NovelToon NovelToon
My Shit Boss

My Shit Boss

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: ikesweetdevil

Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.

Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.

Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.

Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.

Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 28

Part 28

Alfan mengantarkan Tina sampai di depan rumahnya, saat Alfan akan keluar untuk menemani Tina, Alfan menghentikan langkahnya, ia ingat ucapan Tina akan orang tuanya. Tina tidak ingin bila Alfan terlalu dekat dengan mereka, karena yang Tina tahu Alfan ingin berpura-pura menjadi calon suaminya di depan semua orang termasuk orang tuanya.

"Salam untuk Papa kamu ya," ujar Alfan terdengar tulus, sedangkan Tina justru terdiam, entah kenapa ia berharap bosnya keluar dan menemui papanya.

"Iya, Pak. Saya permisi," pamit Tina sembari tersenyum sopan lalu keluar dari mobil, meninggalkan Alfan yang terdiam menatapnya melalui kaca mobilnya. Alfan berharap bisa dekat dengan Tina dan keluarganya, namun rasanya sulit untuk ia capai, mengingat sikap sekretarisnya yang terlalu memberi jarak di antara mereka.

Perlahan, mobil yang ditumpanginya melaju, menghilangkan jejak Tina yang sempat menunggunya di tepi jalan. Melihat Tina tak lagi bisa ditatap, yang Alfan lakukan hanya menghela nafas panjangnya, berusaha tenang meski hatinya begitu meyesakkan.

Sekarang yang bisa Alfan lakukan hanya menyesal, rasa itu selalu hadir saat ia sedang sendiri, terutama saat tidak ada orang-orang terdekatnya bersamanya. Penyesalan di mana ia tidak bisa mengatakan ke Tina, bila ia adalah Ansyah, bocah yang selalu berusaha dilindungihnya.

Alfan hanya merasa malu saja dengan kisah mereka di masa lalu, saat itu Alfan begitu membutuhkan Tina sangking pengecutnya ia menjadi bocah lelaki. Hampir setiap hari Alfan dibully dan selalu berakhir dengan Tina yang menyelamatkannya, rasanya konyol saja bila Alfan mengatakan bila dirinya bocah itu, bocah menyedihkan yang selalu minta dilindungi.

Mungkin hal itu juga yang membuat Alfan lebih memilih membela Tina saat acara pertunangan Diandra kemarin, yang mungkin akan terlihat berlebihan untuk semua orang, namun tidak bagi Alfan yang ingin membalas budi. Membela Tina juga tanggungjawabnya tak kerkecuali saat Alfan mengatakan ingin berhenti bekerja sama dengan perusahaan orang tua Diandra. Selain karena Alfan tidak mau Tina kenapa-kenapa, Alfan juga ingin memberikan Tina kenyamanan dan rasa aman seperti yang sudah dia lakukan padanya dulu.

Sebenarnya Alfan juga ingin mengungkapkan kisah masa lalu mereka dan semua akan berjalan seperti saat mereka kecil dulu, namun tidak pernah bisa Alfan lakukan, ketakutannya akan rasa nyaman Tina berada di sampingnya membuatnya tak yakin semua akan berjalan sesuai keinginannya.

Entah kapan Alfan akan mengakui semuanya, namun satu yang pasti, ia ingin Tina tahu hal itu saat dia sudah menerimanya atau mungkin mencintainya. Setidaknya, Alfan tak akan merasa sangat malu bila Tina mau menikah dengannya karena rasa cinta. Pertanyaannya sekarang, bagaimana Tina bisa mencintainya sedangkan sikapnya saja begitu menyebalkan untuk Tina. Ya itu lah pemikiran Alfan sekarang, hidupnya terlalu kalut untuk pertanyaan yang sebenarnya ia yang membuatnya sulit.

***

Di sisi lainnya, Tina berjalan masuk ke dalam rumahnya. Di sana sudah ada tantenya yang tengah menemani papanya makan, melihat itu Tina langsung tersenyum lalu berjalan ke arah mereka dan bergabung di tempat yang sama.

"Kamu sudah pulang, Na?" Laily tersenyum ke arah ponakannya, sedangkan papa Tina turut tersenyum ke arah putrinya.

"Iya, Tante." Tina mendudukkan tubuhnya di kursi, matanya tertuju ke arah papanya yang sedang tersenyum melihatnya.

"Papa apa kabar? Semua baik-baik saja kan?" tanya Tina ke arah papanya, hampir tiga hari tidak bertemu dengan papanya, tentu saja membuat Tina sangat merindukannya sekaligus mengkhawatirkannya.

"Papa baik kok. Kamu sendiri bagaimana perjalanannya? Semua berjalan baik?"

"Tidak juga, Pa."

"Memangnya ada apa, Na?"

"Ternyata aku dan bosku itu menghadiri acara pertunangan Diandra. Papa dan Tante tahu siapa dia?" tanya Tina yang digelengi kepala oleh mereka.

"Memangnya siapa dia?"

"Dia anak tirinya Mama ...." Tina menundukkan wajahnya, membuat papa dan tantenya terdiam sembari menatap satu sama lain, seolah langsung mengerti maksud dari ucapan Tina.

"Kamu bertemu Mama kamu, Na?"

"Iya, Tante. Dia hidup dengan baik, penampilannya mewah dan wajahnya juga terlihat bahagia sebelum melihatku."

"Saat Mama kamu melihatmu, apa dia langsung mengenalimu?" tanya Laily penasaran, namun Tina justru tersenyum dan menggeleng pelan.

"Mama pura-pura enggak mengenaliku, Tante. Bahkan setelah aku mengatakan yang sebenarnya, Mama tetap mengelak semuanya." Tina tersenyum miris, merasa sakit saat mengingat ucapan mamanya yang begitu melukai hatinya.

"Sudahlah. Sekarang Mama sudah bahagia dengan keluarganya, kamu harus bisa mengikhlaskannya ya?" ujar sang papa yang langsung Tina senyumi kecut.

"Bagaimana caraku bisa mengikhlaskan semuanya, Pa? Gara-gara Mama, hidup kita menderita. Gara-gara Mama, kaki Papa lumpuh, dan juga gara-gara Mama, aku enggak bisa mencapai cita-citaku menjadi dokter. Bagaimana cara aku bisa ikhlas, melupakan semua yang sudah Mama lakukan saja rasanya mustahil." Tina menitikkan air matanya, merasa tidak bisa berbuat apa-apa meski luka lamanya terasa robek kembali.

"Iya, Kak. Sulit untuk Tina bisa menerima semuanya, Kak Ratna itu sudah sangat keterlaluan." Laily berujar ke arah kakaknya yang hanya terdiam dan menghela nafas.

"Iya. Papa mengerti, tapi mau bagaimana pun Mama kamu, Papa juga salah dalam hal ini, maafkan Papa ya?" ujar pria itu terdengar menyesal, membuat Tina turut menyesali sikapnya.

"Aku enggak apa-apa kok, Pa. Aku cuma ... merasa iri ... kenapa Mama lebih memilih mereka ketimbang kita?" Tina semakin menangis yang hanya bisa mereka tatap iba tanpa bisa menjawab pertanyaannya.

"Sudahlah, Na! Kamu jangan kaya gini, kamu itu wanita kuat, enggak ada yang boleh buat kamu iri karena pada suatu saat nanti kamu akan jauh lebih bahagia dari mereka yang sudah meninggal kamu. Harusnya kamu tersenyum dan mengatakan ke Mama kamu kalau dia pasti akan menyesal sudah pernah meninggalkan kamu," ujar Laily yang hanya bisa Tina diami, meski pada akhirnya Tina berpikir bila apa yang diucapkan tantenya itu memang ada benarnya.

"Iya, Tante. Terima kasih."

"Iya. Kamu pasti kuat, tapi bagaimana dengan bos kamu, Alfan? Apa dia tahu kalau rekan kerjanya itu Mama kandung kamu?"

"Pak Alfan sudah tahu semuanya dan aku sangat berterima kasih dengan Pak Alfan, karena dia sudah membelaku sebelum membawaku pergi dari sana." Tina berusaha tersenyum, meski hatinya masih belum baik-baik saja.

"Baguslah. Memang sudah seharusnya dia membela kamu, dia kan calon suami kamu. Enggak salah kamu pilih dia." Laily mengusap punggung Tina yang tertunduk tanpa bisa mengatakan yang sebenarnya.

"Lebih baik sekarang kamu istirahat ya! Jangan biarkan otak kamu memikirkan Mama kamu lagi, kamu fokus saja dengan karir dan hubungan kamu dengan Pak Alfan, kamu juga berhak bahagia." Laily berusaha menyemangati Tina, sembari berharap yang terbaik untuk keponakannya itu.

"Terima kasih, Tante. Aku istirahat dulu." Tina mendirikan tubuhnya lalu berjalan ke arah kamarnya, meninggalkan Tante dan papanya di sana. Di dalam hati, Tina juga ingin bahagia, namun tidak bersama dengan bosnya, karena hubungan mereka cuma rekayasa belaka.

1
Renjana
aku pun ikut kaget,🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!