"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilas Balik Nawang & Timmy 17.
Bunyi jarum jam dinding di ruang OSIS mendadak terdengar sepuluh kali lebih keras setelah Rendy pergi. Nawang masih berdiri di posisi yang sama, menatap jendela besar yang kini buram oleh titik-titik air.
Gerimis di luar berganti jadi hujan yang lumayan deras. Mengingatkan Nawang pada aroma tanah basah, suara guntur yang meredam tangis, dan sebuah jaket jersi kedodoran yang dulu terasa seperti satu-satunya pelindung di dunia.
Nawang menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
Dia meraba saku rok abu-abunya, mengeluarkan ponsel yang layarnya bersih dari notifikasi.
Tidak ada pesan dari Timy.
‘Paling nemenin Naya minum teh anget di UKS,’ batin Nawang, tersenyum kecut.
Dulu, posisi Naya adalah hal yang paling tidak ingin Nawang perdebatkan.
Nawang tahu Naya punya trauma besar. Nawang tahu Timy adalah sahabat masa kecil Naya yang sudah berjanji pada almarhum papa Naya untuk menjaga anak itu.
Nawang paham semua itu. Dia menekan egonya dalam-dalam, menormalisasi setiap kali Timy membatalkan janji kencan mereka karena Naya tiba-tiba butuh dijemput, atau saat Timy mendadak pergi yang hampir saja mereka nonton bioskop karena Naya mendapat serangan panik.
Nawang bertahan bukan karena dia bodoh.
Dia bertahan karena dia terikat pada sebuah utang rasa di masa lalu.
Sebuah memori yang saking indahnya, sampai-sampai berubah menjadi tali yang mencekik lehernya sendiri.
**
Kilas Balik Nawang Timy.
Masa tiga tahun lalu, ketika Nawang masih menjadi manusia tak kasatmata yang hanya diingat orang saat ingin dijadikan bahan lelucon.
Tahun terakhir di SMP Nusantara. Nawang yang dulu adalah seorang gadis dengan berat badan hampir delapan puluh kilogram. Di sekolah yang mengagungkan penampilan, fisik Nawang adalah sebuah dosa besar.
"Woi, awas runtuh lantai koridor!"
"Nawang, lu kalau jalan jangan barengan sama kita dong, jembatannya goyang nih."
Cemoohan itu makanan sehari-harinya.
Nawang remaja terbiasa berjalan menunduk, memeluk tas ranselnya erat-erat di depan dada untuk menyembunyikan bentuk tubuhnya yang membengkak.
Dia adalah target empuk perundungan, puncaknya terjadi pada suatu siang di pertengahan semester dua.
Seseorang sengaja menaruh lem tikus di bangkunya. Saat Nawang berdiri, bagian belakang rok birunya robek besar, memperlihatkan celana pendeknya. Seluruh kelas tertawa riuh, beberapa anak cowok bersiul nakal, dan beberapa cewek merekamnya menggunakan ponsel pintar mereka. Nawang membeku di tengah ruangan, air matanya luruh tanpa suara, merasa harga dirinya sudah diinjak-injak sampai ke dasar tanah.
Di tengah keputusasaan itu, sebuah jersi basket berbau keringat tiba-tiba tersampir di bahunya. Cukup panjang untuk menutupi bagian belakang roknya yang robek.
"Lu semua nggak ada otaknya, ya? Norak!"
Suara itu lantang dan tegas. Itu Timy. Cowok populer, anggota inti tim basket SMP yang selalu dikelilingi banyak teman.
Timy menarik lengan Nawang, membawanya keluar dari kelas yang bising itu tanpa memedulikan tatapan heran dari murid-murid lain.
Timy membawa Nawang ke area belakang sekolah yang sepi, dekat gudang olahraga.
Di sana, Nawang menangis sejadi-jadinya, sementara Timy hanya duduk di sampingnya sambil memantulkan bola basket ke dinding.
"Jangan dengerin mereka, Wang. Lu nggak salah. Yang salah itu mata mereka yang nggak bisa lihat kalau lu tuh berharga," kata Timy sore itu. Cowok itu menatapnya tanpa ada kilat jijik atau kasihan yang merendahkan. Tatapannya hangat, murni, dan tulus.
Sejak hari itu, dunia Nawang berubah karena Timy.
Timy tidak hanya sekadar memberi pembelaan verbal. Dia benar-benar masuk ke dalam hidup Nawang yang berantakan. Saat Nawang memutuskan untuk berubah bukan karena ingin dipuji, melainkan karena lelah menjadi bahan hinaan, Timy ada di sana.
"Neng," panggil Timy suatu pagi, memulai panggilan khas yang belakangan ini justru mengiris hati Nawang. "Nih, Aa bawain bekal dari mama. Isinya dada ayam rebus sama sayur. Mulai hari ini, kita diet sehat bareng. Aa yang nemenin kamu lari sore habis latihan basket."
Dan Timy benar-benar menepati ucapannya.
Setiap sore, saat anak-anak lain nongkrong di kafe atau pulang ke rumah, Timy dengan setia berlari di samping Nawang yang terengah-engah, tubuhnya basah kuyup oleh keringat, dan kakinya gemetar karena kelelahan.
Ketika Nawang menangis di pinggir lapangan karena ingin menyerah dan merindukan makanan manis, Timy akan berlutut di depannya.
"Sedikit lagi, Neng. Kamu kuat. Aa tahu kamu bisa. Nanti kalau kamu udah capai target, Aa orang pertama yang bakal puji kamu di depan semua orang," bisik Timy sambil menyeka keringat di dahi Nawang menggunakan handuk kecilnya sendiri.
Proses itu berat dan berdarah-darah.
Selama berbulan-bulan, Nawang bertarung dengan rasa lapar, ejekan yang belum sepenuhnya hilang, dan rasa tidak percaya diri yang akut. Namun, keberadaan Timy adalah jangkar utamanya.
Timy menghargainya saat semua orang menganggapnya sampah.
Timy mendengarkan ceritanya saat orang lain bahkan enggan menatap matanya.
Hingga akhirnya, di hari kelulusan SMP, Nawang bertransformasi.
Bobot tubuhnya menyusut drastis, menyisakan proporsi tubuh yang proporsional, ramping dan good looking dengan wajah yang ternyata sangat cantik dan manis.
Orang-orang yang dulu merundungnya mendadak bersikap manis, mencoba mendekatinya.
Namun, bagi Nawang, hanya ada satu nama di hatinya, yaitu Timy.
Saat mereka resmi berpacaran di awal kelas sebelas SMA, Nawang merasa dia adalah cewek paling beruntung di dunia.
Dia mendaftar masuk tim cheerleader, berlatih ekstra keras hingga berhasil menjadi kapten, semua hanya demi satu tujuan: agar dia bisa berdiri di pinggir lapangan, memimpin sorakan paling keras setiap kali Timy memasukkan bola ke ring.
Dia ingin menjadi sosok yang sepadan dan bisa dibanggakan di samping cowok itu.
Kenangan-kenangan manis itulah yang mengikat kaki Nawang begitu kuat di tempatnya sekarang. Kenangan yang membuatnya tetap bertahan, menutup mata, dan memaklumi setiap kali Timy mengabaikannya demi Naya.
Nawang selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa Timy yang hangat, Timy yang melindunginya dari lem tikus, dan Timy yang menemaninya diet sehat sore-sore dulu, pasti akan kembali.
Timy hanya sedang tersesat menjadi pahlawan untuk orang lain.
Kilas balik mereka kelar
**
"Nawang?"
Sebuah suara berat memutus kilas balik yang menyakitkan itu.
Nawang tersentak, mendongak, dan mendapati Rendy sudah berdiri di depannya.
Ketua OSIS itu memegang satu botol susu cokelat dingin dan satu botol air mineral.
Tanpa banyak bicara, Rendy menyodorkan botol susu cokelat itu ke arah Nawang.
Nawang mengerutkan kening. "Gua nggak minum yang manis-manis, Ren. Diet."
Rendy tidak menarik kembali tangannya. Dia justru duduk di ujung bangku panjang, memberikan jarak sekitar satu meter di antara mereka. "Gua tahu lu selalu hitung kalori dari kelas sepuluh. Tapi kadang, otak lu butuh glukosa instan supaya nggak mikir yang aneh-aneh. Ambil aja. Anggap ini kompensasi karena gua udah ngebatalin latihan tim lu sore ini."
Nawang menatap botol itu sejenak sebelum akhirnya menerimanya. Dinginnya botol plastik itu merambat ke telapak tangannya, sedikit mengusir rasa sesak yang menyumbat dadanya sejak siang. "Makasih."
"Lu nggak masuk kelas tambahan?" tanya Rendy, matanya lurus menatap koridor yang mulai temaram karena cuaca makin mendung.
"Gurunya belum datang. Katanya telat lima belas menit," jawab Nawang pelan. Dia memutar tutup botol susu cokelat itu, tapi tangannya yang agak gemetar membuatnya kesulitan.
Tanpa sepatah kata pun, Rendy mengambil botol itu dari tangan Nawang, membukanya dengan satu putaran mudah, lalu mengembalikannya.
Perlakuan kecil yang sangat biasa, tetapi terasa begitu asing bagi Nawang yang selama ini selalu dituntut untuk mandiri dan mengerti keadaan orang lain.
"Ren," panggil Nawang setelah meneguk sedikit minumannya. Rasa manis langsung menyebar di lidahnya, membawa sedikit rasa nyaman yang aneh. "Menurut lu, salah nggak kalau kita bertahan demi masa lalu?"
Rendy tidak langsung menjawab. Dia bersandar pada sandaran bangku, menatap rintik gerimis yang mulai mengetuk atap selasar koridor dengan ritme yang monoton.
"Masa lalu itu kayak spion mobil, Wang," kata Rendy, suaranya terdengar berat dan tenang di antara suara gerimis. "Guna buat sesekali dilihat supaya kita nggak ditabrak dari belakang. Tapi kalau lu nyetir sambil natap spion terus-menerus tanpa lihat kaca depan, lu bakal nabrak pembatas jalan. Dan lu tahu apa yang paling parah?"
Nawang menoleh, menatap profil samping wajah Rendy yang tegas. "Apa?"
"Lu bakal hancur sendirian, sementara mobil di belakang lu bahkan nggak tahu kalau lu kecelakaan karena nyariin mereka," lanjut Rendy. Dia memutar kepalanya, membalas tatapan Nawang dengan intensitas yang membuat Nawang harus menahan napas. "Timy yang lu pertahankan itu Timy yang dulu, kan? Bukan Timy yang sekarang ada di UKS nemenin Naya."
Kata-kata Rendy menghantam Nawang tepat di ulu hati. Logikanya yang selama ini dia paksa tidur mendadak bangun, berteriak membenarkan setiap silabel yang keluar dari mulut ketua OSIS itu. Nyata. Menyakitkan. Dan sangat masuk akal.
Nawang menunduk lagi, memandangi cairan cokelat di dalam botolnya.
Setitik air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya jatuh, mendarat di atas permukaan celana seragamnya, menciptakan lingkaran basah yang gelap. Dia lelah.
Dia sangat lelah mengemis sisa-sisa perhatian dari cowok yang dulunya adalah dunianya.
Rendy tidak mencoba menenangkan Nawang dengan pelukan atau kata-kata seperti yang biasa dilakukan Timy pada Naya.
Dia hanya tetap duduk di sana, menjadi tameng yang kokoh di antara Nawang dan dunia luar yang sedang runtuh di kepalanya, membiarkan gerimis sore itu menjadi saksi pecahnya pertahanan sang kapten cheerleader.
......................
...****************...
Tbc,