Berawal dari niat Baik yang berujung pada jatuhnya ia dari lantai dua puluh Gedung Dingfeng.
Jiang Chen, seorang pemuda yang putus asa mencari pekerjaan, secara tidak sengaja mewarisi jutaan pengetahuan rahasia medis dan kekuatan kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Jiang Chen hanya terkekeh pelan dan melanjutkan bacaannya dengan lebih spesifik.
"Kedua, kau punya bekas luka bakar kecil berbentuk bulan sabit di paha kiri bagian dalammu."
"Jaringan kulit di sekitar luka itu sedikit menonjol karena kau tidak menggunakan salep yang benar saat kejadian itu terjadi."
Grep.
Mengqi secara refleks langsung menutupi paha kirinya dengan kedua tangannya sambil melotot horor ke arah Jiang Chen.
Bekas luka itu ada di tempat yang sangat tertutup dan hanya diketahui oleh dirinya sendiri dan ibunya.
Pemuda mesum ini pasti memandangi bagian bawah tubuhnya dengan sangat detail saat di kamar mandi tadi hingga bisa melihat bekas luka kecil itu.
"Kau, kau benar-benar monster mesum yang tidak tertolong lagi!" jerit Mengqi dengan wajah semerah kepiting rebus.
"Aku hanya memindai anatomi tubuhmu secara objektif untuk membuktikan kejeniusanku, kenapa kau malah marah lagi?" balas Jiang Chen frustrasi.
"Menjelaskan masalah medis pada wanita awam ternyata lebih melelahkan daripada mengobati orang sekarat."
Jiang Chen melangkah santai menuju koper plastik tipisnya di atas meja, sama sekali tidak mempedulikan kemarahan Mengqi.
"Sekarang minggir sedikit Nona, aku mau ganti baju sebelum tubuh jeniusku ini masuk angin karena terus memakai pakaian basah."
Mengqi segera melangkah mundur merapatkan tubuhnya ke dinding, memberikan jalan selebar mungkin bagi pemuda aneh itu.
Otaknya masih berputar kacau memproses kenyataan bahwa dia harus tinggal satu atap dengan monster ini.
Jiang Chen berjalan menuju pintu kamar utama yang masih terbuka lebar dan langsung masuk ke dalamnya.
Blam.
Pintu kamar itu ditutup dengan cukup keras, meninggalkan Mengqi yang masih mematung sendirian di ruang tamu.
Gadis itu menarik napas panjang berkali-kali untuk menenangkan detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan.
"Ini benar-benar mimpi buruk di siang bolong," gumam Mengqi sambil memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri.
"Tapi demi uang puluhan ribu Yuan dan tempat tinggal gratis, aku harus bisa bertahan menghadapi pria aneh itu."
Mengqi berjalan cepat menuju kamarnya sendiri di sebelah kamar utama dan segera mengunci pintunya dari dalam.
Dia langsung membuka lemari pakaian dan mengambil sebuah buku catatan kecil beserta sebuah spidol tebal berwarna merah.
'Aku harus membuat peraturan yang sangat ketat agar pria mesum itu tidak berani macam-macam denganku,' batin Mengqi bertekad bulat.
Tiga puluh menit kemudian, suara pintu kamar utama terdengar terbuka.
Jiang Chen melangkah keluar dari kamarnya mengenakan pakaian yang jauh lebih bersih, meskipun masih terlihat murah.
Dia memakai kaus putih polos yang sedikit kebesaran dan celana selutut berwarna abu-abu pudar.
Rambutnya sudah dikeringkan menggunakan handuk, membuatnya terlihat sedikit lebih rapi daripada saat pertama kali datang.
Bruk.
Sebuah buku catatan kecil dilemparkan dengan kasar ke atas meja kaca tepat di hadapan Jiang Chen.
Pemuda itu menoleh dan melihat Chu Mengqi sudah duduk di ujung sofa sambil bersedekap dada.
Gadis itu juga sudah mengganti piyamanya dengan setelan kaus oblong longgar dan celana panjang tebal yang sangat tertutup.
"Apa ini? Surat wasiatmu sebelum kau menyerah pada kejeniusanku?" canda Jiang Chen sambil mengambil buku catatan itu.
"Itu adalah Peraturan Dasar Apartemen yang harus kau patuhi selama kita tinggal berdua di tempat ini," jawab Mengqi dengan nada yang sangat resmi dan dingin.
"Kalau kau melanggar satu saja dari peraturan itu, aku akan langsung menelepon Direktur Su untuk mengusirmu ke jalanan."
Jiang Chen mendecakkan lidahnya dan mulai membaca tulisan cakar ayam berwarna merah di buku tersebut.
"Peraturan pertama, dilarang keluar kamar tanpa menggunakan pakaian yang lengkap dan tertutup."
Jiang Chen membaca aturan pertama itu dengan suara keras lalu tertawa meremehkan.
"Hei Nona, aku ini bukan orang yang suka telanjang di sembarang tempat sepertimu," sindir Jiang Chen sengaja memancing emosi gadis itu.
"Siapa yang suka telanjang di sembarang tempat?! Aku sedang mandi di kamar mandiku sendiri, bodoh!" bentak Mengqi kembali tersulut emosinya.
"Lanjutkan membaca aturan berikutnya dan jangan banyak komentar!"
Jiang Chen mengusap telinganya yang berdenging lalu kembali menatap buku catatan itu.
"Peraturan kedua, wilayah ruang tamu dan dapur dibagi menjadi dua zona kekuasaan."
"Kau tidak boleh melanggar batas garis merah yang nanti akan aku tempel di lantai."
Jiang Chen mengerutkan keningnya membaca aturan konyol yang mengingatkannya pada pertengkaran anak sekolah dasar ini.
"Lalu bagaimana kalau aku mau mengambil minum di kulkas yang ada di zonamu?" tanya Jiang Chen logis.
"Kau harus meminta izin tertulis padaku, atau bayar denda sepuluh Yuan setiap kali kau melewati garis merah," jawab Mengqi mantap dengan wajah angkuh.
Mendengar kata denda uang, mata Jiang Chen langsung memicing tajam.
Wanita ini rupanya mencoba memainkan taktik pemerasan ekonomi padanya di hari pertama mereka tinggal bersama.
"Bagus sekali pemerasanmu ini Nona Chu, mari kita lihat apakah kau masih berani menagihku sepuluh Yuan nanti," batin Jiang Chen sambil tersenyum licik.
Dia kembali menundukkan kepalanya dan membaca peraturan terakhir yang ditulis dengan huruf kapital sangat besar.
"Peraturan ketiga, dilarang keras saling mencampuri urusan pribadi dan kehidupan asmara masing-masing di luar apartemen ini."
Jiang Chen langsung menutup buku catatan itu dan melemparkannya kembali ke atas pangkuan Mengqi.
"Aturan ketiga ini yang paling kusukai dari semua bualan panjangmu barusan," ucap Jiang Chen dengan nada sangat setuju.
"Aku punya banyak pelanggan wanita kaya di luar sana, jadi tolong jangan berpura-pura cemburu kalau ada yang datang mencariku."
Chu Mengqi mendengus jijik seolah baru saja mendengar lelucon paling tidak lucu abad ini.
"Cemburu padamu? Aku lebih memilih berpacaran dengan tiang listrik jalanan daripada dengan pria mesum bermulut tajam sepertimu," balas gadis itu telak.
"Bagus, karena aku juga tidak tertarik pada gadis barbar kurang gizi yang siklus bulanannya selalu telat," serang balik Jiang Chen tanpa ampun.
Perang mulut ronde kedua hampir saja meledak di ruang tamu tersebut.
Keduanya saling melempar tatapan tajam yang memancarkan kilatan petir kebencian yang sangat nyata.
Namun perut Jiang Chen tiba-tiba berbunyi sangat keras memecah keheningan yang menegangkan itu.
Krucuk krucuk.
Meskipun semalam dia sudah makan dua porsi nasi goreng, tenaga dalamnya kembali terkuras untuk berdebat panjang lebar dengan Lin Feng dan Chu Mengqi pagi ini.
Mengqi langsung tertawa mengejek mendengar suara perut pria arogan di depannya itu.
"Ternyata dokter jenius suami direktur utama masih bisa kelaparan seperti manusia normal," ejek Mengqi sambil berdiri dari sofa.
"Aku mau membuat sarapan mi instan di dapur, dan karena dapur ada di wilayahku, kau dilarang keras menyentuh kompor."
Gadis itu berjalan melenggang menuju area dapur mungil dengan senyuman kemenangan yang sangat menyebalkan.
Jiang Chen hanya bisa mengusap perutnya sambil menatap punggung gadis itu dengan pandangan membunuh.
'Tunggu saja Nona barbar, aku akan membuatmu memohon padaku untuk makan masakanku suatu hari nanti,' sumpah Jiang Chen dalam hati.
Hari pertama Jiang Chen di apartemen mewahnya ternyata sama sekali tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi indah di kepalanya.
Kehidupan tinggal bersama seorang mahasiswi ceriwis ini dipastikan akan jauh lebih menguras tenaga dalamnya daripada melawan puluhan pembunuh bayaran sekalipun.
Dia berjalan lemas menuju kamarnya sendiri untuk kembali merebahkan tubuhnya yang kelelahan.
Jiang Chen harus segera menghemat energinya sebelum perutnya benar-benar memberontak.