NovelToon NovelToon
SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DESIR HARUS DI BALIK EMBUN DAN BATAS RASA

Perasaan itu tumbuh tanpa permisi. Seperti benih yang disiram rintik hujan secara perlahan, rasa di dalam dada Aisyah terhadap Ammar kini telah mengakar begitu dalam. Sikap Ammar yang dingin namun penuh perhatian, cara pria itu membimbingnya belajar wudhu dan sholat tanpa menghakimi, serta momen manis di dapur pada hari Minggu kemarin, sukses meruntuhkan seluruh pertahanan hati Aisyah.

Aisyah sadar, dirinya yang seorang anak jalanan biasa kini telah jatuh cinta setengah mati pada Habib muda yang menjadi suaminya itu.

Sore itu, hujan deras mengguyur kota. Suara gemericik air yang menghantam genteng menambah dingin suasana rumah. Aisyah baru saja selesai mandi di kamar mandi dalam kamar utama. Uap air hangat masih memenuhi ruangan. Namun, begitu ia hendak meraih pakaian ganti di atas rak kamar mandi... matanya membelalak kaku.

"Ya Allah... bajunya tertinggal di atas kasur!" rutuk Aisyah pada dirinya sendiri.

Ia menepuk jidatnya pelan. Karena terlalu buru-buru mandi usai membantu Ibu di dapur, ia lupa membawa baju ganti. Aisyah mengintip lewat celah pintu kamar mandi. Jam dinding menunjukkan pukul empat sore. Biasanya, Ammar baru pulang dari mengajar di pesantren sekitar jam enam sore.

"Mas Ammar pasti belum pulang. Jam segini dia kan masih mengajar di pesantren," gumam Aisyah menenangkan hatinya.

Mengandalkan pemikiran itu, Aisyah memberanikan diri membuka pintu kamar mandi. Ia melangkah keluar hanya dengan balutan handuk mandi berwarna putih setinggi dada yang melilit tubuh rampingnya. Bahu mulusnya yang basah oleh sisa titik air terpapar jelas di udara dingin, sementara rambut hitam panjangnya yang basah terurai berantakan membasahi bagian atas handuknya.

Aisyah melangkah jinjit menuju lemari pakaian. Namun, baru tiga langkah berjalan...

DEG!

Langkah kaki Aisyah terkunci total di atas lantai marmer! Matanya membelalak selebar-lebarnya, napasnya tertahan di tenggorokan!

Di atas sofa kulit di sudut kamar, Ammar sedang duduk tegap!

Pria itu rupanya sudah pulang lebih awal karena hujan deras. Ammar mengenakan baju koko putih yang kancing atasnya terbuka sedikit dan celana kain gelap. Ia sedang memegang sebuah kitab tebal. Namun, pendengaran Ammar yang tajam menangkap suara pintu kamar mandi terbuka, membuat pria itu secara refleks mendongakkan kepalanya.

Mata cokelat terang milik Ammar beradu lurus dengan penampilan Aisyah yang hanya terbungkus handuk tipis selutut!

Keduanya membeku di tempatnya masing-masing.

Mata Ammar membelalak hebat. Kitab tebal di tangannya terlepas dan jatuh ke atas sofa. Pria itu menatap tubuh polos istrinya yang masih berkeringat air hangat bahu yang terbuka, leher jenjang, dan sepasang kaki mulus yang tak tertutup apa pun. Jakun Ammar naik-turun saat ia menelan ludah secara refleks, darah di tubuhnya berdesir hebat hingga wajah tampannya memerah kaku.

"A-Aaaah!" Aisyah menjerit tertahan seraya menutup dadanya dengan kedua tangan.

Rasa malu yang luar biasa membakar seluruh permukaan kulit Aisyah. Panik, ceroboh, dan tanpa berpikir panjang, Aisyah langsung berbalik dan berlari kencang kembali menuju kamar mandi!

Namun, kesialan justru menghampirinya.

Lantai marmer di depan kamar mandi masih basah dan licin akibat tetesan air dari tubuhnya sendiri!

"Awaasss—!"

SREK! BRUK!

"Aww! Sakiiitt!" jerit Aisyah kesakitan.

Kaki kanannya tergelincir hebat. Tumit Aisyah terputar kaku sebelum tubuhnya tersungkur ke lantai. Handuk tipisnya hampir saja terlepas jika saja Aisyah tidak mencengkeram ujung kainnya dengan erat. Rasa nyeri yang teramat sangat seketika menjalar dari pergelangan kaki kanannya hingga ke pinggang.

Ammar yang melihat kejadian itu langsung melompat dari sofa bagaikan kilat!

"Aisyah!"

Ammar melintasi ruangan dalam hitungan detik. Tanpa mempedulikan aurat atau kecanggungannya lagi, Ammar berlutut di samping Aisyah yang sedang meringis menangis seraya memegangi pergelangan kakinya.

"Kamu tidak apa-apa?! Mana yang sakit?!" tanya Ammar panik, suaranya bergetar hebat.

"Kakiku... hsshh... sakit banget, Mas! Terkilir!" tangis Aisyah pecah, air mata menetes membasahi pipinya yang memerah.

Melihat rasa sakit yang tak tertahankan di wajah istrinya, tanpa ragu sedikit pun Ammar menyelipkan tangan kirinya di bawah punggung Aisyah dan tangan kanannya di bawah lipatan lutut wanita itu.

SET!

Ammar membopong tubuh ringan Aisyah ke dalam pelukannya!

Aisyah terperanjat, secara refleks melingkarkan kedua tangannya di leher tegap Ammar untuk menjaga keseimbangan. Dadanya menempel erat di dada bidang Ammar. Bau harum parfum minyak zaitun dan aroma maskulin dari tubuh Ammar seketika menyeruak memenuhi indra penciumannya.

Ammar melangkah cepat menuju kasur king size, lalu dengan sangat perlahan merebahkan tubuh Aisyah di atas kasur empuk tersebut.

Ammar ikut bertumpu di atas kasur, menundukkan tubuhnya di atas Aisyah untuk memastikan pegangan tangannya tidak membuat kaki Aisyah makin sakit. Namun, saat Ammar hendak menarik tubuhnya mundur...

Kain handuk Aisyah tersingkap sedikit di bagian bahu.

Posisi mereka kini teramat dekat. Wajah Ammar hanya berada beberapa senti tepat di atas wajah Aisyah. Napas memburu Ammar yang hangat berembus menerpa bibir dan leher Aisyah.

Aisyah menghentikan ringisannya. Matanya yang berkaca-kaca menatap lurus pada raut wajah tegap pria di atasnya. Rahang tegas Ammar, hidung mancungnya yang sempurna, serta bibir tipis merah kehitaman milik Ammar yang berada begitu dekat di depan matanya...

Desiran cinta yang meluap-luap di dada Aisyah, bercampur dengan atmosfer panas dan dinginnya hujan di luar, mendadak melumpuhkan akal sehat Aisyah. Cinta yang selama ini dipendamnya menuntut untuk diungkapkan.

Tatapan mata cokelat Ammar yang dalam dan sarat akan gairah terselubung seolah menjadi dorongan tak kasat mata yang menghipnotis Aisyah.

Aku cinta sama kamu, Mas... batin Aisyah menjerit.

Didorong oleh keberanian yang nekad dan kepasrahan seorang istri yang mencintai suaminya, Aisyah mendongakkan kepalanya. Ia menaikkan bahunya, lalu dengan satu gerakan pasti... Aisyah mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir tipis Ammar!

DEG!

Tubuh Ammar membeku total bagaikan tersambar petir di siang bolong!

Aisyah tidak berhenti di situ. Dengan rasa cinta yang membara, Aisyah memejamkan matanya erat-erat dan mulai melumat bibir Ammar dengan lembut namun penuh penekanan, menyalurkan seluruh rasa cinta, kepasrahan, dan kerinduan yang selama ini mengurung hatinya. Tangannya di leher Ammar meremas kerah kemeja pria itu lebih erat, menarik tubuh Ammar agar makin rapat padanya.

Rasa hangat, lembut, dan manis dari bibir Aisyah menghantam pertahanan Ammar hingga hancur berkeping-keping!

Sensasi lumatan berani dari istrinya seketika menyulut api insting maskulin yang selama ini terendam di dalam diri Ammar. Rasa lapar seorang pria dewasa yang menahan gairah berbulan-bulan meledak seketika!

Ammar mengerang rendah di dalam tenggorokannya.

Ia tidak membuang waktu lagi. Dengan insting laki-lakinya yang bangkit liar, Ammar membalas ciuman itu dengan sangat brutal dan bergelora!

Tangan tegap Ammar menangkup rahang Aisyah, menahannya agar tidak bisa melarikan diri, sementara bibirnya melumat dan menyesap bibir Aisyah dengan dominasi yang luar biasa mendalam. Ciuman itu berubah menjadi sangat panas, menuntut, dan sarat akan gairah yang membakar.

Aisyah melenguh pasrah di dalam ciuman Ammar. Tubuhnya gemetar hebat menerima balasan brutal dari suaminya. Tangan Ammar yang lain bergerak turun ke pinggang Aisyah, menarik tubuh berbalut handuk itu makin menempel tanpa jarak pada tubuhnya yang tegap.

Udara di dalam kamar mendadak terasa sangat panas dan menyesakkan. Napas keduanya memburu, saling berebut oksigen di antara lumatan bibir yang tak kunjung terputus. Nafsu liar dan gairah membara telah merangkak naik hingga ke ubun-ubun Ammar.

Tangan Ammar perlahan menyusup ke bawah punggung Aisyah, hendak melepaskan ikatan handuk tipis yang membatasi kulit mereka...

Namun, tepat di saat ikatan handuk itu melonggar...

Aisyah mendesah pelan, menatap Ammar dengan mata sayu yang dipenuhi kepasrahan total. Di dalam matanya, Ammar tidak melihat adanya penolakan hanya ada kepasrahan seorang wanita yang siap menyerahkan seluruh dirinya.

Tetapi... di dalam mata polos itu juga, Ammar menangkap sebuah ruang kosong. Sebuah keraguan yang tersembunyi.

Apakah dia melakukan ini karena mencintaiku... atau hanya karena kewajiban dan rasa takut sebagai seorang istri?

Pertanyaan itu menghantam kesadaran Ammar bagaikan siraman air es yang teramat dingin!

Akal sehat dan nurani Ammar yang tertutup kabut gairah seketika tersentak bangun!

"Astaghfirullah...!"

Ammar menarik dirinya secara mendadak!

Ia melepaskan pagutan bibirnya dari Aisyah. Ammar melompat mundur dari atas kasur, berdiri tegap di samping ranjang dengan tubuh gemetar hebat. Dadanya naik-turun memburu secara liar, mencoba meraup udara segar sebanyak-banyaknya. Pria itu memalingkan wajahnya rapat-rapt ke arah jendela, menutupi wajahnya yang membara merah padam dengan kedua telapak tangannya.

Aisyah terbaring kaku di atas kasur. Bibirnya yang sedikit bengkak dan merah merona masih terasa panas bekas usapan dan lumatan Ammar. Matanya membelalak bingung dan terluka menatap punggung Ammar yang gemetar.

"M-Mas Ammar...?" bisik Aisyah dengan suara parau bergetar, mencoba merapatkan kembali kain handuknya yang hampir terlepas. "Kenapa...?"

Ammar memejamkan matanya erat-erat di balik telapak tangannya. Buku-buku jarinya memutih karena mengepal keras. Gejolak di dalam dadanya sangat menyiksa, namun prinsip hidup dan keagungan jiwanya menolak untuk tunduk pada nafsu belaka.

"Saya... tidak bisa, Aisyah," ucap Ammar dengan suara bariton yang sangat parau, berat, dan dipenuhi penyesalan yang mendalam.

Aisyah merasa hatinya bagaikan ditusuk ribuan jarum tajam. Air mata kekecewaan menetes di sudut matanya. "Kenapa, Mas? Aku ini istri sah kamu... Aku... aku siap menyerahkan semuanya buat kamu..."

Ammar berbalik perlahan, menatap Aisyah. Namun matanya dikunci lurus pada selimut di bawah kaki Aisyah, menolak menatap kulit polos istrinya.

"Kamu memang istri sah saya, Aisyah," tutur Ammar dengan suara rendah yang teramat lembut namun tegas. "Tapi saya bukan pria yang akan menyentuh tubuh istrinya hanya didorong oleh nafsu sesaat."

Ammar menghembuskan napas panjang, menetralkan detak jantungnya yang masih bergemuruh.

"Saya tidak akan pernah mensetubuhi kamu... jika di dalam pernikahan ini belum ada rasa cinta yang tulus dan utuh di antara kita berdua," lanjut Ammar jujur, mengungkapkan isi hatinya yang terdalam. "Saya ingin kita melakukan itu karena saling mencintai dengan sadar, bukan karena terjebak suasana atau hanya sekadar menggugurkan kewajiban."

Aisyah terpaku di tempatnya. Kata-kata Ammar menggelegar di dalam dadanya.

Dia... tidak mau melakukannya kalau tidak ada rasa cinta?

Air mata Aisyah menetes makin deras, namun kali ini bukan karena kecewa, melainkan karena rasa haru yang luar biasa. Pria di hadapannya ini benar-benar seorang pria sejati seorang Habib yang sangat menghormati kesucian sebuah hubungan dan tidak mau memanfaatkan kepasrahan istrinya demi memuaskan nafsu belaka.

Ammar melangkah ke lemari, mengambil sebuah gamis panjang dan jilbab milik Aisyah tanpa menoleh. Ia meletakkan pakaian itu di tepi kasur.

"Pakailah bajumu," ucap Ammar halus, membalikkan badannya membelakangi kasur. "Setelah itu, biar saya periksa dan kompres pergelangan kakimu yang terkilir."

Aisyah menyapu air matanya, meraih pakaian tersebut dengan senyuman hangat yang mengembang di bibirnya. Di dalam hatinya, Aisyah makin yakin... rasa cinta yang tumbuh di dadanya untuk Ammar bukanlah sebuah kesalahan, melainkan hadiah terindah yang dikirimkan Tuhan dalam hidupnya.

1
Lilis Ilham
kasihan juga zahra
falea sezi
lanjut q kriim bunga
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!