Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 33
Ruangan rapat itu seolah meledak dalam keheningan yang mematikan. Suasana yang tadinya formal dan tenang kini berubah menjadi medan perang yang penuh dengan ketegangan. Mata para dewan direksi dan para pemimpin divisi yang hadir tidak lepas dari lembaran-lembaran kertas di tangan mereka.
Seorang direktur senior, Pak Baskoro, yang selama ini dikenal sebagai sekutu setia Bu Chintya, menjatuhkan kacamatanya ke atas meja dengan tangan gemetar. Dia menatap Bu Chintya dengan pandangan tidak percaya.
"Bu Chintya... apa ini benar? Apakah Ibu benar-benar menandatangani surat kuasa pengalihan aset untuk perusahaan cangkang Kuncoro?" tanya Pak Baskoro dengan suara bergetar.
"Perusahaan kita sudah berjuang keras melewati krisis dua tahun lalu, dan Ibu... Ibu justru menjadi orang yang menggerogotinya dari dalam? Kami selama ini percaya kepada ibu yang memiliki dedikasi tinggi untuk menjadi petinggi di perusahaan ini. Walau status anda sebenarnya menantu di keluarga Mahendra. Tapi kami menghargai dedikasi anda! Namun, kamu tak mengira dengan semua ini!"
Sontak, bisik-bisik mulai memenuhi ruangan. Para pemimpin divisi yang selama ini merasa curiga dengan ketimpangan anggaran yang mereka alami. Namun tidak berani bersuara, kini saling pandang dengan ekspresi marah.
"Jadi ini alasan kenapa proyek inovasi kita selalu ditunda karena 'kekurangan dana'?" sela Direktur Operasional dengan nada tinggi.
"Ternyata dananya dialihkan untuk membayar komisi fiktif kepada Berlian? Ini bukan hanya korupsi, ini pengkhianatan terhadap ribuan karyawan di bawah naungan kita!"
Pak Kuncoro mencoba untuk berdiri dan memotong pembicaraan, wajahnya memerah karena malu dan terdesak.
"Ini semua salah paham! Saya bisa jelaskan semuanya! Dokumen itu... itu hanya draf! Belum ada transaksi yang benar-benar..."
"Draf?" potong Damian dengan tajam, suaranya menggelegar di ruang rapat.
Rian segera menekan tombol di tabletnya, dan layar besar di depan ruang rapat seketika menampilkan alur transfer bank yang masuk ke rekening pribadi Berlian dan perusahaan cangkang Pak Kuncoro, lengkap dengan stempel resmi yang terverifikasi.
"Data ini tidak bisa berbohong, Pak Kuncoro," ujar Damian datar.
Seisi ruangan terkesiap. Beberapa direktur bahkan ada yang berdiri, membalikkan kursi mereka sebagai bentuk protes. Kepercayaan yang selama ini dibangun di atas fondasi keluarga kini hancur lebur. Bagi para pemegang saham, pengkhianatan ini adalah ancaman langsung terhadap investasi mereka.
"Saya pribadi menuntut audit forensik menyeluruh! Bagaimana yang lain apa setuju?" seru salah satu pemegang saham mayoritas. Dan di setujui oleh yang lainnya.
"Dan saya minta Bu Chintya untuk mundur dari posisinya sebagai komisaris utama saat ini juga! Kita tidak bisa memiliki pemimpin yang mencoba merobohkan rumahnya sendiri!"
Bu Chintya, yang tadinya selalu tampil dengan kepala tegak, kini tampak merosot di kursinya. Pandangannya kosong, menatap tangan Damian yang terlipat dengan tenang. Dia tidak menyangka bahwa putranya yang dia anggap lemah dan mudah diatur mampu menyusun skenario pembalasan secerdas dan setegas ini.
"Ibu," suara Damian memecah keriuhan.
Dia menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan ada kesedihan, namun juga keputusan yang sudah bulat.
"Ibu selalu bilang bahwa menjaga warisan keluarga adalah segalanya. Tapi lihatlah sekeliling Ibu sekarang. Siapa yang sebenarnya menghancurkan warisan itu?"
Berlian, yang menyadari bahwa sekutunya sudah tidak bisa lagi memberikan perlindungan, mencoba untuk melarikan diri dari ruangan. Namun, dua staf keamanan yang sudah diperintahkan oleh Rian berdiri sigap di depan pintu, menutup akses keluar bagi siapa pun sebelum urusan ini selesai.
"Kalian tidak bisa menahan kami!" teriak Berlian histeris, topeng kecantikannya telah runtuh sepenuhnya, menyisakan sosok wanita yang penuh kepanikan.
"Kita bukan menahan," jawab Damian tenang sembari berdiri dari kursinya.
"Kita sedang menunggu pihak berwajib yang sudah saya hubungi sepuluh menit lalu. Jadi, nikmatilah sisa waktu kalian di ruangan ini untuk merenungkan konsekuensi dari setiap angka yang kalian curi."
Mendengar kata 'pihak berwajib', suasana ruangan berubah menjadi kepanikan total bagi Bu Chintya, Pak Kuncoro, dan Berlian. Para direksi lainnya hanya bisa terdiam, tersadar bahwa mereka baru saja menyaksikan runtuhnya sebuah dinasti korupsi yang selama ini mereka anggap sebagai bagian dari sistem yang tak tersentuh.
Damian melirik jam tangannya. Ia tahu, permainannya baru saja dimulai, dan dia baru saja memenangkan babak terpenting dalam hidupnya.
"Itu adalah bukti kerja sama yang tidak sehat, penyalahgunaan wewenang, dan konspirasi untuk menjatuhkan nilai saham kita sendiri demi kepentingan pribadi kalian," suara Damian menggema, tenang namun mematikan.
"Damian, dengarkan Ibu..." suara Bu Chintya melunak, mencoba menggunakan taktik emosional yang selama ini selalu berhasil.
"Kita bisa bicara baik-baik. Jangan libatkan pihak hukum. Ini akan merusak nama baik keluarga kita!"
Damian berdiri, matanya menatap tajam ke arah ibunya.
"Nama baik? Ibu berbicara tentang nama baik di saat selama enam tahun ini Ibu membiarkan orang luar menginjak-injak martabat menantu Ibu sendiri di rumah kita? Ibu membiarkan mereka melabeli istri saya 'mandul' dan 'wanita tak berharga' hanya karena Ibu ingin memuluskan keinginan egois Ibu, Menikahkan saya dengan anak Kuncoro yang bahkan ibu tak tahu siapa dia sebenarnya?"
Damian menepuk meja dengan keras.
"Mulai detik ini, kerja sama dengan grup Kuncoro resmi dibatalkan. Tim legal sudah siap di luar. Dan kuasa hukum yang saya pilih juga sudah siap dengan semuanya. saya tak akan pernah menggunakan orang-orang yang ada di lingkaran anda, Bu. Saya akan benar-benar melakukan pembersihan total di perusahaan ini!" Damian tegas
Pak Kuncoro gemetar. Dia tahu persis, jika dokumen itu sampai ke tangan pihak berwajib, bukan hanya reputasinya yang hancur, tapi ancaman penjara sudah menanti di depan mata.
Berlian menatap Damian dengan perasaan campuran antara benci dan ketakutan yang luar biasa.
"Kamu benar-benar gila, Damian! Kamu akan kehilangan segalanya!"
"Yang akan saya hilangkan hanyalah racun," jawab Damian datar.
"Justru yang akan kehilangan segalanya adalah kalian! Karena kalian harus mengembalikan semua yang sudah kalian curi dari perusahaan Mahendra! Dan jumlah saham kalian tak cukup setelah aku hitung!" Jawab Damian tajam.
Bu Chintya terdiam seribu bahasa, ia tak menyangka bahwa 'badai' yang dimaksud Damian bukanlah sekadar ancaman, melainkan kehancuran total bagi orang-orang yang selama ini dia lindungi. Untuk pertama kalinya, sang ibu yang dominan itu sadar bahwa dia telah kehilangan kendali sepenuhnya atas anaknya.
mau yg alami atau buatan ,,
sebelum jantung anda kehilangan pasokan oksigen Selama rapat ,,
😏😏😏😏😏 ,,
kejahatan Dan kecurangan anda cukup di enam tahun aj bu ,, udh terlalu kenyang ,,
gx baik klo sampe kkenyangan bisa jdi penyakit ,,
penyakit serakah 😏😏😏😏😏😏