Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum Iblis x Saksi Bisu
Udara siang itu di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) terasa sangat mencekik. Panas terik matahari Depok seakan membakar ubun-ubun, tapi bagi Reza, darah di sekujur tubuhnya justru terasa membeku. Gebrakan meja dari Maya dan raut wajah Siska yang berurai air mata di Kantin Sastra adalah sinyal bahaya level tertinggi.
"Kalian ngomong apa? Dini ditarik paksa?" suara Reza terdengar serak, setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Otaknya yang baru saja didinginkan pasca ujian lisan Mandarin kembali dipaksa berputar pada RPM maksimal.
"Iya, Za! Anak-anak perpus bilang ada dua cowok asing, badannya gede-gede, mirip preman yang nyerang warkop lu semalam!" isak Siska, suaranya bergetar hebat. "Mereka narik Dini ke arah lorong belakang... ke arah Gudang Teater Lama!"
Poltak, yang tadinya masih meringis memegang sudut bibirnya yang bengkak, langsung menggebrak meja hingga gelas teh tawar mereka meloncat. "Bah! Kurang ajar betul babi-babi itu! Nggak cukup semalam mereka hancurkan warung, sekarang anak orang diculik di siang bolong?!"
Reza tidak membuang waktu satu detik pun untuk berpikir. Ia melompat dari kursi plastiknya, mengabaikan rasa ngilu di tulang rusuknya yang memar akibat bantingan semalam. "Tak, ayo! Siska, Maya, kalian lapor ke pos Satpam depan, panggil dosen siapa aja yang ada di ruang jurusan. Biar gue sama Poltak yang lari ke Teater Lama duluan!"
Tanpa menunggu jawaban, Reza dan Poltak berlari sekencang-kencangnya meninggalkan Kantin Sastra, membelah kerumunan mahasiswa yang kebingungan melihat dua pemuda babak belur itu berlari layaknya dikejar anjing gila.
...
Di saat yang bersamaan, di pelataran parkir fakultas yang rimbun oleh pohon beringin, sebuah Honda Jazz berwarna perak terparkir dengan mesin menyala dan kaca film yang gelap.
Di dalam kabin yang sejuk oleh AC, Kevin duduk bersandar di kursi kemudi. Senyum miring yang terukir di wajahnya bukanlah senyum kemenangan seorang mahasiswa, melainkan senyum puas seorang psikopat yang baru saja melihat rencananya berjalan sempurna. Ia baru saja melihat dari kejauhan bagaimana dua preman sewaannya—orang-orang yang sama yang mengacak-acak Warkop Berkah semalam—berhasil menyeret Dini yang meronta-ronta ke arah jalan setapak menuju Teater Lama.
Di kursi penumpang sebelahnya, Aldo duduk dengan tubuh bergetar dan keringat dingin sebesar biji jagung mengucur di pelipisnya.
"Kev..." suara Aldo terdengar parau. "Ini... ini udah kelewatan, Kev. Sumpah. Semalam lu bilang cuma mau ngurung dia doang di gudang biar dia ketakutan. Tapi tadi... gue denger lu nelepon si Botak, lu ngasih instruksi tambahan."
Kevin menoleh perlahan, menatap Aldo dengan sorot mata yang kosong namun mematikan. "Terus kenapa kalau gue kasih instruksi tambahan? Cewek sombong kayak dia butuh pelajaran ekstra, Al. Dia pikir dia dewi? Dia pikir dia bisa nolak gue dan malah milih gembel cuci piring itu?"
"Tapi Kev, lu nyuruh preman itu buat... buat nyentuh dia! Buat mencabuli dia!" bantah Aldo, nada suaranya naik karena panik bercampur ngeri. "Ini kampus, Kev! Kalau sampai ketahuan, ini bukan cuma DO, ini kasus pidana! Kita bisa dipenjara!"
"Diam lo, pengecut!" bentak Kevin keras, tangannya mencengkeram kerah baju Aldo dengan kasar hingga Aldo tersedak. Wajah Kevin memerah, urat lehernya menonjol. "Nggak akan ada yang tahu kalau kita yang nyuruh! Preman-preman itu bakal kabur habis ngerjain tugasnya. Dan saat Dini hancur, saat harga dirinya hancur lebur di lantai kotor Teater Lama... tebak siapa yang bakal datang pura-pura nyariin dia dan jadi pahlawan penolongnya? Gue, Al. Gue yang bakal mungut dia, dan dia bakal bertekuk lutut sama gue seumur hidupnya."
Aldo bergidik ngeri, merasakan hawa dingin yang merayap di tulang belakangnya. Teman di hadapannya ini sudah kehilangan akal sehatnya. Kevin sudah dibutakan oleh ego dan rasa irinya yang membabi buta. Aldo hanya bisa menelan ludah, tidak berani membantah lagi, terkurung dalam mobil bersama monster yang ia sebut teman.