Aku membencinya begitu aku tahu dia seorang janda! Tapi, seiring berjalannya waktu, dia mengubah kebencian itu jadi cinta yang luar biasa. Saat cinta hadir ditengah-tengah kami. Suami pertama nya yang kata nya hangus terbakar saat kecelakaan dulu, kembali dengan sehat walafiat. Yang paling membuat dada ku sakit, ternyata selama ini dia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanayaa Irany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
"Gendis..." bisik Arya pelan, menghentikan langkah beberapa senti dari samping tempat tidur.
Gendis yang tadinya sedang memejamkan mata perlahan membuka kelopak matanya. Melihat Arya yang berdiri dengan masih menggunakan pakaian kantor, raut wajah Gendis sama sekali tidak menunjukkan riak emosi. Ia hanya menatapnya sekilas, lalu memalingkan wajahnya kembali menatap jendela kamar.
Mengabaikan keberadaan pria yang berstatus sebagai suaminya itu seolah-olah hanya patung bernapas.
Arya menelan ludah pait. Tenggorokannya serasa disumbat batu besar. Ada dorongan kuat di dadanya untuk berlutut, menggenggam tangan itu, dan memuntahkan seluruh kata maaf atas fitnah yang selama ini ia percayai. Namun, benteng gengsi yang ia bangun bertahun-tahun sebagai seorang Arya Bratadikara seolah menahan lidahnya kaku.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Arya dengan nada bicara yang dipaksa datar, berusaha menutupi rasa canggung yang membakar.
"Seperti yang kamu lihat. Masih bernapas," jawab Gendis singkat, tanpa sudi menoleh sedikit pun.
Arya mengelus tengkuknya yang tidak gatal. Respons dingin Gendis serasa menjadi tampar tersembunyi yang membuat egonya tercubit.
"Dokter bilang tipes kambuh karena kelelahan," ujar Arya lagi, mencoba memecah keheningan yang makin menghimpit. "Kenapa bisa sampai pingsan di lantai? Kalau tidak ada Mama yang datang, kamu mau tergeletak di sana sampai besok pagi?"
Gendis terkekeh sinis. "Kalau Aku mati di lantai itu pun bukannya bagus buat kamu? Satu beban benalu di rumah mu hilang kan."
Skakmat..
Arya terdiam membeku. Dada pria itu mendadak sesak. Kata-kata kasar yang pernah ia lontarkan dulu kini berbalik menusuk dirinya sendiri.
"Aku tidak bilang begitu," gumam Arya pelan, suaranya sedikit mencicit.
Belum sempat Arya melanjutkan kalimatnya, pintu kamar rawat terdorong kencang. Bu Sonya melangkah masuk membawa tas berisi baju ganti, diikuti seorang suster.
"Dari tadi, kamu cuma berdiri di sana seperti patung?" omel Bu Sonya galak, langsung melotot ke arah putra tunggalnya. "Bukannya ambilkan minum untuk istrimu atau bantu apa gitu!"
Arya berdehem keras, membedah canggungnya. "Dia punya tangan, Ma..."
"Kamu gak liat dia sakit begitu, jadi suami kok gak peka banget sih, entah menurun dari siapa sikap mu itu!" potong Sang Mama kesal. "Mulai hari ini Mama nggak mau dengar kamu bersikap nggak sopan sama Gendis ya. Kamu yang bawa dia ke situasi ini, kamu harus tanggung jawab!"
Gendis yang melihat Arya diomeli habis-habisan oleh ibunya sendiri hanya bisa menahan senyum tipis. Ada rasa puas tersendiri melihat CEO angkuh itu mendadak mati kutu di depan Sang Mama.
Bu Sonya kemudian mendekati Gendis dengan raut penuh kasih sayang. "Gendis, Saya ini Mama nya Arya, jadi otomatis saya ini mertua kamu, jangan sungkan ya... Panggil Mama mulai sekarang. Mama sudah bawakan buah dan pakaian. Malam ini Arya yang bakal jaga kamu di sini. Kalau dia macam-macam atau bikin kamu kesal, langsung hubungi Mama, ya. Biar Mama kasih dia pelajaran."
"Ma, apa-apaan sih..." protes Arya tidak terima.
"Diam kamu!" cetus Bu Sonya tak mau dibantah. "Mama mau pulang dulu sebentar ada urusan!"
Setelah Bu Sonya pergi, kamar rawat kembali diliputi keheningan. Arya berdiri serba salah. Niat hatinya ingin mulai melunakkan sikap, tapi tatapan santai Gendis yang seolah menganggapnya angin lalu membuat Arya kembali menyalakan mode pertahanannya.
Arya melangkah mendekati meja makan di samping ranjang. Ia melihat sekantung buah apel yang dibawakan Mamanya. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Arya mengambil satu apel dan pisau buah, lalu mulai mengupasnya.
Gerakannya sangat kaku. Sebagai pria kaya yang terbiasa dilayani, Arya sama sekali tidak mahir mengupas buah. Daging apel itu ikut terpotong tebal, bentuknya jadi tidak beraturan dan berantakan.
Setelah selesai, Arya meletakkan piring berisi potongan apel absurd itu ke atas meja lipat di hadapan Gendis.
"Nih. Makan," cetus Arya ketus, berpaling muka dengan tangan bersedekap. "Biar tidak bikin repot aku lagi."
Gendis menatap piring itu, lalu melirik Arya dengan satu alis terangkat. Potongan apelnya tebal-tebal, penuh lecet benturan pisau, dan jauh dari kata estetis.
"Ini apel atau sisa sampah dapur, Tuan Arya?" sindir Gendis santai, lalu mendorong piring itu menjauh tanpa berminat menyentuhnya. "Terima kasih, tapi saya belum mau mati tersedak potongan apel sebesar kepalan tangan itu."
Wajah Arya seketika memerah padam, campuran antara gengsi yang tertampar dan kesal karena niat perhatiannya justru dihina terang-terangan seperti itu. Biasanya, para wanita bakal antre untuk mendapatkan setidak nya basa basi nya. Tapi istri nya malah aneh.
"Bisa nggak sih menghargai usaha orang sedikit?!" bentak Arya dengan nada naik satu oktav. "Saya sudah susah payah mengupasnya!"
"Siapa yang minta dikupaskan?" balas Gendis tenang, menatap lurus ke iris mata Arya tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Saya tidak pernah minta perhatian Anda, Pak Arya. Jadi tidak usah pura-pura jadi suami perhatian di depan saya. Tidak mempan, Lebih baik Anda duduk manis saja di sofa itu sampai pagi."
Arya mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tatapan Gendis benar-benar membuat harga dirinya serasa diinjak-injak, namun anehnya, di balik amarahnya, ada rasa penyesalan yang kian merayap tajam. Gendis yang dulu selalu diam dan tersakiti kini telah membangun benteng yang amat kokoh.
"Terserah! Toh pernikahan kita juga di atas kertas, perempuan saya tetap Gea seorang," gumam Arya bersungut-sungut. Ia menarik kembali piring itu, mengunyah potongan apel bentuk aneh itu sendiri dengan wajah melipat kesal.
Gendis tidak memedulikan Arya lagi. Ia memiringkan tubuhnya membelakangi Arya dan memejamkan mata, membiarkan pengaruh obat membawanya tertidur.
Dalam hening malam yang merayap, bunyi kunyahan Arya perlahan terhenti.
Pria itu menatap punggung lemah Gendis yang terbaring membelakanginya. Raut wajah galak Arya pelan-pelan meluntur, berganti dengan sorot mata yang amat redup dan penuh penyesalan mendalam.
Arya bangkit dari duduknya dengan langkah sangat pelan agar tidak menimbulkan suara. Ia mendekati ranjang, memperhatikan selimut Gendis yang sedikit meluncur turun. Dengan tangan yang gemetar, Arya menarik ujung selimut itu perlahan, merapikannya hingga menutupi dada Gendis.
Jemarinya sempat menggantung di udara, ingin sekali mengelus puncak kepala wanita itu dan membisikkan kata maaf yang sesungguhnya. Namun lagi-lagi, yang keluar dari tenggorokannya hanyalah gumaman pelan penuh gengsi:
"Dasar wanita gengsian... Dikasih apel malah mengejek," bisik Arya sangat pelan, seraya membenarkan letak infus Gendis agar tidak tersangkut.
Arya lalu melangkah mundur, duduk di sofa dengan tangan bersedekap dada. Matanya tetap terbuka di dalam kegelapan kamar, bersiap menjaga wanita yang tanpa ia sadari... mulai mengisi seluruh sudut pikirannya.
Arya merogoh ponsel nya mengetik pesan pada seseorang.
[Selidiki kematian Galang, adik dari Bramantyo dari Stasiun Tv sebelah. Aku juga mau profil istrinya, selengkap nya!]
.
.