NovelToon NovelToon
TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:506
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: BAYANG - BAYANG DI ATAS SAJADAH

Suara derit pintu kayu jati yang bergeser pelan memecah keheningan kamar utama Kediaman Pratama. Cahaya remang lampu tidur memantulkan siluet Kirana yang tengah membungkuk, menata posisi selimut Ananta Takdir Pratama yang terlelap di dalam boks bayi ukiran Jepara. Jemari lentiknya usai mengusap lembut pipi halus sang bayi saat sebuah lengan kokoh melingkar hangat di pinggangnya dari arah belakang.

"Dia sudah tidur?" bisik Aris. Suaranya berat, hangat, dan sarat akan kelelahan yang bercampur rasa syukur. Napas hangat pria itu menyapu tengkuk Kirana, mengirimkan desir kehangatan yang kini tak lagi asing.

"Baru saja, Mas," sahut Kirana pelan. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Aris, merasakan detak jantung yang teratur—detak yang beberapa bulan lalu hampir saja terhenti di dermaga basah Sunda Kelapa. "Maya dan Leo juga sudah pulas di kamar mereka. Seharian ini mereka antusias sekali menemani Ananta."

Aris tidak segera menjawab. Ia membalikkan tubuh Kirana dengan sangat lembut, menatap dalam-dalam manik mata istrinya. Di bawah pendar lampu kamar yang temaram, wajah Kirana tampak kian matang. Tidak ada lagi sisa-sisa wajah gadis dua puluh dua tahun yang dahulu melangkah masuk ke rumah ini dengan gemetar, membawa ketakutan akan status 'ibu tiri' dan bayang-bayang penolakan. Wanita di hadapannya kini adalah seorang ibu, seorang istri yang telah melewati pembaptisan api ketabahan.

"Kenapa menatapku seperti itu, Mas?" Kirana tersenyum tipis, menyentuh rahang Aris yang kini tercukur rapi.

"Hanya masih tidak percaya..." Aris mengecup dahi Kirana lama, menyerap aroma wangi melati yang selalu menguar dari rambut istrinya. "Ada saat-saat di mana aku terbangun di tengah malam dengan pelipis berpeluh, berpikir bahwa semua kebahagiaan ini cuma mimpi. Aku takut terbangun dan menemukanmu masih berdiri di bawah guyuran hujan malam itu, berhadapan dengan moncong senjata Sheila."

"Mas..." Kirana mengelus pipi Aris, menatapnya dengan penuh keteguhan. "Badai itu sudah lewat. Sheila sudah berada di tempat yang seharusnya, dan anak-anak kita aman. Kita aman."

Aris merengkuh Kirana lebih erat, seolah hendak memastikan bahwa wanita itu benar-benar nyata di dalam pelukannya. Namun, di balik kehangatan dekapan itu, Kirana menangkap seberkas hembusan napas Aris yang berat. Sebuah gelisah yang tersembunyi.

Pernikahan ini mungkin telah memenangkan pertempuran besar melawan ancaman fisik dari masa lalu. Namun, Kirana tahu betul—sebagai seorang wanita dewasa yang ditempa oleh luka—bahwa luka emosional sebuah keluarga tidak pernah sembuh hanya dengan berlalunya waktu atau terbitnya surat keputusan pengadilan.

Keheningan pagi berikutnya disambut oleh aroma kopi hitam yang meletup dari mesin pembuat kopi di dapur bersih. Kirana, mengenakan gaun rumah berbahan sutra merah marun yang anggun, sedang mengoleskan selai cokelat pada sekeping roti tawar. Di mejanya, Leo yang kini berusia tujuh tahun duduk tegap seraya membaca buku cerita, sementara Maya sibuk mengepang rambut boneka plastiknya.

"Ibu," panggil Leo tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.

"Iya, Sayang?" Kirana meletakkan piring roti di depan anak laki-laki itu.

"Apakah... Tante Sheila benar-benar tidak akan pernah kembali lagi?"

Gerakan tangan Kirana yang sedang menuangkan susu hangat mendadak terhenti. Ia melirik Pak Wijaya yang berdiri tak jauh dari meja makan. Pria tua itu menunduk sopan, memberi isyarat tak berdaya. Pertanyaan itu sederhana, namun membawa bobot yang luar biasa berat bagi seorang anak yang mulai memahami arti silsilah keluarga.

Kirana duduk di samping Leo. Ia menarik napas dalam-dalam, menata kalimatnya dengan kehati-hatian seorang ibu yang tidak ingin menanamkan racun dendam, namun juga tidak ingin membohongi kenyataan.

"Tante Sheila sedang berada di tempat yang sangat jauh, Leo. Tempat di mana dokter-dokter ahli sedang membantunya mengobati rasa sakit di hatinya," tutur Kirana lembut, mengusap poni rambut Leo. "Dialah yang membiarkan hatinya terluka terlalu lama sampai tidak tahu lagi cara menyayangi. Tapi Leo dan Maya tidak perlu takut. Ibu, Papa, dan semua orang di sini akan selalu menjaga kalian."

Leo menatap Kirana dengan mata bulatnya yang jernih. Ada kilat keraguan di sana, namun perlahan-lahan pupus menggantikan rasa percaya yang kokoh. "Papa bilang, Tante Sheila itu yang melahirkan aku dan Maya. Tapi Papa juga bilang, Ibu Kirana adalah rumah kami. Apa bedanya, Bu?"

Pertanyaan polos itu menghantam dada Kirana bagai remasan halus yang menyakitkan sekaligus mengharukan. Kirana tersenyum, meski pelupuk matanya mendadak hangat oleh desakan air mata.

"Melahirkan adalah sebuah pintu masuk ke dunia, Leo," jawab Kirana, suaranya bergetar namun jelas. "Tapi menjadi ibu... adalah perjalanan panjang untuk tinggal, merawat, menangis bersama, dan memastikan kalian tidak pernah merasa sendirian di dunia ini. Rumah bukan cuma tempat kamu lahir, tapi tempat di mana kamu selalu diterima saat kamu terluka."

Maya mendongak, meninggalkan bonekanya, lalu memeluk pinggang Kirana dari samping. "Maya mau rumahnya Ibu Kirana saja! Maya tidak mau rumah yang lain!"

Kirana mengecup puncak kepala Maya, memeluk kedua anak itu erat-erat. Di sudut ruangan, Aris berdiri tertegun. Pria tegap yang mengenakan kemeja kerja abu-abu itu mematung, menyaksikan pemandangan di meja makan. Tenggorokannya terasa menyempit. Betapa takdir sedang menyindir keangkuhannya di masa lalu—pria berkuasa yang dahulu berpikir bisa membeli kebahagiaan anak-anaknya dengan pengasuh termahal dan harta berlimpah, kini menyaksikan bagaimana seorang wanita muda yang dahulu ia pandang sebelah mata telah menjadi tiang penyangga jiwa keluarga ini.

Namun, ketenangan itu kembali diuji menjelang sore hari. Sebuah mobil sedan hitam berpelat nomor diplomatik berhenti di depan pilar megah Kediaman Pratama.

Pak Wijaya bergegas memasuki ruang kerja Aris dengan wajah tegang. "Pak Aris... Pengacara senior keluarga Pratama, Tuan Kusuma, datang bersama perwakilan dari Sanatorium Luar Negeri. Mereka membawa dokumen wasiat terkunci milik mendiang Kakek Hendra."

Aris yang sedang memeriksa berkas audit langsung mendongak. Alisnya bertaut tajam. "Kakek Hendra? Wasiat apa lagi yang dia tinggalkan? Bukankah seluruh pembagian warisan Pratama Corp sudah selesai dua tahun lalu?"

"Ini... wasiat pribadi yang hanya boleh dibuka setelah kelahiran cucu laki-laki penerus garis keturunan murni dari Anda, Pak," bisik Pak Wijaya ragu.

Kirana yang baru saja selesai menyusui Ananta di ruang keluarga, melangkah mendekat saat mendengar keributan kecil di lorong depan. Langkah kakinya terhenti ketika melihat Tuan Kusuma, pria berambut perak dengan setelan jas mahal, berdiri di ruang tamu utama ditemani dua orang berpenampilan dingin.

"Selamat sore, Aris. Nyonya Kirana," panggil Tuan Kusuma dengan nada suara yang terukur dan formal.

"Langsung pada intinya, Tuan Kusuma," potong Aris dingin. la berdiri memproteksi Kirana di belakang tubuhnya. "Saya tidak punya waktu untuk permainan orang mati."

Tuan Kusuma mendesah pelan. Ia membuka sebuah tas kulit tebal dan mengeluarkan kotak kayu jati berukir yang tersegel lilin merah. "Mendiang Tuan Hendra Pratama menyadari betul dosa-dosa masa lalunya—tentang bagaimana beliau menukar Shinta dengan Sheila, dan tentang bagaimana beliau memperlakukan rahim wanita demi melahirkan ahli waris murni."

Atmosfer di ruang tamu seketika membeku. Nama Shinta dan Sheila adalah tabu besar yang selalu memicu trauma mendalam di rumah ini.

"Di dalam kotak ini," lanjut Tuan Kusuma seraya meletakkannya di atas meja kaca, "terdapat akta kepemilikan saham privat sebesar empat puluh persen atas nama anak laki-laki yang lahir dari pernikahan sah Aris Pratama. Dan sebuah klausul khusus."

Kirana merasakan firasat buruk mencengkeram dadanya. "Klausul apa?"

Tuan Kusuma menatap Kirana dengan pandangan menimbang. "Hak wali tunggal atas seluruh saham tersebut dan kepemilikan atas Yayasan Pratama Mandiri ditunjuk secara mutlak kepada Nyonya Kirana Pratama... dengan syarat, Nyonya Kirana harus mengadopsi Leo dan Maya secara legal-formal dalam hukum negara dan hukum adat keluarga, serta memutus total seluruh akses hukum Sheila atas masa lalu anak-anak tersebut."

Aris tertawa dingin, sebuah tawa yang sarat akan cemoohan. "Kakek tua itu bahkan dari dalam kubur masih berusaha mengatur hidupku! Dia ingin membeli kedamaian jiwanya dengan menjadikan Kirana sebagai tameng hukum!"

"Ini bukan sekadar harta, Aris," potong Tuan Kusuma tegas. "Ini adalah perlindungan hukum bagi Nyonya Kirana dan anak-anak. Mendiang Tuan Hendra tahu betul bahwa keluarga besar Pratama di luar sana—para paman dan sepupu Anda—masih memandang Leo dan Maya sebagai 'anak haram' dari Sheila yang terganggu jiwanya. Dengan dokumen ini, posisi Kirana sebagai ibu kandung secara hukum dilegalkan tanpa celah, dan posisi Leo serta Maya dilindungi sepenuhnya!"

Kirana melangkah maju dari balik punggung Aris. Tangannya menyentuh permukaan dingin kotak kayu tua itu.

Takdir... betapa ajaibnya takdir menyindir manusia.

Dahulu, ketika ia pertama kali melangkah ke rumah ini, keluarga besar Aris memandangnya sebagai 'pelakor', 'pemburu harta', dan wanita opportunis yang memanfaatkan kedukaan Aris. Media massa memosisikannya sebagai ibu tiri kejam yang siap menyingkirkan anak-anak dari istri pertama demi merebut kekayaan Pratama Group.

Dan kini, lembaran kertas tua yang ditinggalkan oleh pimpinan tertinggi keluarga itu justru memaksa dunia untuk berlutut di hadapannya—memohon padanya untuk menjadi ibu sah, melimpahkan kekuasaan terbesar di dalam dinasti bisnis tersebut ke dalam tangannya.

"Saya tidak membutuhkan saham itu, Tuan Kusuma," ujar Kirana tenang, suaranya bergaung jernih di ruang tamu yang luas.

Tuan Kusuma tertegun. "Nyonya Kirana... ini bernilai triliunan rupiah. Ini jaminan masa depan Anda dan Ananta!"

"Cinta saya pada Leo dan Maya tidak dibeli dengan sertifikat saham atau klausul warisan orang mati," tegas Kirana. Matanya menyala dengan martabat yang tak terbeli. "Saya mencintai mereka saat mereka melemparkan makanan ke wajah saya dua tahun lalu. Saya mencintai mereka saat mereka berteriak 'kamu bukan ibuku!' di koridor rumah ini. Saya mempertaruhkan nyawa saya dan janin di dalam rahim saya di Pelabuhan Sunda Kelapa bukan demi empat puluh persen saham Pratama Corp!"

Aris memandang istrinya dengan mata berbinar oleh rasa haru yang membuncah. Pria itu menyusupkan jemarinya ke sela-sela jemari Kirana, menggenggamnya erat-erat.

"Kembalikan dokumen ini pada pengacara keluarga," perintah Aris pada Tuan Kusuma dengan suara tak terbantahkan. "Status Kirana sebagai ibu dari Leo, Maya, dan Ananta tidak ditentukan oleh Kakek Hendra. Hak asuh Leo dan Maya sudah kami menangkan di pengadilan atas nama cinta, bukan atas nama warisan."

Tuan Kusuma terpaku sejenak, lalu perlahan menundukkan kepalanya dalam-dalam—sebuah penghormatan tulus dari seorang pria tua yang telah melihat begitu banyak keserakahan manusia, kini berhadapan dengan ketulusan yang murni. "Saya mengerti, Pak Aris, Nyonya Kirana. Saya akan mengurus penolakan klausul harta, namun menetapkan pengesahan status pengadopsian legal demi hukum negara."

Malam harinya, gerimis tipis kembali mengguyur kota Jakarta. Suara titik-titik air yang menghantam kaca jendela kamar menciptakan simfoni yang menenangkan.

Setelah Ananta terlelap dan rumah kembali hening, Kirana melangkah ke balkon kamar. Angin malam yang dingin menyapa kulitnya, membawa kenangan akan malam-malam penuh air mata yang pernah ia lalui di rumah ini.

Ia teringat malam-malam awal pernikahan mereka—saat ia duduk tersedu-sedu di sudut lantai kamar mandi yang dingin, menahan perih di jemarinya yang lecet karena membersihkan pecahan vas bunga yang dilemparkan Maya. Ia teringat dinginnya tatapan Aris yang dahulu menganggapnya hanya sebagai wanita pengganti yang tak berarti.

Tiba-tiba, sebuah hangat menyelimuti bahunya. Aris menyelimutkan sebuah selendang wol tebal di tubuh Kirana, lalu merangkulnya dari belakang.

"Sedang memikirkan apa, Sayang?" bisik Aris lembut.

"Memikirkan betapa lucunya jalan kehidupan kita, Mas," sahut Kirana pelan. la menyandarkan punggungnya pada dada hangat Aris. "Dulu, aku membenci takdir yang membawaku ke rumah ini. Aku merasa duniaku hancur saat harus menikahi seorang duda yang dingin dan dikelilingi oleh anak-anak yang membenciku. Aku merasa takdir sedang mempermainkan hidupku tanpa belas kasihan."

Aris menghembuskan napas panjang, mengecup pelipis istrinya. "Dan aku... dulu adalah pria angkuh yang buta. Aku pikir aku bisa membentengi diriku dari rasa sakit dengan menjadi dingin dan kejam padamu."

Kirana membalikkan badannya, menatap wajah suaminya yang kini dipenuhi oleh kelembutan dan cinta yang tak terhingga.

"Tapi malam ini aku baru sadar, Mas," bisik Kirana, air mata bening menetes pelan mengaliri pipinya—kali ini bukan air mata penderitaan, melainkan air mata rasa syukur yang membuncah. "Takdir tidak pernah berniat mempermainkan kita. Takdir hanya sedang menyindir kesombongan kita. Takdir mematahkan semua keangkuhanmu, meruntuhkan semua rasa takutku, dan menuntun kita melewati neraka... hanya untuk mengajari kita cara mencintai yang sesungguhnya."

"Kirana..." suara Aris parau. Pria itu menangkup kedua pipi Kirana, mengusap air mata istrinya dengan ibu jarinya. "Terima kasih... terima kasih karena tidak pernah menyerah padaku. Terima kasih karena sudah menjadi ibu sejati bagi anak-anakku, dan menjadi rumah bagi jiwaku yang hampa."

Aris menundukkan wajahnya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam, hangat, dan sarat akan janji setia. Ciuman yang menyegel seluruh luka masa lalu, meleburkan sisa-sisa trauma, dan menegaskan keberadaan mereka di dalam ketulusan cinta sejati.

Di bawah langit malam yang memayungi Jakarta, di dalam kediaman yang dahulu begitu dingin dan mencekat, Kirana akhirnya menemukan jawaban atas seluruh pertanyaan hidupnya.

Pernikahan ini tidak lagi bergelut dalam pertempuran emosi. Perlawanan atas benteng prasangka telah usai. Di balik rahasia dan air mata yang pernah mengalir, sebuah kebenaran agung telah tegak berdiri: bahwa cinta seorang ibu tidak diukur dari darah yang mengalir, melainkan dari kedalaman jiwa yang rela berkorban.

Namun, saat keheningan malam kian larut dan lampu-lampu kamar mulai dipadamkan, telepon genggam pribadi Pak Wijaya yang tergeletak di meja pengawal lantai bawah mendadak bergetar hebat.

Sebuah notifikasi darurat berkilat di layarnya:

[PESAN DARI RUMAH SAKIT JIWA PUSAT - UNIT INTENSIF] Peringatan Sistem: Tahanan Khusus atas nama Sheila Pratama mengalami kejang hebat pasca-trauma dan menyatakan sebuah pengakuan terakhir yang belum pernah tercatat dalam dokumen penyidikan... Minta Pak Aris segera menghubungi pihak medis sebelum pukul 06.00 pagi.

Pak Wijaya menatap layar ponsel itu dengan mata membelalak penuh kecemasan. Apakah badai benar-benar telah berlalu... ataukah rahasia terbesar dari masa lalu keluarga Pratama baru saja dimulai?

#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, ada karya baruku juga yang ngga kalah seru juga loh, judulnya Aku tak salah, jangan lupa dibaca dan pantengin terus kelanjutan ceritanya yah 😘

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!