Alex hanyalah karyawan biasa—bekerja keras, sering diinjak, dan tidak pernah dianggap. Sampai suatu malam, hidupnya hancur dalam sekejap oleh orang-orang yang seharusnya dia percaya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, Alex menemukan sesuatu yang mengubah segalanya: sebuah sistem misterius yang bisa mengabulkan permintaan apa pun.
Tidak ada batas kekayaan. Tidak ada batas kekuatan. Hanya satu syarat—dia harus terus menyelesaikan misi untuk mendapatkannya.
Namun kekuatan tanpa batas punya harga yang tidak terlihat. Perlahan, pria yang dulu selalu menunduk itu mulai berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak dia kenali sendiri.
Dan orang-orang yang pernah menghancurkan hidupnya akan segera tahu, bahwa yang mereka injak dulu... tidak akan pernah lagi bisa mereka injak sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Setelah urusan izin edar mulai berjalan lewat jalur maklon, Alex pikir jalan ke depan akan lebih mulus. Ternyata dugaannya keliru.
Sepuluh hari berlalu sejak rapat pertama, dan lantai riset di gedung Alex sudah dipenuhi bau bahan kimia ringan bercampur aroma bunga sintetis dari puluhan sampel yang diuji setiap hari. Reina dan timnya bekerja hampir tanpa henti, mata mereka mulai memerah karena kurang tidur, tapi semangat di ruangan itu tidak pernah benar-benar padam.
Alex berdiri di ambang pintu laboratorium, mengamati Reina yang sedang meneliti sampel serum di bawah mikroskop kecil.
"Bagaimana progresnya?" tanya Alex.
Reina mendongak, melepas kacamata pelindungnya. "Formulanya sudah stabil, Pak. Tapi ada masalah lain."
"Masalah apa?"
"Stok bahan baku yang kita punya sekarang cuma cukup buat uji coba skala kecil, Pak. Begitu kita naik ke produksi massal, kebutuhannya bisa sepuluh kali lipat dari itu." Reina menghela napas. "Saya coba pesan tambahan ke pemasok, tapi katanya stok mereka mendadak diborong habis minggu ini, entah oleh siapa."
Dia menyerahkan selembar kertas berisi laporan pemasok. "Kalau kita cari pemasok baru buat kebutuhan sebesar ini, kualitasnya belum tentu konsisten sama formula yang sudah kita uji."
Alex mengambil kertas itu, membacanya sekilas, matanya berhenti di nama salah satu distributor besar yang disebutkan sebagai pihak yang memborong stok. Tanggal pemesanan yang tertera hanya berselang dua hari setelah kabar berdirinya perusahaan kosmetik baru mulai menyebar di kalangan pelaku industri.
'Distributor ini... salah satu rekanan tetap Hartono Group.' Dia teringat cara Daniel dan Sarah tertawa di halaman kediaman Hartono waktu itu, seolah yakin betul Alex tidak akan pernah bisa berbuat apa-apa. Mungkin sekarang mereka mulai merasa perlu bergerak lebih dulu, meski hanya lewat cara-cara kecil seperti ini.
Bibirnya mengeras sedikit, tapi ekspresinya tetap tenang di hadapan Reina.
"Jangan khawatir soal bahan baku," Alex berkata, melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku jasnya. "Lanjutkan riset kalian seperti biasa. Aku yang urus pasokannya."
Reina mengangguk, meski masih terlihat bingung bagaimana caranya masalah sebesar itu bisa diselesaikan hanya dengan kalimat sesantai itu.
Alex berjalan keluar dari laboratorium menuju ruangannya sendiri, menutup pintu di belakangnya sebelum akhirnya berbicara pelan pada dirinya sendiri.
"Aku ingin pasokan bahan baku utama untuk produk pertama perusahaanku, dalam jumlah besar, kualitas terbaik, dikirim langsung ke gudang penyimpanan."
[Permintaan tidak dapat diproses.]
[Permintaan Tersedia: 0]
Alex berhenti, menatap panel yang mengambang di depannya dengan alis berkerut.
'Benar juga. Aku belum punya permintaan lagi sampai misi ini selesai.' Dia duduk di kursinya, mengusap wajahnya dengan telapak tangan, tertawa pelan pada situasinya sendiri. 'Ternyata gak semudah itu.'
Namun alih-alih panik, dia justru meraih ponselnya, menghubungi salah satu nomor yang dia simpan sejak hari pertama membuka perusahaan—kontak dari asosiasi pengusaha kecil menengah yang sempat menghubunginya untuk menawarkan kerja sama.
Setelah beberapa kali percakapan telepon dan negosiasi yang memakan waktu hampir sepanjang sore, Alex berhasil menemukan pemasok alternatif dari luar kota yang selama ini kurang dilirik perusahaan besar, dengan kualitas bahan yang tidak kalah baik.
'Kadang gak semua masalah harus diselesaikan pakai sistem.'
...------...
Beberapa hari kemudian, masalah baru muncul lagi—kali ini soal kemasan yang terlambat datang dari pabrik percetakan karena antrean produksi yang penuh. Alex kembali turun tangan, kali ini datang langsung ke pabrik percetakan, menunjukkan surat pesanan dan menawarkan pembayaran di muka penuh agar pesanannya diprioritaskan.
Pemilik pabrik, seorang pria paruh baya yang awalnya menolak, akhirnya luluh setelah Alex duduk di ruang tunggu selama tiga jam tanpa mengeluh sedikit pun, menunggu kesempatan berbicara langsung.
"Kau ini keras kepala juga, ya, Nak," pria itu akhirnya berkata sambil tertawa kecil. "Baiklah, aku prioritaskan pesananmu. Tapi kau harus janji, kalau bisnismu besar nanti, jangan lupa sama pabrik kecil ini."
"Saya janji, Pak," Alex menjawab, membungkuk sopan.
...------...
Malam itu, dalam perjalanan pulang, Alex menatap keluar jendela mobil, memikirkan betapa berbedanya cara dia menyelesaikan masalah kali ini dibanding biasanya—tanpa sistem, tanpa permintaan ajaib, hanya dengan kesabaran dan sedikit kepala batu.
'Ternyata aku masih bisa melakukan ini sendiri.' Dia tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya ke jok mobil, membiarkan lampu-lampu kota yang berkelebat di luar jendela menemaninya dalam diam.
...------...
Keesokan paginya, Reina melaporkan bahwa bahan baku dari pemasok baru sudah tiba tepat waktu, kualitasnya bahkan sedikit lebih baik dari perkiraan awal tim riset. Kemasan dari pabrik percetakan juga datang tiga hari lebih cepat dari jadwal yang dijanjikan, tersusun rapi dalam kardus-kardus besar yang langsung memenuhi gudang penyimpanan di lantai bawah.
"Bapak dapat koneksi ini darimana, kok bisa menyelesaikan masalah ini cepet banget? Ini hebat, bener-bener hebat." Bima bertanya sambil memeriksa daftar barang yang baru datang, nada suaranya masih terdengar tidak percaya.
"Cuma nunggu di ruang tamu orang selama tiga jam," Alex menjawab santai, senyumnya muncul mengingat wajah pemilik pabrik percetakan yang akhirnya menyerah karena kegigihannya. "Kadang itu cukup."
Bima tertawa kecil, menggelengkan kepalanya sambil kembali memeriksa daftar barang. Di sudut ruangan, para karyawan mulai bersiap memindahkan bahan baku ke lini produksi, suara mesin kembali berdengung seiring proses pembuatan sampel dalam jumlah lebih besar dimulai hari itu juga.