Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.
Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikatan di Bawah Saksi Hukum
Mobil terus melaju membelah padatnya lalu lintas kota siang itu. Di dalam kabin yang sejuk dan tenang, Kirana melirik sekilas ke arah pria yang duduk di sampingnya.
Meskipun Rian telah berusia tiga puluh dua tahun, paras wajahnya sama sekali tidak menampakkan jejak penuaan yang berarti. Wajahnya yang rupawan memiliki garis rahang tegas, kulit bersih, dan raut ketampanan matang yang begitu memikat. Postur tubuhnya tegap dengan bahu lebar yang mengikis habis kesan lemah, meskipun kedua kakinya tak lagi bisa menopang tubuhnya akibat kecelakaan empat tahun silam. Tatapan matanya yang tajam dan pembawaannya yang dingin justru menambah aura ketegasan seorang pemimpin besar.
Sensasi mengintimidasi itu begitu terasa, namun anehnya, ada ketenangan aneh yang terpancar dari sosok Rian. Pria itu tampak sangat berwibawa di balik setelan jas mewahnya, berdiri teguh di puncak dunianya tanpa membiarkan keterbatasan fisik mengalahkan dirinya.
Rian yang menyadari pandangan Kirana, perlahan menoleh. Tatapan mata hitam legam itu menyapu wajah polos Kirana yang tampak sedikit tegang.
"Ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya Rian santai namun lugas, suaranya yang berat memecah keheningan.
Kirana tersentak pelan, buru-buru membuang pandangannya ke luar jendela sebelum kembali menatap Rian dengan sopan. "Tidak ada, Pak... Saya hanya bersyukur dan berterima kasih atas kesempatan ini."
Rian mengamati ketenangan gadis di sampingnya. Tidak ada binar ketamakan atau tatapan kasihan dari mata Kirana—dua hal yang paling dibenci Rian dari orang-orang di sekitarnya. Yang ada hanyalah kejujuran, rasa hormat, dan keteguhan hati seorang gadis muda yang siap memperjuangkan masa depannya.
"Panggil saya Rian jika kita sedang berdua," ujar Rian pelan namun tegas. "Mulai hari ini, kamu bukan lagi sekadar gadis panti yang harus berjuang sendirian. Kamu adalah istri dari Rian Wijaya."
Mobil sedan mewah itu akhirnya melambat dan berbelok memasuki pelataran gedung Kantor Catatan Sipil. Beberapa pria berjas hitam yang merupakan tim hukum dan pengawal pribadi Rian tampak sudah berdiri bersiap menyambut kedatangan sang CEO. Latar belakang hidup Kirana yang penuh derita dan kepahitan kini resmi berganti menjadi awal kisah barunya bersama pria berkuasa di sampingnya.
Pintu mobil terbuka lebar. Dengan sigap, dua orang pengawal berbadan tegap menurunkan kursi roda bernuansa hitam elegan dari bagasi belakang. Rian dengan cekatan memindahkan tubuh bagian atasnya yang kekar ke atas kursi roda tersebut. Gerakannya begitu terlatih dan tenang, tanpa sedikit pun raut rasa minder atau lemah.
Kirana turun dari mobil, merapikan blouse sederhana dan celana jeans-nya. Ia melangkah pelan di samping Rian saat mereka memasuki aula Kantor Catatan Sipil. Beberapa pasang mata staf dan pengunjung menatap heran ke arah mereka. Kombinasi pasangan itu sungguh ganjil di mata awam: seorang CEO kaya raya nan tampan bertubuh tegap di atas kursi roda, bersanding dengan gadis muda berwajah manis dengan pakaian yang bersahaja.
Namun, Rian sama sekali tidak memedulikan tatapan-tatapan itu. Kepala pria itu tetap tertahan tegak dengan pandangan lurus mendominasi ruangan. Tim hukum Wijaya Group telah merapikan seluruh berkas administrasi, sehingga proses pernikahan tercatat secara resmi berlangsung dengan sangat cepat dan privat di dalam ruangan khusus.
Di depan petugas pencatat nikah, Kirana dan Rian menandatangani lembar-lembar dokumen pernikahan. Saat jemari Kirana menggoreskan tanda tangan di atas kertas tebal tersebut, matanya sempat berkaca-kaca. Dalam hitungan detik, statusnya yang semula adalah anak yatim piatu terbuang tanpa sanak saudara, kini resmi berubah menjadi istri sah dari penguasa Wijaya Group.
"Selamat, Pak Rian, Mbak Kirana. Mulai hari ini kalian telah sah terikat dalam pernikahan yang diakui oleh negara," ucap petugas seraya menyerahkan dokumen dan buku nikah resmi.
Rian menerima dokumen tersebut, lalu memutar kursi rodanya menghadap Kirana. Pria itu mengambil sebuah kotak beludru kecil dari saku jasnya. Di dalamnya, terbaring sebuah cincin emas putih bermata berlian mungil yang tampak sangat anggun dan elegan.
"Ulurkan tanganmu," perintah Rian lembut namun tegas.
Kirana mengulurkan tangan kanannya yang halus. Rian menyematkan cincin itu di jari manis Kirana. Ukurannya sangat pas, seolah-olah Rian sudah tahu persis lingkar jemari gadis itu. Cahaya berliannya berkilau indah, kontras dengan kulit jernih Kirana.
"Ini simbol ikatan kita," ujar Rian, matanya menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Kirana. "Mulai detik ini, nama besar Wijaya melekat di belakang namamu. Tidak ada satu orang pun yang boleh merendahkanmu lagi, termasuk keluargamu yang dulu membuangmu."
Dada Kirana berdesir hangat mendengar kata-kata itu. Ada perlindungan tegas yang tak pernah ia rasakan dari siapa pun sebelumnya. Kirana mengangguk perlahan, lalu membungkuk sedikit memberikan penghormatan penuh kesetiaan.
"Terima kasih, Mas Rian. Saya akan menjaga nama baik dan kehormatan pernikahan ini," bisik Kirana, mencoba membiasakan diri memanggil nama pria yang kini resmi menjadi suaminya.
Rian mengulas senyum tipis di bibirnya—sebuah binar kehangatan langka yang kini hanya diperuntukkan bagi Kirana.