NovelToon NovelToon
Penjaga Jurang Iblis Yang Di Khianati

Penjaga Jurang Iblis Yang Di Khianati

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: edwin setiawan

Xiao Chen bukan jenius kultivasi. Di Klan Xiao, dia adalah "Sampah Abadi" - ranah kultivasinya stuck di Pemurnian Qi level 3 selama 1000 tahun. Karena itu, dia dibuang untuk menjaga Jurang Iblis, tempat paling hina di klan. Tidak ada yang tahu, Jurang Iblis itu adalah segel dunia, dan selama 1000 tahun Xiao Chen bertarung sendirian setiap malam melawan gelombang iblis yang tak berujung. Para iblis tidak takut pada Tetua Klan, mereka hanya takut pada satu nama: Xiao Chen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Klan Su Pindah Kota & Kompetisi Menyeduh Teh Pertama

---

Tiga hari setelah Su Qing'er ditemukan, Kota Batu Hitam kedatangan migrasi paling aneh dalam sejarahnya.

Bukan migrasi pengungsi karena iblis. Tapi migrasi satu klan penuh karena... ingin dekat dengan kedai teh.

Pagi-pagi jam 5, saat Mo Sha baru bangun dan masih menguap dengan mulut sebesar gua, dia melihat pemandangan yang membuatnya menggosok matanya yang kosong. Barisan panjang gerobak, kuda, dan pedang terbang, membawa perabotan, tanaman obat, tungku pil, bahkan genteng rumah, masuk lewat gerbang kota yang sudah diperbaiki.

Di depan barisan itu, Su Batian, Kepala Klan Su, berteriak dengan pengeras suara qi.

"PERHATIAN WARGA KOTA BATU HITAM! MULAI HARI INI, KLAN SU PINDAH MARKAS KE KOTA BATU HITAM! KAMI SUDAH BELI 30 RUMAH KOSONG DI SEBELAH KEDAI TEH! JANGAN KAGET KALAU BERISIK 2 HARI INI, TUKANG LAGI BONGKAR PASANG!"

Warga yang baru bangun untuk beli sayur mengira ada perang.

Xiao Chen yang dibangunkan oleh suara itu, keluar dari kedai dengan rambut masih berantakan, hanya memakai sandal jepit. Dia melihat Su Batian yang sedang mengarahkan tukang untuk menurunkan patung leluhur Klan Su setinggi 5 meter di tanah kosong sebelah kedainya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Xiao Chen dengan suara serak baru bangun.

Su Batian yang melihat Bos Teh keluar, langsung lari dengan membungkuk 90 derajat, sangat tidak pantas untuk Kepala Klan Nascent Soul.

"Tuan Bos Teh! Kami pindah! Biar dekat! Biar Qing'er tidak perlu bolak-balik jauh kalau mau belajar menyeduh teh! Lagipula Kota Giok Putih sudah tidak aman, banyak klan mengejek kami karena kami batalkan pertunangan dengan Klan Xiao lalu sekarang malah menjilat Klan Xiao lagi, eh maksudnya menjilat Klan Kedai Teh! Jadi sekalian pindah saja!"

Xiao Chen menatap 30 rumah yang dibeli Su Batian. Rumah-rumah itu adalah rumah-rumah orang kaya yang dulu mengungsi karena takut iblis. Sekarang dibeli kembali dengan harga 3 kali lipat oleh Klan Su.

"Uang dari mana?" tanya Xiao Chen.

"Dari menjual markas lama kami! Dan dari 7 Klan Besar yang meminjamkan! Mereka bilang kalau Klan Su pindah ke sini, mereka juga mau pindah! Tapi saya larang, nanti kota penuh, harga teh naik!"

Di loteng kedai, Su Qing'er yang mendengar ayahnya berteriak, mengintip dari jendela dengan wajah merah padam karena malu. "Ayah! Jangan berisik! Bos Teh baru bangun!"

Su Batian langsung menutup mulutnya dan berbisik, "Siap, Putri! Ayah berbisik!"

Ling'er yang juga baru bangun, turun dengan mata masih mengantuk, melihat pemandangan pindahan besar-besaran itu langsung semangat.

"Wah! Berarti mulai besok ada banyak pelanggan baru! Bos Teh, kita harus seduh lebih banyak teh!"

Xiao Chen menghela napas, tapi tidak melarang. Baginya, selama mereka tidak berisik setelah jam 7 malam dan bayar sewa tanah kota, dia tidak peduli.

Tapi 7 Tetua Klan Besar yang tenda mereka tergusur karena pembangunan rumah baru Klan Su, protes keras dalam bisikan.

"Nenek Air Tenang, Klan Su curang! Mereka bawa 200 orang! Kita cuma bawa 10 murid! Kita kalah saingan jadi murid kesayangan Bos Teh!" bisik Tetua Api Merah sambil mencoba memanaskan paku untuk tenda barunya.

Nenek Air Tenang yang bijak, tersenyum licik. "Tenang. Aku sudah punya rencana. Kita tidak bisa kalah dengan cara pindahan. Kita harus kalahkan mereka dengan cara lain. Cara yang Bos Teh suka."

"Apa?"

"Kompetisi."

Siang itu, jam 12, saat kedai paling ramai, Nenek Air Tenang berdiri di tengah alun-alun yang baru dibersihkan tukang Klan Su, dan mengumumkan dengan suara yang dibuat sehalus mungkin agar tidak dianggap berisik oleh Mo Sha.

"PERHATIAN! UNTUK MERAYAKAN BERGABUNGNYA KLAN SU KE DALAM KLAN KEDAI TEH DAN SEMBUHNYA PUTRI SU QING'ER, 7 KLAN BESAR DAN KLAN SU AKAN MENGADAKAN KOMPETISI MENYEDUH TEH PERTAMA! HADIAH UTAMA: 1 HARI MENJADI ASISTEN PRIBADI BOS TEH DAN DIAJARI CARA MEMBUAT TEH JAHE YANG TIDAK PAHIT!"

Mendengar pengumuman itu, seluruh Kota Batu Hitam bersorak. Bahkan Hu San yang sedang menagih utang pun ikut daftar.

Xiao Chen yang mendengar itu dari dalam kedai, hampir menyemburkan teh yang dia minum.

"Kompetisi apa?" tanyanya pada Ling'er.

Ling'er yang sudah didaftarkan oleh Nenek Air Tenang tanpa izin, menjawab semangat, "Kompetisi menyeduh teh, Bos Teh! Aku ikut! Kakak Qing'er juga ikut! Nenek Air Tenang bilang Bos Teh yang jadi juri!"

Su Qing'er yang duduk di sebelah Ling'er, mengangguk malu-malu. Kakinya sudah hampir sembuh total, perban hitam Xiao Chen masih dia pakai karena dia tidak mau melepasnya. "Aku... aku juga mau ikut, Bos Teh. Aku mau belajar sungguh-sungguh. Selama 3 hari ini aku sudah belajar dari Ling'er."

Xiao Chen menatap dua gadis itu. Satu 12 tahun, satu 15 tahun, keduanya menatapnya dengan mata berharap. Dia tidak bisa menolak.

"Baiklah. Tapi peraturannya aku yang buat," kata Xiao Chen.

Sore itu, jam 4, kompetisi dimulai di depan Kedai Teh. Meja-meja disusun. Peserta ada 40 orang: 8 Tetua Nascent Soul, 20 murid elit 7 Klan Besar, 10 warga Kota Batu Hitam, Ling'er, dan Su Qing'er.

Juri hanya satu: Xiao Chen, duduk di kursi bambunya, dengan Mo Sha di belakangnya sebagai penjaga agar tidak ada yang protes hasil juri dengan berisik.

Peraturan kompetisi yang dibuat Xiao Chen sangat sederhana dan sangat tidak masuk akal bagi kultivator.

"Peraturan: Tidak boleh pakai qi. Tidak boleh pakai api spiritual. Tidak boleh pakai air suci. Hanya boleh pakai tangan biasa, air sumur biasa, daun teh biasa, dan jahe biasa. Siapa yang tehnya paling enak menurutku, dia menang. Waktu 30 menit."

Para Tetua Nascent Soul yang sudah 200 tahun tidak menyeduh teh tanpa pakai qi, langsung panik. Tetua Api Merah mencoba menyalakan api dengan korek kayu biasa, tangannya gemetar dan gagal 10 kali. Tetua Petir mencoba mengiris jahe, malah mengiris jarinya sendiri karena tidak boleh pakai qi pelindung.

Warga biasa malah lebih jago, karena mereka memang setiap hari menyeduh teh tanpa qi.

Ling'er dan Su Qing'er adalah yang paling tenang. Ling'er karena dia sudah 24 hari membantu Bos Teh, dia sudah hafal takaran: 3 lembar daun teh, 2 iris jahe tipis, air 80 derajat, bukan 100. Su Qing'er karena dia diajari Ling'er dengan sangat serius 3 hari ini, dia mencatat setiap langkah di buku kecilnya.

30 menit berlalu cepat, penuh dengan kepanikan, tumpahan air, dan bisikan "jangan berisik" dari Mo Sha setiap kali ada yang berteriak karena kepanasan.

Satu per satu teh dihidangkan ke Xiao Chen.

Teh Tetua Pedang Azure: terlalu pahit, karena daunnya diremas terlalu keras pakai tenaga kultivator.

Teh Tetua Api Merah: gosong, karena airnya mendidih 100 derajat dan dia lupa mendinginkan.

Teh Tetua Tanah Kokoh: ada pasir di dalamnya, karena dia menyeduh terlalu dekat tanah.

Teh warga: lumayan, tapi jahe nya terlalu tebal.

Sampai akhirnya, dua cangkir terakhir.

Cangkir Ling'er: warna coklat keemasan bening, uapnya harum jahe tidak menyengat, rasanya hangat pas.

Xiao Chen meminumnya, mengangguk. "Enak. Seperti biasa. Nilai 8."

Ling'er tersenyum bangga.

Cangkir terakhir, Su Qing'er. Gadis itu menyajikannya dengan tangan gemetar, wajahnya merah.

Xiao Chen mengambil cangkir itu. Warnanya sedikit lebih pucat dari punya Ling'er, tapi ada sesuatu yang berbeda. Di dalam teh itu, ada satu kelopak bunga putih kecil yang mengapung. Bunga yang tumbuh di Hutan Kabut Hitam, bunga yang hanya mekar di tempat paling beracun, tapi kelopaknya harum.

Xiao Chen meminumnya.

Rasanya... teh jahe biasa, tapi di akhir, ada rasa manis tipis, bukan dari gula, tapi dari... permen jahe. Su Qing'er memasukkan sedikit permen jahe yang diberikan Xiao Chen dulu, yang sudah dia simpan 10 tahun, yang meleleh, ke dalam tehnya.

Xiao Chen terdiam sesaat. Dia menatap Su Qing'er.

"Kenapa kasih permen?" tanyanya.

Su Qing'er menunduk, memainkan ujung bajunya. "Karena... karena permen Kakak Penjaga dulu manis. Aku mau teh Kakak Penjaga juga manis. Biar Kakak tidak sedih lagi kalau minum teh sendirian."

Keheningan. Bahkan Mo Sha yang tidak mengerti teh, merasakan sesuatu yang hangat.

Xiao Chen menyeruput lagi teh itu sampai habis, sampai tetes terakhir.

"Nilai 9," katanya pelan. "Menang."

Su Qing'er membelalak, lalu melompat kegirangan, tapi langsung meringis karena kakinya masih sakit, membuat semua orang tertawa.

Ling'er tidak cemburu, dia malah memeluk Kakak Qing'er. "Kakak Qing'er menang! Kakak Qing'er jadi asisten Bos Teh!"

Nenek Air Tenang dan 7 Tetua lainnya bertepuk tangan, walaupun dalam hati mereka sedikit kecewa kalah dari dua gadis kecil, tapi mereka juga senang, karena kompetisi itu membuat suasana kota yang tadinya tegang karena iblis, menjadi hangat.

Hadiahnya diberikan malam itu: Su Qing'er boleh duduk di sebelah Xiao Chen selama 1 hari penuh besok, melihat cara Xiao Chen menyeduh teh dari pagi sampai malam, tanpa diganggu siapa pun.

Malam itu, setelah kompetisi, Su Batian mendekati Xiao Chen yang sedang mencuci cangkir-cangkir kompetisi.

"Tuan Bos Teh," bisik Su Batian, "Qing'er... dia sepertinya..."

Xiao Chen memotong, "Aku tahu."

"Jadi... pertunangannya..."

"Biarkan dia sembuh dulu. Biarkan dia belajar menyeduh teh dulu. Pertunangan itu urusan nanti. Sekarang, dia muridku juga. Murid kedua Klan Kedai Teh," kata Xiao Chen.

Su Batian mengangguk dengan mata berkaca-kaca, sangat setuju. Baginya, menjadi murid Bos Teh jauh lebih terhormat daripada menjadi menantu Klan Xiao.

Di loteng, Su Qing'er yang sudah tidur karena lelah kompetisi, memeluk cangkir juara nya, dan di dalam cangkir itu, dia menyimpan permen jahe terakhir yang diberikan Xiao Chen tadi sore.

Dan di luar, Mo Sha menjaga pintu dengan dua cangkir kosong di depannya, merasa malam itu tehnya terasa lebih manis dari biasanya, walaupun dia tidak tahu kenapa.

1
Abil Amar
alur ceritanya kmn ko g jlas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!