NovelToon NovelToon
Detektif Hans

Detektif Hans

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri
Popularitas:613
Nilai: 5
Nama Author: Ashciel

Di kota London yang basah dan dingin, Hans Lorte bertahan hidup dari ketajaman otaknya. Baginya, kegaiban hanyalah alasan bagi orang bodoh yang malas berpikir.
Namun, sebuah kasus misterius memaksa Hans berhadapan dengan teka-teki paling berbahaya dalam kariernya. Tanpa saksi, tanpa tanda-tanda pembobolan, dan bukti fisik yang janggal, Hans harus berpacu dengan waktu sebelum sang pelaku menghilangkan jejaknya secara permanen.
Sebuah kisah investigasi gelap tentang obsesi, konspirasi, dan batas akhir dari akal sehat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashciel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Kunci Tembaga di Rotherhithe

Pukul 02.15 dini hari.

Kawasan pergudangan tua Rotherhithe yang membentang di tepian selatan Sungai Thames tampak bagaikan makam raksasa dari tumpukan batu bata legam dan kayu lapuk. Roda-roda gerobak tua yang ditinggalkan kuli pabean berdiri membeku di atas jalanan berlumpur, diterangi pendaran redup lentera jalanan minyak tanah yang bergoyang lambat ditiup angin malam. Udara dingin di kawasan ini membawa aroma jelaga batu bara, kayu membusuk, dan kebasahan amis yang tajam.

Hans Lorte dan Pip melangkah dalam diam menyusuri lorong sempit di antara dua dinding gudang berlantai tiga. Hans merapatkan mantel kusamnya menghalau tiupan angin, tangan kanannya mencengkeram erat tongkat jalan berkepala besi, sementara tangan kirinya berada di dalam saku meraba bobot kunci tembaga kuno milik Lady Evelyn.

Pip merapat di samping Hans. Matanya yang lincah terus menyapu lorong-lorong mati di balik tumpukan peti kayu.

"Tempat ini jauh lebih menyeramkan daripada lorong-lorong Limehouse, Tuan Lorte," bisik Pip dengan suara tertahan. "Bahkan tikus-tikus pelabuhan pun tidak ada yang berkeliaran di sekitar gudang tua ini."

"Karena naluri alami mereka tahu ada sesuatu yang berbahaya di bawah tanah ini," sahut Hans datar. Matanya mengunci pintu kayu ganda yang terbengkalai di ujung lorong belakang Gudang No. 14.

Pintu ganda itu tampak biasa dari luar—berdebu, dipenuhi coretan kapur kuli pabean yang memudar, dan digembok dari luar dengan rantai besi berkarat. Namun, seperti yang dijelaskan Evelyn, pintu rahasia menuju laboratorium bawah tanah bukanlah pintu ganda tersebut, melainkan sebuah pintu kayu sempit berbingkai besi yang tersembunyi di balik tumpukan tong kayu kosong di sudut lorong.

Hans menggunakan ujung tongkat jalannya untuk menggeser tong kayu paling luar dengan gerakan terukur.

* Tuk... *

Ujung besi tongkatnya mengetuk permukaan pintu kayu keras bersimpul tembaga yang tersembunyi di balik ceruk dinding batu.

Hans mengeluarkan kunci tembaga kuno bersimpul berat milik Dr. Finch. Logam tembaga itu terasa dingin di telapak tangannya. Ia memasukkan gerigi kunci ke dalam lubang kunci berukir rumit di tengah pintu.

* Klek... *

Mekanisme kuningan di dalam pintu berputar halus tanpa derit, menandakan engselnya dirawat dengan sangat presisi. Hans mendorong pintu kayu sempit tersebut, membuka tangga batu melingkar yang menukik turun menuju kegelapan bawah tanah.

---

Aroma amis ozon pekat—aroma tajam menyerupai pendaran listrik di tengah kabut—langsung menyeruak keluar dari celah tangga, memotong bau lumpur dan minyak tanah pelabuhan.

Hans menyalakan lentera minyak saku kecilnya. Pendaran cahaya kuning redup menerangi anak-anak tangga batu yang basah oleh lapisan embun dingin.

"Aroma apa ini, Tuan?" bisik Pip seraya menutup hidung dan mulutnya dengan lengan rompi robeknya. "Seperti bau besi terbakar bercampur air garam busuk."

"Ini aroma reaksi kimia anomali," ujar Hans pelan. "Jaga langkahmu, Pip. Jangan menyentuh permukaan apa pun yang memancarkan pendaran licin."

Mereka menuruni dua puluh empat anak tangga batu sebelum sampai di sebuah aula bawah tanah yang luas dengan langit-langit melengkung bergaya Gotik.

Pemandangan di dalam laboratorium Dr. Finch menyajikan kehancuran yang janggal. Meja-meja kayu ek tebal terguling berantakan, puluhan buku referensi ilmiah berserakan di atas lantai batu, dan tabung-tabung kaca spesimen berukuran raksasa pecah berhamburan.

Cairan bening kental yang menguapkan aroma ozon tajam menyebar membasahi lantai, memancarkan pendaran cahaya kebiruan tipis di tengah kegelapan ruangan.

Hans melangkah pelan, matanya yang analitis memindai setiap detail kerusakan dengan ketelitian rasionalnya.

"Perhatikan pecahan kaca ini, Pip," kata Hans seraya mengarahkan lenteranya ke tumpukan kaca tabung spesimen di tengah ruangan. "Tabung-tabung kaca tebal ini tidak pecah akibat benturan fisik dari luar."

Pip merunduk hati-hati, membelalakkan matanya mengamati serpihan kaca yang tersebar. "Maksudmu... kaca ini terdorong meledak dari dalam?"

"Tepat," analisis Hans dingin. * Sudut keretakan kaca dan sebaran serpihannya menunjukkan tekanan hidrostatik ekstrem dari dalam tabung. Spesimen di dalamnya membesar secara mendadak sebelum meremukkan dinding kaca tebal ini. *

Hans melangkah lebih jauh menuju meja kerja utama Dr. Finch di ujung aula. Di atas meja kayu yang miring, sebuah mikroskop besi penyok dan tumpukan kertas manifes dilapisi kristal beku tipis yang mengkristal seperti salju.

Hans memiringkan kepalanya sedikit, meraba anting perak bulan sabit di telinga kirinya. Otaknya menyusun kalkulasi spasial.

Tidak ada bekas perkelahian fisik antarmanusia di ruangan ini. Tidak ada jejak darah segar, tidak ada selongsong peluru, dan tidak ada tanda-tanda perusakan paksa pada dinding batu.

---

"Tuan Lorte, lihat ini!" seru Pip dari sudut depan aula.

Hans melangkah mendekati Pip yang berdiri di depan pintu kayu jati berbingkai besi raksasa—pintu utama laboratorium yang menghubungkan ruangan tersebut dengan lorong akses depan menuju jalan raya Rotherhithe.

Mata kelabu Hans memicing tajam saat mengamati konstruksi pintu utama tersebut.

Pintu raksasa itu dalam posisi tertutup rapat. Selot besi padat berdiameter lima sentimeter terpasang penuh pada engsel dinding, mengunci pintu tersebut rapat-rapat dari arah dalam ruangan.

Namun, ada satu detail yang membekukan logika rasional Hans.

Selot besi padat tersebut terbungkus oleh lapisan kristal es yang sangat tebal, memancarkan uap dingin ekstrem yang menusuk tulang. Di sepanjang batang besi berbalut es itu, terdapat retakan struktural besar yang membelah selot menjadi dua bagian—seolah-olah logam besi tersebut membeku mendadak hingga rapuh dan retak oleh tekanan suhu jauh di bawah titik beku alami.

Hans mengetuk selot besi berbalut es tersebut dengan ujung tongkat jalannya.

* Tuk... *

Uap dingin membubung pelan dari bekas ketukan tongkatnya, dan serpihan es halus berguguran ke lantai batu.

"Pintu utama ini dikunci rapat dari dalam, Pip," bisik Hans, suaranya merendah dengan nada tegang yang jarang terdengar dari bibirnya.

"Tapi... jika pintu utama ini dikunci dari dalam, dan pintu rahasia belakang tadi masih terkunci dari luar saat kita datang..." Pip menelan ludah dengan susah payah, matanya membelalak penuh ketakutan. "Bagaimana Dr. Finch bisa lenyap dari ruangan ini tanpa meninggalkan jejak sama sekali?"

Hans menatap pintu berbalut es itu dalam diam. Asap rokok gulungnya membumbung pelan, terurai di tengah pendaran kebiruan cairan ozon di lantai.

Sebuah teka-teki ruang terkunci yang merubuhkan hukum fisika biasa resmi terhampar di depan matanya.

1
aefpe fp
baca novelku juga ya😄
Ashciel: terimakasih udah mampir :)
total 1 replies
Putry Chan
Hans seorang detektif
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!