Terlahir kembali usai tewas disiksa, Aira bertekad membalas dendam pada Azka dan keluarganya. Ia bangkit merebut tahta, menggagalkan pengkhianatan, dan membuka hati untuk paman Azka, Rizky.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13. SANDIWARA DI ATAS BALKON
Usai malam membara di mana Rani berhasil menyerahkan seluruh dirinya pada Azka, hening melingkupi kamar yang remang-remang itu. Di atas ranjang yang berantakan, Rani bersandar di dada bidang Azka. Tubuhnya yang hanya terbungkus selimut tipis bergetar, disertai suara tangisan tersedu-sedu yang terdengar begitu memelas.
Jemari Azka mengusap lembut bahu telanjang Rani, mencoba menenangkan wanita yang kini merasa paling berkuasa di hatinya itu.
"Sudah, Sayang... kenapa menangis terus seperti ini?" bujuk Azka dengan suara lembut yang penuh kasih sayang.
Rani mendongak, matanya yang sembap dan merah menatap Azka dengan tatapan paling rapuh. "Bagaimana aku tidak menangis, Mas? Memikirkan besok kamu harus duduk di pelaminan bersama Aira saja sudah membuat dadaku mau pecah. Aku tidak sanggup... Aku bahkan tidak mau menyentuh makanan sedikit pun karena membayangkan kamu memeluk wanita itu di depan ratusan tamu!"
Hati Azka meleleh melihat penderitaan Rani. Ia mengecup dahi Rani dengan mesra, lalu terkekeh pelan. "Lalu kesayanganku ini mau apa, hm? Katakan padaku. Apapun yang kamu mau, pasti akan aku kabulkan."
Rani meremas kemeja Azka yang tergeletak di sampingnya. "Kalau begitu... aku mau kamu batalkan pernikahan itu. Aku tidak peduli!"
Azka menghela napas panjang, mengelus pipi Rani. "Tidak bisa, Rani. Kamu kan tahu ini salah satu siasat utama kita untuk menguasai seluruh harta dan warisan ibunya. Kita hanya butuh stempel dan tanda tangannya."
"Kalau begitu, batalkan pesta mewahnya!" tuntut Rani tegas, matanya berkilat penuh dominasi dan kecemburuan yang gelap. "Aku tidak mau tahu! Aku tidak rela melihat dia diratukan di pesta megah itu! Cukup akad nikah tertutup saja, lalu batalkan semua resepsinya. Aku tidak menerima penolakan lain, Mas!"
Melihat Rani yang mengancam akan kembali mogok makan dan menyiksa diri, Azka akhirnya menyerah. "Baik, baik... Aku yang akan atur semuanya."
Hari H Pernikahan.
Pagi-pagi sekali, suasana di rumah utama keluarga cabang mendadak geger dan kacau balau. Teriakan histeris Tante Mia memecah keheningan pagi.
"Tolong! Rani, jangan melompat! Istighfar, Nak!" jerit Tante Mia histeris dari bawah halaman belakang.
Di atas balkon lantai dua, Rani berdiri di balik pembatas dengan gaun putih tipis, rambutnya terurai acak-acakan, dan wajahnya dipoles pucat bagaikan orang yang kehilangan kesadaran. Ia menangis histeris sambil berteriak bahwa ia lebih baik mati daripada harus melihat "pernikahan tak adil" di keluarga ini.
Para kerabat dan orang tua berhamburan keluar. Azka berpura-pura panik luar biasa, berlari ke sana-kemari, lalu mengumumkan di hadapan Nenek Dina dan seluruh keluarga besar bahwa Rani mengalami depresi berat dan gangguan mental mendadak.
"Nenek! Rani mencoba bunuh diri karena stres melihat persiapan ini!" seru Azka dengan wajah penuh keputusasaan yang dibuat-buat. "Demi keselamatan nyawa Rani, saya mohon... kita batalkan pesta resepsi mewahnya hari ini! Kita lakukan akad nikah sederhana saja di rumah, tanpa pesta besar, demi menjaga perasaan dan kondisi mental Rani!"
Nenek Dina yang mengutamakan nama baik keluarga dan terkejut melihat aksi nekat itu akhirnya terpaksa mengangguk setuju. Pesta resepsi megah bernilai puluhan miliar resmi dibatalkan pagi itu juga, hanya menyisakan akad nikah tertutup di ruang tamu.
Di tengah kekacauan itu, Aira berdiri di samping Nenek Dina. Wajah cantiknya menyiratkan duka yang amat mendalam. Aira menunduk, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, dan tubuhnya gemetar seolah sedang menangis tersedu-sedu karena pesta impiannya hancur.
"Kasihan Aira... hari bahagianya harus rusak karena sepupunya sakit," bisik para kerabat dengan iba.
Tante Mia dan Azka melempar senyuman kemenangan yang sangat tipis ke arah Aira. Mereka merasa telah berhasil menginjak-injak harga diri Aira dan menyelamatkan muka Rani.
Namun, begitu Aira membalikkan tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam kamar pengantin untuk berganti pakaian, tangisannya berhenti seketika.
Aira menurunkan kedua tangannya dari wajah. Tidak ada satu tetes air mata pun di pipinya. Sebaliknya, sebuah tawa pelan nan anggun—tawa yang sarat akan kemenangan dan penghinaan mutlak—keluar dari bibirnya.
Aira berjalan ke depan cermin besar, merapikan riasan wajahnya yang masih sempurna, lalu terkekeh memikat.
"Dasar bodoh..." gumam Aira sangat dingin, matanya berkilat tajam di balik cermin. "Kalian pikir kalian sedang menghancurkan hari bahagiakubukan? Justru kalian sendiri yang mempermudah rencanaku untuk menyeret kalian semua ke neraka tanpa perlu repot-repot bersandiwara di depan ratusan tamu."
Pintu kamar pengantin berderit pelan. Paman Rizky melangkah masuk dengan senyum dingin yang amat dominan, menyaksikan calon "keponakannya" yang sedang tertawa di atas penderitaan buatan musuhnya.
"Pementasan drama yang sangat amatir dari sepupumu, Aira," ujar Rizky rendah, melangkah mendekat dan berdiri tepat di belakang Aira.
Aira memutar tubuhnya, tersenyum manis pada Rizky. "Tapi bukankah dramanya jadi makin seru, Paman? Sekarang... mari kita selesaikan akad nikah palsu mereka."