"Kamu menghancurkan mimpiku demi ambisimu, dr. Naya. Sekarang, giliran aku yang akan menghancurkan segalanya darimu."
Tujuh tahun lalu, Aksa Dirgantara dibuang secara tak hormat dari fakultas kedokteran akibat sebuah skandal kelam. Ia kehilangan masa depan, harga diri, dan wanita yang paling dicintainya, Naya—yang ia yakini telah memfitnahnya demi merebut satu-satunya kuota beasiswa spesialis bedah ke luar negeri.
Kini, Aksa kembali. Bukan lagi sebagai pria yang bermimpi memakai jas putih, melainkan sebagai CEO miliarder dingin dan tak kenal ampun yang baru saja mengakuisisi rumah sakit tempat Naya bekerja. Niat Aksa hanya satu: menghancurkan karir gemilang Naya yang kini telah sukses menjabat sebagai Kepala Bedah, dan memaksanya berlutut di bawah kakinya.
Siksaan demi siksaan diberikan. Aksa mencekiknya dengan jadwal operasi yang mustahil, tekanan dari para direksi, dan hinaan yang menggores harga diri. Namun, betapapun kerasnya Aksa menyiksa, Naya tetap berdiri tegak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Terapi Penuh Air Mata
"Berhentilah bicara omong kosong dan fokuslah pada pemulihanmu sendiri, Aksa," balas Naya dengan senyum tipis, meski air mata kembali merebak di pelupuk matanya. Ia menarik pelan tangan kanannya dari genggaman Aksa. "Aku akan memegang janjimu. Sekarang istirahatlah. Dokter bilang otakmu butuh banyak tidur untuk memulihkan jaringan yang rusak."
Aksa tersenyum lemah. Ia memejamkan mata perlahan, merasakan sisa ketegangan di dadanya menguap. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir, Aksa akhirnya bisa tidur tanpa dihantui mimpi buruk tentang pengkhianatan yang tak pernah nyata.
Pemulihan Aksa berjalan luar biasa cepat berkat tekad bajanya. Dalam hitungan minggu, pria itu sudah meninggalkan kursi roda dan mulai mengendalikan kembali kerajaan bisnisnya langsung dari ruang perawatan VVIP. Namun, prioritas utamanya tidak lagi berpusat pada saham atau ekspansi rumah sakit, melainkan pada pemulihan satu-satunya wanita yang ia cintai.
Aksa membuktikan janjinya tanpa menunda waktu. Ia langsung menerbangkan Profesor Hans, ahli bedah saraf dan ortopedi kelas dunia dari Jerman, khusus untuk menangani tangan Naya.
***
Operasi penyambungan tendon ulang berjalan sukses. Namun, mimpi buruk sesungguhnya bagi Naya baru saja dimulai di ruang fisioterapi.
"Tarik napas panjang, Dokter Naya. Kita akan memutar pergelangan tangan Anda lima derajat lebih jauh hari ini," instruksi seorang fisioterapis muda bernama dr. Bayu dengan suara tenang.
Naya duduk tegang di kursi terapi. Gips putihnya sudah dilepas, digantikan dengan penyangga elastis khusus. Begitu dr. Bayu menekan pergelangan tangannya pelan, rasa sakit yang sangat tajam langsung menyambar saraf Naya bagai kilatan petir.
"Argh! Tahan! Tahan sebentar!" jerit Naya tertahan. Keringat dingin langsung membanjiri dahi dan lehernya. Tubuhnya melengkung menahan pedih luar biasa. Rasa sakitnya jauh lebih menyiksa daripada luka sayatan operasi. Urat-urat di tangannya seolah ditarik paksa hingga nyaris putus lagi.
Di sudut ruangan, Aksa berdiri bersandar pada dinding dengan rahang mengeras kaku. Kedua tangan pria itu mengepal kuat di dalam saku celananya. Matanya menatap nanar wajah Naya yang sepucat kertas dan berkerut menahan siksaan.
Setiap kali Naya merintih atau menangis menahan sakit saat jarinya dipaksa bergerak, rasanya ada pisau tajam yang menyayat dada Aksa. Pria itu ingin sekali menerjang maju, menendang dr. Bayu menjauh, dan membawa Naya pulang agar wanita itu tidak perlu merasakan kesakitan ini lagi.
Namun, Aksa harus memaksakan diri menahan semua insting gilanya. Naya harus melewati neraka ini agar tangannya bisa kembali memegang pisau bedah.
"Sakit sekali, Aksa..." isak Naya pelan, air matanya menetes membasahi kerah kemejanya. Ia menoleh mencari sosok pria itu di sudut ruangan dengan pandangan kabur. "Aku... aku tidak kuat lagi hari ini. Ototku terasa mau robek."
Mendengar rintihan putus asa itu, pertahanan Aksa runtuh. Ia melangkah lebar memangkas jarak, langsung berjongkok di sebelah kursi Naya. Tangan besarnya merangkul bahu wanita itu dengan protektif.
"Kamu dokter bedah paling tangguh yang pernah aku kenal, Naya," bisik Aksa tegas namun lembut di telinga Naya. Ia mengusap keringat dingin di dahi Naya dengan saputangannya. "Kamu sudah melewati hal yang jauh lebih mengerikan dari ini. Kita sudah berjanji akan mengembalikan tangan ini ke ruang operasi. Kamu pasti bisa melewati satu sesi ini lagi."
Naya menggigit bibir bawahnya keras-keras hingga sedikit berdarah, lalu mengangguk patah-patah. Ia menarik napas panjang, menatap dr. Bayu dengan sisa tenaga. "Lanjutkan putarannya. Aku siap."
Sesi terapi yang terasa seperti penyiksaan itu memakan waktu dua jam penuh. Begitu selesai, otot tangan Naya bergetar hebat tak terkendali.
"Sesi perenggangan pasif sudah selesai untuk hari ini. Sekarang kita masuk ke sesi pijat saraf otot untuk meredakan kram parah di telapak tangan Dokter Naya," ucap dr. Bayu dengan senyum ramah.
Dokter muda itu menuangkan sedikit minyak esensial ke telapak tangannya. Ia menarik kursi lebih dekat ke Naya, memegang punggung tangan wanita itu dengan satu tangan, sementara ibu jarinya mulai memijat pelan area pergelangan dan telapak tangan Naya yang kaku.
"Tekanannya pas? Tidak terlalu keras, Dokter?" tanya dr. Bayu sopan, menatap wajah Naya.
Naya mengangguk pelan, mencoba merilekskan ototnya. "Iya, sudah pas. Terima kasih."
Aksa yang berdiri di belakang Naya mendadak merasa matanya memanas. Pandangannya terpaku pada tangan dr. Bayu yang bergerak perlahan mengusap jemari dan telapak tangan Naya. Gerakan pijat itu terlihat terlalu lambat, terlalu intens, dan dokter muda itu menatap Naya dengan sorot mata yang menurut Aksa terlalu ramah.
Detik demi detik berlalu, dan amarah tak beralasan mulai mendidih di kepala sang CEO. Cemburu buta yang tidak masuk akal meledak menguasai kewarasannya saat melihat pria lain menyentuh wanita miliknya dengan begitu lembut.
Aksa melangkah maju, meletakkan tangannya di bahu dr. Bayu, lalu mencengkeramnya dengan sangat kuat hingga dokter muda itu meringis kaget.
"Sesi terapimu sudah selesai. Keluar dari ruangan ini sekarang juga," perintah Aksa dengan suara bariton yang berat dan penuh aura membunuh.
"Tapi, Pak Aksa, sesi pijat sarafnya masih butuh waktu sepuluh menit lagi agar..." bantah dr. Bayu gugup.
"Aku bilang keluar!" bentak Aksa tertahan, kilat matanya menyiratkan ancaman mutlak. "Tinggalkan minyak itu di meja. Aku sendiri yang akan mengambil alih sesi pijat sarafnya malam ini."
si bima jgn sampe kluar lagi dr penjara ,, biarin bocah tantrum tu duduk manis di penjara selama-lamanya 😏
koq gx ngundang2🤔
pijat aja semua...obatin aja...kalo perlu operasi jg sendiri...dokter lain mah cm remahan peyek...serah lu dah...gw yg cm baca tapi pengen nyakar lu Aksa 😤
mau liat Naya cepat sembuh gx ,, cemburu ny simpan dlu di kantong celana pak bos ,,
..yg bikin kek gini sapa cobak??? trus skrg butuh tenaga fisioterapi msh jg dicemburuin??? mau kau apa Bambang???😤😤😤
cerita ny seruuu ,,
semoga Naya bisa sembuh lgi tangan ny ,,
lanjuuut kak