NovelToon NovelToon
KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Mengubah Takdir / Trauma masa lalu / Chicklit
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Sebuah kisah nyata tentang kehidupan seorang gadis cantik berhati lembut yang dipenuhi dengan beragam kebohongan yang ia buat hanya karena ia takut dengan apa yang akan ia hadapi,
Hingga akhirnya berujung dengan pernikahan yang membuatnya harus mengubur dalam dalam rasa penyesalannya karena harus berusaha untuk mencintai hal yang dicintai oleh suaminya, termasuk agama dan keyakinan pria yang menjadi pemuja hatinya itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Tabir yang Terkuak di Ujung Sajadah dan Jejak Darah Pengkhianatan

Keheningan rumah tua di sudut Jakarta Selatan itu mendadak menjelma menjadi keheningan yang mencekam—jenis kesunyian yang senantiasa mendahului badai besar. Aroma kayu cendana yang tadinya menentramkan jiwa kini terasa kian pekat, membelit paru-paru Naya hingga setiap tarikan napasnya menyisakan rasa sesak yang menyiksa.

Di atas sajadah yang masih terbentang, genggaman tangan Gavin terasa begitu hangat, mengalirkan kekuatan yang teramat nyata ke dalam jemari Naya yang dingin membeku. Namun, kata-kata pria itu yang berjanji untuk bersama-sama mengubah takdir serasa berbenturan keras dengan kenyataan pahit yang baru saja menampar jiwanya.

Siska. Nama itu bagaikan sembilu yang mengoyak luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.

"Naya... pandang aku," bisik Gavin lembut, menangkup kedua pipi Naya dengan jemarinya yang berbalut perban. "Jangan biarkan bayang-bayang masa lalu itu menarikmu kembali ke dalam kegelapan. Kita sudah melangkah sejauh ini."

Naya mendongak. Air mata pernikahan yang menggenang di pelupuk matanya memantulkan bayangan pria yang begitu memujanya. Pria yang tetap berdiri kokoh menyayanginya, bahkan setelah mengetahui bahwa seluruh pilar kehidupannya dibangun di atas fondasi kebohongan yang ia ciptakan karena rasa takut yang melumpuhkan.

"Bagaimana aku bisa tenang, Gavin?" suara Naya bergetar hebat, pecah dalam ketakutan yang teramat sangat. "Selama ini aku berpikir... aku memalsukan identitasku, aku berpura-pura menjadi wanita solehah, aku mempelajari agamamu hanya demi bertahan hidup dan menghindari takdir kelam keluargaku. Aku mengira kemalangan ayahku adalah murni ketidakadilan dunia. Tapi ternyata... ayahku terjerat dalam cinta terlarang. Beliau mengkhianati ibuku demi wanita bernama Siska itu!"

Naya meremas mukena putih yang masih melekat di tubuhnya. Tangisnya kembali pecah—sebuah lelehan air mata penyesalan yang membakar relung hati seorang wanita muslimah yang kini sadar betapa dalamnya ia telah melangkah dalam kepalsuan.

"Aku membenci diriku sendiri, Gavin," jerit Naya lirih, menenggelamkan wajahnya di atas pangkuan Gavin. "Aku berpura-pura mencintai apa yang kamu cintai. Aku merapikan hijab ini, aku menghafal ayat-ayat suci, dan aku bersujud di hadapan Allah hanya agar kamu tidak membenciku jika suatu hari kamu tahu aku ini wanita penakut yang penuh dosa! Dan sekarang... kenyataan tentang darah keluargaku justru makin menunjukkan betapa kotornya aku untuk bersanding denganmu..."

Gavin tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu justru melingkarkan kedua lengannya, mendekap tubuh Naya yang berguncang hebat dengan obsesi dan ketulusan yang tak tergoyahkan. Ia mengecup puncak hijab Naya berulang kali, menyerap setiap isak tangis dan rasa sakit yang ditumpahkan istrinya di atas sajadah.

"Dengar aku, Anindya Naya," tegas Gavin, suaranya sarat dengan kehangatan yang menggetarkan dada. "Mungkin di awal pernikahan kita, kamu mengenakan hijab ini karena takut padaku. Mungkin kamu bersujud hanya karena ingin menjadi sosok ideal dalam imaginasiku. Tapi malam ini, di bawah saksi air matamu sendiri, Allah melihat hatimu, Naya. Kebohongan yang kamu mulai dari rasa takut itu... kini telah menjelma menjadi keimanan dan cinta yang paling murni."

Gavin menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam mata Naya yang basah. "Aku tidak peduli seberapa kelam masa lalu ayahmu. Aku tidak peduli pada dosa perselingkuhan orang tua kita. Yang kupuja, yang kunikahi, dan yang ingin kupertahankan hingga akhir hayatku adalah kamu. Siska, Rian, atau siapa pun di luar sana tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan bahwa kamu adalah takdir yang kupilih!"

Tepat saat kata-kata Gavin menghujat kegelapan di hati Naya, sebuah dentuman keras menghantam gerbang besi depan rumah tua tersebut.

BRAK!

Suara besi beradu dengan benturan kendaraan membelah kesunyian malam Jakarta Selatan. Disusul oleh derap langkah kaki yang tergesa-gesa di atas rumput halaman yang basah oleh embun.

Gavin seketika melepaskan pelukannya. Matanya berkilat menajam, naluri perlingdungannya bangkit secara instan. Ia berdiri, menarik Naya berdiri di belakang tubuhnya.

"Gavin... apa itu?" bisik Naya ketakutan, jemarinya mencengkeram erat bagian belakang baju Gavin.

"Tetap di belakangku, Naya," bisik Gavin dingin. Pria itu dengan cepat meraih sebuah batang besi hiasan dari sudut meja kayu tua, melangkah perlahan menuju pintu kamar yang setengah terbuka.

Namun sebelum Gavin sempat menyentuh gagang pintu, pintu tersebut terdorong kuat dari luar. Seorang pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam melangkah masuk, namun langkahnya terhenti secara mendadak ketika sebuah tembakan memecah udara dari arah koridor luar.

DOR!

Pria berpakaian hitam itu roboh seketika di ambang pintu. Di belakangnya, berdiri dua orang pria berjas rapi yang sangat dikenal oleh Gavin—tim pengawal pribadi yang dikirim langsung oleh pengacara keluarga Ardiansyah.

"Pak Gavin! Ibu Naya! Anda berdua tidak apa-apa?!" seru salah satu pengawal, melangkah cepat melangkahi tubuh penyerang yang lumpuh di lantai.

"Apa yang terjadi di luar?!" bentak Gavin, napasnya memburu.

"Ada penyusup yang mencoba menerobos masuk, Pak! Sebuah mobil sedan hitam melarikan diri begitu kami tiba di lokasi. Kami berhasil melumpuhkan salah satu eksekutor mereka!" pengawal itu menjelaskan dengan cekatan sambil mengamankan area sekitar kamar.

Gavin memandangi penyerang yang tergeletak di lantai. Di genggaman tangan penyerang yang melayang lemas itu, tergeletak sebuah ponsel yang layarnya masih menyala. Sebuah nomor asing baru saja mematikan panggilan.

Naya yang masih berada di belakang Gavin bergetar hebat. Pengalaman dikejar-kejar, rasa takut akan bahaya yang mengintai, dan traumatic masa lalu saat ayahnya diseret oleh aparat seolah berputar kembali dalam pita memorinya. Kehidupan manis setelah patah hati yang ia nikmati selama tiga tahun pernikahan ini kini benar-benar diuji oleh badai kenyataan.

"Bawa pria ini ke kantor polisi dan pastikan interogasi berjalan cepat," perintah Gavin pada pengawalnya dengan nada tanpa kompromi. "Aku ingin tahu siapa yang menggerakkannya dalam waktu kurang dari satu jam!"

"Baik, Pak Gavin!"

Gavin kemudian berbalik, merangkul bahu Naya yang kaku. Ia menuntun istrinya kembali duduk di tepi pembaringan. Di atas meja di samping tempat tidur, ponsel Gavin kembali berdering. Namun kali ini, nama yang tertera di layar membuat dada Gavin makin bergemuruh: Pengacara Utama Ardiansyah Group.

Gavin menekan tombol penerima dan mengaktifkan pengeras suara.

"Selamat malam, Pak Gavin," suara Pak Hendra, pengacara senior kepercayaan almarhum ayah Gavin, terdengar tergesa-gesa dari balik telepon. "Saya baru saja menyelesaikan peretasan dan audit darurat terhadap berkas kepemilikan saham tersembunyi yang ditinggalkan oleh almarhum ayah Anda."

"Apa yang kamu temukan, Pak Hendra?" tanya Gavin cepat.

"Ini mengenai nama yang ditanyakan oleh pihak tak dikenal lewat telepon tadi, Pak," lanjut Pak Hendra dengan nada sangat serius. "Sepuluh tahun lalu, memang ada aliran dana ilegal sebesar puluhan miliar dari Ardiansyah Group yang dialihkan ke sebuah rekening cangkang atas nama Siska Wijaya. Dan yang paling mengejutkan..."

Pak Hendra menghentikan kalimatnya sejenak, membuat Naya dan Gavin menahan napas secara bersamaan.

"...Siska Wijaya bukan sekadar selingkuhan dari ayah Ibu Naya. Siska Wijaya adalah nama asli dari Ibu Eleanor Ardiansyah sebelum beliau menikah dengan almarhum ayah Anda dan mengubah nama keibuannya secara legal!"

DEG!

Dunia di sekitar Naya terasa runtuh seketika. Ruangan beraroma cendana itu seolah berputar dahsyat, menghempaskan seluruh kesadarannya ke dasar jurang yang paling dalam.

Ibu Eleanor? Ibu tiri Gavin? Wanita anggun yang selama ini berdiri di puncak hierarki Ardiansyah Group, wanita yang selalu memandang Naya dengan tatapan dingin dan jijik... adalah Siska? Wanita yang menjadi alasan hancurnya rumah tangga orang tua Naya?!

"Tidak... Ini tidak mungkin..." gumam Naya, suaranya nyaris tak terdengar. Kedua matanya membelalak lebar, memancarkan rasa tidak percaya dan duka yang teramat mendalam. "Wanita itu... wanita yang merebut ayahku, yang membiarkan ibuku mati tanpa pengobatan... adalah wanita yang sama yang kini menjadi ibu tiri dari suamiku?!"

Gavin terpaku. Wajahnya pucat pasih. Seluruh puzzle kelam yang membayangi hidup mereka kini terangkai dengan sempurna, membentuk gambaran monster yang sangat mengerikan.

Eleanor—Siska—bukan sekadar wanita ambisius yang membenci Naya karena menganggap Naya wanita miskin tanpa asal-usul yang jelas. Eleanor membenci Naya karena Naya adalah bukti nyata dari dosa masa lalunya! Eleanor menggunakan Rian, menggunakan kekuasaannya, dan memanipulasi penggelapan dana sepuluh tahun lalu untuk menjebak ayah Naya agar rahasia perselingkuhan dan pencurian saham rahasia itu terkubur selamanya!

"Pak Gavin? Apakah Anda masih di sana?" suara Pak Hendra dari ponsel kembali memecah keheningan yang membeku.

"Pak Hendra..." suara Gavin terdengar sangat dingin, dipenuhi oleh amarah mendalam yang belum pernah didengar Naya sebelumnya. "Amankan semua dokumen itu. Siapkan berkas gugatan dan penangkapan secara hukum atas nama Eleanor Ardiansyah. Malam ini juga."

"Baik, Pak Gavin. Kami sedang bergerak menuju kediaman utama."

Sambungan telepon terputus.

Gavin perlahan menjatuhkan dirinya di samping Naya. Ia memandangi istrinya yang kini terduduk kaku bagaikan patung lilin. Air mata Naya tak lagi menetes; kepedihan yang terlalu dalam telah membekukan tangisnya.

Gadis cantik berhati lembut yang dulunya hanya ingin melarikan diri dari ketakutan dunia, gadis yang menyembunyikan identitaskan di balik kebohongan demi mendapat perlindungan, kini harus menerima kenyataan bahwa pria yang dicintainya dan wanita yang paling membencinya terikat dalam jaring-jaring pengkhianatan darah yang sama.

"Naya..." bisik Gavin parau, menyentuh jemari Naya yang dingin bagai es.

Naya menoleh perlahan. Tatapannya kosong, dipenuhi penderitaan yang menghancurkan jiwa.

"Gavin..." bisik Naya dengan nada suara yang amat menyayat hati. "Bagaimana bisa... bagaimana bisa Allah menakdirkan kita seperti ini? Aku melarikan diri dari masa laluku, aku berpura-pura menjadi wanita lain, aku berjuang untuk mencintai agamamu demi menutup dosa kebohonganku... tapi ternyata, suami yang kutemui adalah putra dari wanita yang membunuh ibuku secara perlahan?"

Rasa bersalah yang teramat sangat menyergap dada Naya. Ia merasa seolah-olah pernikahan ini adalah sebuah penistaan terhadap ingatan ibu kandungnya. Cinta murni yang dirasakannya pada Gavin kini terasa tercemar oleh bayang-bayang cinta terlarang dan perselingkuhan masa lalu yang begitu menjijikkan.

"Ini bukan salahmu, Naya!" tegar Gavin, mengguncang pelan bahu Naya dengan mata yang memerah menahan tangis. "Eleanor bukan ibuku! Dia adalah wanita jahat yang menikahi ayahku demi harta! Aku tidak memiliki hubungan darah dengannya!"

"Tapi dia adalah bagian dari keluargamu, Gavin!" jerit Naya, akhirnya emosinya pecah menjadi histeris yang memilukan. "Setiap kali aku melihatmu, setiap kali aku mengingat Ardiansyah Group, aku akan selalu teringat pada wanita yang menghancurkan hidup ibuku! Bagaimana mungkin kita bisa bahagia di atas penderitaan almarhumah ibuku?!"

Naya melepaskan dirinya dari dekapan Gavin. Ia berlutut kembali di atas sajadahnya, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tangisnya meraung-raung di dalam kamar tua itu—sebuah jeritan jiwa seorang wanita muslimah yang merasa seluruh dunianya dipenuhi oleh tipu daya dan ujian yang tak bertepi.

Ia mengingat bagaimana ia belajar bersujud setahun belakangan ini. Di awal, ia melakukannya demi Gavin. Namun seiring berjalannya waktu, dalam setiap sujud malamnya, Naya benar-benar merasakan kedamaian yang tak pernah ia dapatkan di mana pun. Ia menemukan tempat bersandar di saat hatinya rapuh. Dan kini, ketika ia sedang berusaha menjadi wanita yang bertaubat dan memperbaiki takdirnya, kenyataan pahit ini seolah merenggut kembali seluruh kedamaian yang baru saja ia cicipi.

"Ya Allah..." raung Naya dalam sujudnya yang terisak. "Jika pernikahan ini adalah hukuman atas setiap kebohongan yang kubuat... mengapa Engkau menimpakan dosa orang tua kami ke dalam cinta kami? Berikan aku kekuatan... atau cabutlah nyawaku jika aku tak sanggup lagi menanggung beban ini..."

Gavin yang melihat istrinya tersiksa dalam penyesalan dan kesedihan yang mendalam tak lagi sanggup berdiam diri. Pria itu bersimpuh di belakang Naya, melingkarkan lengan kokohnya dan meletakkan dagunya di bahu Naya yang terbungkus mukena.

"Jangan pernah meminta kematian, Naya..." bisik Gavin dengan air mata yang menetes membasahi bahu istrinya. "Jika kamu merasa pernikahan ini dibangun di atas ujian yang berat, maka biar aku yang menanggung seluruh dosanya. Aku akan menghancurkan Eleanor. Aku akan membersihkan nama ayahmu. Aku akan mengembalikan seluruh hak ibumu yang telah dicuri!"

Gavin memutar tubuh Naya hingga mereka saling berhadapan. Di bawah pendar lampu kamar yang remang, Gavin menatap Naya dengan ketetapan hati yang tak tergoyahkan.

"Kamu belajar mencintai agama ini demi aku, Naya. Tapi malam ini, aku memohon padamu... bertahanlah dalam agama ini demi dirimu sendiri. Demi Allah yang telah mempertemukan kita. Kebohonganmu di masa lalu telah diampuni oleh prosesmu. Sekarang, biarkan aku membantumu mengubah takdir ini sampai tak ada lagi bayang-bayang pengkhianatan yang bisa menyentuhmu."

Naya menatap mata Gavin. Di dalam manik mata pria itu, tidak ada sedikit pun keraguan. Tidak ada kebohongan. Yang ada hanyalah sebuah obsesi suci dari seorang suami yang rela mempertaruhkan seluruh harta, jabatan, dan nyawanya demi melindungi wanita yang dipujanya.

Dalam titik terendah kehidupannya, Naya menyadari satu hal: di balik seluruh kebohongan yang ia ciptakan karena ketakutan, Allah telah mengirimkan Gavin sebagai takdir terbaik yang membimbingnya menuju kebenaran. Pernikahan ini mungkin diawali oleh ilusi dan pelarian, namun cinta yang tumbuh di antara mereka adalah kenyataan yang paling berharga.

Naya perlahan mengangkat tangannya, mengusap air mata yang mengalir di pipi Gavin. "Kamu... benar-benar tidak akan pernah melepaskanku?"

Gavin menyatukan kening mereka, menghembuskan napas lega yang sarat dengan kepasrahan. "Sampai maut menjemput kita, Anindya Naya. Tidak akan pernah."

Namun, saat keharuan menguasai mereka berdua, di luar kediaman tua itu, deru helikopter dan suara sirene polisi mulai terdengar mendekat melintasi langit malam Jakarta Selatan.

Sebuah pertempuran besar akan segera dimulai. Eleanor Ardiansyah tidak akan menyerah begitu saja tanpa perlawanan. Berkas saham rahasia, bukti perselingkuhan masa lalu, dan kejahatan penggelapan dana sepuluh tahun lalu akan menjadi senjata utama yang akan membongkar seluruh kebohongan di panggung megah Ardiansyah Group.

Apakah Naya dan Gavin sanggup bertahan ketika Eleanor mengerahkan seluruh sisa kekuasaannya untuk memisahkan mereka dan mengubur kebenaran itu selamanya? Dan rahasia kelam apa lagi yang disimpan oleh Eleanor tentang alasan sebenarnya di balik perselingkuhannya dengan ayah Naya sepuluh tahun lalu?

#halo readers, thankyou yah sudah baca ceritaku, tolong dukung aku dengan like, subscribe, komen, dan share, boleh kritik dan saran juga yah guys, dukungan kalian sangatlah berarti untukku 😘

1
Renjana
hadir kak😊
Lisye Aisyah Hematang: Makasih kak 🙏
total 1 replies
azza Binury
mudahan pembacanya rame ya kak. Kata-kata nya bagus lho ... aku masih belajar
Lisye Aisyah Hematang: Amin, makasih kak... Semangat yah kak, pasti bisa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!