NovelToon NovelToon
Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:51.4k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.

Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.

Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.

Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Keluarga Black Card

Sion menyerahkan satu kartu kepada Sean dan satu lagi kepada Shia. "Mereka menginginkannya."

"Mereka masih tujuh tahun."

"Justru karena masih tujuh tahun." Sion tersenyum tipis. "Biarkan mereka tahu kalau ayahnya jauh lebih kaya dari kakek buyutnya."

Kakek Edwin langsung mendengus. "Jadi ini masalah gengsi?"

Sion menjawab santai. "Anggap saja begitu."

Raina menatap ketiga kartu hitam yang kini ada di dalam mobil. Satu miliknya, lalu dua milik anak-anaknya. Ia tidak tahu harus tertawa atau menggeleng.

Hingga tiba-tiba saja Sion melemparkan dompetnya pada Raina seraya berkata, “Jika kau mau, kau bisa menyimpan semua kartu yang ada di dalam dompet milikku itu.

“Woah, aku sungguh tidak bisa berkata-kata lagi sekarang,” gumam Raina yang hanya menatap Sion dengan tatapan tak percaya.

Namun, dalam hatinya Raina sudah berteriak histeris, “Yes, aku kaya raya hanya dalam waktu satu malam. Harus aku apakan dengan semua kartu ini? Berbelanja? Tidak, mall itu juga miliknya aku bisa membelinya secara gratis. Haruskah aku membeli pulau, kapal pesiar mewah dan pesawat pribadi? Sepertinya itu ide yang sangat bagus.”

Sean memeluk kartu itu seolah baru mendapatkan harta karun. "Mamah, kita sekarang sama!"

Shia tersenyum lebar. "Kita menjadi keluarga black card!"

Raina akhirnya tertawa. "Jangan dibanggakan seperti itu."

Kakek Edwin ikut tertawa. "Biarkan mereka."

Sion kembali menjalankan mobil. Diam-diam, ia melihat Raina yang sedang tersenyum sambil menatap kedua anak mereka sembari memeluk dompetnya dengan erat. Entah kenapa, pemandangan sederhana itu membuat hatinya terasa hangat.

Delapan tahun lalu, Raina bahkan harus memikirkan apakah dirinya boleh membeli sesuatu untuk dirinya sendiri. Sekarang, perempuan itu duduk di mobil mewah dengan beberapa kartu black card di tangannya.

Bukan karena Sion ingin membeli rasa bersalahnya. Bukan pula karena uang dapat menggantikan delapan tahun yang telah hilang. Tetapi karena ia ingin Raina tahu satu hal. Mulai sekarang, tidak ada lagi yang berhak membuatnya merasa tidak pantas mendapatkan apa pun. Dan kalau dunia menganggap keluarga mereka terlalu berlebihan memanjakannya, Sion jelas tidak peduli. Karena setelah semua yang pernah Raina lalui, menurutnya... memanjakannya sedikit pun masih jauh dari cukup.

...****************...

Mobil berhenti tepat di depan gedung utama sekolah. Sean dan Shia langsung menempelkan wajah mereka ke kaca. Kakek Edwin, Sion dan Raina hanya bisa tersenyum gemas dengan kelakuan kedua anak kembar itu.

"Wah..."

Mata Sean berbinar. Shia bahkan sampai membuka mulutnya. Sekolah itu memang tampak berbeda dari sekolah pada umumnya. Gedung utamanya berdiri megah dengan arsitektur modern, taman luas yang terawat, lapangan olahraga yang lengkap, dan deretan bendera berbagai negara di depan aula. Raina pun turun dari mobil sambil menggandeng Shia. Sean mengikuti di sebelahnya.

Sion baru saja menutup pintu mobil ketika Kakek Edwin memanggilnya. "Sion."

Sion menoleh. "Ada apa, Kek?"

"Kau ikut aku sebentar."

Sion mengerutkan kening. "Kita tidak masuk?"

"Masuk nanti." Kakek Edwin menatap Raina. "Raina, kau bawa Sean dan Shia masuk dulu. Daftarkan mereka. Kami akan segera menyusul kalian."

Raina mengangguk. "Baik, Kek!"

...****************...

Sion masih terlihat penasaran. Namun Kakek Edwin sudah berjalan menuju sisi taman yang lebih sepi. Akhirnya Sion mengikuti. Setelah mereka cukup jauh dari Raina dan kedua anak itu, Kakek Edwin berhenti.

"Aku ingin membicarakan sesuatu sebelum kita mengambil hasil tes DNA."

Sion menatapnya. "Apa?"

"Kalau hasilnya positif..." Kakek Edwin menarik napas. "Kalau Sean dan Shia benar-benar cicit kandungku, aku akan menyerahkan sebagian besar aset yang kumiliki kepada mereka."

Sion terdiam. "Kek..."

"Jangan menolak."

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Aku tahu tatapanmu." Kakek Edwin tersenyum. Ia memandang gedung sekolah di kejauhan. "Selama delapan tahun aku bahkan tidak tahu bahwa aku punya dua cicit."

Suara lelaki tua itu terdengar berat. "Aku tidak bisa memberikan hadiah kelahiran kepada mereka. Tidak bisa melihat mereka tumbuh. Tidak bisa menyaksikan ulang tahun mereka."

Sion masih terdiam, ia jelas tahu penyesalan yang dirasakan oleh Kakeknya saat ini. Sebab penyesalannya jauh lebih besar dibandingkan dengan siapapun. Ia yang mengabaikan Raina, ia yang menceraikannya begitu saja dan ia juga yang membuat Sean dan Shia tumbuh tanpa perlindungan darinya sebagai seorang ayah.

"Jadi jika hasil tes itu menyatakan mereka benar-benar darah daging keluarga ini..." Kakek Edwin menepuk bahu Sion. "Anggap saja semua aset dan saham itu sebagai hadiah yang terlambat."

Sion menatap kakeknya beberapa detik, kemudian mengangguk. "Aku mengerti, Kek."

"Urus semuanya dengan baik."

"Baik."

Kakek Edwin tersenyum tipis. "Dan jangan katakan apa-apa kepada Raina dulu." Sion hanya mengangguk setuju.

"Kita tunggu hasilnya."

Mereka pun berbalik hendak kembali ke aula. Namun tak seorang pun dari keduanya tahu bahwa di dalam gedung sekolah, masalah sudah lebih dulu meledak. Dimana Raina dan kedua anaknya yang sebentar lagi akan menjadi orang paling kaya di Negara itu malah sedang dipermalukan.

...****************...

Di dalam gedung utama sekolah….

"Maaf, Nyonya." Seorang wanita yang mengenakan seragam guru berdiri di depan meja pendaftaran.

"Anak-anak ini ingin mendaftar di sini?"

Raina mengangguk. "Benar."

Guru itu melihat berkas di tangannya. Kemudian melirik Sean dan Shia dari ujung kepala sampai kaki. "Sepertinya anda salah tempat."

Raina mengerutkan kening. "Maksud Anda?"

"Sekolah kami ini adalah sekolah elit satu-satunya yang ada di Negara ini." Nada suaranya terdengar merendahkan. "Seleksi kami cukup ketat."

Raina menahan diri. "Karena itu saya ingin mendaftarkan kedua anak saya di sini. Aku bahkan sudah membawa seluruh dokumen yang diperlukan."

Guru tersebut bahkan tidak membuka berkas itu. "Dokumen bukan satu-satunya pertimbangan."

Seorang guru lain yang berdiri di belakangnya ikut tertawa kecil. "Anak-anak seperti ini biasanya akan kesulitan beradaptasi."

Raina menatap mereka. "Anak-anak seperti apa?"

Guru itu terdiam ketika Raina melangkah maju. "Saya bertanya."

Tidak ada jawaban, namun Kepala sekolah yang sejak tadi duduk di belakang meja akhirnya ikut bicara. "Nyonya, kami tidak bermaksud menyinggung."

"Tapi?"

"Kami hanya mempertimbangkan reputasi sekolah."

Raina tertawa sinis. "Dan menurut Anda, anak saya merusak reputasi sekolah?"

"Tidak begitu."

"Kalau begitu jelaskan."

Kepala sekolah menghela napas. "Status keluarga mereka sedikit..." Ia berhenti. "Rumit."

Raina langsung memahami maksudnya. "Rumit?"

Ia menunjuk dokumen di meja. "Karena nama ayah belum tercantum di akta kelahiran?"

Kepala sekolah tidak menjawab. Guru wanita tadi malah berkata, "Setidaknya Anda sadar."

Raina menatapnya tajam. "Sadar apa?"

"Bahwa kedua anak ini tidak memiliki ayah yang tercatat." Guru itu melanjutkan tanpa menyadari bahaya. "Di lingkungan sekolah seperti ini, kami tidak bisa menerima anak-anak dengan latar belakang keluarga yang—"

"Apa maksudmu?" Suara Raina memotong.

Guru itu terdiam, saat Raina beralih berdiri tepat di depannya. "Coba lanjutkan. Keluarga yang bagaimana yang kau maksud, hmm?"

Bersambung….

1
Fahmi Ardiansyah
bagus biar itu jadi pelajaran untuk calista
Fahmi Ardiansyah
keluarga yg bahagia n romantis
Fahmi Ardiansyah
bu bos LG marah Krn Narin calon adk iparnya terluka.
🇦 🇵 🇷 🇾👎
next
Budhe Satryo
Krn anak Calista TDK ad yg tau terima ksh pilih JD pengkhianat
Sri Yatun
karena Arlan sudah ketahuan bekerja sama dengan musuh untuk menghancurkan perusahaan dan Sion maka g ada ampun,apa lg setelah tau kalo anak anak nya mau d culik dan kemungkinan d perbudakan d dalam jaringan IT
Fahmi Ardiansyah
tu kan Ama author di bikin gak bisa apa apa makanya jgn suka jahat.
Fahmi Ardiansyah
ya alhamdulilah Narin kmu selamat
Fahmi Ardiansyah
Sion pasti tau n pasti ikut membantu membasmi hama hama itu.
Fahmi Ardiansyah
pasti akan menangkap basah ulah Calista.
Fahmi Ardiansyah
buat gak bisa apa apa biar merasakan sakit.
Fahmi Ardiansyah
akhirnya mereka setuju tinggal yg menjalaninya kita tunggu.
Budhe Satryo
yesss emang harusnyo diusir biar bingung nyari rumah
Budhe Satryo
keluarga bahagia 😍😍😍😍
🇦 🇵 🇷 🇾👎
usir🤣
🇦 🇵 🇷 🇾👎
ksiab
juwita
harus nya km jg waspada Sion aj di khianati pdhl dia yg ngasih tempat tinggal. apa lg km yg bkn apa" dia cm mau bantu itu pun klo berhasil klo gagal ya wasallam🤣🤣🤣
Budhe Satryo
Bu bos mode marah 🤣
Budhe Satryo
semoga narin TDK dihukum ma tuan sion
Budhe Satryo
karma dibayar cepat tukmu Calista
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!