NovelToon NovelToon
Ibu Susuan Sang Mafia

Ibu Susuan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Suhada Bintan

Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.

Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.

Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Derap langkah kaki yang berat itu seketika memotong kalimat Bagas. Matanya yang setajam elang langsung menghujam tepat ke arah tangan Bagas yang masih mencengkeram bahuku.

"Singkirkan tanganmu dari dia, Bagas. Sebelum aku sendiri yang mematahkan seluruh jarimu," suara Dikta rendah dan dingin, namun penuh ancaman.

Cengkeraman Bagas di bahuku justru semakin mengencang. Ia mendongak, sengaja memasang wajah penuh penderitaan di depan kamera-kamera jurnalis yang kini beralih membidik Dikta.

"Jangan berlagak mengancam, Dikta! Di depan kamera media, seluruh dunia akan melihat siapa dirimu yang sebenarnya!" seru Bagas dengan nada yang sengaja dibuat bergetar hebat. "Kamu adalah monster yang merenggut istri orang demi obsesi gilamu!"

"Marco, bersihkan ruangan ini," perintah Dikta tanpa memedulikan provokasi itu. "Siapa pun yang membawa kamera keluar dari gedung ini dengan rekaman yang utuh, pastikan mereka dan seluruh jaringan medianya hancur besok pagi."

"Baik, Pak," sahut Marco tegas.

Dalam hitungan detik, situasi berubah kacau. Para jurnalis panik saat tim keamanan maju merebut paksa kamera mereka. Namun di tengah keributan itu, Arkan terbangun. Suaranya melengking karena mendengar suasana yang tak seperti biasanya.

"Arkan!" pekikku panik, mencoba melepaskan diri dari Bagas untuk menghampiri anak asuhku.

Namun, Dikta bergerak lebih cepat. Aura membunuhnya mendadak sirna, digantikan kepanikan seorang ayah. Bagas yang panik kehilangan panggung di depan kamera mencoba menghalangi langkah Dikta dengan merentangkan tangan. "Jangan sentuh anak itu!"

Bugh

Dengan satu pukulan, Dikta menyentak bahu Bagas hingga terhuyung ke belakang dan menabrak meja rias dengan dentuman yang keras. Bagas langsung tersungkur di lantai, memegangi bahunya sambil mengerang kesakitan.

Dikta tidak memperdulikan itu. Ia langsung membungkuk, mengangkat Arkan ke dalam pelukannya dengan gerakan yang begitu lembut. Ia menepuk-nepuk punggung Arkan, menenangkan putranya. Ia berbalik, menatapku yang masih berdiri dengan gemetar. " Arini, kemari. Ikut aku."

"Jangan mendengarkannya, Arin! Dia mencoba memanipulasimu lagi!" teriak Bagas dari lantai, mencoba bangkit sambil merapikan pakaiannya yang kusut. "Ayo kita pergi dari sini sekarang!"

Aku menatap Bagas, lalu beralih menatap Dikta yang sedang mendekap Arkan. "Mas Bagas..." suaraku serak, "Kalau Mas memang berniat menyelamatkanku... kenapa Mas membawa wartawan ke kamar ini? Mas tahu kan identitas Den Arkan tidak boleh menyebar demi keselamatannya? Kenapa Mas seegois ini?"

Bagas tertegun. "Aku... aku hanya ingin mencari keadilan untuk kita, Arin!"

Karena aku mengabaikan perintahnya, Bagas bergegas pergi meninggalkan ruangan itu, diikuti para jurnalis di sana. Mereka tak sempat menahan Bagas lantaran sibuk mengurusi para media.

Meskipun Marco dan timnya berhasil merampas sebagian besar kamera malam itu, mereka kecolongan satu hal, siaran langsung dan cloud upload. Pagi harinya, saat aku terbangun di kamar, duniaku benar-benar runtuh.

Ponsel di atas nakas bergetar tanpa henti. Dengan tangan gemetar, aku membuka salah satu situs berita terbesar. Di halaman utama, terpampang fotoku yang sedang didekap Bagas di bawah kilatan lampu blitz, bersanding dengan foto Dikta yang berdiri dengan aura dinginnya.

Judul utamanya membuat jantungku berhenti, Konglomerat Dikta Dirgantara Diduga Menyekap Istri Orang Demi Ibu Susuan Anak kandungnya.

Aku menggulir layar ke bawah dengan napas memburu. Di sana, terdapat sebuah potongan video pendek. Itu adalah rekaman detik-detik ketika Dikta menyentak Bagas hingga menabrak meja rias. Rekaman pemukulan itu terpajang jelas di seluruh media nasional dan menjadi trending topik nomor satu.

Di bawah video tersebut, narasi berita ditulis dengan sangat jelas.

"Dikta Dirgantara terekam kamera melakukan tindakan kekerasan fisik terhadap Bagas, suami sah Arini, yang malam itu mencoba menyelamatkan istrinya. Dalam rekaman berdurasi 45 detik tersebut, Dikta tanpa ragu main hakim sendiri di depan puluhan pasang mata jurnalis..."

Kolom komentar langsung dibanjiri puluhan ribu hujatan netizen. Seluruh opini publik seketika berbalik membela Bagas sebagai "Suami malang yang terzalimi" dan mengutuk Dikta sebagai "monster kaya yang arogan dan tak takut hukum."

Klik

Pintu kamar terbuka. Dikta melangkah masuk dengan setelan jas yang sudah rapi, namun garis-garis kelelahan menghiasi wajah tampannya. Di belakangnya, Marco tampak sibuk menerima telepon yang tak henti-hentinya berdering.

Aku langsung menegakkan tubuh, mencengkeram ponselku dan menunjukkannya pada Dikta.

"Pak... video ini... berita ini..." suaraku tercekat di tenggorokan. "Semua orang melihat Anda memukul Mas Bagas. Semua orang mengira Anda menyekap saya! Media memajang video ini di mana-mana!"

Dikta tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang, tepat di hadapanku. Matanya menatapku lekat. "Kau memercayainya, Arini?" tanya Dikta, suaranya terdengar sangat tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang namanya sedang dihancurkan di seluruh negeri.

"Bukan itu masalahnya! Mas Bagas... dia berhasil membuat Anda terlihat seperti penjahat di mata seluruh dunia!"

Dikta menyunggingkan senyum sinis yang dingin, jenis senyuman yang selalu ia tunjukkan saat ia sudah memegang kendali penuh atas papan catur. "Bagas mengira dia sedang menjebakku, Arin. Dia tidak sadar bahwa dengan menaikkan berita ini ke tingkat nasional, dia justru sedang menggali kuburannya sendiri. Biarkan dia menikmati simpati publik hari ini. Karena besok... aku yang akan menayangkan video aslinya."

Namun, senyuman sinis Dikta belum sempat pudar ketika pintu kamar mendadak diketuk dengan kepanikan yang luar biasa.

Marco langsung membuka pintu tanpa permisi. Wajah pria bertubuh kekar itu kini pucat pasi. Seperti kehilangan barang yang ia sayangi.

"Pak," suara Marco tercekat. "Pihak kepolisian dari baru saja memasuki lobi utama gedung. Mereka... mereka membawa surat perintah penangkapan."

Jantungku berhenti berdetak saat itu juga. "Apa?" pekikku, menatap Marco lalu beralih pada Dikta dengan tubuh yang masih terlihat santai. "Penangkapan? Atas dasar apa?!"

"Dugaan penganiayaan berat berdasarkan bukti video yang viral," jawab Marco dengan suara rendah, matanya melirik cemas ke arah Dikta. "Ditambah laporan dari pengacara Bagas mengenai dugaan penyekapan dan pembatasan ruang gerak secara paksa."

Aku langsung menoleh ke arah Dikta. Berbeda denganku yang sudah hampir menangis karena panik, pria itu justru perlahan berdiri. Ia merapikan lipatan jasnya yang sedikit kusut, lalu mengembuskan napas panjang. Tidak ada ketakutan di wajahnya. Hanya ada tatapan dingin yang semakin menajam.

"Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraanku," gumam Dikta, suaranya tenang, membuatku semakin ketakutan.

"Pak Dikta! Bagaimana Anda bisa setenang ini?" tanyaku dengan air mata yang mulai menggenang. "Mereka akan menahan Anda! Mas Bagas... dia benar-benar ingin menghancurkan Anda!"

Tepat setelah kalimatku selesai, derap langkah kaki sepatu terdengar dari arah luar. Pintu kamar terbuka lebar, dan beberapa orang petugas kepolisian berseragam lengkap, didampingi dua penyidik berpakaian preman, melangkah masuk ke dalam ruangan.

"Selamat pagi, Pak Dikta Dirgantara," ujar salah satu penyidik yang memegang map surat berlogo kepolisian. "Berdasarkan laporan yang masuk serta bukti permulaan yang cukup terkait tindakan kekerasan fisik dan dugaan penyekapan, kami meminta Anda untuk ikut ke markas besar guna pemeriksaan lebih lanjut."

Penyidik itu menunjukkan selembar kertas resmi di depan wajah Dikta. Aku melangkah maju, mencoba menghalangi. "Pak, ini salah paham! Pak Dikta tidak menyekap saya! Saya di sini secara sukarela untuk—"

"Arin," potong Dikta tegas. Sebuah tangan kekarnya menahan pundakku, memaksaku untuk mundur ke belakang tubuhnya. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, "Jangan katakan apa pun tanpa pengacaraku. Tetap di sini bersama Marco. Mengerti?"

"Tapi, Pak..." lirihku menolak.

Dikta tidak menjawab lagi. Ia berbalik menghadap petugas kepolisian dan menjulurkan kedua tangannya ke depan dengan anggun, seolah-olah borgol besi itu sebuah perhiasan mahal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!