Zavian Hartwell, 38 tahun. Menikah dengan Viona Lestari, janda anak satu. Zavian kaget karena setelah menikah, Viona malah menyodorkan putrinya untuk melakukan malam pertama mereka.
"Viona, kau gila? Dia putrimu. Dia masih anak-anak, " Zavian.
"Kita menikah karena bisnis, aku punya laki-laki lain. Tapi kau akan tetap akan merasakan malam pertama, dengan putriku. Dia akan menggantikan aku." Viona
"Tapi bunda ..." Mirella menatap ibunya memohon.
"Diam, lakukan perintah bunda. Kalau tidak, kamu akan di kirim ke luar negeri. Puaskan daddy Zavian!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Percakapan itu terhenti begitu mobil memasuki gerbang rumah besar miliknya. Setelah makan malam yang singkat dan canggung, Zavian menyendiri di ruang nonton lantai bawah. Ia duduk di sofa besar, menatap layar televisi yang menyala namun tidak benar-benar melihatnya. Pikirannya kacau, terjebak di antara kebohongan ini, kondisi ibunya, dan nasib Mirella yang dijadikan pion oleh ibu kandungnya sendiri. Ia kasihan pada gadis itu.
Belum lama ia duduk, pintu ruangan terbuka perlahan. Zavian hendak berdiri untuk pergi, mengira itu hanya pelayan yang berjalan lewat. Tapi langkahnya terhenti seketika.
Viona masuk, dan di belakangnya berdiri Mirella.
Napas Zavian tercekat. Matanya membelalak tak percaya. Mirella mengenakan gaun tidur berbahan tipis yang jauh terlalu terbuka untuk gadis seusianya. Bahkan jelas sekali gadis itu tidak memakai apa-apa di balik kain tipis itu. Ia tidak mengenakan bra.
Cahaya lampu yang remang-remang justru memperjelas lekuk tubuhnya yang masih muda dan polos. Wajah Mirella pucat, matanya menatap lantai dengan tatapan malu-malu dan takut. Tangan kecilnya meremas ujung gaun itu seakan ingin menariknya menutupi tubuhnya lebih rapat.
Zavian menatap Viona dengan tatapan yang begitu tajam, berkilat kemarahan yang nyaris meledak. Wanita itu benar-benar tidak punya hati nurani. Dia bahkan tidak segan-segan menelanjangi putrinya sendiri demi memuaskan ambisinya.
"Kau gila?" desis Zavian rendah, suaranya bergetar menahan amarah yang luar biasa.
Viona tersenyum miring, seakan tidak melihat kemarahan di wajah pria itu. Ia berjalan mendekati Mirella, berbisik tepat di telinga putrinya dengan nada yang sengaja di buat lembut namun penuh perintah,
"Duduklah di pangkuan daddy kamu, sayang. Sudah waktunya kau belajar menjadi wanitanya. Kamu tahu kalau kamu tidak dengar perintah bunda kan?"
Mirella menegang. Tubuhnya gemetar. Matanya berkaca-kaca, menatap Zavian sekilas dengan tatapan memohon, memohon maaf, memohon perlindungan, memohon agar dia tidak diharuskan melakukan hal yang membuatnya begitu malu ini. Tapi ia tidak berani menolak ibunya. Perlahan, dengan langkah yang berat dan kaku, ia berjalan mendekat ke arah sofa tempat Zavian duduk. Lalu seperti perintah ibunya, dia duduk di sana.
Zavian menahan napas begitu gadis mungil itu perlahan duduk di pangkuannya. Tubuh Mirella terasa begitu ringan, begitu rapuh, dan ia bisa merasakan bagaimana gadis itu bergetar di pelukannya, bukan karena senang, tapi karena malu. Aroma tubuhnya yang lembut dan polos tercium begitu dekat, membuat jantung Zavian berpacu. Sial, biar bagaimanapun dia masih pria normal.
Ia tidak berani bergerak. Ia menegakkan punggungnya sejauh mungkin, berusaha menjaga jarak meski tubuh mereka saling bersentuhan. Satu tangannya terangkat perlahan, bukan untuk memeluk, tapi untuk menahan pinggang gadis itu agar tidak terlalu menekan tubuhnya.
Di bawah sana, di bagian tubuhnya yang tidak seharusnya merespon, justru menegang luar biasa. Viona duduk tak jauh dari mereka, tersenyum miring.
"Lihat dirimu. Sok jual mahal. Tapi ternyata ... Aku bisa melihat kau mulai terpengaruh, Zavian."
Zavian menatap wanita itu tajam. Sementara Mirella yang duduk di pangkuannya sesekali bergerak dan itu membuat tubuhnya semakin tersiksa. Viona makin merasa menang.
"Aku bilang juga apa. Tubuh anak remaja memang tidak bisa di tolak. Apalagi yang cantik seperti putriku."
"Diam Viona, diam!" sentak Zavian tajam, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. Wajahnya memerah bukan karena malu, tapi karena jijik dan marah luar biasa. Ia menatap Viona dengan pandangan yang begitu tajam seakan ingin melubangi wanita itu.
Viona justru tertawa renyah, seakan baru saja mendengar lelucon paling lucu.
"Kau bisa membentakku sekeras yang kau mau, tapi kau tidak bisa membohongi tubuhmu sendiri. Lihat dirimu, Zavian. Kau manusia biasa, bukan batu. Dan Mirella ... dia manis, dia muda, dia murni. Tidak heran kau tidak bisa menolaknya."
Zavian menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha sekuat tenaga menahan dirinya agar tidak melakukan hal yang akan ia sesali seumur hidup. Di pangkuannya, Mirella terlihat begitu kecil dan ketakutan. Gadis itu menunduk dalam, bahunya naik turun tak beraturan. Setiap kali ia bergerak sedikit saja, mencoba mencari posisi yang tidak terlalu menyiksa, Zavian menahan napas, berjuang keras melawan dirinya sendiri. Ini bukan salah gadis itu. Ini semua salah Viona yang memposisikan mereka berdua dalam situasi yang canggung ini.
"Pergilah," ucap Zavian akhirnya, suaranya rendah namun penuh peringatan.
"Pergilah dari sini sekarang, Viona. Sebelum aku benar-benar kehilangan kendali. Keluar!"
Viona berdiri perlahan, menatap mereka berdua dengan senyum puas yang membuat darah Zavian mendidih.
"Baiklah, aku pergi. Nikmati waktumu berdua dengan putriku. Ingat baik-baik, aku ingin Mirella hamil anakmu."
Dengan langkah santai, Viona berjalan keluar ruangan dan menutup pintu rapat-rapat di belakangnya. Bunyi kunci yang diputar terdengar samar namun nyata.
Zavian menutup matanya sejenak, menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Ia harus tenang. Harus tenang.
"Mirella..." suaranya jauh lebih lembut sekarang, berusaha menenangkan gadis yang masih gemetar di pangkuannya.
"Kau boleh turun sekarang. Pelan-pelan saja. Bunda-mu sudah pergi.
Mirella bergerak perlahan, menurunkan kakinya ke lantai dengan canggung. Ia berdiri di samping sofa, tangan kecilnya meremas-remas ujung gaun tidurnya yang terlalu tipis. Tubuhnya masih gemetar, dan ia berani menatap Zavian hanya sebentar sebelum kembali menunduk.
Zavian segera melepaskan jaket yang ia kenakan, sebuah jaket tebal berwarna gelap, lalu menyodorkannya kepada gadis itu.
"Pakai ini. Tutup tubuhmu. Jangan pernah biarkan siapapun melihatmu seperti ini lagi. Termasuk ibumu sendiri."
Mirella menerima jaket itu dengan tangan gemetar, tapi begitu ia hendak memakainya jaket itu tiba-tiba jatuh ke lantai dan ia langsung batuk-batuk. Zavian segera membantunya mengambil jaket tersebut dan membantu memakaikannya pada gadis itu. Tapi ia tiba-tiba menyadari sesuatu.
Tubuh Mirella panas. Ia lalu mengecek seluruh tubuh Mirella dengan telapak tangannya, menyentuh tangan, pipi, leher, dan kening. Kening Mirella terasa membakar. Pipi dan lehernya juga terasa panas luar biasa di bawah sentuhan telapak tangan Zavian. Gadis itu bergoyang sedikit, seakan kakinya tak kuat lagi menopang tubuhnya.
Demam. Gadis ini demam dan Viona masih menyuruhnya memakai pakaian sedikit bahan ini? Huftt. Zavian benar-benar sudah tidak habis pikir.
"Kamu demam, ayo ke kamar."
Tanpa aba-aba, pria itu langsung menggendong tubuh mungil Mirella.
Mirella tersentak pelan, tapi tubuhnya terlalu lemah untuk menolak. Ia membiarkan kepalanya jatuh ke dada bidang Zavian, mendengar detak jantung pria itu. Langkah Zavian mantap dan cepat menuju kamar Mirella, seakan tak ada waktu yang bisa disia-siakan. Sesampainya di sana, ia meletakkan gadis itu perlahan di atas kasur yang empuk, lalu segera menyelimutinya hingga menutupi bahu.
"Tunggu sebentar. Aku ambilkan air hangat dan obat," katanya lembut. Berbeda dengan sangat pria itu berbicara dengan ibunya.
zavian jangan takut sama ancaman wanita iblis itu, kasian hidupnya mirella sangat menderita. penuh tekanan dan ancaman ibunya yg gila dan stress itu🤭
daddy zavian merasa kasian dan prihatin sama mirella punya ibu sakit jiwa dan stress itu, makanya daddy zavian tidak akan membiarkan mirella menderita. akan menjaga dan melindunginya..
hanya daddy zavian dan bara sangat peduli dan perhatian sama mirella, daddy davian berangkat kerja viona pasti akan marah dan memaki-maki mirella.
viona emang gila dan stress anak kandung sendiri diperlakukan seperti anak tirinya, ibu macam apa viona itu tidak sayang dan perhatian sama mirella...
mirella sangst lemah dan tidak berdaya selali nurut ancaman viona, sabar ya mirella suatu nanti kamu berhak bahagia...
lanjut mae..
ditunggu updatenya lagi...
zavian ayah tiri yg baik👍
bisa gak zavian tetap jd ayah tiri ny mirrela aja, jng nyimpang2 ke ayah tiri cinta ke ank,, emg sih cerita kk mae bnyak pria dewasa suka sama gadis kecil cinta beda usiaaaaaa jauhhh bnget ,, tp kan status ny gak ad hubungan gitu,,
kan mirrela bisa sama bara yg jg baik🙏🙏🙏🙏🙏🙏