Iris Quinn hanyalah sekretaris culun yang mudah diinjak-injak. Di rumah ia dijadikan keset oleh keluarganya, di kantor ia jadi samsak perundungan. Bahkan sang CEO, Ethan Cole, memilihnya hanya karena yakin gadis itu tidak akan punya nyali untuk menggodanya.
Tapi mereka tidak tahu, Iris yang asli sudah mati.
Tubuh ringkih itu kini dikuasai oleh jiwa Valerie Crowe, jenderal perang wanita kejam yang tewas diterkam harimau di medan tempur. Bagi Valerie, menghadapi drama kantor dan keluarga picik bukanlah masalah besar. Ini hanyalah medan perang baru yang sangat mudah ditaklukkan.
Dengan kecerdasan otak Iris dan insting membunuh seorang jenderal, Valerie mulai mematahkan satu per satu harga diri orang yang pernah menindasnya. Saat Ethan Cole menyadari sekretaris penurutnya berubah menjadi wanita berdarah dingin yang bisa melumpuhkan lawan dengan tangan kosong, sang CEO justru mulai terobsesi.
Mereka pikir Iris bisa terus ditindas? Selamat datang di neraka. Permainan baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasihan Kau, Iris
Rumah dan pulang, adalah kata yang erat dengan kerinduan. Seorang anak akan membayangkan makan masakan ibunya saat pulang. Mendapatkan pelukan dan kata-kata semangat setelah lelah bertarung dengan kehidupan diluar sana.
Tapi Iris tidak. Ia disambut dengan lemparan piring dan kata-kata kasar yang seharusnya tidak diucapkan oleh seorang ibu pada anaknya.
"Lagi-lagi aku kasihan padamu, Iris. Kenapa kau lemah sekali jadi manusia" kata Valerie. Ia meninggalkan Nyonya Hera yang masih berteriak.
Ia tidak tau akan kemana. Tapi langkahnya membawanya kearah belakang rumah. Rumah besar ini sungguh tidak terawat pikir Valerie.
Banyak perabotan mahal yang berdebu. Lantai licin, langit-langit penuh dengan sarang laba-laba. Apa tidak ada yang tergerak untuk membersihkan rumah ini ?
Di dekat dapur, Iris bertemu dengan seorang pria. Kulitnya putih dan perawakan nya tinggi. Rambutnya cokelat dan matanya sayu. Di tangannya ada sebotol minuman.
"Hai Iris. Kau pulang ? Kau bertambah seksi saja" katanya. Tangannya terulur ingin menyentuh dagu Iris namun dengan cepat Iris bisa menepisnya.
"Wow kau jadi galak sekarang. Apa ini gaya barumu untuk memancing ku ?" tanyanya lagi. Langkahnya gontai seperti akan jatuh.
"Dasar gila" kata Iris. Ia tidak berminat meladeninya. Dia adalah Brian, Kakak laki-lakinya yang selalu berusaha melecehkan Iris.
"Kau mau kemana ? Kenapa buru-buru sekali. Apa kau tidak rindu dengan kakakmu ini ?" tiba-tiba saja Brian memeluk tubuh Iris dari belakang. Ia juga mengendus leher belakang Iris.
Iris yang awalnya tidak mau meladeninya menjadi sangat marah dengan kelakuan bejat Brian. Dengan sekuat tenaga ia menginjak kaki Brian hingga pelukan itu terlepas.
"Sial" kata Brian merasakan sakit di kakinya.
"Hanya karena aku diam, bukan berarti aku takut padamu, sialan. Kau memang bajingan yang harus diberi pelajaran " ujar Iris dengan tatapan tajam dan suara pelan penuh penekanan.
Ia arahkan pukulan telak ke wajah Brian. Memiting kedua tangannya hingga berbunyi dan menendang bagian intinya. Brian berteriak kesakitan. Matanya kabur karena pukulan Iris sangat keras.
Nafas Iris memburu, tenaganya habis hanya dalam hitungan satu menit. Ia pergi meninggalkan Brian yang ia biarkan meronta kesakitan.
"Huh hanya menghajar seperti itu aku langsung merasa lelah" kata Iris setelah berada di taman belakang. Nafasnya terengah-engah.
..
Nyonya Hera terpaksa membersihkan pecahan piring setelah suaminya menyuruhnya untuk membersihkan. Ia keluar kamar setelah mendengar perdebatan anak dan istrinya.
"Iris baru pulang. Bersikap baiklah padanya. Kau bodoh sekali" gerutu Tuan Marco. Ia merebahkan dirinya diatas sofa lalu memejamkan mata kembali.
Nyonya Hera berdecak pelan melihat kelakuan suaminya itu. Pria yang sehari-hari hanya bisa marah dan meminta uang. Ingin rasanya membekap wajah Tuan Marco dengan bantal saat tidur, tapi ia masih takut jika ketahuan.
"Nanti kau yang bicara padanya. Anak itu jadi membangkang sekarang. Kepalaku pusing setelah bicara dengannya " kata Nyonya Hera. Ia berdiri dengan membawa pecahan piring untuk dibuang. Tidak lupa ia menendang kaki Tuan Marco yang menggantung di sofa.
"Masak sana. Kalau mau meminta uang setidaknya senangkan dulu hatinya " balas Tuan Marco.
Nyonya Hera hanya mendengus kesal sambil berlalu. Dari dulu sejak mereka kayak, ia tidak suka disuruh-suruh. Apalagi sekarang setelah jatuh miskin.
Lima bulan yang lalu, usaha Tuan Marco bangkrut. Ia yang bekerja sebagai kontraktor itu di tipu oleh kawannya hingga mengakibatkan macetnya gaji para bawahannya.
Untuk membayar gaji mereka, akhirnya Tuan Marco menjual beberapa asetnya. Ia yang frustasi karena bangkrut akhirnya lari ke tempat perjudian dengan harapan membawa uang banyak dengan cara cepat.
Karena selalu berharap menang, ia rela mengorbankan beberapa asetnya yang tersisa untuk taruhan di meja judi. Tapi yang ia dapat justru uang yang tidak seberapa.
Hingga sekarang, hanya rumah yang mereka tempati inilah yang menjadi satu-satunya aset keluarga mereka.
Mereka tau jika Iris sudah bekerja sebagai sekretaris di perusahaan besar dan gajinya sangat banyak. Makanya sejak 3 bulan lalu mereka merampas uang Iris tanpa memperdulikan apakah Iris tinggal di tempat yang layak atau bisa makan dengan teratur.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Iris berbohong tentang uang yang ia miliki. Ia tidak jujur tentang uang gajinya. Ia hanya memberikan lima puluh persen dari gajinya. Dan dua puluh persen lagi ia habiskan untuk membayar sewa dan membeli kebutuhannya sendiri.
Iris takut jika tiba-tiba ia sakit dan membutuhkan uang untuk berobat. Ia yakin jika orang tuanya tidak akan memberinya uang. Maka dari itu ia menyisakan sedikit uangnya.
Sejak masa kuliah, Iris juga sudah bekerja paruh waktu. Ia memaksa tetap kuliah saat Ibunya melarangnya. Dengan kerja keras dan semangatnya, akhirnya Iris memperoleh beasiswa full hingga ia lulus dan langsung diterima di perusahaan Ethan.
..
Sedangkan Valerie duduk termenung tanpa suara di dalam kamar pengap di dekat dapur. Di dinding yang ditempel wallpaper itu terpasang banyak foto Iris. Mulai dari masa kanak-kanak hingga sekolah menengah akhir.
Iris cantik dengan rambut kepang nya sejak dulu. Kacamata tebal tidak lupa ia kenakan.
Di rak yang hampir lapuk itu terdapat banyak piala dan medali yang Iris dapatkan sejak masa sekolah.
"Dunia memang adil, Iris" kata Valerie.
"Tapi tidak untuk anak baik seperti mu"
"Kau ditempatkan di kamar kecil dan sempit ini sedangkan di rumah ini banyak kamar kosong" kata Valerie lagi.
"Aku pasti akan menyayangimu" Valerie memeluk dirinya sendiri seolah sedang memeluk seseorang. Ia sangat penasaran, kenapa keluarga ini begitu tidak menyayangi nya.
"Sepertinya ada sesuatu yang salah disini. Tidak mungkin orang tua tega menelantarkan anak kandungnya sendiri. Aku harus cari tau" tekad Valerie.
Ia berbaring sebentar diatas ranjang yang keras. Menatap langit-langit yang tidak jauh berbeda dengan apartemen lamanya. Tidak lama kemudian ia mulai memejamkan mata.
...
abs pnya apartmen baru,abs tu blnju baju yg bgus...trs k salon,kl prlu ptong rmbut biar buang sial.....
kl kluarganya mnta uang,jgn d ksih...lbh baik pke buat dri sndri aja...ok jendral....
Aku udh mmpir lg....crtanya seru,sm ky crtamu yg lain....😁😁😁...
ska bgt kl cwek tngguh ky gni,ga menye2 trs kl ada yg ngusik lngsng d bls....d tnggu up'ny y....smngttt....😘😘😘