Di depan layar dia adalah milik semua orang, tapi di belakang layar, dia hanya milikku. Kamila.
Seharusnya 3 tahun lalu, Kamila tidak mengambil keputusan ini. Menemui seorang aktor terkenal, memohon agar dia memberinya pekerjaan. Salahnya dia memilih untuk menyetujui perjanjian pada malam itu. Hingga akhirnya dia terjebak dengan Razka Aditama Fernandez, seorang aktor terkenal yang semua orang tahu.
Hanya menjadi seorang simpanan, apa yang bisa dia harapkan? Cinta? Hubungan serius? Apa itu mungkin dalam kehidupannya ini?
"Hubungan ini hanya sebatas saling menguntungkan antara aku dan kamu"
Kalimat itu menjadi pembatas atas perasaannya, seharusnya memang seperti itu. Tapi nyatanya, Kamila telah melewati batas dirinya sendiri. Hidup bersama selama 3 tahun, membuatnya perlahan melihat sisi lain dari Razka.
Tapi, apa mungkin Razka mempunyai perasaan yang sama atau dia tetap menganggapnya sebagai seorang simpanan saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Bisa Menikahinya!
Setiap malam setelah keduanya seharian sibuk di tempat kerja, mereka akan selalu menghabiskan waktu bersama. Menghilangkan penat setelah sibuk dengan pekerjaan. Dan hari-hari seterusnya selalu seperti itu.
Hari-hari terasa berbeda setelah keduanya saling mengungkapkan cinta, seperti mendapatkan energi baru dalam setiap harinya. Ada canda dan tawa yang dipenuhi ketulusan, tidak ada lagi pikiran tentang hubungan yang saling menguntungkan. Keduanya terbuka dengan perasaan masing-masing.
Hari ini Razka sudah memberitahu jika dia akan pulang lebih malam, dan Kamila pulang sendiri dengan taksi online. Dia keluar dari lift dan berjalan menuju Apartemen. Kamila mengerutkan keningnya saat melihat ada seorang perempuan yang berdiri di depan Apartemennya. Seperti kebingungan sendiri. Tapi tunggu, perempuan itu tidak asing bagi Kamila.
Dia lawan main Razka di film terbarunya saat ini.
"Maaf, cari siapa ya?" Dengan sedikit ragu, akhirnya Kamila bertanya, meski dia cukup takut jika dirinya akan salah bicara.
"Ah, saya mencari Apartemen milik Razka. Katanya ini, tapi dari tadi saya coba tekan bel tidak ada yang keluar. Oh ya, apa kamu tetangganya?"
Pertanyaan macam apa itu, bagaimana Kamila bisa menjawabnya? Dia hanya bisa tersenyum meski tidak tahu harus menjawab seperti apa. Jika bilang dirinya juga tinggal di Apartemen itu, maka perempuan ini akan bertanya-tanya. Mungkin saja akan menjadi scandal besar nantinya.
"Em, sepertinya Razka belum pulang. Mungkin masih syuting" ucap Kamila, dia sendiri bingung kenapa lawan main Razka bisa ada di sini, sementara dia berkata akan pulang terlambat. Kamila hanya berpikir mungkin ada adegan yang harus selesai hari ini. "Nanti saja kamu datang lagi ke sini"
Victoria memasang wajah bingung. "Syuting sudah selesai dari sore hari. Apa mungkin dia ada urusan lain ya, jadi tidak cepat pulang ke sini"
Kamila juga ikut terkejut dengan ucapan Victoria, sekarang dia jadi ikut bingung. Sebenarnya Razka kemana? Jika syuting sudah selesai, seharusnya dia langsung pulang.
Ah, apa mungkin dia pulang ke rumah orang tuanya dulu.
"Mungkin seperti itu"
"Ah baiklah, terima kasih ya"
Kamila mengangguk, saat Victoria berjalan pergi membuatnya menghela napas lega. Setidaknya dia sudah pergi dari Apartemennya. Kamila segera membuka pintu dan masuk, bersandar di pintu yang tertutup dengan perasaan gugup.
"Ya Tuhan, kalau sampai dia tahu aku juga tinggal di sini, maka semuanya akan kacau"
Kamila duduk di sofa, membuka ponsel dan mengirim pesan pada Razka untuk bertanya dimana dia sekarang. Belum ada balasan, bahkan Razka belum membuka pesan darinya. Kamila memilih untuk mandi dan menyiapkan makan malam, sambil menunggu pesannya di balas oleh Razka.
*
Makan malam kali ini terasa lebih tegang dari sebelumnya. Razka tahu ada maksud dari pertemuan ini, bahkan ketika Mama ikut memaksa dirinya untuk datang di malam malam hari ini.
"Kapan syuting film terbaru kamu ini berakhir?" tanya Papa.
"Mungkin sekitar dua minggu lagi"
Ruang makan terasa hening, dingin dan mencekam. Hanya suara sendok dan garpu yang saling beradu dengan piring. Obrolan di antara Papa dan anaknya yang terdengar dingin, tidak ada senyuman atau bahkan tawa. Keluarga yang benar-benar tidak menunjukan keharmonisan seperti di balik layar dan berita yang di sebarkan.
"Setelah kau mulai masuk ke Perusahaan, Papa ingin kau menikah"
Sebuah pernyataan yang membuat Razka berhenti menggerakan sendok di tangannya. Dia mendongak dan menatap Ayahnya dengan penuh tanya.
"Apa maksudnya?"
"Papa sudah mempunyai calon untukmu, perempuan yang pasti cocok denganmu. Dan Papa mengenal baik keluarganya, sudah pasti dia juga sangat baik"
Razka menjatuhkan sendok dan garpu di tangannya dengan keras ke atas piring. Menimbulkan suara dentingan yang menggema di ruangan yang hening in.
"Aku sudah memutuskan untuk menjadi penerus Perusahaan. Tapi bukan berarti aku harus menuruti semua ucapan Papa, aku punya pilihanku sendiri untuk pendamping hidupku!"
"Siapa? Penata rias itu?"
Deg... Razka terdiam, tangannya mengepal kuat di atas meja. Bahkan seharusnya dia sudah tahu sejak awal, jika keluarganya tidak mungkin tidak tahu tentang hubungannya dengan Kamila. Meski Razka terus berusaha menyembunyikan tentang Kamila, tapi mereka punya segalanya untuk mendapatkan informasi sekecil apapun.
"Kau pikir Papa tidak pernah tahu tentang hubungan terlarang di antara kalian? Kau pikir karirmu di dunia hiburan bisa bertahan sampai sekarang tanpa ada yang mengetahui scandal kau dengan si penata rias itu, karena kau pandai menyembunyikan hubungan kalian? Tidak Razka, Papa yang selalu membantu menutup semuanya. Bahkan banyak yang mendapatkan foto-foto kalian yang bermesraan, jika saja bukan karena Papa menutupnya, hubungan kalian akan terungkap sejak awal!"
"Pa, sudah Pa. Kita sedang makan, tolong selesaikan dulu makan kalian" ucap Mama, mulai merasa perdebatan kali ini benar-benar serius.
"Ikut Papa ke ruang kerja sekarang!"
Razka menatap Ayahnya yang sudah melenggang pergi duluan dari ruang makan. Dia mengacak rambutnya, dan segera mengikuti Papa ke ruang kerja. Sementara Mama hanya bisa diam dengan cemas dan khawatir pada anak dan suaminya itu.
"Ma, kita gak ikuti mereka?" tanya Raisa, adiknya Razka.
"Kamu tidak lihat amarah Papa, sudah pasti hanya Kakak kamu yang boleh ke sana. Kita diam saja"
"Ah, baiklah"
Di ruang kerja, suasana semakin terasa dingin mencekam. Dua pria dari generasi berbeda berdiri saling berhadapan, terhalang meja kerja saja. Papa melempar beberapa lembar foto di atas meja. Foto kebersamaan Razka dan Kamila yang tertangkap kamera paparazi.
"Lihat, kau mungkin sudah habis di hujat semua orang saat foto ini tersebar. Tapi, Papa yang berusaha menutupi semuanya. Dan sekarang dengan tegas, Papa minta kau segera menikahi anak dari teman Papa!"
"Tidak, aku tidak bisa. Karena aku mencintainya!"
"Cinta? Ayolah Razka, hidup ini bukan hanya tentang cinta. Papa dan Mama kamu juga menikah karena perjodohan, buktinya sekarang kita bisa saling menerima dan mencintai. Sampai mempunyai kamu dan Raisa. Cinta bisa ada seiring waktu berjalan"
"Tapi Pa, ini berbeda. Aku ingin bersamanya, dan kalau memang Papa ingin aku segera menikah, kenapa tidak membiarkan aku menikah dengan Kamila saja. Kenapa harus perempuan lain"
Papa menggeleng pelan, dia menatap Razka dengan lekat. "Kau tidak bisa menikahinya, karena dia juga tidak akan menerimamu"
"Apa? Kenapa Kamila tidak bisa menerimaku?"
"Karena dia anaknya Angga!"
Razka masih tidak mengerti apa yang di maksud Ayahnya. "Angga siapa?"
"Seseorang yang dulu Papa percaya, namun dia berkhianat dan mengambil uang Perusahaan!"
"Hah?"
Bersambung