NovelToon NovelToon
Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semua Orang Tahu Aturan nya

Matahari baru saja mengintip dari balik punggung Gunung Api Purba, menyebarkan cahaya keemasan yang lembut di atas hamparan pepohonan hijau yang membentang luas di kaki bukit. Kabut tipis masih menyelimuti jalan setapak yang berkelok-kelok menuju ke atas, seakan menyembunyikan sesuatu di balik kelembutannya. Udara pagi itu terasa sangat sejuk, bersih, dan menyegarkan namun bagi seluruh kru film yang sudah berkumpul sejak subuh di halaman rumah Bu Wiyati, kesejukan itu tidak membuat hati mereka tenang. Sebaliknya, setiap orang yang berdiri di sana sudah tahu betul ke mana mereka akan pergi dan apa yang akan mereka hadapi. Tidak ada yang ditutup-tutupi, tidak ada yang disembunyikan. Sejak hari pertama mereka tiba di daerah itu, Raka dan Dimas sudah menjelaskan semuanya tentang Kampung Pitu, tentang tujuh rumah dan tujuh keluarga, tentang rumah kedelapan yang berdiri di atas sana dan tentang keluarga Candra Wijaya yang lenyap tanpa jejak. Semua orang tahu. Dan justru karena semua orang tahu, langkah kaki mereka pagi itu terasa lebih berat dari biasanya.

Raka berdiri di depan seluruh tim, tidak lagi bercerita hal baru ia hanya mengulang sekali lagi, sebagai pengingat terakhir sebelum mereka melangkah naik. "Kalian semua sudah tahu. Tidak ada yang dipaksa. Kalau ada yang merasa tidak sanggup naik ke atas sana, silakan tetap di sini. Tidak ada yang akan menilai. Tapi bagi kalian yang ikut, ingat satu hal kita tahu bahayanya, dan karena itu kita harus lebih berhati-hati dari biasanya."

Suasana hening. Tidak ada satu pun orang yang mundur. Semua orang di sini sudah memilih untuk tetap berada di sini, meskipun mereka tahu tempat itu menyimpan rahasia yang jauh lebih gelap daripada sekadar latar film horor. Ada rasa penasaran yang bercampur dengan keberanian, ada tekad yang lebih kuat dari rasa takut setidaknya untuk saat ini.

Perjalanan menuju ke atas dimulai. Mereka berjalan beriringan di jalan setapak yang sempit, membawa peralatan kamera, lampu, dan perlengkapan lainnya. Tidak ada yang berbicara keras. Percakapan berjalan pelan, sesekali terhenti begitu suara langkah kaki mereka terdengar terlalu jelas di antara keheningan hutan. Setiap orang tahu ke mana mereka melangkah, dan setiap orang seakan berusaha tidak menimbulkan keributan — seakan tempat itu sedang tidur, dan mereka tidak ingin membangunkannya.

Saat mereka melewati tujuh rumah yang sudah ada sejak dulu, pintu-pintu rumah tetap tertutup rapat. Namun kali ini, kru tidak merasa heran. Mereka sudah diberitahu sebelumnya warga kampung itu tidak suka keramaian, tidak suka orang asing yang berjalan di wilayah mereka. Bukan karena jahat, tapi karena mereka menjaga ketenangan yang sudah terjaga turun-temurun. Semua orang di sini tahu, dan semua orang mencoba menghormati itu.

Dan akhirnya, rumah kedelapan itu muncul di hadapan mereka. Berdiri tegak di atas tanah yang sedikit lebih tinggi dari rumah-rumah lainnya, bangunan itu tampak kokoh dan megah dibandingkan rumah-rumah warga yang sederhana. Dindingnya berwarna krem pudar, terbuat dari bahan yang berbeda dari rumah-rumah di sekitarnya lebih modern, lebih tebal, lebih dingin dipandang. Atapnya dari genteng yang bentuknya berbeda, dan di lantai atas terdapat jendela besar yang menghadap ke jalan setapak jendela yang terlihat gelap, seakan ada tirai tebal di baliknya yang tidak pernah terbuka.

Kru berhenti sejenak, menatap bangunan itu. Tidak ada yang berseru, tidak ada yang berkomentar. Mereka semua sudah tahu cerita di balik dinding-dinding itu, dan melihatnya secara langsung membuat kebenaran itu terasa jauh lebih nyata daripada sekadar cerita lisan.

"Kita mulai dari teras depan dulu," kata Raka, suaranya tenang namun penuh keyakinan. Ia tahu semua orang paham batasannya. "Kita hanya di area teras dan ruang tengah. Tidak ada yang masuk ke ruang lain, apalagi naik ke lantai atas. Semua peralatan tetap di area yang sudah ditentukan. Kalau ada yang merasa tidak enak hati, merasa ada sesuatu yang salah, langsung beri tahu saya. Tidak perlu malu, tidak perlu takut dianggap berlebihan."

Kru mulai bergerak. Mereka bekerja dengan tertib, namun tidak ada yang bisa menyembunyikan bahwa setiap orang tetap waspada. Saat kamera mulai berputar dan adegan pertama dimulai, setiap orang yang berdiri di lokasi itu merasakannya hawa yang berat, keheningan yang sesekali terasa berdenyut, dan perasaan bahwa mereka bukan satu-satunya yang ada di ruangan itu. Meskipun rumah itu terlihat kosong, tidak ada yang percaya bahwa benar-benar tidak ada siapa-siapa di dalamnya.

Siang berganti sore. Syuting berjalan lancar, namun semua orang merasa lega saat Raka memberi aba-aba untuk berhenti. "Kita selesai di sini untuk siang hari. Sekarang kita turun. Ingat syuting malam kita lakukan di rumah Bu Wiyati, bukan di sini. Kita tidak melanggar aturan itu."

Mereka berjalan turun dengan langkah yang lebih cepat dari saat naik. Tidak ada yang menoleh ke belakang, meskipun setiap orang merasa ada sesuatu yang memperhatikan mereka dari jendela lantai atas itu. Sesampainya di rumah Bu Wiyati, suasana berubah menjadi lebih hangat, lebih hidup. Bu Wiyati sudah menyiapkan minuman dan makanan sederhana, dan untuk pertama kalinya sejak pagi, tawa terdengar di antara mereka tawa yang berusaha melepaskan ketegangan yang menumpuk seharian.

Malam pun tiba. Di rumah Bu Wiyati, lampu-lampu sudah disiapkan. Suasana di dalam rumah itu sederhana, hangat, dan terasa jauh lebih aman dibandingkan rumah di atas sana. Namun meskipun begitu, ketegangan tetap ada bukan karena tempatnya, melainkan karena cerita yang sedang mereka garap, dan karena setiap orang yang ada di ruangan itu tahu persis apa yang sedang terjadi di atas bukit pada malam hari seperti ini.

Saat lampu utama dimatikan dan hanya menyisakan lampu pencahayaan syuting yang temaram, suasana berubah seketika. Bayangan-bayangan di dinding anyaman bambu rumah Bu Wiyati bergerak panjang, menari-nari mengikuti pergerakan kru dan aktor. Namun di tengah kesibukan itu, tidak ada satu pun dari mereka yang lupa di atas sana, di rumah kedelapan yang gelap dan sunyi itu, sesuatu sedang menunggu. Menunggu saat ketika seseorang lupa pada aturan, atau saat seseorang menjadi terlalu penasaran hingga melupakan rasa takut.

Dan jauh di dalam hati salah satu kru tidak ada yang tahu siapa muncul satu pikiran yang tidak seharusnya ada: Bagaimana kalau malam ini, setelah syuting selesai, aku naik ke atas sana sendirian? Hanya sebentar, hanya untuk melihat lebih dekat...

Pikiran itu muncul begitu saja, dan begitu ia terlintas, udara di dalam rumah Bu Wiyati tiba-tiba terasa lebih dingin. Angin malam berhembus kencang, meniup pintu kayu di sudut ruangan tertutup dengan bunyi brak! yang keras. Semua orang tersentak. Semua mata menatap ke arah pintu itu. Tidak ada yang membukanya, tidak ada yang mendekatinya. Pintu itu tertutup sendiri.

Dan di kejauhan, dari arah puncak bukit, terdengar suara pelan namun jelas, terdengar sampai ke bawah suara pintu kayu yang terbuka perlahan, seakan seseorang di rumah kedelapan itu baru saja menyambut malam.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!