NovelToon NovelToon
Satu Istri, Dua Pewaris

Satu Istri, Dua Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:759
Nilai: 5
Nama Author: puput11

Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.

Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.

Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.

Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.

Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permainan Dingin Evan

"Lima belas persen. Atau bonus tahunan kalian hangus."

Suara itu tidak perlu melengking tinggi untuk membuat seisi ruangan menahan napas. Cukup diucapkan dengan nada datar, dingin, dan setajam pisau bedah.

Evan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kulit yang empuk. Matanya menyipit rumah menatap satu persatu aja pucat paradise yang duduk mengelilingi meja mahoni besar di lantai 80 Wirasena Group.

Jas hitam premium yang membungkus tubuh tegapnya tampak tanpa cela. Kontras dengan suasana pengap penuh ketakutan yang memenuhi ruang rapat eksekutif itu.

Pak Hendra, Direktur Operasional yang rambutnya sudah memutih di kedua pelipis, mencoba menggeser gelas air mineralnya dengan tangan agak gemetar. Dia memaksakan senyum tipis yang tampak sangat tersiksa.

"Tuan Muda, angka target itu... rasanya terlalu ambisius kalau kita melihat kondisi pasar global yang sedang tidak menentu."

"Ambisius?"

Evan memotong kalimat itu tanpa ragu. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai tipis yang sarat akan cemoohan.

"Saya menyebutnya standar minimal untuk bertahan hidup. Kalau Anda puas dengan hasil yang sekadar cukup, silakan angkat kaki sekarang. Wirasena Group bukan tempat penampungan untuk orang-orang yang bermental pas-pasan."

Suasana mendadak menjadi lebih dingin dari suhu pendingin ruangan yang paling maksimal.

Seorang direktur proyek mencoba peruntungan dengan menyela. Suaranya sedikit lebih berani, meski jemarinya meremas pulpen dengan begitu erat. "Tapi Tuan Muda, tim kami baru saja memenangkan tender besar di Shanghai. Itu kemenangan mutlak atas kompetitor utama kita."

Evan melepaskan tawa pendek. Sebuah tawa hambar tanpa humor yang seketika membuat bulu kuduk semua orang di ruangan itu berdiri.

Menang tender? Sesuatu yang dianggap prestasi besar oleh orang lain, di mata Evan hanyalah sebuah rutinitas membosankan.

"Menang tender itu seperti bernapas, Pak. Itu kewajiban dasar untuk tetap hidup di perusahaan ini," sahut Evan dengan nada meremehkan.

"Yang saya butuhkan sekarang adalah jaminan bahwa implementasinya bisa berjalan dua kali lebih cepat dari laporan awal. Kalau tim Anda tidak sanggup, jangan harap nama Anda masih tercantum di daftar penggajian bulan depan."

Hening yang pekat langsung mengunci ruangan. Tidak ada lagi yang berani membuka mulut. Menatap mata elang milik Evan saja mereka sudah tidak sanggup.

"Rapat selesai."

Evan bangkit dari kursinya. Dia tidak memerlukan kata penutup yang ramah. Kakinya melangkah lebar dan tegas menuju pintu kaca otomatis yang langsung terbuka menyambut kehadirannya.

Di belakangnya, Tama sudah bersiap. Asisten pribadi itu bergerak seperti bayangan yang efisien. Sebuah tablet sudah menyala di genggaman jemarinya.

Lift pribadi yang mereka tumpangi meluncur naik dengan kecepatan tinggi dari lantai 80 menuju lantai 88, lantai khusus CEO. Dinding kaca lift memperlihatkan pemandangan kota yang membentang luas di bawah kaki mereka.

Tama menggeser layar tabletnya dengan gerakan lincah sembari mengekor di belakang bosnya. "Tuan Muda, semua persiapan jet pribadi untuk penerbangan ke London besok malam sudah beres. Proses akuisisi properti global membutuhkan tanda tangan Anda. Jadwal kita di sana diperkirakan memakan waktu satu minggu penuh."

Satu minggu.

Evan menatap pantulan dirinya sendiri dikaca lift yang mengkilap. Wajahnya tampak kaku dan tanpa ekspresi, seperti biasa.

Tapi, di dalam kepalanya, badai emosi sedang berkecamuk hebat. Pikirannya mendadak melompat kembali ke paviliun sayap timur. Ke ruang tengah yang berantakan dengan pecahan gelas kristal tadi malam.

Kata-kata gadis montir itu kembali terngiang, berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak yang menyebalkan.

Lo cuma cowok lemah yang ketakutan kehilangan harta warisan.

Brengsek. Berani-beraninya gadis miskin berbau oli itu menguliti ketakutan terbesarnya dengan begitu telanjang. Ego Evan benar-benar terluka. Rasa perih akibat harga dirinya yang diinjak-injak melahirkan sebuah hasrat balas dendam yang sangat pekat.

Dia harus memberi gadis itu pelajaran. Sebuah pukulan telak yang halus, namun akan menghancurkan kesombongannya sampai ke akar-akarnya.

"Satu minggu... waktu yang sangat tepat untuk membiarkan tempat itu menjadi sunyi," gumam Evan pelan, nyaris seperti berbisik pada dirinya sendiri.

Tama mendongak, menyadari perubahan aura bosnya yang tiba-tiba menjadi jauh lebih berbahaya, namun dia memilih untuk tetap dia menahan rasa penasarannya.

Ting.

Lift berhenti dengan dentingan halus di lantai 88. Pintu terbuka, memperlihatkan koridor luas yang langsung terhubung ke ruang kerja pribadi CEO.

Evan berjalan melintasi koridor tanpa suara, mendorong pintu kayu jati besar yang tebal, lalu masuk ke dalam ruang kerjanya yang kedap suara. Begitu pintu tertutup rapat dan privasi mereka kembali absolut, Evan berbalik menatap asistennya.

"Tama," panggil Evan dengan nada menuntut.

"Ya, Tuan Muda?" Tama segera berdiri dalam posisi siaga di depan meja kerja marmer.

"Hubungi kepala keamanan compound utama sekarang juga. Katakan pada mereka untuk mengaktifkan kode otorisasi Alpha–9 di paviliun sayap timur."

Kening Tama langsung berkerut mendengarnya. Protokol Alpha–9 bukanlah instruksi sembarangan. Itu adalah sistem isolasi tingkat tinggi yang biasanya hanya digunakan jika ada ancaman pembunuhan atau kunjungan tamu rahasia negara.

"Kode Alpha–9?" Tama memastikan. "Tapi seingat saya tidak ada ancaman apa pun di paviliun. Apa Nona Aira sedang berada dalam bahaya, Tuan Muda?"

Evan mendudukkan diri di kursi kulit mewahnya. Dia menyilangkan kaki dengan keangkuhan, lalu memperlihatkan sebuah senyuman tipis yang sangat dingin. Sebuah senyuman yang sama sekali tidak memancarkan kehangatan di matanya.

"Bukan bahaya fisik, Tama. Saya hanya ingin menonaktifkan akses biometrik Aira untuk semua fasilitas di dalam rumah mulai detik ini. Kolam renang, ruang olahraga, perpustakaan, dapur utama, sampai taman belakang. Kunci semuanya secara digital dari pusat."

Tama menelan ludah. Jarinya membeku di atas layar tablet. "Semua fasilitas? Kalau begitu... Nona Aira cuma bisa berada di dalam kamarnya sendiri? Beliau tidak akan bisa keluar atau menikmati apa pun di rumah itu tanpa izin?"

"Tepat sekali," sahut Evan santai.

"Dan tambah satu peraturan lagi. Perintahkan seluruh pelayan, sopir, sampai koki pribadi untuk mengabaikan keberadaan gadis itu. Kalau dia minta makan, jangan dilayani. Kalau dia minta mobil, bilang semua unit sedang dipakai. Kalau dia bertanya, cukup jawab kalau saya tidak bisa diganggu."

Tama memandang bosnya dengan tatapan ngeri. Ini bukan lagi sekadar memberi pelajaran. Ini adalah tindakan pengasingan yang kejam. "Tuan Muda... ini sama saja dengan memenjarakan istri Anda sendiri di rumah. Beliau bisa kelaparan atau stres. Apa alasan yang harus saya sampaikan pada staf agar mereka tidak bingung?"

Evan meraih pena emasnya, membuka map dokumen di atas meja tanpa berniat memandang asistennya lagi.

"Alasannya simple. Saya cuma mau tahu sampai di mana batas ketahanannya. Kemarin dia berteriak sombong di depan wajah saya kalau dia tidak butuh uang dan fasilitas dari keluarga Wirasena, kan?" Evan mendengus sinis.

"Mari kita lihat seberapa bertahan dia tanpa semua kemewahan yang saya sediakan. Tanpa makanan hangat dari koki bintang lima, tanpa kenyamanan, dan tanpa ada satu pun manusia yang mengajaknya bicara. Saya mau dia merasa seperti hantu di rumah itu. Ada, tapi tidak dianggap. Bersuara, tapi tidak didengar."

"Tapi bagaimana kalau Nona Aira mengadu pada Kakek, Tuan Muda?" Tama mencoba mengingatkan titik lemah bosnya itu.

Gerakan pena Evan terhenti. Dia mendongak, melemparkan sorot mata sedingin es yang mengunci pergerakan asistennya itu seketika.

"Kakek sudah berangkat ke Swiss subuh tadi untuk pemeriksaan medis selama dua minggu ke depan. Tidak akan ada yang mendengar jeritan cewek itu. Dan kalau dia mencoba menghubungi ponsel saya? Blokir nomornya dari sistem jaringan internal paviliun."

Evan kembali melanjutkan tanda tangannya dengan goresan yang tegas. "Biarkan dia frustrasi sendirian dalam kesunyian. Begitu dia lelah berjuang melawan tembok tak kasatmata yang saya buat, dia pasti akan sadar kalau dunianya sama sekali tidak berputar tanpa fasilitas dari saya. Pada akhirnya, dia sendiri yang akan datang mengetuk meja kerja saya untuk menyerahkan surat cerai secara sukarela. Tanpa saya perlu repot-repot mengeluarkan uang sepeser pun."

Tama terdiam lama. Kejam. Ide ini benar-benar dirancang untuk membunuh mental seseorang secara perlahan. Namun sebagai bawahan, Dia tidak punya hak untuk membantah perintah mutlak sang penguasa bisnis.

"Baik, Tuan Muda. Saya mengerti. Semua instruksi akan dijalankan persis seperti yang Anda mau. Pemutusan akses, pembungkaman staf, dan isolasi komunikasi," ucap Tama pasrah sebelum membungkuk hormat dan melangkah mundur keluar ruangan.

Pintu kayu jati itu tertutup rapat dengan bunyi klik yang mantap.

Evan meletakkan penanya, lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela kaca besar. Awan kelabu bergerak lambat di langit kota, seolah ikut menyembunyikan rencana busuk yang baru saja dia luncurkan.

Bibir Evan melengkung, membentuk senyuman kemenangan yang penuh rasa puas.

Selamat menikmati neraka sepi yang baru, gadis montir. Kita lihat, berapa hari kau bisa bertahan sebelum berlutut memohon ampun di kakiku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!