NovelToon NovelToon
My Husband The Mafia

My Husband The Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nabilah Tisyana

Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13.

‎Suara barang-barang pecah menggelegar di dalam kediaman megah milik keluarga Ruby. Ayah Ruby, seorang pria paruh baya yang kini gemetar di sudut ruangan, hanya bisa memeluk erat yang menangis ketakutan di belakang tubuhnya.

‎Kavano berdiri di tengah ruang tamu dengan napas memburu dan mata yang memerah penuh murka. Jasnya tampak kusut, dan aura membunuh memancar kuat dari tubuhnya.

‎"Saya tidak mau tahu!" bentak Kavano dengan suara serak yang mengerikan, menunjuk muka ayah Ruby.

‎"K-Kavano... tolong kasihanilah kami..." rintih ayah Ruby dengan suara gemetar hebat. "Ruby kabur itu luar pengetahuan saya! Saya nggak tahu dia ada di mana sekarang!"

‎"Kami pikir Saya perduli, hah?!" sergah Kavano, melangkah maju dan menyambar kerah kemeja ayah Ruby hingga pria tua itu terangkat. "Saya sudah kasih kami waktu! Kalau Ruby nggak ada, Teressa sebagai gantinya!"

‎Kavano menunjuk tajam ke arah Teressa yang makin terisak ketakutan.

‎"Jangan! Saya mohon jangan Teressa!" teriak ayah Ruby histeris, memberanikan diri mencengkeram lengan Kavano.

"Teressa masih kecil! Dia nggak tahu apa-apa! Jangan bawa Teressa, saya mohon... saya bakal cari cara lain buat bayar hutang ."

kavano menghempaskan ayah Ruby ke lantai dengan kasar hingga pria tua itu mengerang kesakitan.

‎Kavano memegangi kepalanya yang berdenyut hebat. Amarahnya berada di puncak tertinggi. Kehilangan Ruby bukan sekadar kehilangan barang jaminan pelunas hutang, tapi juga pukulan telak bagi harga dirinya yang tinggi.

‎"Kamu dengar baik-baik," bisik Kavano dingin, menatap ayah Ruby dengan sorot mata iblis. "Saya kasih Kamu waktu satu minggu. Cari Ruby sampai dapat! Kalau sampai dalam seminggu tidak berhasil... "

‎Tanpa menunggu balasan, Kavano melangkah pergi meninggalkan kediaman itu dengan dentuman pintu yang amat keras.

‎Di dalam mobilnya, Kavano mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. "kamu pikir bisa bersembunyi dari saya, Ruby... Di mana pun kamu berada, Aku bakal bikin Kamu menyesel karena sudah dilahirkan ke dunia ini!"

‎Selama beberapa bulan menyekap Ruby, Kavano merasakan kepuasan yang belum pernah ia dapatkan dari siapa pun. Hobi menyiksanya tersalurkan sepenuhnya. Ruby adalah mangsa yang unik, ia bukan tipe wanita cengeng yang hanya bisa meraung dan mengemis ampun sejak detik pertama. Dulu, sebelum tubuhnya dihancurkan, ada pijar perlawanan dan harga diri yang kuat di mata Ruby. Justru ketangguhan dan ketahanan mental Ruby itulah yang membuat Kavano sangat menikmati proses mematahkan jiwanya sedikit demi sedikit.

‎"Brengsek!" umpat Kavano murka, menghantamkan tinjunya ke setir mobil hingga klakson berbunyi nyaring.

‎Pria itu menyandarkan punggungnya, memejamkan mata sambil membayangkan rintihan pasrah Ruby saat luka-lukanya memburuk. Senyum miring yang mengerikan perlahan terukir di bibirnya. Bagi Kavano, tidak ada hiburan yang lebih menyenangkan daripada melihat seorang wanita hancur dan tak berdaya di bawah telapak kakinya.

‎"Kamu bebeda dari wanita lain, Ruby," bisik Kavano dingin pada kegelapan malam di dalam mobilnya. "Cuma kamu yang bisa bikin Aku sepuas ini."

‎Kavano merogoh ponselnya, memanggil seluruh anak buah dan pengawal kepercayaannya. Amarahnya kini berubah menjadi perburuan gila. Ia tidak akan berhenti sebelum menemukan Ruby kembali, bukan hanya untuk mengembalikan jaminan utang, tetapi untuk melanjutkan kenikmatan dari hobi kejamnya yang sempat terputus.

‎Sifat arogan dan temperamen Kavano yang meledak-ledak justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Kebiasaan Kavano yang selalu mengandalkan otot dan intimidasi dibanding otak membuat matanya tertutup oleh amarah yang membabi buta.

‎Sejak detik pertama menyadari Ruby lenyap dari kamarnya, yang ada di kepala Kavano hanyalah melampiaskan kekesalan. Ia sibuk mengamuk, melukai Bi Sumi, mendobrak rumah orang tua Ruby, dan mengerahkan anak buahnya untuk menyisir jalanan secara acak tanpa arah yang jelas.

‎Kehilangan "mainan" kesayangannya secara mendadak membuat ego Kavano hancur berantakan. Rasa frustrasi itu begitu menguasai pikirannya hingga tindakan paling dasar dan paling krusial dalam penyelidikan justru terlewatkan total: **memeriksa rekaman CCTV mansion.**

‎Ruang kontrol CCTV yang terletak di basement mansionnya dibiarkan terbengkalai. Padahal, jika saja Kavano mau sedikit mengendalikan emosinya dan memutar ulang rekaman hari itu, ia akan melihat dengan sangat jelas bagaimana Bi Sumi memapah Ruby yang sekarat menuju parkiran samping. Lebih dari itu, ia akan menyaksikan momen ketika Ruby merangkak masuk ke dalam bagasi sedan hitam milik sang penguasa besar, pria yang paling ia hormati dan segani.

‎Namun kebodohan dan ketergesaan Kavano menjadi perlindungan tak terduga bagi Ruby. Selagi Kavano sibuk membuang-buang waktu dan tenaganya meneror orang yang salah, keberadaan Ruby tetap tersimpan rapat di dalam imperium dingin milik sang pria misterius.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!