan batin.

‎‎"Aku lelah, dan aku tahu kamu juga lelah. Jadi tolong jangan mengajak berdebat untuk hal seperti ini," ucapnya dengan nada pasrah.

‎‎Alina terkejut mendengar jawaban itu, matanya memerah karena kekecewaan yang semakin bertambah. Ia pikir Rafael akan meminta maaf dengan tulus, bukan hanya menghindari pembicaraan.

‎‎"Jadi begitu saja?" suaranya bergetar. "Setelah aku menunggu berjam‑jam, setelah dua tahun menunggu perhatianmu… kamu hanya bilang jangan berdebat?"

‎‎Alina menatapnya lama. Air mata yang dari tadi ia ditahan akhirnya jatuh.

‎‎"Aku juga lelah, Rafael. Lelah menunggu janji yang tidak pernah kamu tepati. Jadi malam ini, jangan tidur di sini. Aku mau sendiri."

‎‎Rafael mengangguk perlahan, tatapannya tampak muram dan penuh penyesalan, tapi tidak ada lagi kata‑kata permintaan maaf yang keluar dari bibirnya.

‎"Baik. Aku akan tidur di ruang kerja," ucapnya dengan suara rendah.

‎‎Ia berjalan perlahan menuju meja rias di sudut kamar, meletakkan kotak beludru berisi kalung itu di atas permukaan kayu yang halus. Matanya sempat tertuju pada kotak itu sejenak, sebelum ia berbalik menuju pintu.

‎‎Tanpa menoleh lagi ke arah Alina, ia melangkah keluar dan menutup pintu kamar dengan bunyi yang lembut namun terasa dingin.

‎‎Di dalam kamar, Alina berdiri diam di tempatnya, air mata terus mengalir di pipinya. Matanya tertuju pada kotak beludru yang tergeletak di meja itu, hadiah yang kini terasa tidak berarti lagi.

-

-

-

Cahaya matahari pagi menyelinap di antara daun‑daun pohon halaman, menyinari lantai teras depan yang bersih. Revan sudah berdiri di sana dengan setelan jas rapi, menunggu kedatangan tamu yang dijadwalkan pagi itu.

‎‎Suara mobil besar berderu masuk ke halaman, berhenti tepat di depan tangga teras. Pintu mobil terbuka, keluar Tuan Andika Mahendra yang berjalan tegak disamping istrinya, Nyonya Diah Puspita. Di belakang mereka berjalan seorang wanita paruh baya dengan penampilan sopan, dia adalah Bi Hani yang baru diterima untuk bekerja mengurus keperluan rumah tangga.

‎‎Revan melangkah maju, memberi hormat dengan sikap sopan yang biasa ia tunjukkan.

‎‎"Selamat pagi, Tuan Andika, Nyonya Diah. Selamat datang," sapanya dengan nada tenang.

‎‎Tuan Andika mengangguk sambil menatap sekeliling halaman.

‎‎"Rafael ada di dalam?" tanyanya singkat.

‎‎"Beliau belum turun, Tuan. Mungkin sebentar lagi," jawab Revan.

‎‎Nyonya Diah melirik ke arah Bi Hani yang berdiri agak di belakang mereka.

‎‎"Ini Bi Hani, yang akan membantu mengurus rumah mulai hari ini. Tolong bantu tunjukkan ruang‑ruang yang perlu dia ketahui ya."

‎‎Revan mengangguk pelan, lalu mengajak tamu-tamu itu masuk. Tepat saat mereka sampai di ruang tengah, Alina turun bersama dengan Rafael.

‎‎Begitu langkah kaki mereka terdengar di tangga marmer, Nyonya Diah segera menoleh ke arah atas. Wajahnya berseri‑seri saat melihat Rafael dan Alina berjalan turun berdampingan, meskipun jarak di antara mereka terlihat agak jauh.

‎‎"Rafael, Alina." panggilnya sambil melangkah maju menyambut mereka. Ia mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan Alina terlebih dahulu, lalu menatap wajah keduanya bergantian. "Kami sudah lama ingin berkunjung kemari. Bagaimana keadaan kalian berdua akhir‑akhir ini?"

‎‎Rafael mengangguk sopan, matanya sempat bertemu sejenak dengan mata Alina yang tampak dingin.

‎‎"Kabar kami baik, Ma," jawabnya singkat.

‎‎Nyonya Diah menoleh sejenak ke arah suaminya, lalu kembali menatap Rafael dan Alina bergantian dengan senyum penuh harapan.

‎"Semalam bukankah kalian baru saja merayakan ulang tahun pernikahan yang kedua? Bukankah sudah saatnya bagi kalian untuk memikirkan soal memiliki anak?"

‎‎Alina terkejut seketika. Napasnya tertahan sejenak, tatapannya tanpa sengaja langsung bertemu dengan mata Revan yang berdiri di samping Bi Hani. Pria itu juga sedang menatapnya, tatapan yang tampak tenang di luar, tapi ada kilatan perhatian tersembunyi di baliknya.

-

-

-

Bersambung...

1
Mia Camelia
ayo revan rebut Alina yukk🤣🤣🤣
Aisyah Ranni
Wajar aja si Andika menyesal ternyata itu dia,bisa jadi dia yg slengki dengan ibu Rafael, mengulang kejadian si Rafael dengan Amara.dan Andika gak tau Revan anak kandungnya sendiri
MamDeyh
Woooow ternyata sodara tiri merekaaaa
MamDeyh
Diiih GK jelas
Mia Camelia
rasakan kau raphael tamparan sang ayah, semoga raphael mau melepaskan Alina😭
🔥Violetta🔥: Semoga y kak 😁
total 1 replies
Ervina Ardianto
Kl baca smp sini berarti awalnya Revan pura2 jd asisten Rafael ada hubungannya dg masa lalu yg blm selesai antar ortu/kakeknya Rafael & Revan. Sementara ttg Alina, di luar rencana dia, bs ketemu lg tp sdh jd istri org.
Maybe gt🤭
🔥Violetta🔥: Wah tebakan kakak ini sesuatu 👏👏👏👍😁
total 1 replies
Mia Camelia
revan gentleman banget sih, bogem si raphael di tempat, ngliat raphael lama2 kaya pecundang😒
Ervina Ardianto
Rafael msh lolos nih. Mertuanya ga liat tontonan & ga denger omongan Revan ke Rafael. Jgn lama2 author, nungguin Revan membuka jati diri dia yg sbnrnya 😊
MamDeyh
Repaaan kamu kelepasan 😅
🔥Violetta🔥: rem-nya blong 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
sumpah raphael tuh pembawa sial banget sih, bikin Alina jatuh bgtu😔😔😔
🔥Violetta🔥: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Ervina Ardianto
Revan mana Revan..mungkin sekarang saatnya membuka semua 🤭
🔥Violetta🔥: Lagi bertapa dulu dia kak... 🤭🤭🤣
total 1 replies
MamDeyh
Nah kan.. Laki egois. Plin plan. Gajebo
🔥Violetta🔥: Omelin aja,,, omelin kak 🤭🤣🤣
total 1 replies
Ervina Ardianto
Ada hubungan dg masa lalu berarti nih. Revan uda kenal Alina lbh dl dari Rafael , yg msh gelap hubungan ortu Revan & Rafael, knp Alina ga tau / blm sadar ttg Revan (di masa lalu) & Revan bs kecolongan, Alina nkh sm Rafael.
MamDeyh
Ahhhh lagi dong kak.....
Mia Camelia
Alina kapan cerai nya thor 🤭🤭🤭pingin ngeliat Alina dan revan SAH🤭😁
🔥Violetta🔥: Nanti kak 🤭 author nya juga udah gak sabar 🤭🤭🤭
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
"Menikah karena perjodohan tapi hati suami masih di masa lalu" itu klasik yang tidak pernah gagal. Saya langsung bisa merasakan bagaimana hampanya Alina.
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.

Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.

cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰
MamDeyh
Aduhhhh aku dag dig dug deeeer daiaaaaa/Curse//Curse/
🔥Violetta🔥: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Adira🍓
O...o... kamu ketahuan 🤣🤣🤣🤣
Adira🍓
Pandai kali ngegombal mulut kau ini Revan 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Terlalu jujur jawabanmu Bang 🤣🤣🤣🤣🤣
🔥Violetta🔥: Maklum, rem-nya blong kak 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!