Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pernikahan
Dari lantai dua, sepasang mata diam‑diam memperhatikan semuanya. Lucian berdiri di tepi balkon bagian dalam, satu tangannya memegang cangkir kopi hitam yang masih mengepul.
Beberapa menit sebelumnya, ia sudah menyaksikan bagaimana Annabella diperlakukan kasar di dapur. Ia mendengar setiap ejekan yang dilontarkan Ranti dan para pelayan lainnya.
Ia melihat jelas jari‑jari Annabella mengepal erat, sebelum akhirnya memilih pergi tanpa membalas sepatah kata pun.
Lucian menyesap kopinya perlahan.
Dulu, ketika Annabella masih menyamar sebagai adiknya, ia bukan perempuan yang mudah menyerah. Ia berani membantah, kadang cukup keras kepala untuk mempertahankan pendapatnya di depan Lucian.
Tapi pagi ini, ia hanya diam menahan semuanya.
Apakah tiga tahun di penjara telah mengubahnya?
Atau ia hanya berpura‑pura menjadi perempuan lemah supaya mendapatkan belas kasihan?
Lucian meletakkan cangkirnya di atas meja kecil. Ia tidak peduli lagi mana yang benar. Baginya, Annabella tetaplah perempuan yang telah menipu keluarganya selama bertahun‑tahun.
Dan ia tidak berniat membiarkan perempuan itu melupakan kesalahannya. Tatapannya kembali tertuju pada sosok Annabella yang berjalan menjauh dari lorong dapur.
“Bertahanlah selagi kau bisa, Annabella. Kau bahkan belum tahu apa yang menantimu setelah menjadi istriku.”
Waktu berjalan terasa sangat lambat bagi Annabella.
Menjelang siang, ia duduk sendirian di bangku kecil di samping rumah. Gaun pengantin putih pemberian Lucian sudah ia kenakan. Rambutnya disisir rapi, wajahnya dibersihkan, dan ia mencoba menyamarkan mata yang sembap dengan air dingin.
Ia tidak punya riasan wajah, tidak punya perhiasan, dan tidak ada siapa‑siapa yang membantunya bersiap.
Tidak ada keluarga yang mendampinginya. Tidak ada sahabat yang menggenggam tangannya.
Tidak ada satu orang pun yang akan tersenyum bahagia ketika ia resmi menjadi istri Lucian.
Annabella menatap kedua tangannya. Sebentar lagi, namanya akan terikat dengan nama Lucian Winston. Pernikahan yang seharusnya menjadi awal kehidupan baru, justru terasa seperti hukuman yang baru saja dijatuhkan kepadanya.
“ANNABELLA!”
Suara Ranti membuyarkan lamunannya. Wanita itu berjalan menghampirinya dengan langkah cepat.
“Apa yang kau lakukan di sini? Tuan Lucian sudah menunggumu di depan!”
Annabella segera berdiri.
“Sekarang?”
“Memangnya kau mau menunggu sampai malam?”
Ranti mendecak kesal.
“Cepat pergi! Jangan sampai membuat Tuan Lucian marah.”
Annabella tidak membalas. Ia hanya merapikan lipatan gaunnya sejenak, lalu berjalan menuju bagian depan rumah.
Jantungnya berdegup semakin kencang.
Sebuah mobil hitam terparkir di depan pintu utama.
Lucian berdiri di sampingnya mengenakan tuksedo hitam yang membuatnya tampak semakin gagah dan berwibawa. Rambutnya tertata rapi, wajahnya bersih tanpa cela, tapi ekspresinya tetap sedingin biasanya.
Ia terlihat seperti pengantin pria di pernikahan mewah, namun tidak ada sedikit pun kebahagiaan di matanya.
Annabella berhenti beberapa langkah darinya, lalu hanya memandang pria itu dalam diam.
Lucian menoleh.
“Sudah selesai?”
Annabella mengangguk pelan.
“Sudah.”
Tatapan Lucian turun menilai penampilannya, mulai dari gaun putih hingga sepatu sederhana yang ia pakai.
“Setidaknya kau tidak terlihat kampungan.”
Annabella menunduk, memilih tidak menanggapi ucapan itu.
Lucian membuka pintu mobil, lalu masuk tanpa berkata‑kata lagi.
Annabella berdiri sejenak, sebelum akhirnya mengikuti dan masuk ke dalam mobil.
Begitu pintu tertutup, suasana kembali hening. Sopir menyalakan mesin, lalu mobil hitam itu bergerak meninggalkan kediaman keluarga Winston.
Annabella menatap ke luar jendela, melihat gerbang besar yang perlahan menjauh dari pandangannya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah mereka tiba di KUA.
Tapi satu hal yang ia yakini, mulai hari ini, namanya akan terikat dengan nama Lucian Winston.
Dan mungkin, sejak saat itu pula, kebebasan yang baru saja ia dapatkan akan hilang kembali.
Di sampingnya, Lucian memandang lurus ke depan dengan wajah tanpa ekspresi.
Bagi dunia, hari ini adalah hari pernikahannya. Namun bagi Lucian Winston, hari ini adalah hari ia akhirnya memulai balas dendamnya dengan cara yang paling dekat, paling pribadi, dan paling menyakitkan: menjadikan perempuan yang ia benci sebagai istrinya sendiri.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???
doa yg terbaik buat mom semoga. cepat sampai retensi ny ,,
🤗
kasihan Cristal harus gigit jempol kaki🤭🤭🤣🤣🤣